Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Kalau Bab II selesai....

yang kepo blog saya, saya punya berita baru untuk anda: saya belum move on di skripsi

oke, itu maksain banget. hahaha....

yah, aku ngga akan lagi beberin sejuta alasan kenapa kok sampe sekarang progresku lambat sekali. sampai kapanpun itu hanyalah alasan. jadi kita stop pembicaraan soal alasan itu.

aslinya ya menyesal, gregetan sendiri, kok bisa progresku lambat banget. rasanya pingin banting laptop, berharap bisa nuntasin perasaan ganjel ini. ekstrim banget yak. hahaha...

terus, akhirnya aku sadar. buat apa juga gregetan sendiri tapi ga ada hasilnya? daripada kelamaan ngukur masalah, lebih baik bikin langkah kecil menuju perubahan. ya kayak kata iklan rokok itu.

jujur, aku suka banget sama iklan rokok. soalnya, biarpun iklan rokok, ngga pernah ada adegan orang ngerokok. dan yang paling penting, menginspirasi banget. ada aja kata-kata atau adegan yang menggugah hati. kadang bikin terharu, kadang bikin "yosh!! aku juga harus semangat!!", kadang bikin otak meledak (baca: mind blow), dan sebagainya.

oke, balik lagi ke topik awal (-_-) jadi, supaya semangat ngerjain skripsi, aku bikin motivasi sendiri. balik lagi ke kebiasaan waktu aku masih 1nen -2nen (aaaaak, aku kangen masa-masa itu ;_;)

apakah itu? (cieh, ngga penting banget baris ini. oke, lompatin aja)

aku nulis goal-ku di papan tulis kecil yang dikasih Mbah Ity waktu aku masuk UNAIR.

dulu goal-nya mungkin sedikit 'realistis' dan terkesan 'memaksa'. malah kadang-kadang lebih semacam deklarasi perang (kadang orang ngeliatnya aku terkesan sombong banget dan ambisius gitu. padahal aslinya ya biasa aja). tapi sekarang, aku bikin dengan kesan yang lebih sederhana, manja, dan 'egois'.

ngomong-ngomong soal egois, aku terinspirasi dari dorama Last Hope (ini dorama bagus banget menurutku. dari awal nonton aja udah langsung "kyuu~n" terus akhirnya ketagihan nonton. sampe sekarang ngga ada episode yang ngga bisa bikin aku nangis T^T)

di dorama itu, ceritanya ada seorang pasien yang kena penyakit berat banget. antara hidup dan matilah. dia itu udah putus asa dan ngga mau jalanin operasi lagi. dia udah nyerah, seakan-akan "udah deh, mati ya mati aja"

tapi, dokternya bilang (intinya begini), "wajar sih kamu ngga mau lagi ngejalanin perawatan yang nyusahin. tapi apa kamu ngga punya mimpi yang ingin kamu wujudkan? ngga apa-apa kalau kamu sedikit egois dengan mimpi-mimpimu. coba bertaruhlah padaku. aku ngga akan membiarkan kamu mati" ya, ya, ya, kurang lebih seperti itu.

aku paling suka sama baris ini: "ngga apa-apa kalau kamu sedikit egois dengan mimpi-mimpimu"

aku setuju. terkadang kita perlu egois. dan egois itu emang manusiawi banget kan. kalau kita ngga egois sama mimpi-mimpi kita sendiri, ngga mau ngotot berusaha untuk itu, sampai kapanpun mimpi itu ngga akan pernah terwujud, ya kan?

ngga akan ada orang lain yang bisa mewujudkan keinginanmu selain kamu sendiri. sehebat apapun orang lain itu.

makanya, aku buat semacam goal yang bisa nyenengin diriku sendiri. anggaplah semacam hadiah untuk diriku sendiri setelah berjuang keras. ketika aku berhasil menyelesaikan targetku, aku bakal manjain diriku khusus untuk saat-saat itu. ngga akan peduli lagi sama apa dan siapa, pokoknya hari itu aku boleh 'seegois' mungkin.

dan entah kenapa itu bikin aku jadi makin semangat :3

hmm... sebenernya, goal macam apa sih yang aku tulis?

oke, ini rada malu-maluin soalnya. でも、やっぱり どうでもいいや。だって これは わがままの だもん。

jadi.... aku nulis begini:

"Bab II selesai:
- Larissa <3 br="">
- Rumah Cantik Citra ^^
- Soft/hard case kacamata baru
- Rantai kalung baru ^w^"

 di bawahnya aku tulis ガンバッテ!

sumpah malu-maluin. hahaha...

jadi, kalau bab II ku selesai, aku akan mewujudkan salah satu dari keempat keinginanku itu. pokoknya tergantung budget sih (this is sooooo lame T-T) bisa dibilang "sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui" soalnya dengan begitu, aku jadi termotivasi juga buat berhemat kan, uangnya ditabung buat hadiah nanti. hahaha....

kalau udah terwujud, aku bakal hapus dan aku ganti sama goal bab III. ya paling masih sekitar-sekitar itu aja sih. tergantung mana udah terwujud dan mana yang belum hahaha....

mungkin... langkah kecilku ini kelewat sepele. ngga ada hubungannya secara langsung sama proses penulisan skripsi. so what? siapa lagi yang bakal mendorong aku kalau bukan diriku sendiri?

semogaaaaaaa aku jadi semakin semangat :3




dan kayaknya, aku butuh beli boardmarker baru lagi :|


Tiga Bulan Awal 2013

mungkin sekilas posting ini seperti rangkuman setelah lama aku absen menulis di blog ini. tapi, ada begitu banyak cerita yang lebih dari sekedar rangkuman selama tiga bulan ini. sebenarnya udah lama aku mau menulis, tapi berhubung pikiran dan waktu terasa selalu penuh (hehehe) jadi baru sekaranglah aku bisa menulis.

hm, mulai dari mana dulu? oke, kita cerita mulai dari bulan Januari dulu :)

Januari 2013

aku lupa sejak tanggal berapa kita UAS semester ganjil, tapi aku ingat tanggal berapa sidang proposal. yaitu tanggal 10 Januari 2013.

hari itu, sebenarnya aku dijadwalkan sidang jam 9 pagi. tapiiiiii..... berhubung Bu Diah Arimbi, dosen tamu dari Sastra Inggris, masih ada rapat di kampus C, jadinya ditunda sampai siang.

sekitar jam 1 siang (kalau tidak salah), sidang proposal Kie diadakan. selama ini aku belum pernah menonton sidang, baik itu sidang proposal maupun sidang skripsi, jadi aku datang ke sidang skripsi, sekalian siap-siap juga (aku sidang setelah Kie). Kie diuji sama Bu Diah dan Syahrur-sensei.

setelah Kie mempresentasikan proposalnya, Bu Diah langsung mengajukan pertanyaan tentang surealisme itu apa, bagaimana reputasi Haruki Murakami dalam sastra surealisme, dan sebagainya. suara Bu Diah yang cetar membahana membakar kompleks sebelah itu benar-benar bikin aku keder. aku ngga tau gimana perasaan Kie menghadapi kedua dosen penguji itu. Kie keliatan gigih mempertahankan argumennya. sementara itu, aku udah dag dig dug tegang menonton sidang itu. aku duduk di belakang sama Eli-sensei. Eli-sensei cuma senyam-senyum, malah ketawa aja nonton sidang itu.

sidang Kie berjalan alot. melebihi batas waktu sidang malah. emang seru sih. Bu Diah dan Kie sama-sama berkutat di satu hal yang sama. aku ngga seberapa ingat itu apa, yang jelas serulah. setelah akhirnya selesai, barulah sidangku dimulai.

jujur, aku guguuuuup banget waktu mau sidang itu. apalagi aku kan memutuskan untuk pakai teorinya Barthes, yang notabene teori Barat. kalau soal teori Barat, aku yakin Bu Diah sudah paham bangetlah. berasa ciut di depan Bu Diah. gimana kalau aku salah kaprah tentang teori ini? bakal didamprat macam apa aku ini? dan berbagai pertanyaan lain muncul, membuat aku makin gelisah dan ngga pingin sidang. but show must go on. jadi aku banyak-banyakin menyebut nama Allah dalam hati.

saking gugupnya, aku sering keselip lidah waktu presentasi. yah, emang itu satu kebiasaan jelek yang belum bisa aku ubah. rasanya pingin aku lepas aja dulu lidahku biar ngga belepotan. tapi ngga bisa ya. hehehe...

setelah presentasi, aku makin gugup. aku udah takut bakal ditanyain kayak Kie juga. duuuh! tapi ternyata ngga juga sih. Bu Diah mengkonfirmasi antara yang aku tulis dengan yang aku presentasikan. ternyata aku goblok banget. aku lupa mengganti judul di sub-bab sekian. aku lupa halaman berapa, sub-bab apa, yang jelas seharusnya aku mengganti judul lama, yaitu "Representasi Ibu dalam Puisi Kaneko Misuzu - Hubungan antara Puisi dengan Riwayat Hidup Penulis-" dengan judul yang baru, yaitu "Representasi Ibu dalam Puisi 'Kokoro', 'Suzume no Kaa-san', dan 'Umi wo Aruku Kaa-sama' Karya Kaneko Misuzu". tolol banget lah aku itu. aku menjelaskan kalau aku salah tulis. terus aku diketawain sama Bu Diah ._.

ternyata, sidang berjalan tidak seseram yang aku bayangkan. aku ngga terlalu didamprat, tapi justru malah dikasih banyak masukan. aku legaaaa banget udah sidang.

dan hasilnya juga ngga sia-sia. sekian hari kemudian, di cybercampus muncul nilai mata kuliah Seminar. aku dapat nilai A untuk proposal :)

begitulah cerita tentang sidang proposalku. oh ya, aku tahun ini ikut ujian Japanese Studies Monbusho lagi. untuk menghadapi tes yang sulitnya minta amplop itu, aku dan beberapa anak yang lolos ujian saringan ikut benkyoukai di suatu kelas geno bernama Tokushin-kurasu (Tokushin class) di bawah bimbingan seorang sensei yang geno pula bernama Oonishi Satoshi. Satoshi ini sebenarnya sebaya sama aku. dia dan Sumitomo Kazuma, adalah volunteer dari Ashinaga Foundation tahun ini (Ashinaga Foundation tiap tahun selalu mengirim dua orang volunteer ke jurusan kita. biasanya mereka jadi semacam asisten dosen atau pembimbing untuk ujian semacam Nouryoku Shiken dan sebagainya). beda sama volunteer sebelum-sebelumnya, Satoshi ini gampang beradaptasi dan mudah bergaul dengan semua kalangan. bahkan hari kedua dia dateng ke FIB, dia udah bergaul sama Cak Mo, petugas parkir FIB. kita sampe melongo, ngga habis pikir gimana caranya (dengan bahasa apa) Satoshi dan Cak Mo berkomunikasi. bahkan sampai ada spekulasi jangan-jangan Cak Mo bisa bahasa Jepang -,-

by the way, Tokushin-kurasu tahun ini terbagi jadi 2 kelas, kelas A dan kelas B. pembagiannya berdasarkan peringkat nilai yang diperoleh waktu ujian saringan itu. berhubung namaku berada di peringkat pertama, masuklah aku ke kelas A bersama teman sekelas yang disebut Satoshi sebagai "mendouna gakusei" alias murid-murid yang menyusahkan. ya wajar sih kalau dia bilang begitu. soalnya, selain aku, masih ada 6 mahasiswa lain yang sangat menyusahkan. setelah namaku, ada nama Vina Ardha, adik kelasku angkatan 2010 (oke, dia ngga mendou, tapi ternyata cukup geno), disusul nama Ratu Addina alias bebeb Nene yang kepintaran dan kepolosannya sangat abnormal itu. terus ada si "cantik" yang geno, Alfi Ardian Pratama. ditambah mbak kosku yang seksi manly, Mega Dian Putra, eh Pramita. adik kelasku yang multi-tasking (bukan multi talent loh ya) Sukma Prayoga alias Unko. dan terakhir, teman seangkatan mbak Mega, yang berhasil memacari Kazuma, mbak Nurul Indah Sumitomo, eh Susanti.

dibawah bimbingan Satoshi-sensei, jadilah kelas A sebagai kelas geno mendouna kurasu alias kelas geno yang sangat merepotkan.

beda sama tahun lalu, kelas ini sangat menyenangkan. rasanya tiada hari tanpa tawa bersama orang-orang sedeng ini. ada aja yang jadi bahan guyonan. bahkan dalam keadaan sumpek dan buntu sekalipun, kita masih bisa guyon. yah, kita emang orang-orang iseng yang kreatip dalam menciptakan guyonan.

tapi, di samping sikapnya yang suka bercanda itu, Satoshi serius membimbing kita. dia ngga segan-segan kasih PR yang banyak (it was hell!!!), bahkan sampai ngadain bimbingan dua kali sehari bagi mereka yang menginginkannya.

begitulah situasi dan kondisi bimbingan Tokushin Kurasu. sementara itu, sejak tanggal 16 Januari 2013, Papa opname di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. papa harus menjalani operasi pengangkatan kantung kemih. karena tumor yang Papa derita, dokter menyarankan supaya kantung kemih Papa diangkat dan diganti dengan kantung buatan. Papa pasrah menerima semua ini. aku menemani Papa selama liburan semester ganjil ini.


keadaan kelas A yang seperti itu, kondisi Papa, dan kesibukanku mengurus segala macam administrasi dan keperluan Papa di rumah sakit, membuatku semakin ingin berjuang untuk bisa lolos dalam ujian Monbusho tahun ini.

emang ada kalanya aku benar-benar sumpek, lelah... saat seperti itu, aku udah hampir nyerah. ngga sekali dua kali aku nangis di depan mbak Mega dan mbak Vita saat di kos. kadang rasanya sepi dan sendiri. kadang merasa marah, kepada mereka yang ninggalin aku begitu aja, di saat aku dalam keadaan susah seperti ini.

tapi toh Tuhan ngga pernah meninggalkanku. bahkan Ia mengirimkan teman-teman yang selalu mendukung. bahkan para dosen pun memberi perhatian juga. karena itu jugalah aku bisa bangkit dan berjuang lagi.

Februari 2013
4 Februari 2013, Papa operasi. saat operasi, aku ngga tau harus gimana. aku bolos kelas Tokushin hari itu dan menunggu sampai Papa selesai operasi. operasinya lama sekali, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. aku minta Onyonk dateng buat menemaniku di saat dia lowong. aku cuma ngerasa takut. aku pingin ditemani seseorang. sempat kepikiran buat manggil dia, tapi akhirnya aku urung. sebagai gantinya aku minta tolong sama Onyonk. Onyonk dan mbak Mega dateng menemani sampai sore. aku benar-benar berterima kasih.

dan akhirnya operasi Papa berhasil. aku ikut lega rasanya.

selama Papa operasi dan masa pemulihan adalah masa-masa terberat. tubuh Papa jadi rentan sekali. sering sekali menggigil kedinginan, mual dan muntah kalau makan, dan sebagainya. aku bingung, hampir putus asa. di saat genting seperti itu, aku harus ikut ujian tanggal 21 Februari. aku jadi serba salah.

tapi karena aku ingin lolos, semangat yang diberikan orang-orang di sekitarku, dan Papa merestui, maka aku tetap pergi ujian.

21 Februari 2013
ujiannya sangat sulit. sasuga Monbusho shiken lah. tapi, biar bagaimanapun juga, aku dan teman-teman udah berjuang keras sampai bisa ikut ujian itu. dalam hatiku aku hanya bisa berdoa semoga bisa lolos.

ternyata Tuhan mengabulkan doaku.

27 Februari 2013, muncul pengumuman hasil ujian tulis Monbusho. dari 24 nama yang lolos, namaku dan nama Nene tertera di dalamnya. kami berdoa lolos dan bisa mengikuti tes tahap selanjutnya, yaitu wawancara di Kedubes Jepang Jakarta.

senang, terharu, ngga percaya, semua campur aduk jadi satu. akhirnya tahun ini mahasiswa Sastra Jepang UNAIR berhasil lolos ke ujian wawancara. dan mahasiswa itu adalah aku dan Nene. aku senang, luar biasa senang. aku bisa ke Jakarta, ikut tes wawancara, bersama sahabatku pula.

28 Februari 2013, ulang tahun mbah Ity. bertepatan dengan itu pula Papa diperbolehkan keluar dari rumah sakit. rasanya hari itu jadi hari yang bahagia.

Maret 2013
2 Maret 2013, aku dan Nene untuk ikut Kanji Cup 2013 level Chukyuu. sebenernya aku seneng juga, karena itu artinya udah 3 tahun berturut-turut aku mewakili UNAIR ikut Kanji Cup. apalagi akhirnyaaaaaaaa tahun ini bisa ikut level Chukyuu. tapi, di sisi lain aku khawatir, gimana kalau seandainya aku kalah lagi di awal pertandingan? masa 3 tahun kalau mulu tanpa pernah, setidaknya, masuk semi final? duh, malu banget lah kalau kayak gitu. aku kan juga pingin sekali-sekali nama UNAIR itu masuk ke semi final kek, atau kalau bisa ya ke final. tapi yah, siap ngga siap aku dan Nene tetap ikut pertandingan ini.

by the way, sebenernya pemilihan peserta ini benar-benar mendadak. sebelumnya, Eli-sensei udah melatih angkatannya Vina sejak H-sekian. tapi, H-7, tiba-tiba aku, Nene, dan mbak Nurul ditunjuk untuk ikut level Chukyuu. ternyata, Sensei (kayaknya sih lupa) baru tau kalau yang ikut level Chukyuu haruslah mereka yang sudah N3. di antara angkatan Vina, baru Ayu yang punya N3. selebihnya pada belum. akhirnya, kita bertiga diikutkan supaya genap 2 tim (tiap instansi minimal mengirimkan 2 tim yang masing-masing terdiri dari dua orang untuk ikut level Chukyuu). jadilah UNAIR kirim dua tim, yaitu aku dan Nene dalam tim UNAIR 1, terus Ayu sama Mbak Nurul dalam tim UNAIR 2. persiapan kita sama sekali ngga mateng. kecuali Ayu yang udah dilatih sejak liburan semester ganjil. kita menaruh harapan besar pada Ayu. sementara aku sendiri, menaruh harapan besar pada partnerku yang mengambil Nouryoku Shiken N1 tahun 2012 kemaren.

begitulah cerita di balik pertandingan ini. akhirnya pada hari H, aku berangkat pagi-pagi ke Gedung Gema, UNESA Ketintang, tempat diadakannya pertandingan ini. Nene dan anak-anak lainnya udah pada dateng. aku udah gugup ngga karuan, sementara Nene santai-santai makan coklat.

jam 9, para peserta diperbolehkan masuk ke dalam gedung. seperti biasa, pendukung Brawijaya dan UNESA mebludak dan heboh. iri deh. apalagi waktu Brawijaya naik ke atas panggung mengembalikan piala bergilir Kanji Cup. dobel iri! kapan ya UNAIR bisa kayak gitu?

setelah sambutan dan segala macam acara protokoler lainnya, akhirnya pertandingan dimulai. beda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini dimulai dari level Chukyuu dulu! mati mak! tapi untuk tim UNAIR 1 dapet blok kedua, sementara UNAIR 2 dapet blok keempat. jadi aku dan Nene masih punya waktu buat observasi dulu.

babak penyisihan blok pertama dimulai. aku dan Nene memperhatikan soal dan mencoba menjawab dari kursi penonton. seru, heboh, menyenangkan banget. di tengah keramaian itu, aku tanya pada partnerku itu, "kira-kira kita bisa jawab berapa soal ya, Beb?"

"10 kana~" katanya. entah itu ekspresi yakin atau ragu.

tapi, dengan kata-kata itu, entah kenapa ada satu keyakinan yang masuk ke dalam diriku.

"10 yah. oke deh. aku padamu, Beb. at least kita jangan sampai malu-maluin nama UNAIR lah."

Nene mengambil tanganku, lalu menjabatnya.

blok kedua dimulai. tim UNAIR 1 dapat whiteboard nomor 4. nomor 4 itu sebenarnya dijaga sama Kazuma (fyi, Satoshi jaga whiteboard nomor 2 lhoo). tapi supaya fair, dituker sama Izuka-sensei dari Brawijaya. jadi Kazuma jaga nomor 3, Izuka-sensei jaga nomor 4.

peraturan babak penyisihan level Chukyuu seperti ini:

satu babak ada 6 pertanyaan. tiap blok ada 4 tim. tiap babak penyisihan per blok, dipilih dua tim dengan nilai terbesar untuk maju ke babak semi final.

tiap pertanyaan muncul di layar. biasanya seputar cara baca, cara tulis Kanji, jukugo, puzzle, dan sebagainya. tiap tim menulis jawaban di papan tulis yang disediakan untuk masing-masing tim. tim yang menjawab dengan benar dapat 1 poin. biasanya sesekali muncul pertanyaan "Hayaoshi", yaitu menjawab cepat. kalau pertanyaan ini muncul, tiap tim harus berlomba untuk menjawab yang paling cepat. tiap tim harus menulis jawaban secepat mungkin, lalu memencet tombol di meja. tim yang paling cepat dan benar menjawab, akan mendapatkan poin.

seandainya setelah pertanyaan keenam nilai keempat tim masih seimbang, maka diadakan pertanyaan tambahan. tim yang paling cepat dan benar menjawab, akan mendapat poin tambahan.

pada babak ini, aku bertugas menulis jawaban di papan tulis, sementara Nene melihat soal dan memberi hint seandainya aku ngga tau jawabannya. dia juga bertugas memencet tombol kalau seandainya muncul "Hayaoshi". sebenernya aku kurang yakin sama kemampuanku. tapi aku cukup percaya kalau aku bisa menulis cepat. selain itu, aku percaya Nene bisa menuntunku di saat aku bingung. kalau seandainya Nene yang menulis, dan aku yang bertugas memberi petunjuk, pasti tambah kacau.

soal pertama,  「お湯が沸く」
"Bagaimana cara baca Kanji yang digarisbawahi?"

aku dan Nene sama-sama tahu artinya, yaitu "airnya mendidih". tapi, aku dan Nene pro-kontra mengenai jawabannya.

"apa nih, Beb? waku bukan sih?"

"masa sih? kayaknya bukan deh..."

tapi tetep aja aku tulis waku. di sebelahku, Nene udah geleng-geleng kepala sambil gigit jari.

ternyata jawabannya benar waku.

di bangku penonton, Eli-sensei, Adis-sensei, Santi-sensei, dan anak-anak UNAIR lain bersorak-sorak. aku udah lemes saking leganya.

soal demi soal muncul bergantian. di babak pertama, tim UNAIR 1 berhasil mengumpulkan 4 poin dari 7-8 soal. itu adalah nilai terbesar dalam blok kedua. kami berhasil masuk semi final.

aku bener-bener ngga percaya. aku dan Nene berhasil masuk semi final! saking ngga percayanya, aku sampai histeris dan mau nangis. gara-gara itu, orang-orang ngeliatin aku. aku sih udah ngga peduli. yang penting masuk semi final, mewakili UNAIR untuk pertama kalinya! yeeeey!

blok ketiga dan keempat dimulai. di blok keempat, tim UNAIR 2 gugur. aku dan Nene ngga percaya, karena kita bener-bener menaruh harapan besar pada Ayu. tapi menurutku, tim UNAIR 2 gugur bukan karena mereka benar-benar ngga mampu, tapi karena soalnya luar biasa sulit. aku dan Nene mencoba menjawab soal dari kursi penonton, tapi tetap aja banyak salah.

setelah babak penyisihan Chukyuu, babak penyisihan Shokyuu dimulai. aku ngga inget berapa persisnya peserta dari UNAIR, yang jelas ada anak-anak 1nen seperti Harun, Dayan, Lukman, Puteri, dkk dan anak 2nen seperti Sicha dkk, juga 3nen seperti Vina, Alifah, dkk. meskipun ngga ada satupun anak UNAIR yang masuk ke semi final, Lukman udah berjuang keras. dia bertahan sampai soal kesekian belas. biar gimanapun, aku tetap bangga sama mereka, mengingat 2 tahun yang lalu aku gugur di soal ke-6, dan tahun lalu aku gugur di soal ke-2 :p

setelah penyisihan dan semifinal Shokyuu, semi final Chukyuu dimulai. selama pertandingan Shokyuu, Nene keluar cari minuman dingin dan snack untuk kita berdua. dia dateng beberapa menit sebelum semi final Chukyuu dimulai. pas lagi enak-enaknya makan coklat dan minum teh dingin, nama tim kita dipanggil untuk maju ke babak semi final blok pertama. Nene yang masih sibuk dengan coklatnya, menyuruhku naik duluan ke atas panggung. setelah ketiga tim lainnya naik panggung, barulah dia menyusulku. sekali lagi, papan kami dijaga Izuka-sensei.

di babak semifinal, kami ngga bisa berbuat banyak. hanya berhasil menjawab 3 soal. tapi karena kecerobohan kami, hanya 1 jawaban yang benar-benar diakui juri. akhirnya kami hanya dapat 1 poin. dengan muka kecewa aku kembali ke bangku penonton.

yah, meskipun ngga bisa menang, tapi setidaknya aku dan Nene berhasil masuk ke semi final. kami berhasil memenuhi janji untuk ngga (terlalu) malu-maluin nama UNAIR :p


3 Maret, aku dan Nene berangkat ke Jakarta naik kereta Sembrani dari stasiun Pasar Turi. ini pertama kalinya aku pergi jauh tanpa dikawal orang tua. aku mengharapkan perjalanan yang menyenangkan, tapi ternyata ngga terlalu menyenangkan juga. soalnya kereta eksekutif ini dingin banget dan apa-apa bayar. pernah ada kejadian, petugas KAI membagi-bagikan kopi hangat. karena Nene bilang itu coklat panas, aku ambil satu. ternyata bukan. aku cuma minum sedikit, terus aku taruh di samping Nene. ngga lama setelah itu, kita ditagih uang 10.000 untuk segelas kecil kopi itu. aku merasa dibohongi. udah aku cuma minum sedikit, ikut bayar pula. kenapa sih mereka ngga bilang kalau kopi itu dijual? tapi ya udahlah. mau gimana lagi. buatku sih, yang penting bisa ke Jakarta lagi setelah sekian lama :')

4 Maret, aku sampai di Jakarta. aku menginap di rumah Tante Lilik. rasanya terharu banget, karena benar-benar udah lama aku ngga berkunjung ke rumah Tante Lilik. rumah itu ngga banyak berubah. Tante masih sama Bibik yang setia. keduanya welcome. aku senang, merasa diterima. di rumah itu aku mempersiapkan diri untuk wawancara tanggal 5 Maret. selama persiapan itu, Andi-sensei rela meluangkan waktu untuk membantuku memilih universitas Jepang via sms. bahkan sampai jam 12 malem loh. aku sampai ngga enak hati jadinya. tapi, berkat bantuan Sensei, akhirnya aku dapat gambaran kira-kira universitas seperti apa yang bisa aku pilih.

5 Maret, aku berangkat dari rumah Tante pagi-pagi sekali, sekitar jam 6.30. Bibik udah membekali roti bakar, air mineral, dan sebagainya. aku terharu banget. apalagi roti bakar buatan Bibik enak banget. aku diantar sama ojek langganan Bibik. begitu di jalan, aku agak shock juga ngeliat jalanan Jakarta yang luar biasa macet. "oh My God, ini baru jam berapaaa?" pikirku dalam hati. tapi ngga apa-apa. inilah suasana yang aku rindukan. suasana Jakarta yang luar biasa sibuk sampai sumpek. bikin kangen banget. tapi, karena kita sama-sama ngga tau Kedubes itu di mana, akhirnya kita kelewatan. terpaksa putar balik lagi. aku sampai kasihan sama Pak Ojeknya. soalnya putar baliknya jauh amat! -,-

aku sampai sekitar jam 7.15. aku pikir udah buka, eh ternyata kantor Kedubes belum buka :p ngga lama setelah itu, Nene dateng dari Kemang dianter saudaranya. hari itu Nene keliatan kawaii banget. dia pakai blazer yang sekilas mirip almamater, udah gitu pakai rok panjang sama wedges. wuih, nomor satu lah! satu pengalaman langka bisa liat Nene dalam penampilan seperti itu :D

jam 8.00, kami diperbolehkan masuk ke dalam kantor Kedubes. masih ada 30 menit lagi sebelum pembekalan dimulai. aku ke kamar mandi dulu, sementara Nene udah anteng nongkrong setia di samping steker buat isi baterai hp kesayangannya. di kamar mandi, aku ketemu Cattleya, mahasiswi dari Universitas Brawijaya. waktu kecil dia tinggal di Hakodate, Hokkaido. yah, ngga heran juga sih kalau dia bisa lolos ujian tulis Monbusho. sasuga yang udah pernah tinggal di Jepang lah ._.

tapi toh, selain Cattleya, masih banyak lagi saingan yang tangguh. ada yang udah lolos N1, ada yang menang Kanji Cup kemarin. banyak deh. aku emang sempet minder juga. tapi, biar gimana juga, aku tetap berjuang.

aku dan 5 orang lainnya, dipanggil untuk wawancara kloter pertama. Nene dapet kloter terakhir di sesi wawancara pagi itu. di kloterku, ada Ahmad dan Cattleya dan Brawijaya, Anggi dari Universitas Negeri Semarang, Daniel dari UNESA, dan Erwin dari BINUS. Erwin inilah yang udah lulus N1. sementara Ahmad yang kemaren juara Kanji Cup. duuuuh, kenapa harus satu kloter sama orang-orang hebat ini sih ._.

aku dapat giliran wawancara nomor 5. setelah peserta nomor 4, yaitu Daniel, keluar ruangan, aku langsung masuk ruang wawancara.

di ruangan itu ada empat orang Jepang. semuanya keliatan begitu berwibawa. aku tambah gugup. karena gugup, cara ngomongku jadi kayak cafe maid . itu tuh, yang kalau ngomong "desu", akhiran "-su" diucapkan dengan jelas. (fyi, orang Jepang kalau bilang "desu" atau "-masu" biasanya "-su" nya ngga jelas. jadi kedengerannya seperti "des" atau "mas". orang yang ngomongnya "desu" atau "masu" dengan jelas, dianggap imut atau sok imut) aku ngomong kayak gitu bukan supaya kedengeran imut, tapi karena aku terbiasa denger kayak gitu dan aku gugup. jadinya keceplosan ngomong kayak gitu. pasti aku dianggap sok imut sama para pewawancara ._.

sebenernya wawancaranya ngga setegang yang aku bayangkan. para pewawancara begitu ramah dan memberikan pertanyaan yang ngga terlalu sulit juga. tapi berhubung aku tegang, aku menjawab dengan konyol.

misalnya, waktu ditanya begini,
「どうして新潟大学に入りたいんですか。寒いですよ。」 ("Kenapa ingin ke Universitas Niigata?")

「ええ。。。あのう。。お米がおいしそうですから。。」 ("Eh... anu... soalnya nasinya enak...")

terus semuanya ketawa. dodol banget sih jawabanku.

terus ada juga pertanyaan seperti ini,

「もし日本へ行けば、勉強以外に何をしたいですか。」 ("Seandainya bisa pergi ke Jepang, selain belajar, apa lagi yang ingin kamu lakukan?")

「ええ。。。実は、私はたま駅長に会いたいんです。」 ("Eh... Sebenarnya saya ingin bertemu dengan Tama-ekichou")

「たま駅長?誰?」 ("Tama-ekicou? Siapa itu?")

「あのう。。猫の駅長ですが。」 ("Anu, kucing yang jadi kepala stasiun")

mungkin waktu itu pewawancara ngga begitu denger jawabanku karena suaraku kecil. terus akhirnya tanya lagi.

「あ、そうですか。どこの駅長ですか。」 ("Oh, begitu ya. Kepala stasiun di daerah mana?")

mati aku. aku lupa....

「確かに、山口県のほうが。。」 ("Kalau tidak salah, di Prefektur Yamaguchi")

aku tau jawaban itu salah. Yamaguchi itu kampung halamannya Kaneko Misuzu. memoriku ketuker-tuker. pokoknya yang aku inget ada -yama nya. tapi di mana ya?

pewawancara mencatat jawabanku. terus tanya lagi,

「で、その駅長に会いたいんですか」 ("Jadi, kamu ingin bertemu kepala stasiun itu?")

「はい。三毛猫の、すごくかわいくて。。」 ("Ya. Dia kucing belang tiga dan sangat lucu....")

aku belum selesai ngomong, salah seorang pewawancara langsung tersadar.

「あ、三毛猫?あれか?!」 ("Ha, kucing belang tiga? Ooooh, yang itu ya?!")

lalu semuanya langsung sadar kalau yang aku maksud adalah kucing maskot salah satu stasiun di Jepang. kucing itu belang tiga, betina, dan bernama Tama. dia dipercaya membawa keberuntungan. karena itu dia diangkat menjadi "kepala stasiun". bahkan ada topi, medali, dan plat khusus untuk dia. ada kereta khusus untuk dia segala. lucu bin unik deh pokoknya.

sekali lagi, semua pewawancara ketawa. pasti dipikir aku ini masih kekanak-kanakan banget (ya emang sih).

Salah seorang pewawancara tanya lagi.

「え?それって和歌山県の駅じゃありませんか」 ("Eh? Bukannya itu dari Prefektur Wakayama ya?")

aku diam. iya ya... Wakayama. aargh salah!

「あ、そうです。すみませんでした。」 ("Ah, ya.. Benar. Maaf tadi saya salah")


begitulah wawancaraku yang konyol dan sukses membuat pewawancara tertawa. haduuuh, berhasil lolos ngga yah ._.

pulang wawancara, aku cerita ke Andi-sensei dan Mbak Mega. aku ngerasa ngga tenang sama sekali. rasanya pingin ulang wawancara. tapi yah, yang udah terjadi ya udah terjadi. sekarang hanya bisa berdoa supaya bisa lolos dan berangkat ke Jepang. aamin...


itulah cerita tentang apa saja yang aku alami selama 3 bulan pertama di tahun 2013. ada kisah sedih, senang, sibuk, panik, heboh, lucu, dan sebagainya. apapun yang telah terjadi, semuanya menjadi kenangan yang berkesan buatku. terkadang ada perasaan sedih juga, mengingat sebentar lagi aku harus menghadapi skripsi, dan wisuda. eh, sekarang emang lagi skripsi sih hehehe :p

rasanya aku masih pingin kuliah, main sama teman-teman, melakukan banyak kegiatan kampus, dan sebagainya. tapi yaaaa.... waktu ngga bisa diulang. yang sekarang harus aku lakukan adalah menyusun skripsi dan menyelesaikannya dalam semester ini. udah banyak orang yang mengharapkan aku bisa segera selesai dan sidang dalam waktu 8 semester ini. aku emang kurang suka buru-buru begitu, tapi aku tau kalau orang-orang sebenarnya mengharapkan aku untuk segera mandiri. ya aku emang harus bisa segera mandiri sih. jadi aku juga berusaha untuk bisa segera menyelesaikan skripsi. toh kalaupun seandainya aku jadi berangkat ke Jepang (aamin...) aku jadi ngga punya beban lagi.

jalanku masih panjang. meskipun perjalanan kuliah S1-ku akan segera berakhir. tapi hidupku insya Allah masih terus berlanjut. aku harus segera mandiri dan melakukan banyak hal menyenangkan lainnya. insya Allah.

semoga bulan-bulan berikutnya juga banyak hal menyenangkan yang bisa aku alami. aamin :)

Satu Minggu Pertama Kuliah

ngga kerasa udah satu minggu kuliah. belum apa-apa udah ditargetin skripsi. hahaha.... Sensei udah kasih wejangan ke anak-anak yang ngambil mata kuliah Desain Karya Ilmiah dan Proposal untuk memikirkan tema penelitian. ya emang sih aku baru bisa ambil skripsi semester depan, tapi setidaknya harus dipersiapkan dari sekarang. aku sih belum kepikiran mau nulis apa, tapi setidaknya aku udah mikirin mau bahas siapa, yaitu Kaneko Misuzu. Wanita yang tanggal lahirnya sama kayak aku ini (uehehehe) adalah penulis puisi anak-anak Jepang. puisinya ringan, sederhana, tapi indah, dan tentu saja, bermakna dalam. aku suka banget puisi, dan mungkin puisi Kaneko jadi salah satu favoritku. Kaneko-lah yang berhasil membuat aku sadar kalau indah itu bisa berasal dari hal-hal yang sederhana. and I listed her as my inspirational poem.

jadi, selama seminggu ini aku coba cari referensi tentang Kaneko. aku ubek-ubek ruang baca jurusan, tapi sayangnya ngga ketemu. big heartbreaking. tapi, aku menolak untuk menyerah. jadi, aku menghadap Eli-sensei. aku ceritain masalahku. dan, ting! Eli-sensei kasih solusi. kata Eli-sensei, ada teman Gandhi-sensei yang mau pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini. jadi, aku disuruh email Gandhi-sensei, minta tolong belikan buku yang aku butuhkan supaya bukunya bisa dititipkan ke teman beliau. nanti begitu teman beliau sampai ke Indonesia, buku itu akan dikirim ke Surabaya. ngga pake lama, aku langsung idupin S-jou terus browsing ke Amazon.co.jp. di situ banyak buku yang berhubungan dengan Kaneko Misuzu. aku minta pendapat Eli-sensei, kira-kira buku mana yang bisa jadi referensiku. Sensei merekomendasikan dua buku, yaitu Kaneko Misuzu Meishishuu (Kumpulan Puisi Kaneko Misuzu) dan Kaneko Misuzu Kokoro no Uchuu-21 seiki e no Manazashi Sono Shougai to Sakuhin (Kumpulan Karya dan Riwayat Hidup Kaneko Misuzu: Space of Heart-Menatap Abad 21)

namanya buku impor, pasti agak mahal. makanya, aku cari yang buku bekasnya aja. ngga apa-apalah bekas, yang penting isinya masih komplit dan layak baca :D
syukurlah versi buku bekasnya masih ada. aku langsung email Gandhi-sensei dan aku kasih link-nya. Sensei bilang mau liat dulu, nanti kasih kabar lagi. dalam hati aku bersyukur banget karena Allah memberiku jalan.

selain skripsi, aku juga lagi persiapan buat tes Noryouku Shiken N2. sebenernya sih, salah satu syarat kelulusan Sastra Jepang UNAIR itu minimal N3. alhamdulillah posisiku udah safe, karena aku udah lulus N3. tapi, aku punya cita-cita, yaitu lulus N1. N1 ini level tertinggi dan ngga banyak orang yang bisa lulus N1. setau aku sih, di antara dosen-dosen kita sekarang, baru Andi-sensei yang lulus N1. emang ini level dewa bangetlah. Nene taun ini ambil N1. emang brilian banget itu anak. makanya aku juga ga boleh kalah! aku bakal berjuang supaya bisa lulus N2 taun ini! kalau udah lulus, insya Allah aku mau lanjutin N1 di Jepang pas aku S2 nanti. hehe... amiiiiin...

itulah sedikit cerita tentang seminggu pertama kuliah. semester ini aku ga banyak kegiatan selain fokus sama kuliah dan tes N2. aku banyak di kos atau di rumah, baca-baca referensi, atau mantengin S-jou dan Aida :D

hmm... cerita apa lagi yaa... oh, ya. dulu di kos, aku lebih sering nutup pintu supaya dapat privasi. tapi sekarang, aku lebih sering membukanya. aku ingin berinteraksi lebih banyak dengan teman-teman kos. di kampus juga begitu. aku sapa orang-orang yang aku temui, termasuk sama orang-orang yang ga terlalu akrab sama aku. ngga disangka, respon orang-orang itu positif banget. adik-adik kelasku, kakak-kakak kelasku, anak jurusan lain kayak Angger, Lia, dan lainnya. mereka menyapaku ramah, lalu kita ngobrol-ngobrol sedikit. mereka komentar tentang penampilan baruku. semuanya sih memuji. senangnya! lebih senang lagi karena bisa berinteraksi positif dengan banyak orang :)

kalau orang memperhatikan dan tau apa aja yang aku alami, mungkin mereka akan menaruh kasihan atau simpati. aku sendiri, seandainya mau terus menuruti kesedihan, ya selamanya aku akan jatuh terpuruk dalam kesedihan itu. mungkin "aku yang dulu" adalah orang yang seperti itu. selalu menanti seseorang untuk menyelamatkanku. tapi sekarang, aku coba untuk berubah. aku belajar untuk merasa bahagia. bukan berpura-pura bahagia, tapi justru lebih membuka mata. ada begitu banyak kebahagiaan di sekitarku, mulai dari hal kecil sampai besar. eh, kayaknya aku udah pernah ngomong gini di postingan sebelumnya ya? hahaha... tapi ya emang bener sih, aku merasa bahagia sekarang, apapun keadaan yang aku hadapi.

apa aku berubah? ya, aku emang berubah. tapi, bukan berarti aku "lupa pada kulit". terkadang aku teringat pada kenangan-kenangan. "aku yang dulu" mungkin akan terluka setiap kali mengingat kenangan itu dan berusaha membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan kenangan masa lalu. tapi, "aku yang sekarang", bisa tersenyum setiap mengingatnya. aku tetap menyimpan kenangan-kenangan itu, karena kenangan bersama orang-orang yang aku sayangi adalah salah satu hal yang membuatku bahagia. aku rawat barang-barang yang membuatku teringat pada kenangan masa lalu dengan rapi. dan.. entah kenapa setiap kali merawatnya, ada kebahagiaan tersendiri buatku. dari kejadian ini, aku dapat satu ilham: semua kenangan itu  bukanlah alasan buat aku bersedih. mereka adalah sumber kekuatanku. 

sejak aku belajar memperbaiki cara pandangku, perasaanku terhadap orang-orang di sekitarku pun berubah. aku jadi lebih sayang dan pingin jadi lebih sayang lagi pada mereka. aku belajar menyayangi orang-orang, baik yang sekarang ada di sisiku maupun mereka yang kini sedang memilih untuk tidak berada di sisiku. aku belajar berterima kasih pada mereka dan mengingat kebaikan-kebaikan mereka. dengan begitu, rasa sayangku semakin kuat. aku pun bisa move on, menghadapi hari dengan penuh senyuman.

aku menyayangi orang-orang sekitarku dengan caraku sendiri. aku berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. mungkin ada beberapa orang yang kecewa karena mereka menganggap aku ngga seperti yang mereka harapkan. aku ngerti banget perasaan itu. aku pun pernah merasa terluka kalau ketemu orang yang tidak memenuhi ekspektasiku. tapi kini aku menyadari, orang yang tidak memenuhi ekspektasi bukan berarti musuh kita. malah mungkin, mereka udah melakukan sesuatu yang terbaik untuk kita dan mereka sayang sama mereka. itulah yang sekarang aku lakukan. aku berusaha melakukan apa yang bisa membuat orang itu dan aku menjadi lebih baik. mungkin sekarang orang itu ngga mengerti, tapi aku percaya suatu saat dia akan mengerti. harapanku, pada saat itulah dia berubah jadi lebih baik.

haiyah, malah jadi ngalor-ngidul ke mana-mana. hehe... ya ini sedikit sharing aja. sekalian jadi titipan buat "aku yang di masa depan". aku ingin diriku selalu mengingat hikmah dari setiap pelajaran yang aku alami setiap hari. aku ingin diriku selalu tegar. aku ingin diriku jadi lebih baik. yang paling penting, aku ingin diriku selalu mengingat impian-impianku dan berusaha mewujudkannya. tak ada yang mustahil. aku percaya aku bisa menjadi lebih baik dan impian-impianku bisa terwujud.

wish you and me never ending happiness :)

Awal Semester 7

ngga kerasa udah masuk semester baru. udah masuk semester 7 pula. berarti bentar lagi skripsi. serem banget. hahaha...

di awal semester ini, ada penampilan baru, keyakinan baru, dan tentu cerita-cerita baru di masa depan. semua itu berujung pada impian.

mulai semester ini, aku memutuskan untuk berjilbab. emang sih, di Dream List-ku, aku menulis "berjilbab setelah menikah". tapi, ada begitu banyak hikmah yang aku dapatkan selama liburan ini. itu semua membuatku semakin mengingat Allah. pada saat itu tercetus keinginan untuk berjilbab. selama ini, aku takut mau berjilbab. takut ngga siap dan sebagainya. tapi, kali ini aku merasa tak ada yang perlu aku takutkan lagi. tak perlu ada kesiapan khusus. aku awali dengan satu niat. semoga bisa tetap istiqomah. amiinnn...

temen-temen agak kaget juga ngeliat aku berjilbab. sebagian besar mendukung. Karu nganterin aku cari jilbab. Risa dan Nene mendukung. Kome malah mau beliin shawl. Mbak Rofqi, temen kos, nemenin aku beli jilbab ke pasar, ngasih peniti, dan bantuin aku pakai jilbab di hari pertama kuliah. dosen-dosen bilang "alhamdulillah" dan ada juga yang bilang aku tambah cantik. hehe... mamanya Nene juga bilang gitu. aku tersenyum. begitu banyak orang yang peduli dan sayang padaku. aku bisa berbesar hati dan keyakinanku semakin bertambah.

selera musikku juga sedikit berubah. dulu biasanya dengerin lagu-lagu gotik seperti Ali Project, sekarang mulai suka sama Arashi. bukannya jadi ga suka sama Ali Project sih. aku tetep suka, tapi sekarang ini aku ingin mendengarkan lagu-lagu yang bikin semangat. ternyata Arashi pilihan yang tepat. Nene kayaknya sih agak kaget begitu aku minta copy PV lagu-lagu Arashi. aku nonton PV dan dengerin lagu-lagunya. aku ngerasa ada semangat positif yang ditularin lagu-lagu Arashi. rasanya ada optimisme baru dalam diriku.

aku sekarang lagi mulai baca buku lagi. aku udah lama ga baca buku berbobot selain untuk bahan kuliah. kali ini lagi suka sama The Art of Loving karya Erich Fromm. aku belajar banyak dari buku ini. aku belum selesai baca sih. mungkin akan aku ulang-ulang supaya aku semakin paham. buku ini salah satu penolongku untuk bangkit dari kejadian yang sempat membuat aku sedih dan putus asa. berkat doa, kesabaran, dan berbagai ilmu yang aku dapatkan (salah satunya dari buku ini) aku mulai bangkit lagi. semoga aku semakin kuat, tabah, ikhlas, dan tentu saja istiqomah. amin...

soal kuliah, aku masih belum bisa cerita banyak, karena memang belum ada pelajaran. aku sih udah coba meraba-raba kira-kira apa yang mau aku tulis untuk skripsi. sempet kepikiran buat nulis tentang Kaneko Misuzu sih, tapi aku belum dapat begitu banyak bahan. sementara itu, aku coba baca Miyazawa Kenji. yah, aku emang harus banyak baca supaya pengetahuanku semakin luas.

sekarang aku dan keluargaku udah di rumah kontrakan baru di Japan Asri. rumah ini kecil, tapi penerangannya cukup bagus dan mudah dibersihkan. semoga di rumah baru ini kami bisa berkah. amin...

Iqal ngajak temannya Samsul untuk tinggal di rumah kita. aku sih ga keberatan. Papa juga keliatannya nggak. mbah Ity sih kurang setuju. tapi kalau aku mah coba optimis aja. insya Allah ada jalan selama niat kita bersih kan.

sekarang aku juga kurangi main di social media, terutama Facebook. aku ingin memperbaiki diriku menjadi lebih baik. bukan lagi orang yang dikit-dikit ngeluh, menunjukkan kemarahan, kebencian, dan sebagainya. aku coba kurangi itu semua dengan tidak melihat status-status atau hal-hal lain yang membuat aku terpengaruh untuk marah atau membenci sesuatu. aku akui aku masih belajar. tapi, dari tahap belajar ini aja banyak manfaat yang aku rasakan. dengan mengurangi keluhan, marah, benci, dan sedih, perasaanku lebih tenang. aku pun merasa ada kekuatan yang membuatku tetap tabah dan tegar. keinginan untuk maju ke depan pun semakin bertambah. entah bagaimana aku mendeskripsikan perasaan ini, tapi aku bersyukur karenanya.

ada lagi. aku belajar untuk mengucapkan terima kasih setiap kali aku membuka mata. aku belajar untuk berterima kasih untuk apapun. itu juga membantu banget. rasanya ada optimisme yang membuat aku semangat menghadapi hari. aku merasa, aku bisa bahagia kapanpun dan di manapun, karena bahagia tidak membutuhkan syarat. aku belajar bahwa kalau kita ingin bahagia, cukup rasakan kebahagiaan itu. tidak perlu mencari ke mana-mana. kebahagiaan itu ada di mana saja dan kapan saja. bisa berkumpul sama teman-teman, makan cemilan kesukaan, baca buku berkualitas, nonton video atau film, liat-liat gambar bunga dan kucing, menulis daftar impian, itu semua bisa mendatangkan kebahagiaan bagiku. setiap kali memikirkan hal-hal yang membuatku bahagia, keyakinanku semakin kuat dan aku ingin hidup.

oh ya, Jum'at kemaren Tomokiyo-sensei pulang ke Jepang, tanpa memberitahu siapapun. aku baru tahu dari surat yang beliau tempet di kaca jendela jurusan. beliau bilang, maaf karena pulang tanpa mengucapkan perpisahan. beliau malu kalau kita mengadakan pesta perpisahan untuknya (meskipun sampai sekarang aku ga tau kenapa beliau harus malu). beliau bilang, selama ini beliau keras dalam mengajar. itu semua karena beliau ingin kita belajar lebih keras lagi. sebagai orang Jepang, beliau berterima kasih karena ada orang yang mau belajar tentang Jepang. beliau bilang, terima kasih untuk 2 tahun ini. semoga kita bisa bertemu lagi di suatu tempat.

aku ngga bisa menahan tangis. emang, berpisah dengan orang yang penting dalam hidup kita adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. mungkin aku hanyalah satu dari mahasiswa-mahasiswa Sastra Jepang, tapi bagiku Tomokiyo-sensei adalah salah satu dari orang-orang terpenting dalam hidupku. bagiku, beliau seperti orang tuaku. salah satu dari orang yang peduli padaku, memberiku semangat untuk berjuang. setiap mengingat kenangan akan beliau, aku menangis. kenangan saat kita belajar, PKL ke Jogja dan Bali, lomba pidato, semuanya.... aku ga bisa ga merasa sedih kalau ingat rencanaku untuk ngasih kenang-kenangan untuk beliau. tapi, bener kata beliau. kita semua harus berjuang lebih keras lagi. keinginanku untuk meraih impian-impianku semakin kuat. aku ingin bertemu lagi dengan Tomokiyo-sensei, suatu saat di suatu tempat. aku ingin cerita kalau aku berusaha meraih impian-impianku, mulai dari yang terkonyol sampai yang paling krusial dalam hidupku. Tomokiyo-sensei, itsuka mata aimashou...

kepulangan Tomokiyo-sensei membuatku akan kesedihan-kesedihan lain. segala macam cobaan yang membuatku sempet terhenti di tengah jalan. tapi, seperti yang mungkin pernah aku bilang, aku tak punya alasan untuk sedih. aku punya banyak alasan untuk bahagia. dan semua itu adalah alasanku untuk terus berjuang.

aku juga punya impian-impian. dari dulu aku punya impian. tapi kali ini, aku mengasuh impianku supaya menjadi lebih besar lagi. ada satu impian, yang cukup ditentang sama teman-temanku. secara ga langsung mereka bilang "nggak mungkin kesampaian". bahkan, orang yang aku percaya pun bilang begitu. aku sempet berhenti dan berpikir, "apakah aku ga boleh punya impian seperti itu? apakah impianku itu impian kosong belaka?" aku merenung dan sempat ragu. aku coba minta pendapat, tapi tak ada yang bisa memberiku jawaban. ada yang mendukung, tapi mereka pun menunjukkan kalau mereka sebenarnya kurang sependapat sama aku. menerima itu semua, tak ada rasa marah atau benci. aku berterima kasih karena mereka menunjukkan kepedulian. aku mencoba merenungkan kata-kata mereka. aku pun bertanya kepada Allah. tapi tentu saja aku ga bisa mendengar suaraNya. cuma ya aku yakin kalau Allah akan menunjukkan satu jawaban dengan cara yang aku mengerti.

sekarang ini, aku masih tetap pada keyakinan bahwa aku dapat mewujudkan impian-impianku, semustahil apapun itu. aku percaya bahwa Allah pun meridhoi. aku emang ga bisa menjelaskan, apa buktinya Allah meridhoiku. I just believe. bagiku, meski semua orang berkata "tidak", cukuplah Allah yang meridhoiku dan aku akan tetap bilang "YA!"

inilah diriku yang ingin menjadi lebih baik: orang yang mampu mencintai diri sendiri dan semua yang ada di sekitarku. dan tentu saja, menjadi orang yang bahagia.

wish my dreams come true

Hingga Hari Ini

久しぶり~!akhirnya punya kesempatan juga buat nulis T.T Ada banyak banget cerita yang ngga sempet aku post di sini. Entah kenapa kok susaaaah banget cari kesempatan buat posting. Kuliah makin sibuk, mau online juga belum tentu sempet ke warnetnya. Tapi sekarang alhamdulillah udah dibeliin modem sama Papa (o^_^o) Jadi insya Allah bisa lumayan sering posting, selama koneksi ga lemot tentunya. Hahaha :D

Tambah semester, makin tambah juga kegiatannya. Bulan November 2011 kemaren angkatan 2nen dan 3nen PKL ke Jogja. Aku jadi ketua panitia lho :D ditemenin Alfi sebagai wakil dan sahabat-sahabatku: Kome, Risa, Nene, Karu dkk yang jadi panitia. Ada juga adek-adek kelasku tersayang Nova, Vita, Vina, Nat, Desynta dkk yang jadi panitia juga. Persiapannya cukup baik, rada amburadul dikit, sempat ada cekcok sana-sini, tapi alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Kita jalan-jalan sekalian ngunjungi Sastra Jepang UGM. Kahimanya asik, gokil. namanya mas Naufal. kita disuguhi video tentang Jogja yang gokil punya. suka deh ♥

Aku juga ketemu Joko a.k.a Kyu a.k.a Ryu, temenku sejak zaman Friendster. hohoho... dia nemenin aku keliling cari buku di pasar buku, beliin makan segala T.T udah gitu kita foto-foto. terus sama dia diupload ke grup Jayus Community Indonesia. walhasil, pada ngiri dah semua. hahaha... ya mudah-mudahan kita punya kesempatan lagi buat kopi darat lagi sama yang lainnya :D
di depan Wijilan, tempat gudeg terkenal di Jogja


makan di warung lesehan dekat Titik 0 Kilometer
Ngga puas sama PKL Jogja, kita PKL lagi ke Bali! Uyeeeey! Anak-anak mulai dari angkatan 2nen ke atas pada minggat semua ke Bali. Kali ini panitianya cuma Pipit dan Nova. PKL Bali ini rada serius, soalnya harus bikin laporan segala. Tapi overall lumayan asyik sih. Kita wawancara beberapa turis Jepang di sana. Sempet stress karena ga bisa menuhi target 5 turis (=_=) Tapi ngga apa-apa, soalnya kelompokku berhasil wawancara pasangan suami-istri Jepang yang lagi liburan di Kuta. Mereka itu pasangan serasi banget, yang cowok ganteng, yang cewek cantik banget. Mana ramah dan baik hati pula! Mau deh wawancara 20 orang yang kayak gini. Hahaha... Yang cowok namanya Miyazaki Katsuyoshi, yang cewek namanya siapa aku lupa. Ternyata yang cewek itu orang Cina. Tapi cantiknya kayak artis Jepang gitu. Udah gitu bahasa Jepangnya fasih pula. Katanya sih mereka ketemunya di Jepang, waktu si cewek lagi sekolah di Jepang. Denger cerita kayak gitu, langsung deh anak-anak berkhayal seandainya mereka bernasib sama. Haha.. selesai wawancara, kita foto-foto bareng, terus Katsuyoshi-san minta alamat e-mail kita. Pulang dari Bali, aku dapet e-mail dari dia. Katanya dia cari tau tentang kita dan menebak kalo kita mahasiswa Sastra Jepang UNAIR. Ya ampun sampe segitunyaaaa... terharu dah.

email dari Miyazaki Katsuyoshi-san
oh ya, waktu kita ke Bali, kita juga nyambangi Universitas Udayana. demi Tuhaaaaan.. arsitekturnya bagus bangeeeet. bener-bener nuansa Bali!

Pintu masuk aula di FIB

Atap aula Widya Sabha Mandala, FIB, Udayana


Sastra Jepang UNAIR feat Sastra Jepang Udayana

Kuta sore hari. cantik kaaan
Foto bareng suami-istri yang kita wawancara di Tanjung Benoa

Kelompok PKL-ku: (Left to Right): Pika, Kie, Adi, Trya, Diajeng, Vita di Tanjung Benoa


nah, itu cerita jalan-jalan berkedok studi banding plus PKL kita. hehehe... kegiatan lainnya yaaa.. soal belajar donk. aku lulus N3 loh! akhirnya T.T setelah tahun sebelumnya kemakan hasutan Nene buat ikut N3 yang di luar jangkauan diriku yang masih 2nen dulu dan akhirnya gagal hingga aku menyesal udah buang-buang duit sekian ratus ribu. tapi akhirnya taun 2011 ikut lagi N3 dan awal 2012 diumumin kalau aku lulus! dengan skor tinggi pula. alhamdulillah.. terus selama liburan semester 5 kemaren, aku ikut benkyoukai buat tes Monbukagakusho. itu tuh, yang beasiswa ke Jepang. tapi ujung-ujungnya ga lulus T.T yang lebih sakit lagi, ga ada satupun mahasiswa UNAIR yang lolos ujian itu. bahkan mbak Tasya dan Nene yang jadi ace pun ngga. kita kalah dari UNESA yang berhasil meloloskan satu mahasiswa dan UNIBRAW yang meloloskan 9 mahasiswa. gara-gara itu Syahrur-sensei ngomong di kelas Chujokyuu Sakubun kalau Sensei marah dan malu. oke, itu menohok banget. jadi patah hati dengernya. tapi ya udahlah, emang mungkin belum waktunya buat aku. nanti coba lagi yang buat S2. siapa tau lolos. ganbareee!

aku juga ikut beberapa lomba. pertama, Kanji Cup bulan Maret. aku sekali lagi ikut yang Shokyuu, karena waktu pendaftaran hasil NS-ku belum keluar. seandainya aku udah dinyatakan lolos N3, mungkin aku bisa ikut yang level menengah alias Chukyuu. waktu mau tampil, Angga dateng nonton lhoo... senangnya~ tapi yang menohok itu kata-katanya Syahrur-sensei: "Djayeng kok masih ikut Shokyuu?" oke, itu sakit. aku yang 3nensei seharusnya udah ikut Chukyuu T.T

lebih sakit lagi, aku gugur di pertanyaan nomor 2 babak Maru-Batsu. demi apaaa aku gugur begitu cepat di babak pertama?! pas lagi shock gitu, dari deretan penonton paling belakang, Angga neriakin: "CUPU!"

oke, mari kita lupakan Kanji Cup. kita tengok lomba berikutnya, Benron-taikai alias Lomba Pidato bulan Mei. ini dia nih lomba yang paling aku ngga pingin ikutin. seandainya ada daftar lomba yang paling aku hindari, pasti jawaban teratas itu lomba pidato dan fashion show. mending ikut stand up comedy dah daripada ikut begituan =_= tapi, atas titah Kajur, aku dan Nene diutus jadi perwakilan UNAIR. jatuh-bangun aku latian pidato. sempet minder juga sama Nene, secara pelafalan dia bagus banget. Nihonjin mitai dah. beda banget sama aku. apalagi aku gampang grogi, ngomongnya ga bisa santai, ga enak didenger. tapi setidaknya aku bisa menuhi target waktu minimal, yaitu 5 menit. aku malah hampir 6 menit. sementara Nene kalo ngomong kayak komuter, cepet banget dah. waktu latian dia selalu kurang dari 5 menit. kalo soal tema, punya Nene juga lebih bagus. dia ngomongin soal "Cyber Bullying". Pas banget dah momennya, soalnya ngga lama sebelum itu aku kena cyber bullying. meskipun ujung-ujungnya aku yang lebih galak daripada yang nge-bully aku. hahaha.... kalo pidatoku, itu curhatan waktu naik kereta api. yah, seputar ketidakdisiplinan penumpang gitulah. yang fatal, antara judul sama isi ngga berhubungan. lagian juga kurang menarik kalau menurutku. tapi ya cuma itulah kemampuanku. mau gimana lagi.

pas hari H, aku dapet giliran nomor 14 atau berapa, pokoknya nomor 2 dari bawah. Nene dapet nomor 3. waktu Nene tampil, aku ikut dag-dig-dug ngga keruan. pasalnya, kalau Nene ngga berhasil menuhi batas waktu minimal 5 menit, otomatis dia didiskualifikasi. mana waktu itu ada bagian yang kelompatan, lupa dia omongin. sumpah aku takut banget. tapi untung aja, waktu itu lampu indikator di podium nyala. artinya dia udah berhasil melewati 5 menit. aku lega banget. Nene juga keliatan lega banget. waktu jawab pertanyaan dari juri, Ito-san, dia juga lancar dan bagus. beda banget sama aku. aku ga bisa ngendaliin grogiku. bolak-balik salah ucap. yang parah, waktu diberi pertanyaan sama Ito-san, aku tanpa sadar jawab dengan nada membentak. aku, membentak juri! gara-gara itu aku diketawain penonton. sumpah malu banget. waktu udah selesai semua dan tinggal nunggu pengumuman, aku nangis. untung aja Angga ngga dateng. kalo dia ada, pasti aku tambah diolok-olok. zzzz....
foto bareng di kursi penonton

setelah sekian puluh menit menunggu, akhirnya pengumuman pemenang keluar. Nene dapet juara 3. aku ngga dapet sama sekali. juara 1 dari mana gitu lupa, pokoknya dia masih 1nensei(!) juara 2, dari UNIBRAW seperti biasa. tapi kita termasuk lumayanlah bisa dapet juara 3. setiap peserta dapet sertifikat dan kenang-kenangan berupa tumbler yang imut banget. berasa sesuatu dah punya tumbler kembaran sama si Champion Nene. yakinlah satu jurusan ngga ada yang punya kayak kita. hahahaha....

pulangnya, salah seorang juri, kalau ngga salah namanya Taeko-san, ngobrol-ngobrol sama Tomokiyo-sensei. kata Tomokiyo-sensei sih, Taeko-san bilang kalau sebenernya beliau pingin aku yang jadi juara. katanya, isi pidatoku menyentuh hatinya. uuuuh, jadi mau nangis aku. terima kasih, Taeko-san. maaf aku ngga bisa memenuhi ekspetasi Anda u.u

but that was not the end of the world. aku dan Nene ditraktir Eli-sensei, Manda-sensei, dan Andi-sensei makan di Hachi-hachi! emang bener ya, abis tangis pasti ada tawa. hahahaa.... aku puas-puasin makan sashimi kesukaanku. mentah? biarin! kata Andi-sensei seleraku tinggi, kok :p

duo delegasi rakus :D
abis lomba-lomba, ada juga tugas lain yang menyenangkan. apa itu? main drama donk! jadi, tugas buat UAS Telaah Drama semester 6 kemaren, kita disuruh main drama. kelasku main drama yang judulnya "Kappa no Densetsu" (Legenda Kappa). ini parodi dari salah satu legenda tentang Kappa. ceritanya kocak, amburadul, gokil. kita juga ngajak duo native Satoshi-Kazuma buat main di drama kita. Satoshi jadi Kappa, Kazuma main peran dobel, jadi Power Ranger Red dan Harry Potter-sama. aku berperan sebagai Akai, anak pertama yang judes banget. Kie jadi anak kedua, Momo. Pika jadi anak ketiga sekaligus tokoh utama perempuan, Midori. Bune jadi ibu dari ketiga anak itu. Didin jadi Kitsune, sahabat Kappa. Yulia jadi nenek sihir dan Risda jadi anak kecil. keduanya jadi narator yang menjelaskan jalan cerita. kita juga dibantu Ghofur yang jadi Iron Man dan Pyok yang jadi dos-dos. itu tuh, kalo di acara tv Masquerade, orang yang berpakaian hitam-hitam, tugasnya menggerakkan properti. kalo di Kabuki, namanya kurogo. waktu pentas, penonton yang dateng sedikit. sempet ada beberapa dialog dan adegan yang kelompatan. tapi alhamdulillah semuanya sukses :D

terus, apa lagi ya? KKN dong! ini dia nih kuliah yang paling banyak menguras tenaga, pikiran, uang, dan emosi. hahaha... aku dan kelompokku dapet tujuan KKN di desa Ngeluh, kecamatan Margomulyo, kabupaten Bojonegoro. Bumi Angling Darma :D

aku mengajukan diri jadi koordinator desa alias ketua kelompok. padahal Angga udah ingetin, jangan mau jadi ketua. tapi entah kenapa kok aku pingin aja. tapi ya, Angga melarang juga bukan tanpa alasan. jadi ketua kelompok KKN itu susaaaah banget. kita harus bisa jadi penengah buat sekian orang dari berbagai macam jurusan yang tentunya punya ideologi masing-masing. waktu KKN inilah aku merasa, ternyata emang ga gampang jadi seorang pemimpin. kalau selama ini aku jadi ketua atau koordinator di acara-acara Sastra Jepang, itu masih belum seberapa dibanding yang ini. selama ini, meskipun ada masalah, tapi aku berhadapan sama teman-teman sejurusan yang sepaham denganku. tapi di KKN ini bener-bener beda. ngga gampang membuat 21 orang dari jurusan yang berbeda buat dengerin apa kata kita. tapi ya, alhamdulillah KKN kita berjalan dengan cukup lancar. sebagian besar proker kita terlaksana dengan baik. itu semua juga karena kelompokku punya inisiatif yang besar. aku sendiri dapet pelajaran yang berharga. terutama bagaimana kita bisa legowo dalam menghadapi orang lain, meskipun saling berbeda pandangan. juga bagaimana kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki selama ini, karena ternyata masih banyak saudara kita yang hidup di bawah garis kelayakan, tetapi mereka selalu berjuang dan bersyukur.aku merasa ngga ada apa-apanya dibandingkan msyarakat desa Ngeluh. akhirnya kita bisa pulang dengan perasaan lega dan bersyukur.


itulah cerita-cerita tentang apa aja yang aku alami dan jalani sampai hari ini. gimana soal hubunganku dengan Angga? yang jelas, sejak KKN itu aku menjadi setingkat lebih berbesar hati dan dewasa. ngga lagi menuntut Angga untuk melakukan atau menuruti apa yang aku mau. tapi, di saat aku berkembang inilah, masalah besar datang menguji. apa itu? hmm, karena ini pribadi, aku ngga bisa nulis di sini. seperti biasa, aku tulis di blog pribadi. hehe...


dengan adanya masalah ini, aku ngga bisa tidur dengan nyenyak. tubuh dan hatiku sakit-sakitan. tapi semoga, aku bisa kuat dan tegar menghadapi ini semua. aku hanya berharap aku tegar dan masalah ini selesai dengan solusi yang aku harapkan. aminn....


udahan dulu deh ceritanya. kapan-kapan lagi aku posting, kalau ada mood. hehe :p
Sampai jumpa di kesempatan berikutnya! ♥

MAWAPRES Galau

Fiuh... Akhirnya dapet kesempatan juga buat nulis tentang MAWAPRES ini. Sebenernya ini udah basi banget, karena ini cerita udah sekian bulan yang lalu. Tapi, berhubung ini penting bagiku, jadi aku ngerasa wajib buat posting tentang MAWAPRES ini. Bagi yang belum tau MAWAPRES itu makanan apa, aku kasih tau dikit. MAWAPRES itu singkatan dari Mahasiswa Berprestasi. Dari yang aku tau, hampir semua universitas ada seleksi MAWAPRES tiap tahunnya. Nah, kalau di UNAIR, seleksinya itu bertahap, mulai dari tingkat fakultas sampai tingkat universitas. Persyaratannya mungkin hampir sama kayak uiversitas lainnya: setiap calon peserta harus membuat karya tulis hasil telaah pustaka. Nah loh. Ini dia nih yang bikin galau.
 
Tapi sebelum aku ceritain kegalauanku, mending aku ceritain dulu deh gimana awalnya aku bisa ikutan MAWAPRES.
 
Aku ingat waktu itu hari Senin, setelah MK 2011. lupa tanggal berapa. Waktu itu aku lagi ngumpulin tugas Sakubun di mejanya Tomokiyo-sensei, dengan mata ngantuk. Sampe-sampe aku salah masuk loh. Seharusnya aku masuk lewat pintu masuk umum. Tapi dengan sangat begonya aku malah masuk lewat pintu khusus dosen! Nah, pada saat itu Putri-sensei ngeliat aku, terus memanggilku. Katanya, "Djayeng, mau ngga ikutan MAWAPRES?"
 
Wih, ketiban duren apaan nih gua? Pagi-pagi masih ngantuk gini ditawarin ikut MAWAPRES?!
 
"Mau, Sensei. Kapan itu rencananya?"
 
"Tanggal 24 Oktober."
 
Aku langsung mikir, "Oh masih lama"
 
"Djayeng beneran mau ya? Soalnya nama-namanya (perwakilan) harus masuk hari ini juga."
 
"Iya, Sensei. Saya mau."
 
"Djayeng bahasa Inggrisnya pinter kan?"
 
Eit dah. Ini nanya apa ngeledek sih? "Insya Allah sih Sensei..."
 
"Iya, soalnya yang penting menguasai bahasa asing juga, terutama bahasa Inggris. Nanti pas presentasi ditanyain pake bahasa Inggris juga."
 
"Oh, ya..."
 
Putri-sensei nunjukin aku semacam berkas-berkas untuk calon MAWAPRES. Terus diliatin tema makalah dan topik-topik yang ada. Tema makalahnya "Mahasiswa Indonesia Cerdas dan Berkarakter".
 
Aku liat topik-topik yang ditawarin. Ada kebudayaan, ketahanan pangan, energi alternatif, pemberantasan kemiskinan, dan sebagainya. Entah kenapa aku tertarik banget sama kebudayaan dan energi alternatif ini. kalau kebudayaan ya udah jelas alasannya, aku kan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya :P
 
Nah, kalau energi alternatif ini, karena dulu waktu SMP aku pernah buat makalah tentang itu. Aku inget waktu itu aku kelas 3, ada tugas bahasa Indonesia dari Pak Poerwoadi. Waktu itu juga lagi hangat-hangatnya berita tentang kenaikan harga BBM. Kebetulan aja aku punya referensinya. Mbah Kakung (alm.) pernah ngasih aku majalah-majalah National Geographic Indonesia. Ada salah satu edisi yang membahas tentang energi alternatif, cukup lengkap dan mudah dimengerti. Akhirnya aku dan temenku, Dewi, bikin makalah itu. Emang tadinya ribet banget, soalnya itu awal-awal kita bikin makalah. Tapi toh hasilnya ngga percuma. Makalah itu dipuji-puji Pak Poerwoadi. Bahkan katanya sih, sampe dibahas segala sama Pak Poer di kelas-kelas lain.
 
Tapi, setelah aku pikir-pikir, kali ini kayaknya aku harus bikin makalah yang beda deh. Kalau aku cuma ngambil topik yang dulu pernah aku tulis, namanya ngga kreatif donk. Makanya aku ambil yang kebudayaan aja.
 
Semester ini kan aku dapet PKBU (Pengantar Kajian Budaya Urban). Aku inget Pak Johny pernah menyinggung-nyinggung soal hiperealitas-nya Jean Baudrillard. Akhirnya aku putusin untuk ngebahas hal itu. Dan entah kenapa, perhatianku tuh kayaknya disedot banget sama si hiperealitas ini.
 
Tadinya, aku pingin nulis tentang gimana caranya kita bisa membuat mahasiswa jadi hiper dan fetish terhadap kebiasaan belajar, daripada fetish-nya sama kebiasaan ngga guna kayak facebook-an, twitter-an, shopping, dan sebagainya. Jadi aku harus mendalami hiperealitas itu dulu.
 
Tapi ya, dasar tolol. Ternyata hiperealitas itu ngga sesimpel yang aku pikir.
 
Aku nyari referensinya di perpustakaan. Ngga ada sih buku yang khusus membahas itu di perpus, tapi ada satu buku yang mencantumkan kata hiperealitas dalam judulnya. Buku itu judulnya "Imagining Lara Croft: Psikosemiotika, Hiperealitas, dan Simbol-simbol Ketaksadaran" karya Audifax. Begitu aku cari bukunya, ternyata ada di rak buku-buku psikologi. Mampus gua! Aku kan ngga ada basic psikologi! Tapi ya gobloknya, aku tuh tetap ngambil buku itu, tanpa menyadari apa risikonya kalau maksain membahas sesuatu yang ngga kita kuasai sebagai karya ilmiah.
 
Dan barulah kusadari ketika aku mulai menulis. Bener-bener susah banget. Bingung mau nulis apa, rumusan masalahnya gimana, apa yang mau diulas dalam makalahku ini, aaarrrrghhh! Belum lagi disuruh bikin analisis dan sintesis. Makanan apa pula itu. Nyari di internet juga ngga seberapa mudeng maksudnya apa. Bener-bener bikin frustasi. Tapi ya ngga tau kenapa, mungkin juga karena udah telanjur kepalang terdaftar dalam MAWAPRES, ya aku berusaha tuntaskan sampe akhir. Batas waktunya adalah Rabu, 19 Oktober 2011, jam 1 siang. Demi menuntaskan makalah itu, aku bolos kelas Kaiwa dan Sakubun. Tapi alhamdulillah banget selesai tepat waktu. Aku selesai jam 11, langsung berangkat buat ngeprint dan ke kampus.
 
Jam 1 kurang, aku udah sampai di jurusan. Sepi. Cuma ada Putri-sensei. Dengan tampang bingung aku tanya ke mana aku harus ngumpulin tiga rangkap makalah itu. Putri-sensei bilang nanti aja pas TM. Ya aku nunggu. Sementara itu aku perlihatkan ke Putri-sensei makalah dan data pribadiku. Putri-sensei ngga komentar banyak, selain soal kelengkapan dokumenku. Tiba-tiba muncul inisiatif buat beli map, supaya lebih rapi. Akhirnya aku turun lagi ke bawah dan beli map buat makalah-makalahku. Begitu aku kembali ke ruang jurusan, ada Eli-sensei. Kata Sensei, aku disuruh ke ruang Wakil Dekan sekarang juga. Aku juga dititipi pesan kalau ketemu Pipit dan mas Lazu, tolong beritahukan hal yang sama. Aku menngiyakan dan permisi turun ke ruang Wakil Dekan.
 
Di ruang Wakil Dekan, banyak mahasiswa lagi duduk menunggu sesuatu. Wah, calon MAWAPRES juga nih, pikirku. Aku melongok ke ruang rapat Wakil Dekan. Sepi. Karena ada temen yang nunggu juga, aku duduk di sofa yang rasanya empuk banget bagi diriku yang kelelahan. Lalu aku baru sadar, ada mbak Eli si pembuat tatoo heyna sekaligus penjual jajanan paling gigih di kaliber FIB. Eh, ngga lebay tauk. Emang orangnya gigih banget. Waktu aku masih tingkat 1, aku sering liat dia naik sepeda gunung sambil bawa kontainer kecil tempat jajanan jualannya ke kampus. Sekarang dia udah bisa naik Mio loh. Hebat kan? Aku yakin itu hasil kerja kerasnya juga. Aku jadi kagum padanya. Tapi, fakta bahwa dia salah satu sainganku di MAWAPRES bikin aku minder. Tapi biar gimana juga aku ngga boleh kecil hati.
 
Sementara menunggu, aku ngobrol sedikit dengan mbak Eli. Yah, basa-basi sedikitlah. Ngga lama kemudian, dia bilang, "Duluan, ya." lalu masuk ke ruang rapat wakil dekan. Aku melongo. Apa ada panggilan ya?
 
Sudah lebih dari jam 1. ngga ada tanda-tanda calon MAWAPRES dipanggil buat TM. Malah yang ada ruangan itu makin sepi. Mas Lazu sempat dateng, tapi terus pergi lagi buat fotokopi. Aku titip fotokopi KTM juga sama dia. Tapi aku jadi bingung, kok molor banget sih TM nya. Ngga sabaran, aku mengetuk ruang Wakil Dekan 1, Pak Puji, yang akrab dan populer di antara mahasiswa-mahasiswanya.
 
Pak Puji menyambutku ramah. Tanpa banyak pikir, aku serahkan ketiga mapku kepada beliau, karena aku pikir beliau salah satu jurinya. Pak Puji langsung bingung. Aku menjelaskan tentang makalahku yang akan diajukan buat MAWAPRES. Masih tetap bingung, beliau bilang, "Loh, diserahkan kepada panitia saja."
 
Aku ikutan bingung. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah, "Anu, Pak. Sebenarnya TM nya jam berapa? Katanya jam 1, tapi sampai sekarang kok belum mulai. Saya lihat ruang rapat masih kosong."
 
"Loh, kan ada Bram di situ?"
 
Aku ngerasa seperti orang bego. "Eh... di mana, Pak?"
 
Pak Puji keluar dari ruangannya dan aku mengikuti beliau. Ternyata, di ruang rapat itu, di sisi kanan yang ngga keliatan dari sofa tempatku duduk, ada Pak Bram, dosen muda Sastra Indonesia.
 
Aku bener-bener malu sama Pak Puji. Duh, kok bego banget sih aku? Eh tapi bukan salahku juga donk. Ngga ada pemberitahuan kalau ternyata TM nya individu alias satu per satu. Aku kan mikirnya semua calon dikumpulin terus TM.
 
Aku duduk di depan Pak Bram. Orangnya tak terlalu ramah. Mungkin penampilan luarnya aja. Di sisi kirinya ada berbagai macam gadget. Duh, kayaknya rempong banget dah. Aku kasih mapku, dan ternyata cuma ditaruh gitu aja di samping kanannya. Yah, kirain mah diperiksa dulu dokumennya lengkap atau ngga. Katanya, "Ya udah, langsung aja ya. Silakan ambil undiannya."
 
Di depanku ada beberapa gulung kertas kecil. Aku ambil satu sambil harap-harap cemas, komat-kamit mudah-mudahan ngga dapet urutan pertama.
 
Alhamdulillah dapet urutan 5. Sesuatu banget deh.
 
Lalu Pak Bram menulis namaku di catatannya, beserta nomor undianku. Jadi, Senin (24 Oktober 2011) semua calon akan presentasiin isi makalahnya di depan dewan penguji, terus diwawancara juga. Mulainya jam 9, tempatnya di ruang sidang lantai 2. Setiap peserta dikasih waktu maksimal 15 menit buat presentasi dan 15 menit buat dihajar sama dewan penguji, ditanyain pake bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Weks, mati gua. Berasa mau sidang skripsi aja. Tapi untung aku dapet urutan nomor 5, jadi ngga terlalu keder juga. Yah, yang penting disiapin baik-baik aja deh.
 
Teorinya doank begitu. Kenyataannya ngga gitu.
 
Aku bingung mau presentasi apa. Pikiranku udah macem-macem. Aku khawatir soal ditanyain pake bahasa Inggris itu. Yang nanyain pasti dosen-dosen Sastra Inggris. Belum lagi oral English-ku ngga begitu bagus. Kalo written mah masih mendingan. Heuh. Ciut dah nyali gua. Seharusnya aku nyiapin diri buat presentasi. Aku coba prediksiin kira-kira pertanyaan apa yang bakal ditanyain sama dewan penguji. Aku review lagi makalahku. Makin diliat makin sadarlah aku kalau makalahku banyak celahnya. Pertama, teori-teorinya maksain banget deh. Keliatannya sih berhubungan, tapi aku-nya yang kurang dalem memahami. Jadi ngga bisa nunjukin dengan jelas benang merah antara teori Sigmund-Freud dengan dampak yang ditimbulkan jejaring sosial dalam masyarakat kita. Kedua, ngga sistematis. Biarpun aku berusaha supaya sistematis, tapi tetep aja ngga bisa bener-bener sistematis. Kayak loncat-loncat gitulah. Ketiga, gueh ngga pahhhham sama teknik penulisan yang disyaratin. Analisis itu apa, sintesis itu apa. Seumur-umur belum pernah dah ketemu yang begituan dalam makalah. Kalo abstrak sih masih iya ketemu dulu waktu di kelas 3 SMA. Terus gimana nih caranya mempertanggungjawabkan makalahku?Beuh, bisa mati aku dihajar sama pertanyaan bertubi-tubi. 15 menit itu lama tauuuuu… keluar-keluar bisa jadi rempeyek aku. Akhirnya aku frustasi sendiri dan malah ngga bisa nyiapin diri. Bikin skrip pun rasanya ngga gunaaaaaaaa banget. Oke, itu lebay. Mungkin ada gunanya. Dikit.
 
Hari H pun tiba. Aku izin sama Eli-sensei buat absen dari kelas Shodo. Eh, ngga taunya Eli-sensei jadi pewawancara nanti. Eaaaaa…. Entah kenapa, hatiku agak lega begitu tau kabar itu. Berarti kan waktu wawancara ngga terlalu tegang juga. Lagian, you know I know lah (apa sih?). Intinya Eli-sensei pasti kan udah cukup tau tentang diriku. Jadi ngga perlu lama-lama kan wawancaranya, Sensei? Hehe…
 
Jam 9 kurang aku ke ruang sidang lantai 2. kayaknya aku jadi yang paling kerajinan deh. Ternyata aku orang nomor dua yang dateng duluan. Yang pertama anak Sejarah entah siapa. Aku sendiri ngga begitu kenal. Abis tanda tangan dan ambil konsumsi, aku masuk. Aku liat-liat lagi skripku, jadi gelisah sendiri. Rasanya percuma aku baca skrip, takutnya kayak dulu-dulu lagi. Jadi inget waktu SMP. Waktu itu ada ujian pidato pra-UAN. Aku udah nyiapin skrip dengan rapi di kertas kecil, biar ngga keluar jalur pas pidato. Eh, pas maju aku malah ngomong di luar skrip, bahkan di luar isi naskah pidato. Yang aku omongin itu ide-ide ngga kepake di draft sebelumnya, yang entah kenapa terlintas begitu aja di kepalaku. Jadi kalau di pembuatan film tuh kayak adegan-adegan yang salah, terus dipotong dan dibuang. Nah, kayaknya pidatoku waktu itu jadi mirip "Dibuang Sayang". Itu tuh, cuplikan-cuplikan adegan buangan tadi, biasanya ditayangin di akhir sinetron jaman baheula. Mungkin karena lucu (emang lucu sih, soalnya biasanya itu si artis salah ngucapin dialog atau salah posisi, blocking, gerakan, dan sebagainya. Apalagi kalo pas adegan pukul-pukulan si artis salah pukul. Wah, ngocol tuh)atau mungkin PH nya agak pelit (udah beli rol filmnya mahal, ngga kepake lagi karena si artis salah. Gimana ngga melotot tuh produsernya), sayang kalau mau dibuang. Jadinya adegan-adegan tadi dipake buat sampingan aja, sekedar hiburan. Makanya jadi "Dibuang Sayang". Persis tuh. Cuma bedanya: 1. ide-ide buangan itu nongolnya bukan pas terakhir, tapi pas aku lagi ngomong di tengah-tengah; 2. aku ngga ikut PH manapun, jadi ngga ada yang melototin aku dan seharusnya ngga ada alasan aku "mendaur ulang" ide-ide buangan tadi; 3. ide-ide itu bukan buat sampingan atau hiburan atau gimana. Dia muncul gitu aja. Jadinya garing banget. Duh, malu dah. Makanya, aku agak alergi kalau harus presentasi pake skrip. Mending spontan atau improvisasi dah.
 
Back to topic. Lagi khusyuk-khusyuknya sama skrip dan makalah, eh ada Norma. Aku kaget, ternyata dia ikutan MAWAPRES juga. Yah, ngga heran juga sih. Dari waktu SMA dia emang gitu, selalu mengejar jadi yang terbaik. Dia pun keliatannya surprise juga ketemu aku. Terus ngobrol-ngobrol deh akhirnya. Katanya, dia ditunjuk gitu aja sama jurusannya. Terus tanpa tahu apa-apa disuruh bikin makalah. Dia malah ngga tau kalau hari itu disuruh presentasi, dia cuma taunya disuruh kumpul di ruang sidang. Nah loh!
 
Aku tanya, "Emang kemaren ngga dibilangin pas TM?"
 
"Loh, kapan ada TM?"
 
"Rabu kemaren. Pas ngumpulin makalahnya."
 
"Masa sih? Perasaan ngga tuh."
 
"Loh, ada Norma… aku loh dibilangin sama pak Bram waktu ngumpulin."
 
"Oh iya tah? Dosenku ngga ngomong apa-apa."
 
"Hah? Emang kamu ngumpulin ke siapa?"
 
"Ke dosenku. Aku taruh di ruangan jurusanku."
 
*glodak*
 
Terus katanya lagi, dia cuma tau disuruh dikumpulin ke dosennya. Nanti biar diserahin ke panitianya. Ih, enak banget, pikirku. Coba Sastra Jepang juga kayak gitu. Aku pasti ngga perlu dapet pengalaman ngga penting kayak waktu itu.
 
Akhirnya, dia buka laptop, terus bikin presentasi. Aje gile. Kirain mah aku doank yang paling rempong. Ternyata masih ada lagi yang lebih rempong, baru bikin PPT sekian jam sebelum presentasi. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Aku perhatiin anak-anak yang lain. Semuanya tenang, seolah-olah udah siap presentasi. Beda banget sama aku yang masih ngga tau harus ngapain.
 
Jam 10, barulah acara dimulai. MC bilang kalau ini presentasi tertutup, jadi selain yang presentasi diharap keluar. Alhamdulilllaaahh….. Lega banget dah. Setidaknya aku ngga perlu malu di depan peserta lain. Malunya cuma sama dewan penguji doank. Hehe… eits, tapi tetep aja aku harus siap-siap keluar jadi rempeyek setelah presentasi. Mak!
 
Peserta nomor 1 pun siap-siap, sementara yang lain disuruh ke ruangan sebelah. Biar ngga terlalu lama, yang lain diwawancara dulu, mulai dari peserta urutan terakhir, yaitu nomor 12. karena aku nomor tengah, jadi masih lama sebelum diwawancara maupun presentasi. Aku ngeliat jam. Wah, bolos Chujokyu nih gua. Tapi ya ngga apa-apa lah. Toh aku belum ambil jatah bolos. Sekali-kali ngga ikut kuliah Chujokyu kan ngga apa-apa. Lagian alasan bolosku keren banget: mewakili jurusan di kancah MAWAPRES FIB. Kalau anak-anak liat tulisan ini pasti aku diludahin orang satu jurusan. Hahahaha… ngocol doank ini, ngga ada maksud sombong loh ya…
 
Menit demi menit, jam demi jam… Rasanya lama banget giliranku. Jadi ngga sabaran. Mau belajar lagi ya percuma, ngga bakal nyantol lagi. Mau makan ya lagi puasa. Aku liat Pipit di sebelahku, lagi nyiapin PPT nya. Mas Lazu malah santai dengerin musik. Iiihhh, coba LinkerBell ngga rusak. Mungkin aku juga udah dengerin lagu dari tadi. Huhuhu… serba salah dah.
 
Sekitar jam 12 aku baru presentasi. Setelah giliranku, akan ada break sampe jam 1. tapi, masalahnya aku belum wawancara. Wah, masa bolos PKBU lagi? Kayaknya harus nemuin pak Johny dulu nih buat izin, pikirku sambil nyiapin presentasi. Salah seorang dewan penguji, dari Sastra Inggris kayaknya, nyuruh aku buat cepetan karena sebentar lagi harus break. Jadi tambah nervous.
 
Akhirnya aku presentasi. Saking gugupnya, suaraku jadi tercekat-cekat. Duh, kacau dah… tampangku pasti jelek banget pas itu. Selesai presentasi, aku siap-siap ditanyai. Pertama, dari seorang dosen wanita. Rambutnya pendek, pake blazer tua tapi rapi. Mungkin umurnya udah sekitar 50-an, yah paruh baya gitu. Kayaknya dari Sastra Indonesia. Beliau bilang, dengan nada halus tapi menusuk, kalau aku harus belajar punctuation, alias tanda baca. Masa sih? Aku pikir aku salah denger. Tapi kata beliau, punctuation-ku parah. Jujur, aku ngga percaya. Yah, bukannya apa-apa, tapi aku digembleng dari SMP tentang tata bahasa, mulai dari tanda baca, struktur kalimat, dan segala macam tetek bengeknya sampai aku masuk kelas Bahasa di SMA. Aku diajar sama guru-guru yang ngga akan membiarkan kesalahan tanda baca sedikitpun. Aku masih inget jaman-jaman pengurangan nilai untuk setiap kesalahan tanda baca. Jadi kalaupun misalnya jawaban kita bener tapi tanda bacanya salah, nilai kita dikurangin. Malah, bisa aja loh nilai yang seharusnya 85 jadi 50. kejem ngga sih? Tapi alhamdulillah, aku selalu lolos dari perkara kesalahan tanda baca. Makanya aku ngga percaya kalau sekarang tanda bacaku parah. Apa jangan-jangan kemampuanku udah menurun? Ngga tau juga sih. Aku cuma tersenyum pahit sambil berterima kasih pada beliau karena udah ngingetin aku. Dalam hati aku keingetan pak Poerwoadi.Bisa-bisa aku dimarahin kalau bener tanda bacaku salah. Ampun, pak Poer…
 
Yang kedua, dosen pria, kayaknya dari Sastra Indonesia juga. Beliau tanya soal arti kata "Id" di judul makalahku. Aku buka slide tentang teori Sigmund-Freud. Aku jelaskan lagi tentang id, ego, superego, dan sebagainya. Keempat dewan penguji langsung serempak mengangguk paham. Rupanya, dari tadi dewan penguji tuh bingung soal kata Id. Sempet salah paham juga, dikiranya yang aku maksud tuh "ID" alias "identitas". Setelah mengangguk paham, dosen tadi mengingatkan supaya aku jangan nulis kata-kata yang ambigu lagi di judul, karena itu fatal. Lebih baik diganti dengan kata lain yang ada padanannya dalam bahasa Indonesia, atau semacamnya. Aku cuma ketawa pahit, sambil berterima kasih kepada beliau. Jiah, salah lagi! Kali ini di tata judul lagi. Masya Allah…. Diapain aku sama guru-guruku kalau tahu aku masih salah di judul, di bagian yang paling dasar dalam penulisan karya tulis? Ampun, Bapak… Ampun Ibu….
 
Selanjutnya… yang dinanti-nanti, pertanyaan dari dosen-dosen Sastra Inggris. Jeng… jeng.. Jeng.. Jeng… seorang dosen muda, kalau ngga salah Pak Dadung namanya, sedikit "memuji" kalau aku beda dari yang lain. Temanya, bukan pribadinya. Jangan salah paham dulu donk ah… hehe… kata beliau, cuma aku yang ngambil tema filsafat di sini. Aku cengo. Emang itu filsafat ya? Padahal pikirku aku lagi bahas psikologi. Ah, ngga tau lagi deh… lalu beliau tanya apa alasannya aku "menuduh" jejaring sosial sebagai agen perusak masyarakat kita. Ini dia pertanyaan yang dinanti-nanti. Dan bagus sekali, aku ngga ngerti harus jawab apa. Akhirnya aku jawab dengan pengalaman yang ada di sekitarku, sambil berpikir kalau jawaban itu kurang kuat. Ya, aku tau jawabannya ngga terlalu relevan sama pertanyaannya, tapi masa iya aku mau nunjukin sisi lemahku di sini. Terus, aku sadar. Ternyata aku bikin kesalahan yang besar di sini. Ngga heran Pak Dadung tanya begitu, karena emang ngga ada dasar yang kuat untuk itu. Aku jadi mikir lagi, kenapa kemaren aku bisa nuduh gitu ya? Yaelah, berarti makalahku "childish" donk… apa ini makalah yang pantes buat jadi MAWAPRES?
 
Terakhir, dari dosen wanita yang tadi nyuruh aku buat cepetan. Aku ngga seberapa inget apa pertanyaan beliau, yang jelas aku disuruh mengulang dan menguraikan dengan gamblang argumenku sebelumnya. Aku bisa mengulang, tapi ngga bisa menguraikan dengan gamblang. Bahasa Inggrisku makin ngaco. Akhirnya, mungkin karena semua udah capek dan pingin break, presentasiku dicukupkan. Ibarat mangsa yang dibiarkan lepas sama harimau. Keluar ruangan aku ngga jadi rempeyek, tapi jadi dodol. Lemas tak berdaya. Ngga tau harus merasa gimana. Yang jelas udah lega karena udah selesai presentasi.
 
Jam menunjukkan pukul setengah 1. Aku menghadap Eli-sensei, minta supaya wawancaranya dipercepat karena ada kuliah PKBU jam 1. tapi Eli-senssei pun lelah, pingin break. Kata Eli-sensei, wawancaranya ngga lama-lama kok. Toh, abis break ini emang langsung giliranku. Ya udah, akhirnya aku mencari pak Johny di ruangan jurusan Ilmu Sejarah. Syukurlah pak Johny ada. Aku menjelaskan situasinya, lalu minta izin supaya aku diperbolehkan masuk seandainya aku telat masuk kelas. Pak Johny ngga keberatan. Aku berterima kasih, lalu kembali ke depan ruangan sidang.
 
Jam 1 setelah break, aku wawancara. Eli-sensei protes, kok foto di dokumen pake foto yang lama. Aku agak heran sama Sensei. Fotoku itu ngga terlalu lama, diambil waktu aku mau ujian PMDK dulu. Eh, lama ya? Hehe… yang penting kan ngga belasan tahun yang lalu. Tapi aku ngga terlalu ambil pusing (baru pas Nouryoku Shiken bulan Desember kemaren aku sadar kenapa Sensei protes. Ternyata, orang kira itu fotoku waktu masih kecil! Pantes kok Yudiah dan kawan-kawan bilang, "Itu fotomu waktu SD, ya?" tersinggung aku jadinya. Hohoho…) Lalu dilanjutin lah wawancaranya. Pertanyaannya standar, tentang prestasi, pengalaman, dan lain-lain.
 
Akhirnya hari itu selesai. Lega banget rasanya. Aku masuk kelas PKBU dengan tampang lemas, kayak orang abis berantem sama pacar.
 
Sekian minggu kemudian, ngga ada kabar apa-apa tentang MAWAPRES. Aku tersenyum pahit, ya mungkin tandanya aku ngga lolos. Aku ngga tau apa persisnya perasaanku waktu itu. Sedih, karena ngga lolos? Atau senang, karena ngga perlu rempong lagi bertanding di tingkat universitas? Entah.
 
Bulan Desember, aku lupa tanggal berapa, ada syukuran ultah FIB. Aku dapet sms dari Pipit, katanya aku disuruh ke acara itu mewakili jurusan. Aduh, kenapa aku sih? Terus, aku ke lobby. Di sana orang udah pada kumpul. Ada Pipit dan beberapa anak Sastra Jepang juga. Aku heran, kalau ada mereka, ngapain aku disuruh ke sini? Lalu aku liat mas Lazu. Barulah aku sadar, ternyata calon MAWAPRES dipanggil semua. Pipit bilang, "Katanya mau dikasih penghargaan." Walah, penghargaan apa lagi ini….
 
Widya-sensei, yang bertindak selaku MC, memanggil nama para calon MAWAPRES berdasarkan urutan juara, mulai dari angkatan paling muda, juara paling buncit. Yang pertama dipanggil adalah Pipit. Dia mendapat juara 3 untuk angkatan 2010. lalu beberapa nama lain dipanggil, sampai juara 1 angkatan 2010. selanjutnya, nama Norma dipanggil. Dia menjadi finalis untuk angkatan 2009. setelah Norma, ada satu nama, aku lupa siapa, mendapat juara 3. lalu setelah itu namaku, mendapat juara 2. aku ngga percaya. Aku, juara 2 angkatan 2009? Risda dkk menggodaku. Aku maju ke depan, gabung dengan Pipit. Aku malu, minder. Padahal apa juga alasannya aku begitu? Kan aku dapet juara, bukan ketangkep maling kutang. Berikutnya Soebandi, juara 1 untuk angkatanku. Yah, kalo dia mah ngga heran dapet juara 1. lalu berikutnya mas Lazu, finalis angkatan 2008. dan seterusnya sampai juara 1. ternyata, yang maju cuma para peserta dari Sastra Jepang dan juara 1 angkatan 2008, mbak Adibah. Yang lainnya diwakilkan sama dosen dari jurusan masing-masing. Kami diberi sertifikat dan amplop sama pak Puji. Waktu beliau kasih selamat ke aku, aku jadi malu. Inget kejadian konyol kemaren.
 
Setelah sesi foto-foto, kami disuruh ikut Widya-sensei buat tanda tangan sebagai bukti kalau kami sudah terima penghargaannya. Di ruangan itu ada beberapa karyawan, termasuk mbak Asti dari Kemahasiswaan, yang lumayan akrab denganku. Dengan manja aku protes, kenapa namaku salah. Tau ngga siihh.. Masa di sertifikat namaku jadi 'DYAJENG CHANNISSA'! Sebel dah! Mbak Asti, yang tau bener soal namaku, juga cuma bisa angkat bahu. Katanya itu bukan dia yang ngetik, tapi Bu Dian dari Sastra Inggris. Eaaa, kayaknya bakal ribet nih ngurusinnya. Tapi yang jelas, aku bersyukur bisa dapet juara di tingkat fakultas. Hehe….
 
Yah, itulah cerita panjang tentang perjalananku menuju puncak MAWAPRES gemilang cahaya. Hahaha… Lebay banget dah. Yang jelas, ini sebuah pengalaman yang ngga boleh ngga keposting di blog ini. Hehe… iya donk, kan peristiwa penting. Jadi biar besok-besok kalau aku udah besar (sok imut deh) aku bisa ketawa-ketawa mengenang kerempongan ikut MAWAPRES ini. Atau jangan-jangan nantinya aku malah muntah, ngga kuat baca kekonyolan cerita ini? Ah, masa bodoh. Bagiku, pengalaman ini tak ternilai. Aku berharap, suatu saat ketika diriku di masa depan membaca tulisan ini, ada satu hikmah yang bisa kuambil dari sini. Amin...

Lidah Yang Menyakiti Banyak Orang

Akhir-akhir ini mood-ku suka naik-turun, padahal ngga lagi PMS. Aku sendiri bingung kenapa. Tapi setelah beberapa kejadian dan aku merenungkannya, kurasa sekarang aku tau jawabannya.

Aku masuk dalam masa pencarian jati diri tahap berikutnya.

Aku ngga tau sebenarnya masa pencarian jati diri itu ada berapa tahap. Tapi karena aku sadar proses ini bukan proses yang gampang, aku berasumsi bakalan ada banyak tahap yang harus aku lalui. Tahap yang aku jalani sekarang ini lebih complicated lagi daripada tahap yang aku lalui waktu SMP ataupun SMA. Ngga kayak dulu lagi, sekarang aku tak punya hasrat untuk menonjolkan diri. Cukup aku tau kalau aku itu unik dan jarang yang bisa nyamain (kalau ngga mau dibilang langka), aku udah puas. Aku ngga mau lagi ngotot minta diperhatiin temen-temenku (pacar lain lagi ceritanya) atau orang-orang yang lebih tua dariku. Indulge all by myself, cukuplah aku untuk diriku sendiri.

Lalu, apa yang sebenernya aku cari?

Rada maksain dikit sih, tapi aku mau ngutip kata-katanya Suigintou di Rozen Maiden Ouvertüre:

“Watashi, nan no tame ni umarete kita no?”
Untuk apa aku dilahirkan ke dunia ini?

Ya, untuk apa hidup?

Mungkin kedengerannya pesimistik, tapi justru sebenernya pertanyaan itu membuat aku merasa hidup.

Aku coba merenungkan makna dari pertanyaan itu, dan pastinya mencari jawabannya. Entah kenapa aku masih belum puas dengan jawaban yang disediakan agamaku dan jawaban filosofis lainnya. Aku butuh jawaban yang bener-bener aku banget. Jawabannya yang bisa nunjukkin, “Oh, ini loh aku. Aku hidup di dunia ini tuh untuk ini, blablabla” dan seterusnya.

Pertanyaan yang sulit emang, tapi kayaknya pertanyaan ini bikin perilakuku berubah.
Aku jadi tambah sering uring-uringan, sama kayak SMP atau SMA dulu. Bedanya, sekarang aku tau apa yang bikin uring-uringan, dan aku merasa aku pantes marah-marah karenanya. Aku jadi suka ngomong blak-blakan, terutama kalau itu tentang kesalahan orang yang menyangkut kepentingan umum. Misalnya waktu kemaren aku cerita sama Papa soal perilaku anak-anak angkatan tahun baru yang seenak udelnya menguasai musholla cuma buat ngobrol-ngobrol. Aku cerita begitu pas lagi makan di kantin, ngga peduli mau didenger siapa. Malah aku cenderung sok berani, merasa sindiranku pantes buat didenger mereka.

Tapi aku kemudian dimarahi Papa karena hal itu.

Waktu aku pulang Sabtu kemaren, Papa bilang padaku, dengan nada lelah, kalau aku ngga pantes ngomong kayak gitu. Papa bilang aku harus hati-hati, dan janganlah cari musuh. Papa cerita kalau Papa dulu 5 tahun di Udayana, setiap tahunnya semakin banyak yang sayang padanya, dan seterusnya.

Aku bingung, kesel. Kenapa coba aku dimarahi karena itu? Padahal yang salah ya mereka, ngapain pake acara duduk-duduk di musholla buat hal ngga berguna sampai orang lain ngga dapet tempat buat sholat? Bukannya Papa sendiri yang bilang kalau yang salah ya salah, ngga usah dicariin pembenaran dan sebagainya.

Aku masih bingung mikirin alasan Papa marahin aku, sampai pada akhirnya aku masuk kuliah lagi minggu ini.

Aku menemukan contoh-contoh dari orang-orang terdekatku. Mereka juga berperilaku seperti itu. Waktu itu aku muak banget denger sindiran dan omelan mereka (walaupun yang disindir atau diomelin itu bukan aku). Dalam hatiku, “Eh, lu punya tata krama ngga sih? Kalau emang ngga suka ya ngomong langsung sama orangnya donk. Bukan sok-sokan berani nyindir-nyindir kayak gitu.”

Saat itu aku sadar. Perilaku mereka adalah cermin buatku. Akhirnya aku ngerti kenapa Papa marah. Dan aku ngerasa, Papa emang ngga salah marahin aku. Aku emang ngga pantes nyindir-nyindir kesalahan orang kayak gitu. Kalau emang orangnya salah, ya seharusnya diingetin langsung ke orangnya, bukannya diungkit-ungkit ke tempat lain.

Puas karena menemukan jawaban dari satu pertanyaan, aku jadi ngerasa kayak, “I am so pathetic”

Kenapa aku berpikir gitu?

Karena aku udah sering banget ngeliat contoh-contoh dari orang-orang terdekatku sendiri, betapa rendahnya orang yang suka nyindir-nyindir kesalahan orang lain. Betapa memuakkannya orang yang ngga bisa ngatur omongannya. Betapa nyebelinnya denger orang yang suaranya distereo sedemikian rupa sampai semua orang satu fakultas bisa denger. Betapa jengkelinnya denger temen sendiri ngomong sumpah serapah. Aku bisa ngeliat dan ngerasain itu semua, tapi kenapa aku malah ngga bisa jaga diri (baca: lidah) sih? Heuh, payah.

Lebih payahnya lagi setelah aku menyadari itu, aku masih aja ngulangin kesalahan yang sama.

Tadi siang di kantin, aku dan Kome makan bareng. Aku pesen soto betawi tanpa sambel, tapi kok ya masih tetep dikasih sambel. Waktu aku ingetin, si mbaknya bilang, “ya ngga apa-apa kok mbak. Sambelnya di pinggir.” Aku kesel. Dalam hatiku, “Bukan masalah di mana posisi sambelnya, tapi nyadar ngga sih kalau Mbak itu salah? Minta maaf donk!”

Aku tambah kesel lagi waktu pesenannya Kome dateng. Dia pesen milo hangat, tapi malah dikasih es milo.

Emang itu bukan pesenanku, tapi aku ngerasa itu adalah sesuatu yang ngga beres banget.

Dengan emosi aku bilang, “Kenapa sih orang-orang ini? udah tau salah bukannya minta maaf! What the f*ck!”

Cewek-cewek di sebelahku sampai noleh.

Kome yang duduk di depanku, tau aku lagi bad mood, nanyain aku dengan nada yang menenangkan, “Siapa sih? Mbak yang tadi nganterin pesenanku tah?”

“Ya bukan cuma dia. orang yang nganterin pesenanku tadi juga gitu...”

Lalu aku teringat Nene yang dua kali lupa ngasih fotokopian PR Dokkai-ku. Aku cerita sama Kome kalau aku kesel karena meski dia udah aku ingetin, masih tetep aja lupa bla bla bla... cuma karena aku ngga pingin ribut sama dia aja makanya aku diemin bla bla bla... Kome hanya dengerin semua ceritaku. Dia tau banget kalau aku udah emosi, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memberiku waktu dan kesempatan untuk autis dengan emosiku sendiri. Baru setelah itu aku bisa diajak ngomong tenang.

Sesaat aku sadar kalau aku ngga boleh ngomong kayak gitu tentang kesalahan orang lain. Bukannya aku sendiri juga sering berbuat salah? Tapi karena aku emang udah uring-uringan, aku jadi ngerasa bener buat marah. Biar aja, kan itu salah mereka.

Lebih tololnya lagi waktu rapat sie medis MK. Aku sendiri yang nentuin jam 1 harus kumpul buat rapat, tapi aku sendiri yang malah molor. Tadinya aku ngga peduli, sampai ketemu Alfi yang bilang, “Tadi dicariin Cintya.”

Aku tolah-toleh cari Cintya. Aku liat Agil a.k.a Sensei lagi duduk-duduk sama pacarnya. Aku tanya sama dia di mana Cintya. Aku ngga denger kata-katanya dengan jelas, tapi aku ajak dia ikut rapat dengan segera. Ngeliat dia yang masih tetep duduk di tempatnya, aku emosi. Aku bilang, “Ayo ndang! Kon tambah duduk-duduk, tak guyang jus loh kon!”

Dari wajahnya ngga keliatan sih kalau dia jengkel. Tapi dia bilang, “Ya udah, gak usah.” Saat itu aku menyadari kesalahanku. Aku bujuk dia buat ikut. Dia ikut, agak ogah-ogahan.

Aku sms Cintya, kusuruh dia segera dateng ke tempat rapat. Dia bilang dia di labkom. Aku ngga bales. Bukan karena marah, tapi justru karena takut marah. Emang Cintya salah karena ngga segera dateng rapat, tapi kan aku karena aku yang molor. Makanya aku takut marah-marahin kesalahan orang lain padahal aku sendiri juga salah.
Rapat berlangsung kacau, karena aku sendiri ngga ngerti apa yang mau dirapatin. Bener-bener tolol diriku ini.

Aku segera pulang dan mengistirahatkan diri. Aku ngga mau bersentuhan dengan orang lain kalau pada akhirnya malah nyakitin. Bener kata Papa, jangan kita menyakiti orang lain kalau ngga mau disakiti. Tapi sekarang sampai hari ini aku udah nyakitin banyak orang dan aku ngga tau apa aku bakal terus-terusan seperti itu ke depannya. Aku frustasi, ngeri ngebayangin diriku dibenci atau dikucilkan orang lain, sama seperti orang-orang yang dikucilkan aku dan temen-temenku.

Terkadang, aku ngerasa hidupku begitu indah begitu menyadari ada banyak orang yang menyayangiku. Tapi seringnya aku ngga bersyukur, dengan menghitung-hitung siapa aja yang udah nyakitin aku. Terkadang, aku ngerasa seneng banget begitu tau ada segelintir orang yang mau baca dan menanti-nanti postingan terbaru di blogku. Tapi seringnya aku ngerasa kecil hati karena banyak orang yang aku harapin untuk peduli, malah ngga peduli. Orang-orang terdekatku berusaha menyenangkan aku, tapi aku malah mengasihani diri sendiri karena menemukan banyak orang tak kukenal yang ngga mengerti aku.

Begitu aku menyadari semuanya, aku jadi makin frustasi. Seperti inikah diriku yang sebenernya? Lalu, apa gunanya aku hidup di dunia ini kalau cuma buat ngerusuhin diri sendiri dan orang lain doank?

Berhubung orientasi hidupku itu ke arah cinta, maka aku bisanya cuma menghubungkan semuanya ke arah situ. Jadi, ketika aku bertanya untuk apa aku hidup, maka pertanyaan yang mendahului pasti, “Am I deserved to be loved?”

Kalau aku udah frustasi gini, biasanya aku bakal mengasihani diri sendiri dan ngomong “I’m not deserved to be loved” dan kalau udah kayak gitu, aku kehilangan jejak untuk menemukan jawaban dari pertanyaan besarku. Aku harus ngulang lagi, ngerangkai lagi... akibatnya aku capek dan gampang banget uring-uringan. Ngga stabil lagi. Mundur lagi. Galau lagi. Heuh, mau sampai kapan kayak gini terus?
Aku masih ngga tau kapan aku bisa bener-bener stabil dan dewasa. Tapi dengan menulis ini, harapanku aku ngga kehilangan jejak untuk menemukan jawaban dari pertanyaan besarku.

For the peace soul of me
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates