Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Tokyo Zodiac Murder : Heart-tremending Astrological Detective Story

Okee, akhirnya aku ada kesempatan buat ngelunasin janjiku hahahaha...

Kali ini, aku mau cerita soal novel bagus lainnya yang akhir-akhir ini aku baca. Judulnya, Detective Mitarai's Casebook: Tokyo Zodiac Murder karya Soji Shimada.

Sebenernya aku ngga sengaja membeli novel ini. Waktu itu, aku lewat perumahan Dharmahusada. Di sekitar situ ada toko buku kecil, namanya tokobukumurahonline.com. Aku penasaran, makanya coba masuk. Niatnya sih cuma liat-liat aja. Tapi karena ada petugasnya yang ngeliatin aku terus, aku jadi ngga enak. Mungkin aku dikira pencuri. Gimana engga, pagi itu aku baru bangun tidur, belum mandi, terus dengan muka kucel dateng ke toko buku hahahaha... Akhirnya, dengan sangat terpaksa aku beli novel itu. Dia antara sekian novel yang ada, hanya novel ini yang menurutku bisa diharapkan (I just can't imagine myself reading teenlits at this age!). Covernya menarik, jadi aku pilih yang itu.

Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia. Dan yah, sasuga Gramedia, secara fisik buku ini cukup memuaskanku. Ngga ada masalah layout atau cetakan seperti yang pernah aku sebutin sebelumnya di posting tentang buku kumcer "Penggali Sumur". Cetakannya rapi, lemnya kuat, tulisannya jelas. Kalaupun ada yang mau direwelin, paling masalah kualitas kertas. Kertasnya sih ngga jelek, tapi juga bukan yang terbaik. Yah, ngga banyak yang bisa dikatakan soal kualitas kertas. Harga produksi juga menentukan. Makanya aku ngga akan terlalu rewel soal itu. Selebihnya, kualitas cetakan sudah oke.

Soal terjemahan, menurutku udah sangat bagus. Cuma, aku masih ngerasain ada yang ganjil di sini. Misalnya, kata-kata "Taman Bertema". Terus terang aku pingin ketawa. Aku yakin ini terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu "theme park". Aku cuma rada heran aja, kenapa diterjemahin jadi "taman bertema", bukannya "taman bermain" atau "taman hiburan". Emang sih, taman yang dimaksud dalam novel ini bukan taman bermain yang ada bianglala, jet coaster dan sebagainya. Mungkin lebih seperti display rumah-rumah adat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Tapi menurutku, "taman hiburan" masih lebih diterima telinga kita dibandingkan "taman bertema".

Nah, sekarang soal ceritanya. Jujur, aku ngga terlalu sering ngikutin cerita detektif selain komik Detektif Conan, novel "ABC Murder", dan "Petualangan Lima Sekawan". Jadi begitu aku beli novel ini, sempet ada pikiran "Aaah, kenapa juga aku beli cerita detektif?!". Tapi untunglah, ternyata keputusanku pagi itu ngga jadi penyesalan.

Cerita ini dibuka dengan perkenalan tokoh. Aku agak kaget juga, berasa baca naskah drama. Dilanjutin dengan "kata pengantar" dari salah satu tokoh, yaitu Ishioka Kazumi. Kazumi adalah asisten dari Detektif Mitarai Kiyoshi. Aku mulai tertarik dengan buku ini. Rasanya ngga banyak novel yang kata pengantarnya ditulis oleh tokoh fiktif yang bermain dalam novel itu sendiri. Begitu baca pengantar ini, kita seolah-olah sedang membaca arsip kasus beneran. Benar-benar unik. Kemudian, setelah pengantar yang singkat, dilanjutkan dengan prolog yang berjudul "Azoth".

Prolog ini adalah surat wasiat dari Umezawa Heikichi. Heikichi adalah seorang seniman nyentrik yang sangat tertarik pada astrologi dan alkimia. Surat ini dipercaya sebagai catatan terakhir sang seniman gila, yang ia buat sebelum akhirnya meninggal dunia. Catatan ini aneh, gelap, dan meneror mental. Dari catatan ini saja orang udah bisa menduga kira-kira seperti apa Heikichi ini. Aku membayangkan seorang seniman dengan penampilan ngga terurus (berkumis, berjanggut, rambut gondrong ngga terurus, muka berminyak, badan bau alkohol dan rokok, dan sebangsanya), suka menyendiri, dan selalu berlebihan dalam menanggapi segala sesuatu.

Dalam catatan itu, disebutkan kalau Heikichi berniat menciptakan seorang wanita sempurna, yang nantinya dinamai Azoth (ada hubungannya dengan ilmu alkimia. Menurut novel ini, artinya adalah "dari A ke Z", yang berarti sempurna). Untuk menciptakan sang "dewi" ini, Heikichi berniat membunuh enam orang putri dan keponakannya. Kebetulan, keenam wanita muda itu memiliki zodiak yang sesuai dengan aturan penciptaan manusia sempurna. Disebutkan kalau setiap bagian tubuh manusia dikuasai oleh zodiak tertentu. Kira-kira seperti ini:

Kepala dikuasai oleh Aries. Maka, orang yang berzodiak Aries memiliki kelebihan di bagian kepala.

Dada dikuasai oleh Gemini dan Leo. Sementara untuk dada wanita (payudara), dikuasai Cancer. Maka orang yang memiliki kelebihan di bagian dada adalah pria yang berzodiak Gemini atau Leo, dan wanita yang berzodiak Cancer.

Perut dikuasai Virgo. Maka orang yang berzodiak Virgo memiliki kelebihan di bagian perut.

Pinggul dikuasai Libra. Sementara rahim dikuasai Scorpio (mungkin yang dimaksud daerah pinggul/rahim mengacu pada kelamin). Jadi, orang yang memiliki kelebihan di daerah kelamin itu adalah pria berzodiak Libra dan wanita berzodiak Scorpio.

Paha dikuasai Sagitarius. Menurutku ini bener-bener sesuai image manusia berkaki empat itu. Jadi, jika anda berzodiak Sagitarius, maka anda memiliki kelebihan di bagian paha.

Terakhir, kaki dikuasai Aquarius. Mereka yang berzodiak Aquarius memiliki kelebihan di bagian ini.

Aku ngga tau sejauh mana kebenaran teori ini. Yang jelas, diceritakan kalau Heikichi percaya bahwa masing-masing bagian tubuh ini dikuasai oleh zodiak tertentu. Oleh karena itu, dia berniat menciptakan wanita sempurna, dengan cara memutilasi tiap bagian tubuh dari orang-orang yang memiliki zodiak di atas, kemudian menggabungkannya.

Kebetulan, keenam putri dan keponakannya memiliki zodiak yang dimaksud.

Heikichi memiliki tiga putri tiri, dua putri kandung, dan dua keponakan. Salah satu anak tiri tertuanya, Kazue, sudah menikah. Jadi Kazue dicoret dari daftar, karena yang dibutuhkan adalah perawan. Dengan begitu, ada enam kandidat yang akan menjadi "donor" untuk penciptaan Azoth. Daftarnya kira-kira begini (sesuai urutan umur):

Tomoko (26 th, putri tiri) berzodiak Aquarius
Akiko (24 th, putri tiri), berzodiak Scorpio
Tokiko (22 th, putri kandung), berzodiak Aries
Yukiko (22 th, putri kandung), berzodiak Cancer
Reiko (22 th, keponakan), berzodiak Virgo
Nobuyo (20 th, keponakan), berzodiak Sagitarius

Jadi, Azoth akan diciptakan dari potongan-potongan tubuh mereka, yang kalau diurut menjadi seperti ini:

  • Kepala - Tokiko
  • Dada - Yukiko
  • Perut - Reiko
  • Pinggul - Akiko
  • Paha - Nobuyo
  • Kaki - Tomoko

Kebayang ngga sih ngerinya?

Setelah prolog yang panjang dan meneror mental ini, masuklah kita ke dimensi waktu lain.

Diceritakan pada tahun 1939 di Tokyo, terjadi pembunuhan berantai keluarga Umezawa. Tak lama setelah catatan tadi dibuat, Heikichi ditemukan dalam keadaan tewas. Anehnya, dia tewas karena dibunuh, bukan bunuh diri seperti yang ada dalam catatannya. Tak lama setelah itu, pembunuhan terhadap Kazue terjadi. Kemudian, tak lama lagi, terjadi pembunuhan berantai terhadap keenam putri dan keponakan Heikichi. Anehnya lagi, keenam gadis itu dibunuh dengan cara persis dengan catatan Heikichi. Bagaimana bisa mereka semua terbunuh dengan cara seperti itu, jika Heikichi yang bermaksud membunuh mereka sudah meninggal lebih dulu? Kasus ini kemudian menjadi misteri besar di Jepang, yang tak terpecahkan selama kurang lebih 40 tahun. Kasus ini kemudian dinamakan "Pembunuhan Zodiak Tokyo".

Kemudian, cerita beralih ke masa datang. saat itu tahun 1979. Seorang detektif muda yang juga seorang astrolog, Mitarai Kiyoshi, berusaha memecahkan kasus ini bersama kawannya, yang sebenarnya berprofesi sebagai ilustrator, Ishioka Kazumi. Beda dengan Kazumi yang maniak cerita misteri, Kiyoshi tidak terlalu paham soal kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo. Bahkan ada kesan Kiyoshi enggan memecahkan kasus yang ditanggapi terlalu heboh oleh rakyat Jepang itu. Tetapi, atas permintaan seorang klien, akhirnya dia dan Kazumi berusaha memecahkan kasus itu.

Aku ngga akan menceritakan secara detail proses pemecahan kasus ini. Selain panjang banget, juga ngga ada artinya juga menceritakan semua. Tapi, yang bisa aku katakan, ada begitu banyak detil yang memusingkan, seperti letak geografis, kedalaman tanah, dan sebagainya. Buat mereka yang mencari hiburan ringan, novel ini bukan pilihan yang pas. Tapi buat mereka yang suka tantangan dan teror mental, mungkin bakal suka. Cuma lain lagi ceritanya kalau anda suka tantangan tapi tak suka detil, seperti aku, maka mungkin anda tak terlalu suka dengan detil-detil yang rumit itu.

Setelah pencarian yang rumit, panjang, dan menegangkan, akhirnya Kiyoshi berhasil memecahkan kasus ini. Berkat petunjuk yang ngga sengaja diberikan Kazumi, akhirnya Kiyoshi bisa menemukan pelakunya. Aku yakin, banyak orang yang kaget begitu tahu siapa pelakunya. Menurutku, benar-benar di luar dugaan. Aku suka penyajian cerita seperti ini.

Setelah menemukan pelakunya, Kiyoshi tidak menangkapnya. Kasus ini sudah lama berlalu dan udah masuk "peti es". Selain itu, ada alasan tersendiri yang membuat Kiyoshi tidak menangkapnya. Uniknya, Kiyoshi malah mengajak sang pelaku untuk duduk bersama sambil minum teh dan makan kue. Lalu mengenalkannya sebentar dengan Kazumi. Mereka sama sekali tak menyinggung soal pembunuhan itu. Malah, mereka seperti sedang melakukan reuni kawan lama yang hangat.

Tak lama setelah pertemuan mengesankan itu, Kiyoshi dan Kazumi kembali ke kantor mereka dan membeberkan cara pelaku melakukan pembunuhan tersebut kepada kliennya. Benar-benar mengesankan. Aku jadi ngerti perasaan si klien, pasti dia melongo tak percaya seperti aku. Kasus itu terpecahkan berkat Kiyoshi. Tapi, media massa sama sekali tidak menyinggung nama Kiyoshi dan Kazumi. Menurut pemberitaan di media, yang memecahkan kasus ini adalah pihak kepolisian. Kazumi merasa tidak terima, tapi Kiyoshi yang aneh itu, dengan tenang mengatakan bahwa itu lebih baik. Dia tidak ingin menjadi terlalu terkenal, diganggu wartawan, dibanjiri terlalu banyak kasus, dan sebagainya. Dia hanya ingin duduk santai di kantor kecilnya, menerima pekerjaan yang dia sukai, bersama Kazumi yang setia menemani. Awalnya, aku ngga ngerti sama Kiyoshi ini. Tapi akhirnya aku sadar kalau aku suka banget sama tokoh Kiyoshi ini. Jenius, aneh, tapi sederhana. What a man!

Tak lama setelah itu, terdengar kabar bahwa sang pelaku akhirnya bunuh diri, dengan tenang. Karena sang pelaku tak tahu nama dan alamat Kiyoshi, ia mengirimkan surat ke kantor polisi. Dalam surat itu, sang pelaku mengungkapkan dengan detil motif dan juga cara dia melakukan pembunuhan sadis itu. Di luar dugaanku, ternyata motifnya begitu sederhana dan emosional. Aku sampai ngga percaya, soalnya di awal aku udah mikir pembunuhnya pasti berhati sangat dingin. Tapi ternyata ngga seperti itu.

Motifnya sederhana, ia melakukannya demi ibu yang dicintainya. Ibunya dikhianati oleh keluarga Umezawa. Sang pelaku harus melihat ibunya tumbuh menjadi renta, miskin, kesepian, dan sengsara. Sementara keluarga Umezawa hidup bermewah-mewahan. Merasa diperlakukan secara tak adil, sang pelaku akhirnya memutuskan untuk membantai seluruh keluarga itu. Dia juga berusaha agar sebagian besar harta warisan keluarga itu jatuh ke tangan ibunya. Sang pelaku berharap, dengan begitu ibunya bisa hidup lebih baik dan bahagia.

Tetapi, yang terjadi malah sebaliknya.

Emang benar, sang ibu mendapatkan banyak uang dari warisan keluarga Umezawa. Tapi, sang ibu mengalami depresi berat akibat kehilangan putrinya, dan hanya bisa tergolek lemas tak berdaya. Sang pelaku terlambat menyadari hal itu. Ketika ibunya akan meninggal, sang pelaku keluar dari persembunyiannya dan merawat ibunya. Awalnya sang ibu tak mengenalinya, karena pelaku mengubah penampilannya. Tapi, hari-hari menjelang kematiannya, sang ibu kemudian sadar bahwa dia adalah anaknya. Semua sudah terlambat. Sang ibu meninggal dalam keadaan yang tidak bahagia. Pelaku merasa sangat tersiksa. Akhirnya, ia pindah ke Kyoto dan membuka toko dompet yang dulu menjadi impian ibunya. Sejak saat itu, ia hidup sendiri, tanpa pasangan hidup atau keluarga. Hanya ditemani para pembantunya. Selama empat puluh tahun, ia melanjutkan hidup sambil menunggu seseorang yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan yang dilakukannya. Ia berpikir, jika ada seseorang yang mampu memecahkan kasus yang dibuatnya, maka orang itu pastilah sangat cerdas dan memiliki pemikiran yang sama dengan sang pelaku. Jika berhasil menemukan orang itu, sang pelaku bertekad akan mencintainya dan menyerahkan jiwa raganya pada orang yang berhasil memecahkan kasus itu.

Tapi sayangnya, hal itu pun sudah terlambat. Empat puluh tahun berlalu, barulah Kiyoshi datang memecahkan kasus itu. Sang pelaku sudah terlalu tua untuk percintaan, jadi pupuslah harapannya. Tapi, sang pelaku merasa bahagia bertemu dengan Kiyoshi. Meskipun tak tahu siapa nama sebenarnya Kiyoshi. Setelah pertemuan yang bahagia itu, akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri.

Selesai membaca buku itu, aku mau nangis. Aku bener-bener tersentuh oleh epilognya. Mungkin, kasus pembunuhan itu sangat sadis, tak manusiawi, rumit, dan meneror mental. Tapi, begitu tahu motifnya, rasanya pembunuhan itu begitu sederhana dan manusiawi. Maksudku, pembunuhan ini digerakkan oleh satu rasa yang begitu manusiawi: kecintaan seorang anak pada ibunya. Di sisi lain, kasus ini juga memperlihatkan pada kita, bahwa cinta pun bisa jadi sangat buta, sehingga mampu menghancurkan manusia lainnya.

Yang paling menyentuh itu adalah ketetapan pelaku untuk mewujudkan impian ibunya, dan menunggu seseorang menangkap sang pelaku. Aku berpikir, dia pasti sangat kesepian, putus asa, dan sangat mengharapkan kehadiran seseorang yang bisa ia cintai. Kalau emang begitu, bukankah ini sebenarnya hanyalah cerita tentang ketulusan, kepatuhan, dan cinta dari seorang wanita biasa? Sang pelaku mungkin sangat cerdas dan sadis, tapi dia hanyalah seorang wanita tradisional yang memahami dan menerima nasibnya dengan tenang. Ia tidak berusaha memberontak. Ia hanya menunggu seseorang itu datang. Begitu nrimo, seperti ibunya.

Menurutku, Shimada menyajikan sebuah kisah yang menegangkan, sekaligus romantis (meskipun romantis dalam bentuk lain). Sedikit curiga, jangan-jangan ini juga bentuk baru dari Cinderella Complex? Soalnya, sikap sang pelaku itu fairy tale banget: sang putri menunggu seorang pangeran untuk menyelamatkannya. Ah, entahlah. Yang jelas novel ini bagus! Aku ngga menyesal membelinya. Hahaha....

Baru kali ini aku membaca kisah detektif yang bener-bener menggugah hati nurani hahaha... Kayaknya aku harus nyiapin satu rak khusus untuk buku-buku bagus semacam ini :D

Bacaan Bagus: Kumcer "Penggali Sumur"

okee, seperti janjiku di postingan sebelumnya, kali ini aku akan bahas sedikit tentang bacaan bagus yang aku baca akhir-akhir ini.

note:
1) aku mengulas buku ini semata-mata karena keinginan pribadiku. aku ingin share tentang buku ini karena aku pribadi menganggap buku ini bagus dan layak baca. postingan ini sama sekali ngga ada hubungannya dengan kepentingan pihak luar seperti promosi dan sebangsanya.

2) bagi yang belum pernah baca buku ini, aku sama sekaaaaali tidak menyarankan anda menlanjutkan baca postingan ini, karena pasti bakal jadi spoiler. aku ngga mau pembacaan anda terpengaruh setelah baca postingan ini, karena aku ngga pernah suka gagasan "memberikan pendapat untuk mempengaruhi pembacaan orang lain". aku selalu percaya, tidak pernah ada interpretasi yang 100% absah. setiap orang berhak menginterpretasi sesuatu berdasarkan pemahamannya sendiri. dunia ini ngga perlu patokan interpretasi agar seragam, karena perbedaan itulah yang membuat dunia lebih berwarna :D



jadi ceritanya begini, aku ngerasa kemampuan bacaku sedikit menurun akhir-akhir ini. bukan masalah mata secara fisik sih, tapi aku ngerasa kok aku butuh waktu yang lama untuk memahami bacaan. bahkan ketika aku berusaha baca pelan-pelan dan mengulang-ulanginya, tetep aja aku ngga paham. akhirnya aku putuskan untuk "melatih" kemampuan bacaku lagi, dengan cara membaca bacaan bagus.

seolah direstui Tuhan, bertemulah aku dengan buku itu, di rak bukunya mbak Mega xDD

buku tipis itu ternyata kumpulan cerpen. judulnya "Penggali Sumur" karya Zaki Zubaidi. covernya serem seru: ilustrasi orang-orang berjas yang ditanam terbalik, dengan posisi kepala berada di dalam tanah. iya serius, ditanam. terbalik. ternyata itu lukisan seseorang, dari luar negeri kayaknya. aku lupa apa judul lukisannya dan siapa pelukisnya. nanti ya kalau aku bisa pinjem lagi aku tulis di sini hehehe :p

buku tipis itu diterbitkan sama Forum Studi Seni dan Sastra Luar Pagar atau yang disingkat FS3LP (maaf kalau urutan kata atau singkatannya salah. yang aku inget S-nya ada 3 pokoknya :D) kalau kata mbak Mega sih, penerbitnya itu yaa anak-anak Gapus FIB UNAIR sendiri. Gapus atau "Gardu Puisi" ini adalah Badan Semi Otonom (BSO) di bawah naungan FIB UNAIR yang bergelut di bidang sastra seperti cerpen, puisi, drama, dan sebagainya.

oh ya, Zaki Zubaidi sendiri salah satu anggota Gapus loh. sekarang ia jadi wartawan untuk surat kabar yang cukup ternama. kalau menurut kata pengantar di buku tipis itu, terbitnya buku itu adalah hasil bujuk rayu anak-anak FS3LP agar mas Zaki ini mau nerbitin cerpen-cerpennya dalam bentuk kumcer (kumpulan cerpen) :D

awalnya sih setengah heran, buku apa sih ini kok tipis banget. kertasnya burem lagi, ugh. biasanya kalo udah begitu, aku bakal cek siapa penerbitnya. dan FS3LP terasa begitu asing buatku. terbitan mana ini, pikirku. waktu itu, aku ngga tau apa-apa tentang FS3LP sampai selesai baca dan diceritain mbak Mega. jadi aku memutuskan untuk mencari tau di internet setelah aku selesai baca.

sebelum aku bener-bener mulai baca, aku bolak-balik halamannya satu per satu. jujur, aku termasuk bawel kalau soal cetakan. aku ngga suka buku yang dicetak dengan tidak apik. kalau kertas burem, masih bisa aku terima sih, karena masalah ongkos percetakan juga kan ya. tapi aku ngga bisa terima kalau:
1. antara kertas dan tulisannya ngga sejajar
2. potongan kertasnya ngga rapi
3. lemnya mudah lepas
4. huruf-hurufnya ngga tercetak dengan tebal dan jelas
5. font, point, margin, dan spacing-nya asal. kelewat kecil. ngga manusiawi
5. desain covernya asal-asalan: asal comot dari internet terus dijadiin cover, udah gitu ngga ada disclaimer-nya lagi ini ambil dari mana

tapi, ternyata buku ini beda. emang sih kertasnya burem, tapi cetakannya bagus. ngga ada masalah seperti yang aku sebutin di atas. semuanya rapi. aku mulai merasa puas.

aku enjoy baca kata pengantarnya. ngga asal formil, ngga asal menggurui. aku ngerasa seolah-olah orang-orang FS3LP ini berbicara langsung kepadaku. baru kali ini aku bener-bener menikmati baca kata pengantar.

terus aku mulai baca cerpen pertama. judulnya "Pak Mandor". ceritanya tentang seorang mandor bersahaja. meskipun kaya, dia tetap naik sepeda ontel (sepeda gowes biasa itu looooh). tiap pagi dia selalu minta istrinya untuk menyiapkan uang receh. uang receh itu dia berikan kepada pengemis-pengemis yang ada di jalan menuju tempat kerjanya.

ngomong-ngomong, setting tempatnya aku kenal banget: jalan raya Jemursari, Surabaya yang lagi dalam pembangunan. emang sih sekarang udah ngga ada pembangunan lagi, tapi aku bisa ngerasain atmosfirnya waktu baca cerpen ini.

suatu hari, kebiasaan dan sikap Pak Mandor berubah, karena satu insiden kecil. seorang anak jalanan menolak uang lima ratus rupiah yang diberikan kepadanya, dan malah minta seribu rupiah. tersinggunglah Pak Mandor. anehnya, anak ini tidak menolak receh lima ratusan dari orang lain. Pak Mandor merasa, orang lain melihatnya sebagai orang pelit, makanya ngga mau menerima pemberiannya. sejak saat itu, dia jadi suka marah-marah, bahkan memukuli seorang penjaja masker. akhir cerita, dia dianggap kesurupan.

you guys, don't dare to ask me what does this story mean... because I don't know, too :p

jujur aku linglung abis baca cerpen pertama. terus aku lanjut ke cerpen kedua. judulnya, "Meong"
judulnya unyu banget ngga seh :3

masih cerita soal orang kaya. reputasinya baik, dikenal dermawan sekali. tiap tahun selalu mensponsori acara kampung. tapi tahun ini, sang juragan lagi bangkrut. dia cuma punya usaha warung makan lele sederhana. tapi tak seorang warga kampung yang tahu. selamanya citra sang juragan di mata mereka adalah kaya raya dan baik hati.

sang juragan ini juga sepertinya masih ngga mau kehilangan muka. dia dan istrinya cari akal bagaimana caranya mereka tetap bisa mensponsori acara kampung yang akan datang. akhirnya, muncullah ide gila: menyajikan kepala lele sebagai hidangannya. tapi, sang juragan bilang kepada warga kalau itu adalah hidangan asli Jepang yang lezat dan bergizi tinggi, bisa bikin anak jadi pintar.
jujur, aku ketawa baca part ini :D

waktu hari H, terjadi kekacauan. kucing-kucing berdatangan mengelilingi tempat acara. mereka mengeong-ngeong tanpa henti karena mencium bau kepala lele. warga pun ngga sabar menikmati "hidangan Jepang" itu. sewaktu hidangan disajikan, sang juragan mendapat kehormatan untuk mencicipi hidangan terlebih dahulu. saat sang juragan menyantap kepala lele itu, seekor kucing hitam besar datang menerjangnya dan melukai juragan sampai bibirnya berdarah-darah. herannya, orang-orang kampung cuma melihat kejadian itu dan berkata, "wah, itu pasti saking lezatnya"
Tuhan, aku merinding baca part ini. aku ngga bisa bayangin seandainya aku jadi si juragan, diterjang kucing, sementara orang-orang cuma bisa menatap terpesona sama kejadian itu, ngga sadar kalau itu kejadian berbahaya. weh!

setelah itu, orang-orang menyerbu meja makan, berebutan ingin menyantap kepala lele itu. bukan cuma orang, kucing-kucing pun menyerbu dengan agresif. manusia dan kucing berebutan ingin makan kepala lele. keadaan bener-bener gila, tak terkendali. akhir cerita, si juragan merebut mike, berusaha mengendalikan situasi. dia berteriak "meong!" dan semua orang, juga kucing, terdiam.

aneh? mungkin. masih banyak lagi cerpen-cerpen dalam buku itu yang bernuansa gelap, sinis, sureal. kalaupun ada cerita yang sedikit "normal" (ngga terlalu sureal), mungkin cuma cerpen yang berjudul "Penggali Sumur". cerpen ini menceritakan seorang muda yang mewarisi bakat sang kakek dalam hal menggali sumur. setiap ia menggali, air selalu membuncah, dan sumur-sumur di desa itu bermunculan. itu menyelamatkan desa dari kekeringan. semua orang senang, banyak permintaan tolong agar tokoh aku mau menggali sumur untuk mereka. bahkan saat ia menggali pun, orang-orang datang menonton.

tapi, seorang pawang hujan yang (sepertinya) juga ahli agama, merasa tidak senang dengan tokoh aku. di akhir cerita, sang pawang hujan mengutarakan ketidaksenangannya: dia menganggap tokoh aku sudah menyesatkan warga, karena membiarkan pantatnya dinikmati mata banyak orang ketika menggali sumur.

sebenarnya, waktu di tengah-tengah klimaks, aku sudah bisa menebak kalau tokoh aku ini sebenarnya perempuan. dan begitu selesai baca aku tau ternyata tebakanku bener, somehow aku kecewa xD
tapi ceritanya tetep bagus, orisinil, berbobot. aku suka cerita ini dan di antara sekian belas cerpen yang ada di dalam buku itu, hanya cerpen inilah yang bisa diterima akal sehatku -,-

nah, kalau misalnya mau tambahan referensi tentang cerpen ini, ada satu blog yang membahasnya melalui pendekatan kritik feminisme. boleh langsung klik: Cerpen "Penggali Sumur" karya Zaki Zubaidi: Sebuah Kritik Sastra Feminis - Ritus Musim . menurutku pembahasan di blog ini emang agak "berat", karena pendekatannya melalui teori sastra. tapi, kalau ada daftar "blog yang membahas cerpen 'Penggali Sumur'", blog ini pasti masuk dalam daftar teratas. cukup bagus untuk dijadikan referensi.

aku lupa sebenernya ada berapa belas cerpen yang ada dalam buku itu. tapi semuanya menarik. mind-twist. sureal. orisinil. aku ngga tau apa Zaki dipengaruhi wacana tertentu atau penulis lain, tapi aku belum pernah menemukan yang seperti ini. yaa emang sih pendapatku ini ngga bisa dijadiin patokan, secara aku belum terlalu banyak membaca. baru sedikit pengetahuanku tentang karya sastra mutakhir :D

kalau misalnya disuruh memilih mana cerpen yang ngga aku suka, mungkin aku milih "Badai". cerpen ini bercerita tentang seorang pengamen muda yang entah bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang yang cukup banyak. setiap kali mengamen, entah kenapa, orang-orang sepertinya bersimpati sekali dan memberi uang lima ribu rupiah. pembawaan si pengamen ini santai, keliatan bagaimana dia tetap tenang meskipun badai datang. setiap kali diperingatkan agar mengungsi, dia hanya menjawab "badai hanya ada di langit. bukan di sini" dan menolak untuk ikut mengungsi. dia juga agak "aneh" untuk ukuran pengamen biasa. dia punya jadwal mengamen dan selalu menepatinya, bahkan ketika badai datang. dia juga selalu menyelesaikan nyanyiannya sampai terakhir, meskipun orang sudah memberinya uang. menurut gosip orang, si pengamen pakai ilmu hitam, makanya bisa dapet uang banyak (aku juga berpikiran begitu loh :p)

aku ngga terlalu suka bukan karena menurutku cerpen ini ngga bagus. aku cuma agak kecewa, karena cerpen ini terasa datar buatku. pengamen bermalas-malasan, nonton berita tentang badai, pergi mengamen, pulang, tidur, dan seterusnya. ada badai, dia hanya menolak dan menjawab seperti itu. endingnya, badai berhenti. semua orang beraktifitas kembali seperti biasa. aku ngga nangkep klimaksnya di mana. itu aja sih. tapi bukan berarti ngga bagus. cerpen ini tetep punya orisinilitas yang sama, seperti cerpen-cerpen Zaki lainnya.

sebaliknya, kalau ada cerpen yang harus aku favoritkan, pasti cerpen yang berjudul "Bak Air dalam Kamar Tidur". ini juga favoritnya mbak Mega.

agak beda dari cerpen lain, cerpen ini memakai sudut pandang aku sebagai orang pertama dan bergaya seperti surat kepada pembaca. tokoh aku seolah-olah sedang berbicara langsung dengan kita. and let me tell you, this one is so insane. rasanya abis baca cerpen ini aku pingin menjambak rambutku sendiri sambil teriak "aaaaarrrgh!", stres karena udah sampai di klimaks kebingungan.

tokoh aku mendeskripsinya dirinya sebagai seorang yang jenius. semasa kecil, dia bisa menciptakan hujan dalam kamar dengan cara menaruh bak air di bawah tempat tidurnya. dia bersumpah hal itu beneran terjadi, karena dia melihat bagaimana air dalam bak itu menguap, kemudian menjadi kabut. begitu tokoh aku menyalakan kipas, kabut itu berubah jadi hujan. hujan terjadi dalam kamar itu dan akibatnya semua jadi basah kuyup. begitulah menurut tokoh aku. tapi orang tuanya tidak sependapat. mereka menduga tokoh aku bermain-main dengan air di bak dalam kamar. karena tokoh aku tetap bersikeras, orang tuanya jadi takut dan membawanya agar mendapat terapi penyembuhan kelainan jiwa.

kembali ke masa sekarang, tokoh aku bersumpah tidak ingin menjadi seperti orang tuanya, yang ia anggap tidak perhatian. kemudian tokoh aku bercerita kalau ia melihat anaknya sendiri, sedang menyiapkan bak air dan membawanya ke taman. tokoh aku tersenyum senang, mengira anaknya juga akan meniru jejak "kejeniusan"nya. tapi, kemudian tokoh aku jadi khawatir kalau-kalau orang lain melihat perbuatan anaknya dan melakukan hal yang sama seperti orang tua tokoh aku dulu. tokoh aku tidak ingin anaknya menderita seperti dirinya dulu, jadi ia memutuskan untuk membawa anaknya ke suatu tempat, di mana tak ada seorangpun bisa melukainya. akhir cerita, tokoh aku menusuk perut anaknya sendiri dengan pisau.

ini loh... iniiiiiii loh yang bikin aku gila. I mean, heeeii... bisa aja anak itu cuma kepingin main air di taman, seperti anak biasa lainnya. kenapaaa tokoh aku bisa mengira si anak meniru dia? terus kenapaaa juga dia berpikir dengan membunuh anaknya, tidak seorangpun bisa melukainya?! oh, oke, dalam hal ini dia benar. ngga ada seorang pun bisa melukai orang mati. tapi heiii..! aku masih ngga terima!

kalau bisa sih, aku pingin menertawakan diriku sendiri. Zaki udah sukses membuat pembacanya terhanyut dalam cerpen ini. salah satunya aku. makanya, aku paling suka sama cerpen "Bak Air dalam Kamar Tidur" ini.

Tontonan Bagus, Lagu Bagus

baiklah, para pembaca setia blog saya *plakk* siap-siap muak karena postingan ini bakal acak-acakan (seperti biasa. there's nothing new, huh?) :D

buat pembaca yang ngerasa ngga suka dengan style seperti ini, mohon maaf sebelumnya. postingan ini ditulis berdasarkan niat tulus untuk berbagi tentang "tontonan bagus dan lagu bagus" yang saya nikmati akhir-akhir ini :p

jadi ceritanya, berhubung ini semester skripsi, aku lebih banyak di kos. nah, pas bosen, biasanya aku buka S-jou terus nonton anime atau dorama.

anime yang kutonton baru-baru ini sih Mirai Nikki. well, aku ngga akan cerita banyak. aku suka sama Mirai Nikki semata-mata karena kepribadianku, itu aja sih. aku ngga recommend anime ini. emang provokatif sih, mind-blow banget. mereka yang suka sama kontroversi mungkin suka anime ini. tapi menurutku masih ada yang kurang, entah itu apa. dan jujur, aku lagi males buat cari tahu :p

by the way, soundtracknya bagus-bagus loh :p aku suka openingnya yang 「空想メソロギウィ」 atau "Fantasy Mythology" dan endingnya, "Filament", yang dinyanyiin Yousei Teikoku. "Blood Teller" lumayan sih, tapi aku masih lebih suka "Dead End". kalo ngga salah dua-duanya dinyanyiin Faylan.

nah, kalau dorama, aku bakal recommend banyak nih :p
oh ya, semuanya ini dorama yang dibintangi membernya Arashi. jadi, buat mereka yang antipati sama idol atau boyband, silakan tinggalkan postingan ini :p tapi kalo masih penasaran, monggo dilanjutin. ngga ada yang ngelarang kok hahaha....

pertama, "Last Hope" (Januari - Maret 2013). bintangnya Aiba Masaki, ichiban-nya Nene. dari beberapa dorama Aiba yang pernah aku tonton itu, bisa dibilang ini dorama bagus. akting Aiba di sini lumayan, karakter yang dia mainkan keren ©© dia main sebagai dokter bernama Hatano Takumi.

buat yang pernah baca, atau suka sama manga medical semacam "Dr. Koto", "Wild Life", dan lain-lain, mungkin bakal ngeh sama dorama ini. dorama ini bercerita tentang sebuah tim yang terdiri dari enam dokter dari berbagai macam bidang, di sebuah rumah sakit universitas. mereka menangani berbagai macam kasus medis yang sulit ditangani, maka dari itu mereka menyebut tim mereka sebagai "harapan terakhir" bagi para pasien yang sudah putus asa karena penyakit serius mereka.

dorama ini keren, karena bisa menggambarkan dengan detail suasana rumah sakit, penanganan medis yang dilakukan para dokter, kecanggihan teknologi yang dipakai, keadaan psikologis para tokoh, konflik antar tokoh, dan sebagainya. menurutku ini dorama yang digarap dengan sungguh-sungguh. sebenernya aku agak heran sih, kenapa yang dipilih Aiba, bukan Sho yang terkenal dengan image smart itu. tapi ternyata, Aiba bisa membawa peran Hatano-sensei dengan baik. keren banget lah ©

kalau mau ngomongin sisi minusnya sih, mungkin cuma satu: dorama ini agak berat. bukan jenis dorama yang bisa ditonton sebagai hiburan ringan. jadi, buat mereka yang lagi stres karena ujian, skripsi, kerjaan, dll dan sedang mencari hiburan ringan, dorama ini kurang disarankan. hahaha....

kalau mau tau cast-nya, boleh liat di sini: Last Hope - Drama Wiki

oh ya, aku suka sama karakter Soejima-sensei yang dibintangi Kitamura. aku sukanya karena dia matre, oportunis, dan rada sadis gitu sih. entah kenapa ya kok aku suka sama yang begitu :p


nah, kalo dorama yang agak ringan juga ada. judulnya "Uta no Nii-san" (Januari - Maret 2009), bintangnya Ohno Satoshi, member favoritnya mbak Mega.

di sini Oh-chan main sebagai Yano Kenta, pemuda berumur sekitar 20-an yang hidup serba setengah-setengah. Yano Kenta adalah vokalis band indie bernama "Giselle". tapi, suatu hari dia didepak dari band-nya, dan kehidupannya berubah kacau.

di tengah kekacauan itu, dia berusaha mencari kerja. karena suatu insiden, akhirnya ia diterima di sebuah program TV anak-anak, "Minna de Utao!"
awalnya Kenta ini kerja serba nanggung, ngga niat, dan sebagainya. tapi, berkat "Minna de Utao!", akhirnya kehidupan Kenta mulai berubah ^^

aku supeeeeer suka sama soundtrack-nya, "Kumorinochi, Kaisei" yang dinyanyiin Oh-chan. lagu ini asyik, ringan, ceria! liriknya juga bagus, pesan moralnya ada bangeeet! ini lagu bagus yang bakal aku recommend, terutama buat mereka yang lagi galau dan ngga punya motivasi hidup hahaha :p

cuma, satu hal yang agak bikin heran menurutku: kenapa lagu "Kumorinochi, Kaisei" selalu diperkenalkan sebagai "lagu yang dinyanyikan oleh Yano Kenta, dibintangi oleh Ohno Satoshi"? kenapa kok bukan "dinyanyikan oleh Ohno Satoshi" aja? I mean, Ohno Satoshi is real, but Yano Kenta is not real. aneh, bukan?

yah, whatever sih. yang jelas lagu ini bagus ©

mau liat cast-nya? cek di sini: Uta no Nii-san - Drama Wiki

ini link buat liriknya "Kumorinochi, Kaisei" barangkali pada penasaran :p
Kumorinochi, Kaisei - Jpop Asia

oh ya, dorama "Uta no Nii-san" ini super koplak. aku udah ngakak mulai episode pertama. Oh-chan di sini super kampungan! hahaha... beda banget sama Enomoto Kei yang dia perankan di "Kagi no Kakatta Heya" (ini juga dorama bagus banget, tapi maaf ya aku ngga bahas dulu)

liat dorama ini, aku jadi inget dorama "Freeter, Ie wo Kau" yang dibintangi Ninomiya Kazunari (ichiban-kuuuuuu!!!!! ©©) menurutku ada beberapa kemiripan: sama-sama bercerita tentang pemuda yang serba setengah-setengah, terpaksa bekerja di tempat yang jauh dari harapan mereka, lalu kemudian berubah begitu kerja di sana.

yah, tapi "Freeter, Ie wo Kau" sedikit lebih berat sih daripada "Uta no Nii-san"

yang jelas aku suka Nyinyo © *apasih

Resensi: The Hunger Games



 Judul: The Hunger Games
Penulis: Suzanne Collins
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 58.000,00
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 408 halaman
Terbit : Oktober 2009
ISBN : 978-979-22-5075-6
No Produk : 32201090012
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates