and at the dawn, armed with the schorching patience, we shall enter the cities of splendour... (Arthur Rimbaud)
Bacaan Bagus: Kumcer "Penggali Sumur"
note:
1) aku mengulas buku ini semata-mata karena keinginan pribadiku. aku ingin share tentang buku ini karena aku pribadi menganggap buku ini bagus dan layak baca. postingan ini sama sekali ngga ada hubungannya dengan kepentingan pihak luar seperti promosi dan sebangsanya.
2) bagi yang belum pernah baca buku ini, aku sama sekaaaaali tidak menyarankan anda menlanjutkan baca postingan ini, karena pasti bakal jadi spoiler. aku ngga mau pembacaan anda terpengaruh setelah baca postingan ini, karena aku ngga pernah suka gagasan "memberikan pendapat untuk mempengaruhi pembacaan orang lain". aku selalu percaya, tidak pernah ada interpretasi yang 100% absah. setiap orang berhak menginterpretasi sesuatu berdasarkan pemahamannya sendiri. dunia ini ngga perlu patokan interpretasi agar seragam, karena perbedaan itulah yang membuat dunia lebih berwarna :D
jadi ceritanya begini, aku ngerasa kemampuan bacaku sedikit menurun akhir-akhir ini. bukan masalah mata secara fisik sih, tapi aku ngerasa kok aku butuh waktu yang lama untuk memahami bacaan. bahkan ketika aku berusaha baca pelan-pelan dan mengulang-ulanginya, tetep aja aku ngga paham. akhirnya aku putuskan untuk "melatih" kemampuan bacaku lagi, dengan cara membaca bacaan bagus.
seolah direstui Tuhan, bertemulah aku dengan buku itu, di rak bukunya mbak Mega xDD
buku tipis itu ternyata kumpulan cerpen. judulnya "Penggali Sumur" karya Zaki Zubaidi. covernya serem seru: ilustrasi orang-orang berjas yang ditanam terbalik, dengan posisi kepala berada di dalam tanah. iya serius, ditanam. terbalik. ternyata itu lukisan seseorang, dari luar negeri kayaknya. aku lupa apa judul lukisannya dan siapa pelukisnya. nanti ya kalau aku bisa pinjem lagi aku tulis di sini hehehe :p
buku tipis itu diterbitkan sama Forum Studi Seni dan Sastra Luar Pagar atau yang disingkat FS3LP (maaf kalau urutan kata atau singkatannya salah. yang aku inget S-nya ada 3 pokoknya :D) kalau kata mbak Mega sih, penerbitnya itu yaa anak-anak Gapus FIB UNAIR sendiri. Gapus atau "Gardu Puisi" ini adalah Badan Semi Otonom (BSO) di bawah naungan FIB UNAIR yang bergelut di bidang sastra seperti cerpen, puisi, drama, dan sebagainya.
oh ya, Zaki Zubaidi sendiri salah satu anggota Gapus loh. sekarang ia jadi wartawan untuk surat kabar yang cukup ternama. kalau menurut kata pengantar di buku tipis itu, terbitnya buku itu adalah hasil bujuk rayu anak-anak FS3LP agar mas Zaki ini mau nerbitin cerpen-cerpennya dalam bentuk kumcer (kumpulan cerpen) :D
awalnya sih setengah heran, buku apa sih ini kok tipis banget. kertasnya burem lagi, ugh. biasanya kalo udah begitu, aku bakal cek siapa penerbitnya. dan FS3LP terasa begitu asing buatku. terbitan mana ini, pikirku. waktu itu, aku ngga tau apa-apa tentang FS3LP sampai selesai baca dan diceritain mbak Mega. jadi aku memutuskan untuk mencari tau di internet setelah aku selesai baca.
sebelum aku bener-bener mulai baca, aku bolak-balik halamannya satu per satu. jujur, aku termasuk bawel kalau soal cetakan. aku ngga suka buku yang dicetak dengan tidak apik. kalau kertas burem, masih bisa aku terima sih, karena masalah ongkos percetakan juga kan ya. tapi aku ngga bisa terima kalau:
1. antara kertas dan tulisannya ngga sejajar
2. potongan kertasnya ngga rapi
3. lemnya mudah lepas
4. huruf-hurufnya ngga tercetak dengan tebal dan jelas
5. font, point, margin, dan spacing-nya asal. kelewat kecil. ngga manusiawi
5. desain covernya asal-asalan: asal comot dari internet terus dijadiin cover, udah gitu ngga ada disclaimer-nya lagi ini ambil dari mana
tapi, ternyata buku ini beda. emang sih kertasnya burem, tapi cetakannya bagus. ngga ada masalah seperti yang aku sebutin di atas. semuanya rapi. aku mulai merasa puas.
aku enjoy baca kata pengantarnya. ngga asal formil, ngga asal menggurui. aku ngerasa seolah-olah orang-orang FS3LP ini berbicara langsung kepadaku. baru kali ini aku bener-bener menikmati baca kata pengantar.
terus aku mulai baca cerpen pertama. judulnya "Pak Mandor". ceritanya tentang seorang mandor bersahaja. meskipun kaya, dia tetap naik sepeda ontel (sepeda gowes biasa itu looooh). tiap pagi dia selalu minta istrinya untuk menyiapkan uang receh. uang receh itu dia berikan kepada pengemis-pengemis yang ada di jalan menuju tempat kerjanya.
ngomong-ngomong, setting tempatnya aku kenal banget: jalan raya Jemursari, Surabaya yang lagi dalam pembangunan. emang sih sekarang udah ngga ada pembangunan lagi, tapi aku bisa ngerasain atmosfirnya waktu baca cerpen ini.
suatu hari, kebiasaan dan sikap Pak Mandor berubah, karena satu insiden kecil. seorang anak jalanan menolak uang lima ratus rupiah yang diberikan kepadanya, dan malah minta seribu rupiah. tersinggunglah Pak Mandor. anehnya, anak ini tidak menolak receh lima ratusan dari orang lain. Pak Mandor merasa, orang lain melihatnya sebagai orang pelit, makanya ngga mau menerima pemberiannya. sejak saat itu, dia jadi suka marah-marah, bahkan memukuli seorang penjaja masker. akhir cerita, dia dianggap kesurupan.
you guys, don't dare to ask me what does this story mean... because I don't know, too :p
jujur aku linglung abis baca cerpen pertama. terus aku lanjut ke cerpen kedua. judulnya, "Meong"
judulnya unyu banget ngga seh :3
masih cerita soal orang kaya. reputasinya baik, dikenal dermawan sekali. tiap tahun selalu mensponsori acara kampung. tapi tahun ini, sang juragan lagi bangkrut. dia cuma punya usaha warung makan lele sederhana. tapi tak seorang warga kampung yang tahu. selamanya citra sang juragan di mata mereka adalah kaya raya dan baik hati.
sang juragan ini juga sepertinya masih ngga mau kehilangan muka. dia dan istrinya cari akal bagaimana caranya mereka tetap bisa mensponsori acara kampung yang akan datang. akhirnya, muncullah ide gila: menyajikan kepala lele sebagai hidangannya. tapi, sang juragan bilang kepada warga kalau itu adalah hidangan asli Jepang yang lezat dan bergizi tinggi, bisa bikin anak jadi pintar.
jujur, aku ketawa baca part ini :D
waktu hari H, terjadi kekacauan. kucing-kucing berdatangan mengelilingi tempat acara. mereka mengeong-ngeong tanpa henti karena mencium bau kepala lele. warga pun ngga sabar menikmati "hidangan Jepang" itu. sewaktu hidangan disajikan, sang juragan mendapat kehormatan untuk mencicipi hidangan terlebih dahulu. saat sang juragan menyantap kepala lele itu, seekor kucing hitam besar datang menerjangnya dan melukai juragan sampai bibirnya berdarah-darah. herannya, orang-orang kampung cuma melihat kejadian itu dan berkata, "wah, itu pasti saking lezatnya"
Tuhan, aku merinding baca part ini. aku ngga bisa bayangin seandainya aku jadi si juragan, diterjang kucing, sementara orang-orang cuma bisa menatap terpesona sama kejadian itu, ngga sadar kalau itu kejadian berbahaya. weh!
setelah itu, orang-orang menyerbu meja makan, berebutan ingin menyantap kepala lele itu. bukan cuma orang, kucing-kucing pun menyerbu dengan agresif. manusia dan kucing berebutan ingin makan kepala lele. keadaan bener-bener gila, tak terkendali. akhir cerita, si juragan merebut mike, berusaha mengendalikan situasi. dia berteriak "meong!" dan semua orang, juga kucing, terdiam.
aneh? mungkin. masih banyak lagi cerpen-cerpen dalam buku itu yang bernuansa gelap, sinis, sureal. kalaupun ada cerita yang sedikit "normal" (ngga terlalu sureal), mungkin cuma cerpen yang berjudul "Penggali Sumur". cerpen ini menceritakan seorang muda yang mewarisi bakat sang kakek dalam hal menggali sumur. setiap ia menggali, air selalu membuncah, dan sumur-sumur di desa itu bermunculan. itu menyelamatkan desa dari kekeringan. semua orang senang, banyak permintaan tolong agar tokoh aku mau menggali sumur untuk mereka. bahkan saat ia menggali pun, orang-orang datang menonton.
tapi, seorang pawang hujan yang (sepertinya) juga ahli agama, merasa tidak senang dengan tokoh aku. di akhir cerita, sang pawang hujan mengutarakan ketidaksenangannya: dia menganggap tokoh aku sudah menyesatkan warga, karena membiarkan pantatnya dinikmati mata banyak orang ketika menggali sumur.
sebenarnya, waktu di tengah-tengah klimaks, aku sudah bisa menebak kalau tokoh aku ini sebenarnya perempuan. dan begitu selesai baca aku tau ternyata tebakanku bener, somehow aku kecewa xD
tapi ceritanya tetep bagus, orisinil, berbobot. aku suka cerita ini dan di antara sekian belas cerpen yang ada di dalam buku itu, hanya cerpen inilah yang bisa diterima akal sehatku -,-
nah, kalau misalnya mau tambahan referensi tentang cerpen ini, ada satu blog yang membahasnya melalui pendekatan kritik feminisme. boleh langsung klik: Cerpen "Penggali Sumur" karya Zaki Zubaidi: Sebuah Kritik Sastra Feminis - Ritus Musim . menurutku pembahasan di blog ini emang agak "berat", karena pendekatannya melalui teori sastra. tapi, kalau ada daftar "blog yang membahas cerpen 'Penggali Sumur'", blog ini pasti masuk dalam daftar teratas. cukup bagus untuk dijadikan referensi.
aku lupa sebenernya ada berapa belas cerpen yang ada dalam buku itu. tapi semuanya menarik. mind-twist. sureal. orisinil. aku ngga tau apa Zaki dipengaruhi wacana tertentu atau penulis lain, tapi aku belum pernah menemukan yang seperti ini. yaa emang sih pendapatku ini ngga bisa dijadiin patokan, secara aku belum terlalu banyak membaca. baru sedikit pengetahuanku tentang karya sastra mutakhir :D
kalau misalnya disuruh memilih mana cerpen yang ngga aku suka, mungkin aku milih "Badai". cerpen ini bercerita tentang seorang pengamen muda yang entah bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang yang cukup banyak. setiap kali mengamen, entah kenapa, orang-orang sepertinya bersimpati sekali dan memberi uang lima ribu rupiah. pembawaan si pengamen ini santai, keliatan bagaimana dia tetap tenang meskipun badai datang. setiap kali diperingatkan agar mengungsi, dia hanya menjawab "badai hanya ada di langit. bukan di sini" dan menolak untuk ikut mengungsi. dia juga agak "aneh" untuk ukuran pengamen biasa. dia punya jadwal mengamen dan selalu menepatinya, bahkan ketika badai datang. dia juga selalu menyelesaikan nyanyiannya sampai terakhir, meskipun orang sudah memberinya uang. menurut gosip orang, si pengamen pakai ilmu hitam, makanya bisa dapet uang banyak (aku juga berpikiran begitu loh :p)
aku ngga terlalu suka bukan karena menurutku cerpen ini ngga bagus. aku cuma agak kecewa, karena cerpen ini terasa datar buatku. pengamen bermalas-malasan, nonton berita tentang badai, pergi mengamen, pulang, tidur, dan seterusnya. ada badai, dia hanya menolak dan menjawab seperti itu. endingnya, badai berhenti. semua orang beraktifitas kembali seperti biasa. aku ngga nangkep klimaksnya di mana. itu aja sih. tapi bukan berarti ngga bagus. cerpen ini tetep punya orisinilitas yang sama, seperti cerpen-cerpen Zaki lainnya.
sebaliknya, kalau ada cerpen yang harus aku favoritkan, pasti cerpen yang berjudul "Bak Air dalam Kamar Tidur". ini juga favoritnya mbak Mega.
agak beda dari cerpen lain, cerpen ini memakai sudut pandang aku sebagai orang pertama dan bergaya seperti surat kepada pembaca. tokoh aku seolah-olah sedang berbicara langsung dengan kita. and let me tell you, this one is so insane. rasanya abis baca cerpen ini aku pingin menjambak rambutku sendiri sambil teriak "aaaaarrrgh!", stres karena udah sampai di klimaks kebingungan.
tokoh aku mendeskripsinya dirinya sebagai seorang yang jenius. semasa kecil, dia bisa menciptakan hujan dalam kamar dengan cara menaruh bak air di bawah tempat tidurnya. dia bersumpah hal itu beneran terjadi, karena dia melihat bagaimana air dalam bak itu menguap, kemudian menjadi kabut. begitu tokoh aku menyalakan kipas, kabut itu berubah jadi hujan. hujan terjadi dalam kamar itu dan akibatnya semua jadi basah kuyup. begitulah menurut tokoh aku. tapi orang tuanya tidak sependapat. mereka menduga tokoh aku bermain-main dengan air di bak dalam kamar. karena tokoh aku tetap bersikeras, orang tuanya jadi takut dan membawanya agar mendapat terapi penyembuhan kelainan jiwa.
kembali ke masa sekarang, tokoh aku bersumpah tidak ingin menjadi seperti orang tuanya, yang ia anggap tidak perhatian. kemudian tokoh aku bercerita kalau ia melihat anaknya sendiri, sedang menyiapkan bak air dan membawanya ke taman. tokoh aku tersenyum senang, mengira anaknya juga akan meniru jejak "kejeniusan"nya. tapi, kemudian tokoh aku jadi khawatir kalau-kalau orang lain melihat perbuatan anaknya dan melakukan hal yang sama seperti orang tua tokoh aku dulu. tokoh aku tidak ingin anaknya menderita seperti dirinya dulu, jadi ia memutuskan untuk membawa anaknya ke suatu tempat, di mana tak ada seorangpun bisa melukainya. akhir cerita, tokoh aku menusuk perut anaknya sendiri dengan pisau.
ini loh... iniiiiiii loh yang bikin aku gila. I mean, heeeii... bisa aja anak itu cuma kepingin main air di taman, seperti anak biasa lainnya. kenapaaa tokoh aku bisa mengira si anak meniru dia? terus kenapaaa juga dia berpikir dengan membunuh anaknya, tidak seorangpun bisa melukainya?! oh, oke, dalam hal ini dia benar. ngga ada seorang pun bisa melukai orang mati. tapi heiii..! aku masih ngga terima!
kalau bisa sih, aku pingin menertawakan diriku sendiri. Zaki udah sukses membuat pembacanya terhanyut dalam cerpen ini. salah satunya aku. makanya, aku paling suka sama cerpen "Bak Air dalam Kamar Tidur" ini.
Gairah Berkaryaku Menurun
tapi itu baru sekedar rencana.
apa pula yang menghambat?
biasa, aku kan sukar berkonsentrasi, jadi kalau mau menulis sesuatu yang agak panjang sedikit pasti otakku mogok minta dikasih hiburan.
dan itulah penyebab utamaku menulis: malas!
tadi pagi ada niat untuk menulis cerpen, tapi tetap saja tidak selesai karena baru beberapa paragraf otakku mulai "ngelamak" lagi.
akhirnya aku mencari solusi yang benar-benar menghabiskan uang: main ke warnet. lucunya, sepertinya Allah tidak meridhoi, jadinya berulang kali aku mengalami gangguan. yang komputernya ga bisa dibuat internetlah, yang mp3 error lah.. macam-macam deh! tapi bodohnya aku, aku tetap "ngeyel" online, sambil mencari komunitas sastra online. yah... siapa tahu kalau aku bergaul dengan orang-orang yang appreciate dengan sastra, ilmu dan niatku juga makin bertambah.
hari ini aku mendaftar ke mediasastra.com. lumayan juga. bahkan aku masuk ke grupnya di facebook. haha... niat banget yah? dan segera aku mengirimkan tulisanku yang berjudul "Burung Manyar" habis, cuma ada itu di flashdiskku. aku berharap ada yang mengomentari supaya aku tahu letak kelemahanku di mana. kalau aku sendiri yang menilai karyaku ya jadinya engga obyektif kan? mudah-mudahan ada yang mau mengoreksi karyaku itu, demi kemajuanku juga nantinya.
hh... kapan yah aku bisa menjadi penulis yang profesional? mudah-mudahan saja aku bisa menulis dengan baik. dan mudah-mudahan Allah meridhoi aku mencari uang dari tulisanku itu. amin...
pulang ke Mojokerto
pulang latihan tadinya aku dan Ian mau ke Wapo untuk minum. tapi Wapo masih tutup dan baru buka jam sebelas. ian kecewa, aku bernapas lega. ya setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan 12 ribu untuk sekali minum kan? bisa tambah tekor aku kalau minum di Wapo. aku sih tadi terpaksa ikut karena diajak Ian. sungkan untuk menolak, secara dia baik banget sama aku. tapi alhamdulillah, Waponya tutup. jadi kami hanya beli minuman ringan di seberang jalan.
Rei sms. dia menyuruhku cepat pulang karena kami akan berangkat bersama-sama ke stasiun Gubeng. aku segera balik dan mengambil tas di asrama, tanpa ganti baju. jadi aku berangkat masih mengenakan kaos oblong dan training. parah.. tapi not bad lah... untung aku memakai jaket, jadi kaos oblongku tertutup oleh jaket itu.
perjalanan kali ini cukup lancar. tidak seperti perjalanan terakhirku dengan kereta waktu aku berangkat dari Mojokerto ke Surabaya naik KRD dengan Mbah Ity. aku dapat tempat duduk yang nyaman. tapi aku suka ga tega melihat pengemis, pengamen, atau pedagang yang bersliweran dari satu gerbong ke gerbong lain. aku merasa sakit ketika aku ingin menolong orang-orang itu, tapi kemudian menyadari bahwa aku sendiri tidak bisa berbuat banyak. sedih...
aku mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat pemadangan di luar jendela. ya, aku suka naik kereta karena perjalanan dengan kereta selalu menyuguhkan pemandangan menarik. sawah-sawah, padang rumput yang kering, rumah-rumah kumuh beratapkan seng. semuanya sangat menarik bagiku. bahkan indah. aku jadi ingat perjalananku ke Jakarta beberapa tahun yang lalu. aku menemukan pemandangan yang sangat indah: kesenjangan antara rumah-rumah kumuh di tepi kali dan lahan kosong bersaing gengsi dengan gedung-gedung pencakar langit. aku suka pemandangan kontras itu. sama seperti halnya aku menyukai pucatnya salju dihiasi tetesan darah merah yang segar.
aku sampai di Mojokerto. aku sms Papa dan dijemput tidak lama kemudian. kami beli gado-gado untuk makan siang. pelayanannya lelet. aku kesel, tapi aku maklum karena Ibu itu hanya sendirian menangani pembeli.
sesampainya di rumah, aku langsung mandi. segar rasanya. lalu makan siang dengan Papa. kami membicarakan banyak hal. aku lega, setidaknya Papa sudah berbicara dengan Bu Nur via telepon. jadi aku tidak perlu khawatir ditagih uang asrama Senin besok. aku memang belum bayar. waktu ditagih rasanya sesak. ya, tapi harus dihadapi juga. entah mengapa akhir-akhir ini kebutuhanku banyak sekali. tapi aku percaya selalu, bahwa Allah akan selalu melimpahkan rahmatNya kepada kami (amin...)
dan benarlah. Pak Bambang dan Bu Dwi mengambil lukisannya. kami diberi jeruk, salak, dan amplop berisi uang. memang tidak seberapa, tapi ya itu sudah alhamdulillah. dan aku lebih bersyukur karena setidaknya Papa sehat-sehat saja. jauh lebih baik dibandingkan kemarin-kemarin.
lalu, kami ke warnet. penyakitku dan penyakit Papa memang sama: internetholic. aku browsing di internet, berburu barang gratis. aku menemukan Xpango.com di urutan pertama. aku ingat Yongki dulu pernah menawarkanku untuk register ke sana. dulu aku tidak begitu mengerti, jadi aku tinggalkan saja. tapi kali ini aku mencoba memahami aturan mainnya. ternyata tipe MLM gitu lah. I'm sick about MLM, but I tried to keep reading. yah, kita cuma disuruh ngisi formulir data pribadi, milih gadget yang kita inginkan, lalu mengumpulkan kredit untuk mendapatkan gadget itu. caranya macam-macam. tapi yang paling gampang menurutku ya dengan mengajak teman untuk register ke sana juga. sama seperti Yongki dulu mengajakku bergabung. memang sepenuhnya gratis dan di situ tertulis bahwa itu legal. aku percaya dan register.
tapi setelahnya ada hambatan. pertama, ketika aku register dengan alamat email amaryluna-ku, tiba-tiba saja Opera error. lalu, aku coba lagi buka pakai Mozilla dan register ulang dengan alamat email luna.stellar. kali ini bisa. aku sampai pada tahap mengajak teman via email. aku yakin tidak ada seorangpun temanku yang akan membuka emailnya. jadi aku memutuskan untuk menulis pesan via fitur Notes di Facebook lalu di-share ke teman-temanku. ketika aku menulis note, aku merasa aku ini pengemis yang hina. tapi aku lanjutkan menulis karena aku ingin sekali mendapatkannya dan merasa optimis. tapi, sebelum note itu selesai, lampu mati. aku menyadari, mungkin Allah tidak meridhai. aku ragu, mungkin saja ini hanya cobaan. tadinya aku mau mencobanya sekali lagi. tapi akhirnya urung. kuputuskan untuk mendapatkannya dengan cara yang lebih mulia: mengumpulkan uang secara halal. pikiranku langsung tertuju pada dunia tulis-menulis yang dulu sempat aku geluti.
tapi sekarang aku jadi agak menyesal, kenapa aku tidak mencobanya lagi? ah, mungkin aku ini terlalu cepat putus asa ya...
ya sudahlah. kalau mau dicoba kan bisa kapan-kapan. aku ingin mencoba cara lain, yaitu dengan menulis suatu karya lalu mengirimkannya ke redaksi koran atau majalah. memang tidak bisa instan, tapi aku rasa cara seperti lebih baik. hanya saja, aku sendiri tipe orang yang kurang beruntung dalam hal gambling. mengirimkan karya kan sama seperti gambling? bayangkan, karyaku harus benar-benar bagus untuk bisa mengalahkan sekian banyak karya yang masuk redaksi itu juga. entah, aku agak pesimis. tapi patut dicoba.
ya Allah, sudikan Engkau meridhai jalan yang hamba pilih ini? berikanlah rahmatMu ya Allah....
Layu nih yee??
begitulah keadaanku. makin tambah umur makin kendor kinerjaku (halah.. sok tuwir :p) yapi itu memang benar kok.. dulu aku bisa mendapatkan nilai baik saat ulangan, dan sekali lagi: tanpa perlu berpanik-panik ria. tapi sekarang? rasanya lebih banyak ga nyambungnya dari pada nyambungnya.
begitu juga dengan cerpen. aku belum bisa membuat kary yang pantas dibaca orang. karyaku masih kolokan gitu. apa karena aku kurang tulus? aku akui, aku memang menulis agar bisa kukirimkan dan mendapat honor. itu karena aku butuh uang. semua orang butuh uang. dan aku ingin mendapatkan uang dari hasil karyaku sendiri, terutama saat-saat seperti ini, I really need money!
hari ini aku browsing di google, mencari referensi mengenai bunga edelweiss. cerpen yang aku buat sekarang ini memang berkaitan dengan bunga itu. tapi bodohnya aku, aku kira bunga edelweiss itu memiliki pohon! tapi sejauh yang kucari di internet, tak ada referensi yang menyebutkan bunga itu memiliki pohon. waduh... ganti haluan lagi dunk???
yah, aku harus banyak membenahi diri...