Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Dunia Ini Gak Adil

Dunia ini gak adil.

Kira-kira begitulah dialog dalam sinetron, atau kalimat pembuka sebuah cerpen/novel remaja.

Orang-orang yang hatinya sedang berbahagia, mungkin cuma ketawa aja.

Sementara orang yang galau kebagian peran nangis bombay baca kalimat itu.

Berlebihan atau tidak, pertanyaannya cuma satu: relevankah kalimat itu bagi Anda?

Kalau buatku sendiri, kadang relevan, kadang juga engga.

Sebulan yang lalu sih gak relevan. Gimana engga, kerja part time aja bisa ngelunasin semua hutang dan beli hape baru. Belom lagi punya pacar yang ga ngitung lingkar dada eke. Oke, salah fokus. Maksudnya, baik hati dan perhatian. Gitu.

Tapi sekarang? Relevan amiiir!!

Pertama, proyek tempat aku kerja part time udah selesai. Duitnya juga udah abis. Terlepas dari boros apa engga, yang jelas uang itu berbuah kata “lunas” bagi semua hutangku. Dan hal-hal lain yang ga perlu disebutkan secara detil. Pamali, gitu.

Pacar saya, yang secara umur dan pengalaman jauh lebih bijaksana, mutusin aku pas hari lebaran. Berusaha gak pake sedih sih, kan haram. Tapi, berhubung satu dengan yg lainnya, tetep aja nangis. Semoga Tuhan mengampuni.

Alesan mutusin? Biyasa. Itu loh, kata-kata sakti ala anak muda jaman sekarang itu loh. “Kamu terlalu baik bagiku” ceileh. Gak pernah nyangka kata-kata itu akan sampai padaku. Cuma ya bedanya diucapin dalam Bahasa Jepang, pake acara bertele-tele pula.

Kemudian, dan semoga yang terakhir aja sih, aku sekarang jobless. Moneyless, boyfriendless, jobless. Hua, bisa dijadiin slogan baru itu. Kan, salah fokus lagi.

Alesan jobless? Sederhana. Kelewat percaya sama janji. Dijanjikan kerja di sebuah perusahaan. Tapi setelah proyek pertama selesai, ga ada follow up nya. Nunggu sampai nyerah. Akhirnya ya udah, mari kita lupakan. Eh udah kadung gua dapet proyekan kedua, akhirnya perusahaan pertama telpon, mau gak jadi pegawai tetap di sana. Tapi ya proyekan kedua lagi jalan, gak mungkin juga mundur tengah jalan. Mungkin aja sih, tapi udah kadung akrab (dan kadung jadian pula) sama klien saya. Akhirnya aku tolak secara halus.

Terus perusahaan kedua (kantornya si akang) juga sering banget bilang mau gak kerja di situ, minta gaji berapa, dsb. Dijanjiin mau diberangkatin ke Nippon pula. Tapi ya, keulang lagi. Ga ada follow up nya. Berusaha untuk lepas dari php-zone, akhirnya aku beraniin diri untuk konfirmasi. Dan… cabang mereka yang di Jakarta katanya ga butuh interpreter. Pada dasarnya mereka butuh sarjana teknik. Iyalah, perusahaan mesin. Demikian.

Mungkin sebelum lahir ke dunia saya emang ditakdirkan kebagian peran korban php -.-

Tapi ya, sebenernya itu gak bisa jadi alesan sih.

Kalo mau liat dari sisi positif, positif yang ekstrim tapi, harusnya ya aku gak usah nunggu janji itu terealisasi. Maju, cari yang lain. Mana yang cepat menerima saya, ya itu yang dipilih. Harusnya.

Tapi, kalo mau melihat dari sisi menengah positif, ya gak salah kalo aku nunggu. Kan dijanjiin. Aku juga udah kasih minat. Tinggal realisasinya aja kan. Ya tapi udahlah, aku gak akan menuntut apapun atas janji yang gak pernah terealisasi. Duilah, kenapa juga aku terlalu baik jadi korban php.

Tapi kalo mau liat dari sisi positif yang sedikit transeden, mungkin emang bukan rejekiku. Perusahaan pertama, di tengah-tengah masa tunggu, entah kenapa aku jadi kehilangan minat. Aku meragukan passionku bekerja di situ. Does my passion belong to that company? Haruskan aku kerja di tempat yg gak bisa menumbuhkan passionku? Yah, okelah masih terlalu dini buat ngomongin hal itu. Belum nyoba kerja juga. Tapi entahlah, rasanya ada sesuatu yg ga pas.

Perusahaan kedua, ya jelas-jelas mereka gak butuh interpreter kan. Sudah titik. Gak ada penjelasan lain.

Mungkin ada rejeki di tempat lain.

Tapi, gak setiap hari aku bisa menjaga pikiran positif macam ini.

Buka akun socmed, liat temen update soal kerjaan, rasanya rada iri gitu. Nonton dorama, tentang perjuangan anak muda, tentang keluarga, tentang ibu, rasanya hati kayak dihantam palu. Orang di luar sana berjuang membahagiakan keluarganya, ibunya. Aku ? masih aja dikirimin duit hasil jerih payah Mama. Setiap kali aku makan keripik kentang buatan Mama, spesial impor dari Padang sono, rasanya nyesek. Dulu Mama selalu mengiris kentang tipis-tipis, enak dan renyah. Tapi sekarang, tebelnya beda-beda. Masih inget aku dulu Mama pake kacamata bekas Papa yang rusak, gagang sebelahnya patah, dan entah minus nya sama apa engga sama Mama. Gak ada pilihan lain. Mata Mama udah tua, beli kacamata waktu itu rasanya gak sanggup. Iya, Mama sudah semakin tua. Temen dan kerabat lain seumuranku udah bisa kasih orang tuanya penghidupan dan cucu. Aku ? gak dua-duanya. Belum.

Yang paling bikin aku marah adalah ijazahku. Tertulis, lulus dengan pujian. Piagam yang menyebutkan aku lulusan terbaik Sastra Jepang periode wisudawan Maret tahun ini pun aku taruh entah di mana. Gak peduli sudah.

Nilai, IPK, pujian, mendadak jadi gak ada artinya lagi buatku.

Sertifikat NS yang aku bangga-banggakan, mendadak jadi sumber malu.

Sebab, harusnya semua itu bisa menjamin kehidupan yang lebih layak dan stabil buatku. Tapi sekarang ? Aku pengangguran. Bahan tertawaan orang.

Aku gak pernah menyangka frustasi pasca lulus akan datang padaku saat ini.

Mungkin itu semua pertanda kalau aku terlalu sombong. Harusnya ya aku terima saja apa yang ada. Kerja yang rajin, kumpulin uang buat keluarga di sana. Cari kenalan, menikah dengan orang baik-baik. Kasih cucu sebelum kedua orang tuaku meninggal.

Semua itu terhalang oleh rasa gengsi dan over-confidence.

Emang, aku ga pernah bermaksud memamerkan prestasi. Aku bukan tipe orang yang akan membahas berapa nilaiku kalau tidak ditanya sama yang berkepentingan. Tapi, menolak suatu tawaran kerja juga salah satu bentuk over-confidence, kan? Di saat orang susah-susah melamar kerja, aku malah menolak tawaran. Bodoh loh ya.

Nasi udah jadi bubur. Sekarang waktunya move on.

Tapi, di saat aku mencoba lebih realistis, selalu muncul kata-kata dalam pikiranku, “Tunggu dulu. Mari kita tunggu kesempatan yang lebih baik”

Manis emang. Aku mau aja nunggu. Cuma ya, sampai kapan? Apa aku harus mengulang kesalahan orang yang cuma duduk menunggu keajaiban? Engga kan? Aku harus menjemput keajaiban itu.

Aku bingung sama diriku sendiri. Kenapa sih susah sekali untuk jadi lebih berani mengambil risiko?

Kenapa sih aku harus jadi pemilih?

Kalau juga selama ini passion yang selalu aku jadikan alasan untuk memilih pekerjaan, apa benar aku punya passion? Emangnya hal apa yang ingin aku lakukan?

Kalau udah mikir gini aku pasti bakal marah-marah sendiri sama diriku. Kata-kata „dunia ini gak adil“ jadi begitu relevan buatku.

Cuma ya, berdiam diri di sini juga gak menghasilkan apapun.

Akhirnya aku berusaha keluar dari kamarku. Itu hal pertama yang harus aku lakukan. Hasilnya, kemarin aku bertemu dengan Pak Dekan.

Aku disarankan jadi asisten dosen di sana.

Wacana ini sebenernya udah ada sejak lama. Sejak aku baru dinyatakan lolos tes seleksi PMDK-UNAIR, Pak Ari menyarankan agar aku jadi dosen di FIB.

Dosen di Sastra Jepang juga sudah pernah menanyakan, apakah aku minat mengajar. Aku sudah berikan jawaban. Tapi ga ada follow up. Di saat seperti ini aku Cuma bisa bingung. Harusnya aku mengkonfirmasi atau menunggu? Aku minta pendapat dosen lainnya. Beliau bilang lebih baik menunggu, karena kalau aku yang maju ke sana, emangnya aku ini siapa.

Dan sekali lagi, wacana ini muncul. Dan sekarang aku menunggu. Kenapa juga aku gak kapok-kapok menunggu?

Setiap hari ketika aku bangun, aku merasa hampa. Harus ya aku menjalani hidup tanpa aktivitas yang berarti?

Harus ya aku mengikuti naluri semata?

Entah. Bingung.

Baiklah, aku harus mengakui kalau aku mengharapkan kepastian dari kampus. Hanya saja kali ini, aku gak mau cuma berdiam diri.

Jadi, kali ini aku mau coba apply part time job. Malam ini juga. Memang, waktu eksekusinya masih lama, masih bulan Oktober. Dan, memang ada wacana kalau ada kemungkinan proyek dari kantor si akang bakal dilaksanakan antara Oktober atau November. Ada kemungkinan mereka membutuhkan interpreter lagi. Tapi ya, aku gak harus selamanya bergantung pada wacana. Aku yang harus membuat wacana. Aku yang harus mengejar kesempatan itu sendiri.

Aku gak mau selamanya terjebak dalam peran yang merasa dunia ini gak adil.

Oh ya, ngomongin soal itu, aku sadar kalau sebenarnya aku punya passion. Aku ingin terlibat dalam misi membuat dunia jadi lebih baik. Entah itu jadi volunteer, panitia untuk acara sosial, atau staff organisasi sosial dalam skala internasional.

Cuma, aku kadang merasa mustahil, kurang kompeten untuk hal-hal semacam itu.

Tapi ya, aku berharap suatu saat aku punya keberanian dan kesempatan untuk mewujudkan passion itu.

Semoga.



Topeng dan Aneka Rupanya

Malem ini, karena alasan tertentu, aku ngga enak badan. Pencernaanku sakit. Pembuluh darahku rasanya mau pecah. Mau dibawa tidur ngga bisa, karena setiap kali nutup mata, rasanya setiap sel darahku berdenyut-denyut minta keluar. Benar-benar malem yang ngga mengenakkan.


Oh ya, mungkin karena pengaruh lampu kamar juga. Lampu kamarku beberapa hari ini kedip-kedip sendiri, terus meredup. Tanda-tanda minta diganti yang baru. Aku belum sempat ngomong sama Bapak kos, jadi untuk sementara aku harus bersabar dalam remang-remang kamarku.

Yah, dan kebetulan aku baru saja melewati satu minggu yang tidak mengenakkan.

Dalam satu minggu ini, aku menghadapi kejadian yang tak kuinginkan. Aku mencoba diam. Tapi percuma.

Akhirnya, aku coba berpikir kembali. Di saat sedang berpikir, muncul satu pertanyaan: adakah seseorang yang benar-benar bisa kuandalkan?

Aku sih berharap: ada. Tapi entah. Aku masih belum bisa melihat sosoknya di dunia nyata. Aku juga ngga mau mereka-reka, takut kalau nanti ngga jadi kenyataan.

Lalu, aku mencoba melihat sekelilingku.

Ada banyak teman di sekelilingku. Tapi... entah kenapa, aku merasa asing.

Rasanya seperti berada di kerumuman orang banyak. Semua ramai membicarakan banyak hal satu sama lain. Terdengar begitu menyenangkan. Tapi, tak ada yang mengajakku bicara. Aku cuma bisa diam di antara keramaian yang mewah ini.

Aku berusaha menepis pikiran negatif semacam itu. Sebagai gantinya, aku selalu menanamkan pikiran ini benakku: itu semua cuma perasaan. Mungkin kenyataannya tidak seperti itu.

Aku berusaha untuk berpikiran positif, dan itu membantuku untuk tetap tegar. Tapi, kadang-kadang ada masa di mana aku jadi sangat sensitif dan lemah. Pada saat itu, rasanya ngga bisa untuk ngga merasa sedih dan kesepian.

Dan di saat seperti ini, tiba-tiba aku pingin ketemu Mama. Aku pingin Mama makein minyak orang-aring ke rambutku. Aku pingin dikepangin sama Mama. Aku pingin ngobrol banyak sama Mama.

Bahkan, rasanya bertengkar dengan adikku jauh lebih menyenangkan ketimbang perasaan sendirian ini.


Salah satu temanku bilang, kalau aku ngga pernah sendiri. Aku harus jaga hubungan baik dengan teman-teman yang lain.

Dia benar. Tapi, kadang-kadang aku sadar, ada saat-saat di mana hubungan kita hanya sekedar permukaan.

Lalu dia bilang, meski cuma permukaan pun, tidak masalah.

Aku kembali berpikir. Mungkin aku melihat masalah dengan cara yang salah. Makanya aku tak bisa menemukan jalan keluarnya.

Yah, mungkin ini pengaruh perasaan pribadi juga kali ya. Emang beda rasanya ketika orang yang kita sukai menasihati kita. Rasanya kata-katanya jauh lebih masuk akal ketimbang yang dikatakan orang lain (meskipun intinya toh sama aja sih).

Berkat kata-katanya, aku mencoba untuk tetap tegar. Aku mencoba untuk melihat masalah dari sisi lain.


Sementara, di satu sisi, aku sadar, sebenarnya yang aku harapkan adalah hubungan yang jauh lebih dekat dengan seseorang.

Selama ini aku merasa tersiksa, karena harus menyukai seseorang yang tak bisa membalas perasaanku.

Tapi yah, aku tetap bandel. Bukannya aku udah berapa kali menghadapi hal semacam ini? Menjadi penggemar rahasia selama bertahun-tahun. Mengalami penolakan dengan cara yang sangat memalukan. Menyaksikan orang yang sangat aku sayangi berbalik badan dan pergi meninggalkanku. Aku udah mengalami banyak hal itu, kan? Toh, aku masih bisa hidup sampai sekarang. Itu artinya, mengalami cinta bertepuk sebelah tangan sekali lagi, seharusnya bukan masalah. Ya kan?

Entah. Aku juga tidak tahu.

Andai, aku punya keberanian yang lebih besar untuk mengungkapkan diriku apa adanya kepada orang lain.

Ya, seandainya.

Belajar Menelan Sesuatu yang Pahit

hmm... semakin banyak yang kuposting di sini, semakin besar rasa bersalahku. soalnya aku belum ngelunasin janji buat nulis resensi tentang buku terjemahan yang aku baca itu loh xD

tapi, sebelum aku ngelunasin janji itu, kayaknya bakalan banyak postingan geje bermunculan. mungkin ini semacam sindrom kegalauan sebelum pergi merantau jauh.

oke, oke.. ngga usah kebanyakan intro. jadi ceritanya hari ini aku menemukan sesuatu yang pahit buatku.

semua ini berawal dari kecerobohanku sih. aku menunjukkan sisi lemahku pada seorang teman dekat.

aku bilang kalau aku takut.

yah, aku ngga tau sih gimana reaksinya. aku ngga berani liat wajahnya. takut.

tapi terus dia bilang sesuatu.... ngg, intinya begini. jangan sia-siain apa yang udah diperjuangkan. ada orang lain yang juga menginginkan kesempatan yang sama.

waktu itu, aku emang dalam keadaan lemah. jadi ketika dia ngomong gitu, aku berasa ketampar keras banget.

kata-katanya itu pahit banget.

tapi, sepahit apapun buatku, apa yang dia bilang itu bener.

aku masih inget dulu ada temanku yang lain, dia dikasih kesempatan untuk meraih sesuatu yang tinggi, tapi dia ragu dan galau. aku gregetan banget ngeliatnya.

dan sekarang, ternyata aku di posisi temanku dulu itu. jadi yaa... mungkin wajar kalau orang lain rada gregetan ngeliat aku yang seperti ini.

akhirnya aku jadi ngerti perasaan temanku yang dulu galau itu. dan juga alasan kenapa temanku yang ini ngomong sesuatu seperti di atas.

lucu ya... pada akhirnya kita semua ditempatkan di posisi yang berbeda-beda secara bergantian. mungkin supaya kita bisa ngerti perasaan dan pikiran orang lain ketika berada di posisi itu?

karena berpikir seperti itu, makanya aku belajar untuk menerima kata-kata itu. berusaha positive thinking aja sih. kalau emang kata-kata itu pahit, aku anggap itu obat. pahit, tapi menyembuhkan.

dan mungkin ini obat terbaik, karena dikasih oleh orang yang sangat dekat dengan kita.

aku berterima kasih. akhirnya aku dapet kesempatan buat belajar menerima sesuatu yang sulit diterima dengan hati yang lebih legawa.

terima kasih, Teman.


Lebaran Terakhir di Indonesia

Lebaran tahun ini jatuh pada tanggal yang bagus: tanggal delapan bulan delapan. sama kayak tahun sebelumnya, awal Ramadhan versi Muhammadiyah beda dengan pemerintah, tapi lebarannya sama.

lebaran tahun ini ngga seprihatin tahun lalu. kita bisa tidur di rumah yang nyaman dan makan penuh dengan rasa syukur.

tapi sama seperti beberapa tahun terakhir, aku sholat Ied dengan perasaan kesepian. di antara sekian banyak jamaah, rasanya cuma aku yang sendirian. tanpa saudara, tanpa Mama, cuma aku sendiri.

ya apa boleh buat. inilah yang harus aku hadapi.

anyway, akhir-akhir ini aku ngerasa mellow.

mungkin selama ini aku terlalu sibuk dengan yang lain, sampai-sampai lupa kalau lebaran tahun ini adalah lebaran terakhir di Indonesia. soalnya tahun depan, insya Allah aku puasa dan lebaran di Jepang.

yaa, pasti bakal balik lagi sih, dan mudah-mudahan ketemu dengan Ramadhan dan Idul Fitri berikutnya di Indonesia lagi.

cuma ya rada nyesel, kok aku ngga memperlakukan Ramadhan tahun ini lebih istimewa lagi. malah sibuk dengan hal-hal kecil.

penyesalan sih tinggal penyesalan.

oh ya, ada lagi yang bikin aku rada mellow juga.

akhir-akhir ini aku ngerasa ada jarak antara aku dan orang-orang sekitarku. entah itu teman kuliah, teman SD, dan lain-lain.

aku seperti diperlihatkan kalau mereka yang aku anggep spesial ternyata ngga menganggapku spesial. aku cuma kenalan biasa, bukan siapa-siapa.

sedih? terlalu kompleks, ngga bisa disederhanakan dengan satu kata itu.

apa ya rasanya... hampa?

ada juga rasa kuatir, kalau ternyata tanpa sadar aku udah nyakitin perasaan banyak orang. terus akhirnya diem-diem orang membenciku. meskipun aku ngga ada niat seperti itu.

ngg... kira-kira begitulah yang aku rasakan. dan karena perasaan itu, penyesalanku semakin bertambah aja rasanya.


ada keinginan untuk berubah. tapi ya, apapun yang aku lakukan (mungkin) ngga banyak berguna. udah banyak kejadian yang membuktikan kalau betapapun kita berusaha untuk berubah, kesan pertama itu tak mudah hilang. kebetulan aku sendiri ngalamin. sakit juga ya rasanya, tiba-tiba teman SMP berkomentar dan menganggap aku ini masihlah anak yang anti-dandan. padahal kita udah sekian tahun bertemu dan dia juga ngga ngerti kalau aku sekarang lagi mati-matian ngumpulin duit buat beli maskara dan segala macam tetek bengek lainnya.

ya begitulah. people changes. but others tend to not recognize it.

lagipula, kita tak pernah bisa menyenangkan semua orang sekaligus. pasti ada aja yang ngerasa ngga puas, meski kita berusaha yang terbaik.


Ketika Kehilangan

aku yakin, kita semua pasti pernah merasakan yang namanya kehilangan. entah itu kehilangan sesuatu atau seseorang. entah itu karena perpisahan yang sifatnya sementara, atau perpisahan abadi oleh kematian.

gimana cara kalian mengatasi semua itu?

pasti ada banyak jawaban. aku yakin cara apapun yang kalian tempuh, itu adalah obat terbaik bagi masing-masing pribadi kita.

tapi mungkin, masih adakah di antara kita yang ngga rela melepas kehilangan itu?

aku yakin pasti ada.

mari kita bahas ini sejenak.

kalau kita ngga rela, apa sih sebenernya yang membuat kita ngga rela?

karena terlalu cinta? karena kenangan? karena merasa menjadi korban?

mungkin, jawaban terakhir adalah jawaban yang paling dasar dari kita yang masih belum rela melepas kehilangan itu.

menurutku, banyak di antara orang-orang itu merasa ngga rela karena merasa jadi korban. merasa dirugikan. ngga heran kalau orang-orang ini masih belum bisa menerima kenyataan, dan selalu meminta agar sesuatu atau seseorang itu kembali padanya.

atau setidaknya, terus-menerus mengenang masa lalu yang indah.

apa itu salah?

terlepas dari benar atau salah, itu manusiawi kok.

tapi, ada sesuatu yang perlu direnungkan.

bagi kita yang kehilangan seseorang (bukan karena kematian), lalu masih berusaha menyangkal kenyataan, pernahkah kita mencoba bertanya kepada diri kita, "what's wrong with me?"

apa iya sepenuhnya adalah salah orang yang meninggalkan kita?

take a five, then think again.

bagi kita yang masih menyalahkan orang yang meninggalkan kita, pernahkah kita memposisikan diri kita sebagai orang itu?

think again.

menurutku, tidak sepenuhnya kesalahan ada pada mereka yang meninggalkan kita.

pasti ada, meskipun kecil, kesalahan yang kita buat.

dan itu menyebabkan orang lain meninggalkan kita.

terus, apa itu berarti orang lain ngga tulus menemani kita? ngga sayang pada kita?

menurutku, ngga selalu seperti itu.

think again. try to recall those memories.

pernahkah kita coba menyadari, betapa besarnya cinta yang diberikan orang lain kepada kita?

meski tak pernah terucap, tak pernah terungkap. cinta itu selalu ada, meliputi kita di setiap langkah kita.


orang lain telah memberikan cinta yang besar kepada kita. tetapi bentuknya beda dengan "cinta" yang kita bayangkan.

cinta tidak selalu berupa sentuhan lembut, pelukan, atau bisikan kata-kata manis.

cinta bisa hadir dalam sosok yang begitu angkuh dan kejam. cinta ini datang untuk menyeret bagian lemah diri kita, supaya bisa lebih kuat lagi.

dalam bentuk nasihat, omelan, bahkan perdebatan.

isn't it?

----------------------------------
kepada mereka yang masih belum rela melepas satu kehilangan (terutama kehilangan seseorang)

boleh saja bersedih, tapi jangan pernah putus asa. jangan pernah kehilangan harapan untuk terus melanjutkan hidup.

dan jangan selalu menyalahkan mereka yang meninggalkan kita.

kenali diri kita, akui kesalahan kita. meminta maaf atas kesalahan itu. berterimakasihlah atas cinta yang pernah kita terima. itu yang akan membuat kita belajar.

maka, kehilangan yang kita alami tidak jadi sia-sia.

jangan jadikan kehilangan yang kita alami menjadi sia-sia, karena kita sibuk menyalahkan orang lain.

lagipula, sebenarnya ngga pernah ada kehilangan yang sia-sia

sebab kehilangan, justru membuat kita menyadari betapa pentingnya sesuatu yang pernah ada itu

To Bid A Farewell

kira-kira pertengahan bulan ini, Yulia request terjemahan ke aku. dia dikasih tinjauan pustaka buat proposalnya sama Syahrur-sensei. terus, dia minta tolong supaya diterjemahin sama aku. deadlinenya akhir bulan ini.

jujur, di antara semua naskah yang pernah aku terjemahin, mungkin ini yang tersulit. aku sampai frustasi sendiri. jangankan aku, Satoshi juga ikut-ikutan stres waktu aku tanyain. soalnya, dia bingung gimana jelasin dengan bahasa yang sederhana ke aku. emang sih banyak kosakata yang baru buat aku. tapi di atas itu, masalah yang paling sulit adalah karena banyak ambiguitas di sini. dan yang bikin frustasi lagi, kalimatnya ini berlapis-lapis. ibarat baju, bertumpuk-tumpuk, susah pula dibuka. haissh...

tapi untunglah, aku bisa nyelesein tepat waktu :'D

bukan cuma itu, aku pun dapet hikmah dari naskah ini.

oke, aku ceritain sedikit tentang naskah ini.

jadi, naskah ini adalah semacam ulasan atau penelitian tentang novelet karya Yoshimoto Banana yang berjudul "Moonlight Shadow". novelet ini jadi obyek penelitiannya Yulia. buat menunjang penelitiannya, dia dikasih sama Syahrur-sensei naskah ini. waktu aku liat, emang ulasannya cukup bagus. rapi, detil, dan lengkap. tapi ya itu tadi, bahasanya belibet banget =_=

dalam naskah ini, diulas macem-macem aspek yang ada dalam "Moonlight Shadow". mulai dari kenapa "kematian" diletakkan dalam cerita, karakter para tokoh, asal mula judul ini, dan sebagainya. sebenernya naskah ini asyik, karena ulasannya ga cuma asal jeplak aja. ada argumen yang valid, berdasarkan teori-teori ilmiah, dan sebagainya. dan gara-gara naskah ini, aku jadi lupa sama penelitianku sendiri :p malah aku sempet bias ke sastra Inggris gara-gara nemu nama Edgar Allan Poe, Dante Alighieri, dan sebagainya. aku sampai mau pinjem The Divine Comedy karya Dante gara-gara baca naskah ini. saking penasarannya. tapi untung aja aku masih bisa menahan diri. kalo ngga, bisa-bisa naskah ini ngga selesai dan tugas-tugasku terlantar semua. hahaha...

tapi di balik suka dan duka nerjemahinnya, aku dapet pelajaran dari cerita "Moonlight Shadow"

yaitu tentang kehilangan.

di dalam novelet ini, diceritain kalo Satsuki kehilangan pacarnya, Hitoshi, yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. adik kandung Hitoshi, Hiiragi, juga kehilangan pacarnya Yumiko, karena kecelakaan yang sama. sejak saat itu, hidup Satsuki dan Hiiragi jadi ngga seperti dulu lagi. Satsuki sering mimpi buruk. dia berusaha menyibukkan pikirannya, supaya ngga inget lagi sama Hitoshi. salah satunya jogging tiap pagi. sementara itu, Hiiragi berubah jadi aneh. dia pergi ke sekolah, memakai seragam peninggalan Yumiko. aku ngga bisa bayangin, seorang cowok pergi ke sekolah pake seragam cewek. bener-bener bikin patah hati banget bacanya.

menurut ulasan di naskah ini, jogging dan seragam peninggalan Yumiko adalah sesuatu yang dianggap "obat" bagi kesedihan mereka berdua. mereka merasa nyaman dengan melakukan hal itu. meskipun itu masih belum bisa benar-benar menyembuhkan mereka.

lalu akhirnya, Satsuki bertemu dengan arwah Hitoshi dalam 'fenomena Tanabata'. Hitoshi tersenyum dan melambaikan salam perpisahan. sementara itu, Hiiragi juga bertemu dengan arwah Yumiko yang membawa pergi seragam itu.

mungkin bagi pembaca yang kurang suka cerita fantasi, bakal awkward bacanya. tapi menurutku, justru di sinilah poin pentingnya.

bagian fantasi itu adalah penyelesaian cerita ini.

setelah kejadian itu, pada akhirnya Satsuki bisa bangkit dan melanjutkan hidup. begitu juga dengan Hiiragi. akhirnya dia kembali memakai seragam sekolahnya yang biasa.

meskipun aku sendiri kurang ngeh sama penyelesaian ini. tapi, menurutku cerita ini luar biasa.

Banana telah menyuguhkan kepada kita proses yang dialami orang yang bersedih ketika kehilangan seseorang atau sesuatu. proses itu menyakitkan. tapi, ketika akhirnya bertemu dengan penyelesaiannya, mereka bisa bangkit lagi.

dalam naskah ini juga dijelaskan tentang proses kehilangan itu sendiri. macem-macem teori yang disuguhkan. misalnya pendapat Freud tentang mourning work. menurut Freud, ketika orang kehilangan seseorang, dia akan kehilangan minat terhadap dunia luar, kehilangan minat untuk mencari pasangan baru, menghindari segala tindakan yang berhubungan dengan kenangan tentang orang yang hilang itu, dan sebagainya. itulah yang disebut mourning work. selain itu, ada juga teorinya Bolwby tentang 3 tahap proses kehilangan. menurut Bolwby, ketika seseorang kehilangan sesuatu, tahap pertama yang ia alami adalah "penyangkalan". pada tahap ini, orang itu akan menyangkal dan meminta agar sesuatu yang hilang itu bisa kembali lagi padanya. lalu tahap kedua adalah "putus asa". pada tahap ini, ia mulai menyadari bahwa hal yang hilang itu tidak akan bisa kembali lagi padanya, meski ia berusaha sekuat apapun. karena itu, ia mulai putus asa. tahap terakhir adalah "penerimaan". pada tahap ini, ia mulai melupakan hal yang hilang itu, lalu mulai tertarik pada hal yang baru.

teori yang menarik, bukan?

membaca naskah ini, aku jadi merenung dan terus merenung. kehilangan, adalah sesuatu yang pasti kita semua alami. apapun bentuknya. tapi mau tidak mau kita harus melewati prosesnya, kan? ketika Tuhan menimpakan suatu cobaan kepada kita pasti ada maksudnya. mungkin, ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kita, tujuannya supaya kita tahu betapa pentingnya sesuatu itu. mungkin akan sakit, tapi Tuhan tahu kita harus jadi lebih baik lagi.

setuju? :D

dari naskah ini, aku dapet satu pelajaran gimana caranya supaya kita bisa lepas dari rasa kehilangan itu.

kita harus berani mengucapkan perpisahan pada masa lalu.

jujur, menurutku itu suatu tantangan. mungkin pembaca yang lain juga ada yang merasa seperti aku. berpisah pada masa lalu, adalah hal yang sulit, karena masa lalu adalah bagian dari diri kita juga, meski itu hanya ada di belakang kita.

tapi ya, mau tidak mau, suatu saat, kita harus berpisah dengan masa lalu.

aish, aku pasti jadi patah hati kalau baca ulang tulisan ini :'D

jadi, saudara-saudara, siapkah kita berpisah dengan masa lalu?

Godspeed. we won't know until that day comes :)

tapi, apapun yang terjadi, anggaplah sebagai suatu berkah. dalam keadaan apapun, kita selalu punya Tuhan sebagai sahabat kita.

dan Tuhan adalah sahabat terbaik :)

inilah coretan akhir tahun 2012. semoga kita semua bisa melewati satu tahun ke depan dengan penuh kebahagiaan. amin :D

Menyederhanakan Hidup

Papa masih harus dioperasi lagi. kata dokternya, penyakit Papa benar-benar ganas, jadi harus segera dioperasi. semua orang shock, terutama Papa.

apakah di saat seperti ini aku juga harus shock?

Mbah Ity bilang, "Kakak harus lebih tegar dari kami-kami ini. lebih tegar dari siapapun."

makanya, aku ngga mau meneteskan air mata lagi.

-----------------------------
dalam hidup ini, kita akan selalu menemukan kesusahan. mungkin ada yang berpikir karena Tuhan ngga adil. mungkin ada juga yang berpikir kalau cobaan itu adalah hukuman karena dirinya telah berdosa. aku pikir, banyak orang yang berpikir seperti itu.

tapi, sepertinya sedikit yang berpikir kalau cobaan itu adalah bukti kasih sayang Tuhan kepada kita.

aku percaya, segala sesuatu harus diuji dulu sebelum dia bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. artinya, kalau kita diberi cobaan ya itu berarti karena Tuhan emang sayang sama kita. coba deh bayangin, seandainya Tuhan meloloskan semua orang ke tingkat yang lebih tinggi tanpa mengujinya dulu? pasti semua orang tidak akan pernah tahu apa itu kesalahan, apa itu keburukan. soalnya, dia sendiri tidak pernah mengalaminya. ya kan? terus, dunia ini pasti akan kacau, karena semua orang melakukan apapun yang ia mau. dia pasti bakal masa bodoh ketika melanggar hak orang lain, karena dia ngga pernah tahu apa itu kesalahan.

tetapi, kalau orang diuji, dia akan belajar apa itu penderitaan, kesalahan, kegagalan. dengan begitu, ketika dia berhasil naik ke tingkat yang lebih tinggi, dia tidak akan memperlakukan orang dengan cara yang buruk. terus, gimana seandainya kalau orang yang berada di "tingkat atas" tetep aja memperlakukan orang lain dengan cara yang buruk? ya itu artinya ada yang salah atau kurang dari proses yang dia alami. berarti dia sudah gagal uji.

oke, balik lagi ke pembicaraan awal. aku yakin, semua cobaan itu harus dijalani, bukan dihindari atau diratapi. sebab, dengan cobaan itulah kita berhak untuk mencapai tingkat yang lebih dan lebih tinggi lagi.

apakah itu artinya kita ngga boleh mengeluh? well, menurutku manusiawi banget kalau orang mengeluh ketika menghadapi situasi yang tidak dia inginkan. wajar sih. tapi bukan berarti kita harus selalu meratapi keadaan. kita juga ngga perlu berpikiran yang macem-macem. just stay strong and do it.

gampang banget kalau ngomong? prakteknya?

aku tau, pasti bakal ada yang ngomong kayak gitu. aku juga dulu pernah berpikir kayak gitu. tapi, semakin banyak dan semakin sulit cobaan yang aku dan keluargaku hadapi, aku jadi semakin mengerti kalau sebenernya menjadi tegar dan kuat itu bukan sesuatu yang mustahil. we are what we think. kita bisa membentuk diri kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan, apapun itu. mau bahagia? berpikirlah bahwa kita bahagia. mau kuat? berpikirlah kuat.

kalau aku pribadi, aku memilih untuk menjalani hidup dengan cara yang sederhana.

ya, sederhana. tanpa berpikir terlalu "canggih". ngga perlu berpikir "aduh, gimana ya". atau "ya ampun, kalau aku begini terus rencanaku gimana?". atau "duh, kalau aku ngga bisa memenuhi ekspektasi orang terus gimana?" dan sebangsanya.

aku memutuskan untuk melewati cara berpikir seperti itu. aku ingin hidup tanpa tekanan.

bukan berarti melupakan semua dan melepaskan tanggung jawab. tapi, aku lebih memilih untuk menyederhanakan hidup. aku memilih menjalankan apa yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya. segala beban tetap kubawa, tapi tak akan pernah aku monopoli sendiri. akan kubagi bebanku dengan Tuhan. karena Tuhan adalah sahabat terbaik setiap manusia.

aku tau, ketika kita menghadapi tekanan atau cobaan, kita cenderung mencari pertolongan dari orang lain. itu wajar dan manusiawi. tapi, mencari pertolongan berbeda dengan mencari perhatian. aku ngga mau lagi "pamer" kesusahan. bagiku, cukup aku, beberapa orang terdekatku, dan Tuhan saja yang tau ketika aku merasa lelah karena cobaan yang aku hadapi. ngga perlu jugalah orang seantero timeline tau kalau kita galau.

itulah yang namanya tegar dan mandiri. kita tetap teguh berjuang dengan segenap kekuatan yang kita punya, tapi di sisi lain nggak perlu sok mengingkari kelemahan kita. karena, mengakui kelemahan bukan berarti kalah. tapi kita harus selalu ingat, mengakui kelemahan tidak sama dengan meminta dikasihani.

aku ingin jadi pribadi yang seperti itu.

-----------------------
aku menerima semua kesusahan yang aku dan keluargaku hadapi. aku membaginya dengan Tuhan. aku titipkan semua cita-citaku kepadaNya. aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik.

semua kesusahan aku jadikan pelajaran. hikmah yang kudapat aku jadikan senjata. aku jalani hidup dengan perasaan yang ringan dan tenang.

don't "take it easy", but "make it simple" instead :)





Waktu yang Berlalu Cepat

sebentar lagi UAS, ya... itu akhirnya semester 7 bakal segera berakhir. terus masuk semester 8. itu artinya aku harus menyusun skripsi dan segera menyelesaikannya sebelum semester 8 berakhir.

jujur, aku agak takut juga menghadapi semester 8. rasanya belum siap. aku merasa ilmuku masih kuraaaaaaang banget. aku jadi agak khawatir, gimana nantinya waktu nyusun skripsi? bisa ngga skripsiku berjalan lancar? lagian, rasanya berat dan sedih kalau membayangkan aku harus pisah dengan teman-temanku dan kampusku tercinta.

tapi mau ngga mau harus dihadapi, kan. kita ngga akan pernah bisa kembali ke masa lalu.

ngomong-ngomong soal masa lalu, aku jadi keingetan masa-masa kuliah yang udah aku lewati selama 7 semester ini.

aku ingat saat-saat aku tertawa bersama teman-temanku, bertengkar dengan salah satu di antaranya, menghadapi masa yang sulit karena masalah ekonomi, merasakan jatuh cinta, dan segala manis pahitnya.

semua itu terasa begitu indah. kadang aku suka mau nangis, kenapa semua itu berlalu begitu aja?

yaaah, namanya juga masa lalu. ia akan selalu ada di belakang kita, melingkupi kita. seperti tembok di kamar kita. mereka melingkupi kita, tapi tak pernah menyentuh kita. ialah yang memberi kita rasa aman, privasi, dan peringatan agar kita selalu berhati-hati agar jangan sampai menabraknya.

jadi yah, seperti apapun masa lalu, entah itu manis atau pahit, ia jugalah yang melindungi dan membesarkan kita.

dengan berpikir seperti itu, aku jadi agak tenang. dan optimis.

kemudian, apa yang ada di depan, kita ngga akan pernah tahu sampai kita berada di sana. aku tau, aku kini berada dalam masa sulit. Papa yang sakit, masalah di masa lalu yang belum selesai, juga kehilangan orang yang aku sayangi, semua adalah cobaan untukku. aku tau, aku punya banyak alasan untuk sedih, tapi bukan berarti aku punya alasan untuk putus asa.

mbak Vita pernah bilang begini, "kamu diberi cobaan seperti ini karena Allah tahu hanya kamu yang bisa melewatinya"

makanya, aku memutuskan untuk terus dan terus bertahan hidup, sampai aku menemukan sesuatu.

aku tau, aku bukan seseorang yang sempurna. kalau mau ngitung kekuranganku, banyak banget deh. aku tau aku bukan orang yang 100% kuat, karena aku masih suka nangis. tapi, dengan segala kelemahanku, aku memutuskan untuk tetap berjuang.

tujuanku dalam waktu dekat ini, aku ingin jadi mandiri. aku akan tetap berjuang supaya bisa mencapai titik itu. kini aku berusaha sedikit demi sedikit dan melakukan apa yang aku bisa agar bisa sampai ke sana. mungkin hanya langkah-langkah kecil, tapi aku yakin itu bisa mengantarku untuk sampai pada tujuanku.

aku tau, ketika aku bisa mandiri, mungkin akan ada sesuatu yang berakhir. mungkin aku akan sedih lagi karenanya. dan itu juga yang membuatku takut luar biasa. tapi, aku tau ada banyak orang yang ingin melihatku berhasil. aku ingin berjuang demi harapan mereka. aku ingin supaya kesuksesanku nantinya adalah perwakilan dari impian banyak orang, bukan semata-mata impianku sendiri aja.

ketika aku bisa mandiri, aku ngga akan berhenti berjuang. masih ada banyak impian yang ingin kukejar. salah satunya adalah menjadi penulis puisi. inilah cita-citaku. inilah passion-ku. aku tau sebenernya udah lama sekali aku menginginkan hal ini. tapi karena aku masih belum mempercayai diriku sendiri, aku berkelana ke mana-mana mencari cita-cita. akhirnya sekarang, aku menemukannya kembali. aku memberi kepercayaan pada diriku sendiri. aku beri kesempatan pada diriku, agar bisa mengejar impiannya.

aku tau, menjadi seorang penulis di Indonesia ngga akan mudah. di tengah gempuran karya-karya pop seperti chicklit dan teenlit, kurangnya apresiasi sastra di tengah masyarakat kita, kurang layaknya perhatian untuk kesejahteraan penulis, dan lemahnya sorotan media massa, menjadi penulis adalah satu tantangan besar. tapi ya ngga apa-apa. aku tetap ingin menjadi seorang penulis puisi. menjadi ibu yang melahirkan banyak karya. aku ingin, karya-karyaku nantinya menjadi sandaran bagi jiwa yang menangis, sekaligus tambatan bagi jiwa yang tersenyum.

itulah cita-citaku.

bukan hanya itu, masih banyak lagi impian yang ingin aku wujudkan. salah satunya adalah "impian besar". aku ngga tau sih, apa impian ini masih menjadi prioritasku apa ngga. setelah sekian bulan aku gelisah, mengkhawatirkan apakah impian ini akan terwujud dan bagaimana caranya supaya bisa terwujud, kini aku mencapai titik tenang. aku putuskan untuk menitipkannya kepada Allah. bukan berarti aku menyerah atau melupakannya. tetapi, aku tau masalah ini terlalu besar untuk dipikul seorang diri. aku tau Allah mengetahui yang lebih baik untukku. dan yaah, aku tau kadang-kadang aku pasti bakal gelisah lagi, atau nangis lagi, seperti saat-saat sebelumnya. perasa, cengeng, dan senewen emang udah sifatku. tapi ya sekali lagi, dengan segala sifatku yang ngga banget itu, aku bakal tetap berjuang.


----------------
di tengah perputaran waktu yang cepat ini, aku mulai menyusun impian-impianku. seiring dengan berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi orang yang semakin mengenali diri sendiri, tentang kelebihan dan kekurangan yang aku punyai. juga belajar bagaimana menjadikan semuanya sebagai alat untuk mencapai tujuanku.

mungkin, kalau melihat kondisiku sekarang, semua itu sulit tercapai. tapi bagiku, semua itu bukan hal yang muluk.

even today is the worst day of my life, I simply dream for a better tomorrow :)

Aku dan Coklat

aku jarang nonton TV, soalnya di kos ngga ada TV. aku cuma punya kesempatan nonton TV di rumah. biasanya sih nonton apa yang ditonton Papa.

suatu kali, aku liat iklan nugget yang dibintangi girlband Indonesia. aku perhatiin baik-baik cewek-cewek yang melenggak-lenggok manis manja itu. rambutnya, dicat, dibentuk segala rupa. matanya, ditempelin bulu mata entah berasal dari bulu apa, plus lensa kontak yang bikin mata orang (Indonesia) semakin mencetat keluar.

tiga detik kemudian, kesadaranku balik. aku ganti channel, cari kartun yang lucu.

ngeliat girlband itu, aku jadi inget sama cewek-cewek, mulai dari artis sampai anak-anak, yang merombak penampilannya. mengubah warna dan bentuk rambut, pakai lensa kontak warna-warni, pakai make-up, dan sebagainya. semua demi keliatan cantik.

aku cengo sendiri. itukah definisi "cantik" zaman sekarang? kalo iya, wah, tua banget berarti aku.

yah, bukannya aku menolak kemajuan zaman. jujur, aku sendiri suka kok liat bentuk rambut yang lucu-lucu, wajah yang keliatan imut karena make-up, dan sebangsanya (asal tepat dan ngga berlebihan)

tapi jujur aku ga setuju kalau kita harus memalsukan diri kita demi dibilang cantik.

----------------------------------
aku inget, dulu waktu SMP ada temanku yang tanya aku pakai shampoo apa. anak itu anak baru, dan jujur aku ngerasa aneh tiba-tiba ditanya begitu sama orang yang belum seberapa kenal.

setelah aku jawab aku pakai shampoo merk apa, dia bilang gini, "oh, pantes... rambutmu bagus banget soalnya. berkilau gitu. pakai shampoo xxx itu bisa bikin rambut sebagus ini ya? mau coba ah"

aku cuma bisa tersipu aja. bingung juga itu beneran pujian atau cuma basa-basi.

waktu SMA, ada salah satu temenku bilang, "aku suka sama rambutmu. ngga disemir aja warnanya bagus. coklat alami. aku pingin punya rambut kayak kamu"

di kelasku, entah kenapa banyak yang bilang kalau aku punya kecantikan yang beda. kata mereka, wajahku unik, bikin orang ga gampang lupa.

mereka juga sering memuji-muji kulitku yang putih, tubuhku yang tinggi dan kurus (aneh banget dipuji kurus. sampai detik ini aku tidak menganggap 'kurus' itu berkonotasi positif), rambutku yang lurus dan coklat, alisku yang rapi, dan mata yang juga coklat.

lucunya, waktu ada tugas Bahasa Inggris membuat paragraf describing object, beberapa temanku mendeskripsikan aku untuk tugas itu. lucu bin awkward. ya, bayangin aja rasanya ketika kamu di kelas lagi jam pelajaran, lagi ngerjain tugas, terus diperhatiin sama teman-temanmu. ada yang ngelus-ngelus rambutku, yang ngeliatin mataku, yang nyuruh aku ngomong (ngecek logatku kayak gimana) dan seterusnya.

terus, ada salah satu temanku yang salah nulis. dia nulis gini "I have a friend. Her name is Nisa. Her skin is white. Her hair is chocolate. Her eyes is chocolate, too."

aku nahan ketawa waktu bacanya. aku tau, maksudnya pasti "her hair is brown. her eyes are brown, too"

aku kasih tau dia soal kesalahannya itu. terus dia ketawa dan langsung benerin kalimatnya.

-------------------------------
kalau aku inget-inget hal itu, aku suka senyum-senyum sendiri. biasanya aku bakal ngaca dan buka mata lebar-lebar. setelah memastikan iris mataku berwarna coklat, barulah aku puas.

sebenernya, kesalahan yang dilakukan temen SMA-ku waktu tugas Bahasa Inggris itu adalah momen tak terlupakan bagiku. kata-kata itu bikin aku tersipu. manis banget kalau rambut dan mataku diasosiasikan dengan coklat. berasa bisa dinikmati gitu, kayak iklan deodoran pria yang feature coklat itu loh... hahaha....

sejak saat itu, aku mulai mencintai apa yang Tuhan berikan padaku ini.

aku merasa bersyukur, dan rasanya ngga perlu deh mengubah-ubah karunia Tuhan ini.

tapi pernah juga, ketika aku baca tentang anime dan cosplay, aku jadi tertarik untuk mengecat rambutku dan pakai lensa kontak juga. oke, ngecat rambut mustahil juga karena Papa pasti ngga setuju. minimal pakai lensa kontak laaah... toh bisa dipasang atau dilepas kapanpun. cuma karena ngga ada uang, ngga pernah kesampaian.

dan untung aja ngga pernah kesampaian.

kenapa?

karena ada seseorang yang pernah mencintaiku dengan mata coklat ini.

dia pernah bilang, "aku suka matamu. coklat, mirip ibuku."

bahkan dia mengangkat daguku sedikit, lalu melihat ke dalam mataku. aku masih inget waktu itu aku agak memicingkan mata. rasa panas menjalar di pipiku karena malu. aku salting, malu banget...

ngeliat aku salting kayak anak kecil, dia tersenyum.

aku ngga bisa melupakannya, meski udah hampir dua tahun momen itu berlalu.

waktu itu, aku belum begitu mengerti kata-katanya itu. aku cuma bisa tersipu malu.

tapi, kini aku merasa sangat senang. dia bilang mata ini mirip mata ibunya. berarti aku mirip dengan seseorang yang berharga dalam hidupnya.

sejak saat itu, aku semakin mencintai diriku sendiri. aku memberi kesempatan bagi diriku untuk merasa dicintai. bukan cuma itu, aku merasa bahwa sosok ibu itu benar-benar berharga dan aku ingin menjadi seorang ibu.

oke, sekarang ngga mungkin. belum nikah soalnya. hahaha...

tapi, aku merasa sudah menjadi 'ibu'

yaitu ibu yang melahirkan puisi.

sejak titik tolak kepenulisanku tahun ini, aku merasa puisi-puisi yang kutulis adalah anak. kulahirkan mereka dengan penuh perasaan. aku beri mereka nama agar mereka dikenal. tidak ada lagi puisi yang kutulis dengan emosi bergolak seperti SMA dulu.

------------------------------
aku dan coklat. juga kenangan manis tentang keduanya. semua mendorongku untuk lebih mencintai diriku sendiri. diriku yang apa adanya, tanpa kepalsuan. dan itu menginspirasiku untuk terus berkarya, melahirkan lebih banyak lagi puisi ke dunia ini.

love Coklat <3 br="br">



Membuat Kesalahan

semua orang pasti pernah membuat kesalahan.

termasuk aku. dan aku tergolong orang yang sering banget membuat kesalahan.

ketika membuat kesalahan, apa yang kita rasakan? malu? menyesal? atau lega?

yah, pasti campur aduk ya...

kalau aku sih, tipenya orang yang bakal nyeseeeeel banget begitu melakukan kesalahan. dan biasanya bakal ngaruh ke yang lainnya juga. entah itu nafsu makan, tugas, dan lain-lain.

emang payah banget sih kalau sampai begitu. tapi setidaknya aku jadi belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di lain waktu.

aku tak mau mengingkari kalau aku salah. meski pahit, aku ingin menerimanya. aku punya satu keyakinan, kalau segala sesuatu yang membuat kita tidak nyaman adalah pembelajaran.

aku berharap, semoga apa yang aku tangisi bisa membuatku terus belajar untuk semakin kuat. aku juga harus bisa berpikir dewasa, bukan seperti anak-anak lagi.

by the way soal anak-anak, aku akui, aku emang suka banget dimanjain orang lain. aku suka kalau ada orang yang menganggapku lucu seperti anak-anak. makanya, kadang aku jadi manjaaa banget sama orang lain. entah itu meluk temenku, atau ngomong cadel-cadelan dan sebagainya.

mungkin itu satu kebiasaan yang sulit diubah. tapi, aku ingin, meskipun aku seperti itu, aku tetap bisa berpikir dewasa. dan sebaliknya, meskipun aku berpikir dewasa, aku ingin ada orang yang menerima sifat manjaku.

alah, aneh-aneh aja ya... hahaha...

setiap orang pasti membuat kesalahan. tetapi kita boleh ingat, kalau kita bisa memulainya dari awal lagi.

kayak kata mamanya Seiji di drama "Freeter, Ie wo Kau": "you always can restart from zero"

bagiku, itu kata-kata yang sangat inspiratif.

kalau inget itu, aku jadi semangat lagi untuk memulai hari baru

dan belajar memperbaiki diri supaya jadi lebih baik lagi :)

Melupakan "Kenyataan"

minggu ini, aku lagi baca bukunya Freud yang berjudul "Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari". katanya sih, buku itu termasuk salah satu di antara buku Freud yang enak dibaca. karena aku juga lagi ngerjain proposal, mau ga mau aku harus banyak baca tentang psikoanalisa. jadilah aku putuskan buat pinjem buku itu di perpustakaan.

begitu aku baca, bukunya emang lumayan enak dibaca. setidaknya aku bisa paham dikitlah. cuman aku ngga suka sama catatan kaki yang segitu banyaknya. rasanya risih aja. oke, itu cuma kesalahan teknis aja, ngga terlalu jadi masalah.

aku baru baca sampai bab ketiga: "Kesalahan dalam Mengingat Nama dan Urutan Kata". kalau dari contoh-contoh analisisnya, Freud bilang kalau kesalahan mengingat nama atau urutan kata itu bukan cuma kesalahan biasa. ada sesuatu di dalam diri kita yang mendorong kita untuk melupakannya. misalnya, karena perasaan tidak suka atau sebagainya.

setelah baca itu, aku mikir "Eh? Masa sih?" tapi di sisi lain, aku juga merasa kalau analisis Freud masuk akal juga.

terus, aku jadi berpikir, kira-kira pernah ngga ya aku mengalami hal-hal seperti itu?

dan ternyata, hari ini (kayaknya) aku mengalaminya.

jadi, sore ini, setelah rempong sama UTS Pemahaman Bacaan Akademik, aku menemui Satoshi buat tanya-tanya soal penelitianku. aku dapet penelitian sebelumnya dari Cinii lumayan banyak, terus akhirnya aku pilih beberapa yang kira-kira ada hubungannya sama penelitianku. waktu aku baca, ada beberapa istilah yang aku ngga ngerti. jadi aku coba tanya ke Satoshi.

dari sekian banyak istilah yang aku ngga ngerti, ada kata ini: 臨場感 (baca: rinjoukan). kalau di kamus, artinya "presence". cuma ya, entah kenapa aku kurang ngerti maksudnya. terus aku tanya ke Satoshi. kalau kata Satoshi, rinjoukan itu artinya "real".

terus aku bilang gini, 「あ、『現在』と同じ意味ですか」 (baca: "a, 'genzai' to onaji imi desuka?"; arti: "Oh, sama artinya kayak 'genzai'"?)

Satoshi membenarkan, 「『現実』です」 (baca: "'genjitsu' desu")

tetoooot.. maksudku emang genjitsu ("kenyataan"), tapi kenapa yang keluar genzai (masa kini)?

abis tanya-tanya, aku pamit pulang. di perjalanan pulang, aku mikir kenapa ya kok bisa salah ngomong. aku coba telaah seperti analisisnya Freud.

kalau dipikir-pikir lagi, emang sih genjitsu dan genzai itu mirip. keduanya mengandung kanji 「現」 (gen) di dalamnya. dan setelah aku ingat-ingat lagi, aku udah lama juga loh ngga ngomong kata genjitsu. misalnya waktu nulis atau ngomong bahasa Jepang, aku sering mikir "bahasa Jepangnya 'kenyataan' itu apa yah?". tapi tetep aja ngga keluar-keluar itu kata genjitsu. padahal itu kata yang paling sederhana dan akrab buatku.

terus aku mikir kata jitsu. kayaknya aku juga sering lupa cara bacanya setiap kali ketemu huruf itu. aku tau cara bacanya, tapi ngga bisa inget. kadang lama banget baru inget, atau tanpa sadar tanganku otomatis cari di kamus, seolah-olah aku ngga pernah tau cara bacanya.

by the way, aku mau menjelaskan dulu huruf jitsu ini. jitsu bisa juga dibaca minoru atau minori, yang artinya "berbuah". tapi, ketika huruf itu dibaca jitsu, maka ia menunjukkan arti yang berhubungan dengan "kenyataan". seperti kata genjitsu tadi, artinya emang "kenyataan".

aku sendiri kayaknya ngga ada masalah sama kata minoru. emang sih kata itu jarang aku gunakan. tapi aku lumayan suka sama kata itu, karena mengingatkanku pada buah-buahan dan makanan. hahaha...

nah, kayaknya aku bermasalah sama kata jitsu. sepertinya, tanpa sadar aku emang ingin melupakan "kenyataan"

mungkin juga. dan sepertinya masuk akal. kalau kita mempertimbangkan stres yang aku rasakan.

emang sih, sebenernya aku ngga perlu stres. aku hanya perlu berpikir positif. tapi yah, entah sejak kapan aku mulai menyadari kalau semua ngga semulus yang aku bayangkan.

orang-orang yang aku sayangi, belum tentu merasakan hal yang sama denganku

kehidupan yang aku impikan, belum tentu seindah yang aku bayangkan

mungkin aku salah prediksi?

entah. aku juga ngga tau.

meskipun salah satu bagian dari diriku ingin melupakan kenyataan, aku harus tetap menjalani hidupku

dan mengejar kebahagiaan yang pantas aku dapatkan.

Akhir-akhir ini

sebelum posting, aku mau mengakui satu hal. judul di atas emang bukanlah judul yang bagus untuk sebuah postingan publik. jadi, mohon maaf sama pembaca yang kurang suka dengan judulnya.

akhir-akhir ini.... tidak banyak perubahan yang terjadi. Surabaya masih tetap panas. Hujan yang dirindukan banyak orang ngga kunjung dateng. aku sendiri sih, bingung entah harus senang atau sedih. aku akui, aku akhir-akhir ini ngga tahan sama panasnya Surabaya. entah itu karena perasaan, atau emang panasnya udah keterlaluan. tapi di sisi lain, aku sendiri agak berharap hujan ngga turun.

karena, sampai detik ini, aku masih takut sama hujan.

dan aku benci sekali sama bau tanah pra-hujan.

aku emang aneh.

----------------------------
akhir-akhir ini, aku lagi lelah sekaligus excited sama kuliah. kuliah semester ini cukup menantang. tapi di sisi lain, aku agak lelah. mungkin karena suasananya sekarang udah beda sama dulu.

UTS semester ini, aku lumayan kewalahan. tapi aku bersyukur karena setidaknya aku masih bisa menanggulangi, dan keberuntungan masih di pihakku.

akhir-akhir ini, aku merasa lingkungan sekitarku agak garing. aku jadi agak skeptis siapa yang bisa aku percaya.

karena orang-orang yang paling aku percaya sekalipun ternyata bisa mengkhianatiku.
----------------------------
akhir-akhir ini, aku merasa bingung sama diriku sendiri

tentang siapa aku

dan apa yang aku inginkan

aku merasa tak berarti

karena orang-orang yang aku sangat hargai ternyata membuangku

-------------------------
akhir-akhir ini, aku memasukkan lagu-lagu yang bisa membangkitkan kebahagiaan dalam diriku

tapi di sisi lain, aku benci sama lagu-lagu itu

dan ketika aku mendengarkan, aku malah nangis

anehnya lagi, meski aku nangis, mulutku tetap menirukan suara penyanyi

lalu ikut bernyanyi

aku emang aneh
---------------------------
akhir-akhir ini, aku memutuskan untuk berhenti bermimpi

berhenti mengekor pada setiap Supra-Fit yang aku temui di jalan

berhenti menghubung-hubungkan setiap tanda dengan harapanku

dan memutuskan untuk jatuh cinta sekali lagi

tapi di sisi lain, aku takut untuk jatuh cinta lagi

karena, sampai detik ini, aku masih belum sembuh dari rasa kecewa
---------------------------
kadang aku berkata pada diriku sendiri: 「やっぱ、死ねばいいジャン?」

dan aku sudah berniat menyerah

tapi entah siapa di dalam diriku melarangku untuk menyerah


karena, kalau aku menyerah sekarang

mungkin aku akan sendirian

dan aku paling takut dengan kesendirian



aku emang aneh

Makhluk Sosial Modern


terkadang, ada begitu banyak ide di kepala kita, perasaan di hati kita, tapi kita tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.

terkadang, kita merasa orang di dekat kita tak bisa mengerti kita. lalu kita menanti seseorang yang mempunyai 'bakat' untuk memahami diri kita tanpa kita perlu bersusah payah mengungkapkannya. seolah-olah ada satu tali yang menyambung pikiran satu sama lain. seolah-olah seperti telepati.

lalu, jika bisa menemukan orang seperti itu, banyak yang merasa "oh ya, inilah soulmate-ku"

lalu kita meninggalkan orang-orang di sekitar kita, yang selama ini berada di samping kita di saat senang maupun susah

segala tawa dan tangis yang kita lalui bersama mereka, tak ada artinya dibandingkan dengan kesenangan yang kita rasakan kini.

seolah semua hanya ilusi. dan kita menggunakan kata "move on" sebagai senjata untuk melupakan jasa-jasa mereka.

bagi kebanyakan dari kita, "mereka yang tak mampu memahami kita" adalah "lawan". sedangkan "mereka yang mampu memahami kita" adalah "kawan".

--------------------------
manusia itu saling membutuhkan satu sama lain. tetapi kita, manusia modern sekarang, jarang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melengkapi diri kita.

kita, adalah manusia yang dikatakan modern, dengan pemikiran pra-modern.

kenapa?

karena kita masih percaya "takhayul" akan adanya "ratu adil"

yang mempunyai bakat untuk "menyelamatkan kita dari kumpulan orang-orang yang tak mampu mengerti diri kita"
----------------------------

makhluk sosial modern adalah manusia yang berkeyakinan bahwa "soulmate kita adalah seorang ratu adil"

maka, makhluk sosial post-modern adalah manusia yang berkeyakinan bahwa "soulmate kita adalah mereka yang membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik"

Suara Hati Kecil

ketika diam dalam kesendirianku, aku sering berpikir apa sebenarnya yang aku inginkan dalam hidupku.

aku coba mendengarkan kata hati, atau berusaha berdialog dengan Tuhan, tapi entah kenapa aku merasa ngga menemukan jawabannya.

sementara itu, hatiku berkecamuk. suara satu menimpali suara lain, lalu mereka bertengkar, seolah berebut bahwa suara merekalah yang paling urgent.

aku cuma bisa bertanya, "benarkah?" dan tetap tidak menemukan jawabannya.

kalau udah seperti itu, aku ga bisa ga merasa kecewa. diam-diam, tanpa banyak orang tau, aku menangis.

aku tau kalau sebenarnya aku ngga perlu nangis. ngga perlu juga kebawa sama omongan atau apapun yang kini sudah bukan milikku lagi.

tapi tetep aja aku ngga bisa bohong kalau aku mau nangis.

dan sekali lagi, dengan rasa sedih, kesal, dan kecewa, aku bertanya pada diriku, "apa yang sebenarnya kamu inginkan, Cha? just tell us and let's do it together"

tetap saja aku ngga bisa mendengar jawabannya.

---------
aku pernah berpikir seperti ini, sebenarnya diri kita tau jawaban dari semua masalah kita. diri kita, atau mungkin lebih tepatnya hati kecil kita, punya kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang belum terjadi, atau penyebab dari hal-hal yang sudah terjadi. hati kecil kita berusaha memberitahu kita, "hei, ini loh jawabannya! coba lakuin hal ini, pasti masalahmu bisa selesai!"

hanya saja, karena suara itu sangat kecil, jarang dari kita yang benar-benar bisa mendengarnya.

kalau seandainya pemikiranku di atas itu benar, bukankah itu berarti kita, sebagai manusia, adalah makhluk yang menyedihkan?

Perhaps that's true, but somehow I just can't deal with it.

---------
di antara kesedihan, kekecewaan, dan rasa lelahku, aku berusaha untuk tetap berjalan. aku juga ngga mau stagnan di posisi berpikir aja, tapi harus melakukan sesuatu. mudah-mudahan dengan begitu, aku bisa mendengar suara hatiku sendiri.

Perubahan dan Kebahagian

manusia itu makhluk yang sangat dinamis. dia bisa berubah dari detik ke detik, hari ke hari, tahun ke tahun, dan seterusnya.

ketika manusia berubah, udah pasti nilai yang dianutnya ikut berubah kan?

contohnya aku. dulu aku cinta banget sama dunia Gotik, suka dengerin Ali Project, koleksi gambar Suigintou, dan sebagainya.

tapi sekarang, aku jarang dengerin lagi Alipro, malah lebih suka dengerin Arashi. aku masih suka sama Suigintou, tapi udah ga lagi koleksi gambar-gambarnya. dan aku lebih suka nonton drama yang lucu ketimbang nonton anime Gotik apalagi Grotesque.

that means, my values have changed, right?

--------------------
by the way, seminggu yang lalu, aku sempat merenung. sebenarnya, apa sih yang aku inginkan dalam hidupku? oke, aku ingin bahagia. tapi kebahagiaan seperti apa yang aku inginkan? orang seperti apa yang aku harapkan? habis mikir, jawabannya yang bener-bener pas itu ngga muncul-muncul. yang ada aku malah nangis, seolah kehilangan sesuatu yang besar. mungkin itu rasa kecewa karena 'kecolongan'. aku merasa bodoh karena aku belum bisa menemukan inti dari kehidupanku itu apa.

terus malam ini, tiba-tiba aku teringat pada masa lalu, masa di mana aku dan orang-orang yang aku sayangi. kita bersama-sama menghadapi masa susah, bercanda dan ketawa bareng, saling menolong dan berkorban.....

aku kangen masa seperti itu.

tapi, aku merasa orang-orang yang aku sayangi berubah. mungkin ini cuma kecurigaan sentimentilku, tapi aku merasa bahwa orang yang aku kagumi kini menganut nilai berbeda. dulu orang itu mau untuk susah bareng, bercanda segokil-gokilnya, tidak memikirkan ego, gengsi, atau hal-hal lain yang hanya dimiliki oleh kaum "elit". tapi sekarang, aku merasa dia menolak untuk "susah bareng", berdiri di pihak yang "rendah", melakukan hal-hal konyol, dan mulai melirik nilai-nilai kaum elit.

apakah itu suatu perubahan yang baik, aku ngga tau. tapi jujur aku agak kuatir, orang-orang itu bertemu dengan seseorang yang keliatan 'waow, keren!' atau 'oh my God she's so lovely!' terus akhirnya mereka berusaha untuk bisa sejajar dengan orang itu. akhirnya nilai yang dianut mereka pun berubah, cenderung ke arah 'stunning person' itu tadi.

sebelum kita mencecar apakah sikap semacam itu benar atau salah, ada baiknya kita semua merenungi baik-baik dalam hati kita, apa kita ngga capek berpura-pura jadi seseorang yang bukan diri kita?

sementara memikirkan jawabannya, mungkin kita bakal bertanya, "terus, apa donk yang dimaksud dengan 'diri kita' dan 'bukan diri kita'? gimana caranya kita bisa tau mana yang 'diri kita'?"

aku sendiri sih ngga bisa kasih jawaban yang obyektif. tapi menurutku, 'diri kita' adalah kita yang berbahagia. kalau ngga berbahagia, itu bukan 'diri kita'. celakanya, nilai kebahagiaan tiap orang itu beda-beda, jadi bakalan susah mendefinisikan secara pas kebahagiaan itu sendiri. nah loh? terus gimana kita bisa tau hal apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan untuk diri kita?

kalau mau ambil cara yang simpel, just listen to your heart. tanya pada dirimu sendiri, kondisi seperti apakah yang membuatmu bahagia? bagi kamu yang suka bekerja, mungkin pekerjaanmu adalah segalanya. bagi kamu yang menganggap cinta itu indah, mungkin merasa berbunga-bunga ketika membaca novel romantis. bagi kamu yang pemalas, mungkin bagimu berdiam seharian di rumah sambil main game di laptop adalah kebahagiaan yang sederhana dan mudah dijangkau. mungkin, mungkin, dan mungkin. itu semua kemungkinan, yang tak akan ada batasan jelasnya. lagipula, apakah kita perlu memberi satu batasan agar kita bisa bahagia? ada banyak pilihan untuk bahagia. kita tidak harus mengikuti nilai kebahagiaan yang dianut orang lain. silakan pilih mana yang sesuai dengan hatimu.

--------
seperti yang aku bilang di atas, manusia adalah makhluk yang dinamis. dirinya bisa berubah seiring berjalannya waktu. artinya, nilai kebahagiaan yang dianutnya pun bisa berubah.

ketika kita menyadari kita berubah, mungkin kita akan cemas. kira-kira kita bakal bertanya, "apakah aku berubah? apakah perubahanku bisa diterima orang lain?" dan semacamnya. menurutku, kita tak perlu khawatir soal itu. hanya saja, jangan pernah jadi pengkhianat bagi dirimu sendiri. jangan pernah memaksa diri untuk sejajar dengan 'lovely person' atau 'idol' kita. jadilah dirimu sendiri, senyenyek apapun itu, dan berbahagialah!

--------
itu salah satu jawaban untuk kebahagiaan. meskipun aku masih merasa belum puas, tapi aku menyukai gagasan semacam ini :)

Re-Start

pernahkah terpikir dalam diri kita, ada sesuatu yang salah dengan diri kita? ada sesuatu yang kurang, tetapi kita ngga menemukan jawabannya apa. pernahkah berpikir seperti itu?

aku pernah. dan sering sekali.

seperti hari ini.

hari ini aku merasa ada sesuatu yang salah dariku. konsentrasiku menurun, dan rasanya seharian ini ga semangat. aku bolak-balik melakukan kesalahan waktu pelajaran. even I asked people about random thingies and that made me like a fool.

bukan cuma itu aja. entah kenapa aku merasa hatiku sesak dan terbebani dengan "banyak" hal. aku berusaha mengubah perasaan semacam itu menjadi sesuatu yang lebih positif. tapi entahlah, hari ini rasanya cara itu ngga efektif. aku tetap merasa terbebani dan tingkahku makin aneh. aku jadi mulai membenci sifat-sifat dari orang tertentu lagi, walaupun sebenarnya aku juga ngga perlu membenci siapapun dengan alasan apapun.

mungkin, sebenarnya aku ngga membenci, tapi cenderung kecewa.

aku melihat orang-orang berekspektasi tinggi terhadap seseorang. mungkin dia memang terbaik dan wajar kalau orang berekspektasi sama dia. tapi orang itu justru merasa ngga suka sama ekspektasi orang lain dan menganggap dirinya ngga bisa.

aku kecewa sama orang seperti itu.

kenapa?

karena aku berharap aku diberi kesempatan yang sama, yaitu jadi orang terbaik.

yah, emang sih ngga enak rasanya dapet ekspektasi dari orang-orang sekitar kita. pasti ada satu kekhawatiran kalau kita ga bisa memenuhi ekspektasi itu. aku dulu juga sering merasa seperti itu.

tapi, apakah hidup ini hanya sekedar memenuhi ekspektasi aja?

we have heard many times this sentence: "we can't make every single person pleased"


bukankah itu satu petunjuk yang jelas?

keinginan setiap orang berbeda-beda, dan perbedaannya sangat unik. memenuhi keinginan tiap orang yang berbeda-beda itu sangat susah. sama seperti ekspektasi, karena pada dasarnya ekspektasi lahir dari apa yang disebut "keinginan". jadi, kenapa hanya terpaku pada kekhawatiran ngga bisa memenuhi ekspektasi orang lain? bukannya lebih baik menerimanya dan berusaha yang terbaik?

oke, mungkin ada yang ga setuju sama kata-kataku di atas. tapi, apakah kata-kataku salah?

itu kekecewaan pertama. kekecewaan yang kedua adalah ketika seseorang melempar tanggung jawab untuk apa yang udah dilakukannya.

aku rasa, kita semua sering melakukan hal ini. ketika kita melakukan sesuatu dan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, kita cenderung menyalahkan sesuatu atau orang lain. menyalahkan benda, orang, hidup, bahkan Tuhan. padahal, yang melakukan tindakan itu kita sendiri, bukan?

aku ga memungkiri bahwa aku juga pernah melakukan hal-hal seperti itu. aku mengakuinya dan dengan itu aku belajar memperbaiki diri. karena, selama kita tidak mau mengakui kesalahan kita sendiri, sampai kapanpun kita takkan pernah tahu caranya belajar memperbaiki diri. bagiku, biar aja orang menganggap aku salah atau jelek, toh Tuhan selalu memberikan kesempatan bagi kita untuk memulai kembali kapanpun kita mau.

setelah berpikir dan merenung, aku merasa bahwa akhir-akhir ini aku agak kelewat batas. rasanya hari ini aku butuh membuat catatan (posting ini) dan memberi waktu dan ruang untukku sendiri. aku butuh menenangkan diri dan me-restart semuanya.

it's okay to admit our mistakes. it's okay to restart everything even from zero. it's okay because everything will be fine :)

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates