Tampilkan postingan dengan label field of hope. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label field of hope. Tampilkan semua postingan

Nggggrandom

Sekedar posting random aja. Akhir-akhir ini ngga bisa tidur. Bahkan main Pokopang dan Line Bubble beronde-ronde ngga bisa bikin tidur. Mata ngantuk, badan capek, tapi begitu kepala nyentuh bantal malah ngga mau merem. Bahan penelitian dengan segala macam Kanji anehnya itupun juga ngga bisa mengantarku tidur. Entah ini akunya yang udah kelewat parah atau teori "mengerjakan tugas ampuh buat insomnia" udah invalid.

Emang sih aku ngerasa ngga enak badan. Kayak mau pilek tapi toh ngga jadi-jadi (alhamdulillah... Jangan sampai sakit deh). Seperti lemas dan ngga semangat. Padahal makanku banyak bin abnormal. Mungkin karena kebanyakan itu makanya jadi lemes? Bisa jadi. Tapi aku bersyukur sekarang aku bisa mengumpulkan niat untuk mengerjakan tugas dan baca bahan penelitian, tanpa mengandalkan the power of kepepet.

Apa mungkin penyebabnya masalah..... Mental?

Hmm, ya... Akhir-akhir ini emang banyak yang aku pikirkan. Papa sakit, keadaannya belum tambah baik juga. Aku bingung, ngga tau harus gimana.

Selain itu, di sini aku mengalami semacam dilema. Aku sangat bersyukur bisa kuliah di Hiroshima ini. Tempatnya bagus, fasilitas lengkap, dosen-dosennya baik, kuliahnya pun tidak terlalu gila. Aku punya banyak waktu untuk penelitian dan latihan kendo. Oh ya, sejak pertengahan Oktober kemarin aku ikut klub Kendo. Cuma aku satu-satunya yang ngga berpengalaman di sini. Tapi untungnya senpai-senpainya ramah. Mereka bergantian mengajari aku teknik dasar Kendo. Serba cepat, tapi karena kebaikan mereka alhamdulillah aku berangsur-angsur terbiasa. Dan untungnya lagi, aku bukan satu-satunya orang asing di situ. Ada satu orang asing lagi, dari Korea Selatan. Namanya Shin Tae Hun. Waktu kenalan pertama kali aku baru nyadar kalau kita sama-sama level 4. Cuma Shin lebih banyak ambil kelas level 5, jadi kita jarang ketemu. Ketemu paling cuma di kelas hari Rabu dan Kamis.

Beda sama aku, Shin udah pernah latian kendo satu tahun di negaranya. Jadi pada akhirnya cuma akulah satu-satunya yang ngga berpengalaman (。-_-。)

Oke, cerita soal Kendonya kapan-kapan lagi. Balik lagi ke masalah apa yang akhir-akhir ini bikin aku kepikiran.

Seperti yang aku bilang tadi, bisa kuliah di Hiroshima itu bener-bener suatu keberuntungan. Tapi... Aku ngerasa ada yang kurang: persahabatan.

Kalau mau bilang secara jujur, hubungan antar teman sekelas terasa dingin. Gapnya bener-bener kerasa. Di sini mayoritas orang Cina dan Korea. Mereka berkelompok dengan teman-teman senegaranya sendiri. Orang Indonesia juga banyak, tapi kalau aku amati masih mau membaur dengan orang asing lainnya. Orang-orang Eropa sebenernya ramah, tapi ngga gampang masuk grup mereka. Entah kenapa. Orang Amerika pembawaannya santai dan ceria. Salah satu temen Amerika kita, Albert, selalu jadi pemersatu di antara kita semua.

Tapi.... Tetep aja, gapnya masih ada.

Jujur aku rada shock. Aku pikir keadaannya ngga bakal beda jauh sama tempatku dulu di UNAIR, kalau soal pertemanan. Aku pikir kita semua bisa akrab satu sama lain tanpa memandang perbedaan....

Tapi ternyata hal itu ngga gampang ya. Syukurlah aku dikasih liat lebih cepat. Dan dari situ aku bisa berpikir jernih kalau perbedaan semacam ini adalah biasa.

Nah, satu hal yang ngga biasa buatku adalah.... Untuk pertama kalinya aku bener-bener merasa harus waspada dalam berteman.

Seperti yang aku bilang tadi, di sini ada banyak orang Indonesia. Yang sebaya dan satu program sama aku aja ada tiga orang termasuk aku. Awalnya kita bertiga main sama-sama, makan bareng, dan sebagainya...

Sampai suatu hari aku ngerasa ada yang berbeda.

Salah satu dari kita, awalnya suka banget senyum dan ketawa lepas. Tapi sejak menginjakkan kaki di Jepang, entah kenapa dia berubah 180 derajat. Dia jadi jarang senyum, kalau ketawa juga cuma "hmph". Udah gitu kalau ketemu di jalan ngga nyapa lagi.

Yang satunya lagi, nggg, entah gimana jelasinnya. Yang jelas aku jadi ragu harus percaya sama siapa.

Sebulan pertama aku cukup stres dengan keadaan ini. Ngga ada orang yang bisa aku andalin. Ngga ada tempat buat berbagi cerita selepas-lepasnya. Ya aku masih bisa kontak Nene atau Mbak Mega via LINE. Tapi kadang ada perasaan kalau aku berlebihan.

Aku jadi inget, dulu waktu makan bareng Shin, dia tanya, "Kamu punya teman dekat kan?"

Aku cuma bisa menggelengkan kepala.

Yaa mungkin aku su'udzon. Tapi aku berusaha jujur, aku ngga bisa percaya dengan mudah pada orang lain di saat ini, di tempat ini, karena aku belum tau apa-apa. Aku udah merasa kalau diem-diem aku "diinjak", meskipun ngga parah. Ya aku sih ngga akan balas dendam atau gimana. Aku cuma bersikap "cukup tau aja" dan sebisa mungkin ngga banyak berinteraksi dengan orang-orang yang berusaha menginjakku, atau ngga menaruh rasa peduli padaku.

But, afterall, I am fine.

Emang bener ada orang-orang yang ngga ramah sama aku. Tapi toh ada lebih banyak lagi orang yang ramah padaku, dengan baiknya menyambutku, menerimaku, membantuku, mengajariku... Buang-buang waktu dan energi cuma untuk mengurusi hal negatif bener-bener rugi. Hal itu tidak membantuku menyelesaikan penelitianku dan juga tidak membantuku mencapai hal-hal yang aku inginkan.

Ngomong-ngomong, sejak menginjakkan kaki di Negeri Momiji ini, aku jadi pingin belajar banyak hal. Pergi ke banyak tempat. Mengeksplorasi diri sepuas-puasnya.

Tapi, kalau inget keadaan Papa, aku jadi merasa agak......

Yah, Allah juga yang memberi jalan, kan...

Setidaknya, aku pingin menabung dulu. Menabung impian untuk diwujudkan

Menapakkan Kaki di Negeri Momiji



久しぶり~!
fiuh, akhirnya... ini postingan pertamaku setelah nyampe Jepang :D

Oke, ini ungkin agak telat. Tadinya aku pikir aku bisa posting di hari kedua aku sampai Hiroshima. Tapi ternyata engga. Soalnya ada banyak hal lebih penting yang harus segera diurus sih. Hahaha...

Ada banyak hal yang mau aku ceritain. Tapi... ngga mungkin juga kan ya ngerangkum 25 hari dalam satu postingan. Pasti bakalan kelewat panjang dan membosankan. Hahaha.... Ya aku mau cerita beberapa hal yang mengesankan buatku.

Jadi ceritanya, ini adalah hari ke-25 aku berada di Hiroshima.

Tanggal 1 Oktober 2013, aku berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Setelah nginap dua hari di rumah Tante Lilik, aku diantar Mbah Ity dan kerabat-kerabat almarhum Mbah Kakung menuju bandara. Sempat hectic, soalnya aku ngga tau di terminal mana aku harus tiba. Sementara itu Dida ngga bisa dihubungi sama sekali. Tapi, berkat petunjuk Nene akhirnya aku sampai juga di Terminal 2D.

Aku pikir aku bakal berangkat berdua aja sama Dida. Ternyata ada 5 orang peserta Teacher Training yang juga berangkat pada tanggal dan jam yang sama. Jadilah kami bertujuh dalam satu rombongan.

Jam 10 malam, pesawat lepas landas. Ini pertama kalinya aku naik pesawat. Pas pesawat mau lepas landas, aku nonton pemandangan yang direkam kamera di depan kokpit pesawat. Tapi karena hari udah malam, ngga banyak yang bisa dilihat. Gelap. Yang ada, aku malah semakin takut. Dan bukan cuma itu. Kupingku kerasa sakit banget. Mungkin karena perbedaan tekanan udara. Aku hampir ngga bisa tidur gara-gara itu.

Pesawat yang aku tumpangi itu milik Japan Airlines (JAL), nomor pesawat JL 726. Kita naik kelas ekonomi. Tapi biarpun begitu, pelayanannya baik banget. Banyak makanan enak disediain di dalam pesawat. Malam itu menunya makanan Barat. Ngga seberapa suka sih, tapi lumayanlah. Ringan dan sehat. Ada macem-macem minuman disediain. Tapi sayang, ngga ada teh manis. Lucunya, para pramugari ngga ngerti maksudku waktu aku minta teh manis. Iya sih, emang dalam budaya Jepang ngga ada teh dikasih gula. Mungkin di Barat pun juga ngga ada. Paling cuma dikasih perasan lemon, susu, atau madu. Jadi aku minta teh tawar. Lumayan membantu meredakan rasa mual karena mabuk udara.

Oh ya, waktu check-in di bandara sebelumnya, barang bawaanku over 6 kg. Kalau mau tetap maksa bisa aja, tapi harus bayar Rp600.000. Uang Rupiahku ngga cukup. Akhirnya atas saran dari rekan-rekan seperjalanan, aku bagi bawaanku jadi dua. Masing-masing 22 kg. Akhirnya dibolehin.

Setelah check-in, aku bayar airport tax sebesar Rp150.000. Agak shock juga sih, kenapa di saat mau berangkat masih harus ngeluarin duit lagi. Tapi apa boleh buat lah.

Kembali lagi ke cerita perjalanan.

Tanggal 2 Oktober 2013, sekitar jam setengah 8 pagi waktu Jepang, kita sampai di Bandara Narita, Chiba. Sebenernya aku sama Dida ada rencana jalan-jalan ke kota Tokyo sebelum take off dari Haneda ke Kansai. Tapi, berhubung kita rombongan dan waktunya juga mepet banget, rasanya bakal repot kalau maksain jalan. Dan lagi, waktu itu hujan. Cuacanya jadi dingin banget. Akhirnya batal jalan-jalan.
 
Tapi, ngga jalan-jalan bener-bener keputusan yang tepat. Soalnya, meskipun keliatannya jeda waktu antara sampai di Narita dengan take off ke penerbangan berikutnya panjang (sekitar 4 jam), ternyata mepet juga. Setelah dari imigrasi dan kirim barang sampai International House, sekitar jam 9 kita berangkat naik bus ke Bandara Haneda di kota Tokyo. Ternyata perjalanannya panjaaaang banget. Sampai Haneda udah jam 11, sementara kita harus check-in jam setengah 12. Kita buru-buru pesan tiket, mampir beli onigiri sebentar, terus check-in. Jam 12 pas pesawat take off menuju Kansai. Dan lagi-lagi, kupingku sakit dibuatnya. Tapi untungnya ngga separah waktu dari Jakarta ke Narita semalem.

Aku agak lupa kita sampai di Kansai jam berapa. Tapi yang jelas kita langsung naik shinkansen Haruka menuju Shin-Osaka. Dari Shin-Osaka, kita langsung oper kereta Sanyo ke Fukuyama. Dan terakhir, dari Fukuyama puter balik lagi ke Higashi-Hiroshima naik Kodama.

Bener-bener perjalanan yang panjang dan melelahkan. Aku ngga tau kenapa kita disuruh naik kereta, pakai duit sendiri lagi. Padahal lebih praktis naik pesawat menuju Hiroshima menurutku. Tapi, kalau inget-inget betapa sakitnya kupingku waktu naik pesawat, mungkin ada hikmahnya juga naik kereta. Selain itu, bisa menikmati perjalanan dengan shinkansen yang terkenal kecepatannya itu. Pemandangannya juga indah banget.
 
Sekitar jam setengah 7 malam waktu setempat, kita sampai di Stasiun Higashi-Hiroshima. Kita sampai setengah jam lebih awal daripada yang dijadwalkan pihak Hiroshima University. Stasiun itu sepi banget, dan dingin. Waktu itu aku pakai baju panjang, plus jaket rajutan tebal dan syal. 

Dua orang perwakilan dari Hiroshima Daigaku (Hirodai) menjemput kami. Aku lupa nama-nama mereka. Tapi salah satunya adalah tutornya Bu Moresta (salah satu peserta Teacher Training). Kami naik taksi menuju International House. Untuk naik taksi ini pun kita pakai uang sendiri. Masing-masing dari kita urunan 500 Yen.

Sepanjang perjalanan bener-bener gelap. Rasanya kayak naik bus malam menuju Jogja atau Bali waktu study tour. Rada kaget juga sih. Tutornya Bu Moresta bilang, kalau di sini itu desa, jadi masih banyak pohon dan gelap.
 
Sekitar jam 8 malam kita sampai di International House. Di sana para tutor sudah menunggu kedatangan kita. Akhirnya aku ketemu sama tutorku, Ishikawa Chiaki. Chiaki ini cantik, imut, dan fashionista banget. Dia mahasiswa Sougogakubu tingkat 1. Agak susah nerjemahin Sougo-gakubu itu apa, karena di Indonesia kayaknya ngga ada. Kalau menurut terjemahan bahasa Inggrisnya sih, Faculty of Integrated Social Studies.

Aku diantar Chiaki sampai kamarku, di lantai 6. Kamarku ada persis di depan lift. Kamarku ngga terlalu luas, tapi ada kamar mandi di dalam dan dapurnya juga. Lumayan praktis buat hidup sendiri. Perabotan termasuk lengkap: meja belajar, lemari baju, lemari alat makan, kompor, bak cuci piring, lemari buku, tempat tidur, dan berbagai macam lampu mulai dari lampu kamar, lampu belajar, lampu tidur, dan sebagainya. Jendelanya besar. Benar-benar puas kalau mau liat pemandangan.

Setelah ngasih kunci dan dokumen-dokumen yang harus aku lengkapi, Chiaki langsung pulang. Aku bingung mau makan di mana. Biarpun ada kompor dan aku ada persediaan mie instan, aku ngga bawa alat masak sama sekali. Akhirnya, aku ngikut Dida dan tutornya, Chousei-san, pergi beli makanan di super market bernama Youme Town.

Setelah sampai kamar, aku langsung makan malam. Abis itu, rasanya pingin banget mandi pakai air panas. Tapi sialnya, aku baru inget kalau sabunku ada di koper satunya, yang sedang dipaketin itu. Akhirnya aku mandi tanpa sabun, dan pergi tidur dengan kulit perih.

Yah... itulah sedikit cerita tentang perjalananku menuju Hiroshima. Panjang, melelahkan, tapi melegakan. Aku merasa tenang. Sedikit aneh sebenernya. Entah kenapa, rasanya semua beban yang selama ini aku rasakan menguap begitu aja. Bukan merasa.... lega. Tapi, entah kenapa rasanya semua itu seperti dicabut sampai akar-akarnya, dan aku seperti hilang ingatan. Seolah-olah aku tidak pernah mengalami, merasakan, bahkan mengenal semua itu sebelumnya.

Satu lagi hal yang aneh... Sejak menginjakkan kaki di Jepang, aku ngga ngerasain perbedaan apapun. Tidak ada rasa kalau aku ini sudah sampai Jepang. Rasanya semua lingkungan ini begitu familiar. Meskipun di sana-sini tulisan yang terlihat hanyalah huruf Jepang, dan percakapan yang terdengar semuanya bahasa Jepang, entah kenapa aku tidak merasa asing. Rasanya semua ini pernah melekat dalam diriku. Dan.... somehow aku ngerasa deja vu.

Setiap kali aku melihat pemandangan, baik itu alam, kota, maupun aktivitas manusia di Jepang ini, aku merasa kalau aku sudah pernah berada di sini sebelumnya.

Seandainya aku percaya reinkarnasi, mungkin saat ini aku udah berkesimpulan kalau diriku di masa lalu adalah perempuan Jepang =..=
 
Yah, pada akhirnya aku ngga bisa menyimpulkan apapun. Aku ngga tau perasaan ini dan apa sebabnya.

Tapi yang jelas, aku merasa bersyukur karena Allah sudah memberikan banyak berkah padaku.

Untuk sebulan pertama ini, masih belum ada masalah yang terlalu berat. Alhamdulillah sampai sekarang aku masih bisa mengatasi masalah-masalah yang ada. Semoga di masa depan pun seperti itu. Aamin ya rabbal alamin...

Aku sudah sampai di Hiroshima. Perjalanan baru aja dimulai.

Momiji di kampus udah mulai memerah. Aku bakal menikmati detik-detik perubahan alam di negeri yang indah ini.

Semoga Bukan yang Terakhir

dua hari lagi aku akan meninggalkan Indonesia untuk pertama kalinya.

sebenernya aku udah berusaha menahan diri untuk ngga posting soal ini... karena aku takut makin berat ninggalin tanah airku ini.

tapi, aku ngga punya tempat lain untuk menuangkan perasaan ini. aku punya orang tua, teman, dan masih banyak lagi orang yang peduli padaku. tapi... kalau aku nunjukin rasa beratku untuk ninggalin Indonesia, mungkin mereka akan makin sedih dan kecewa. somehow aku bisa berasumsi seperti itu, karena setiap kali aku ngeliat atau denger orang lain memberatkan kepergianku, aku semakin sedih. jadi aku berpikir mungkin orang lain pun akan semakin berat kalau aku nunjukkin muka sedih.

jadi, aku harus makin tegar menghadapi semua ini.

Rabu malam kemaren, adalah malam terakhirku di Surabaya. waktu naik motor, aku nangis. ngga pernah terbayang aku akan meninggalkan kota ini. aku suka banget sama kota ini. aku masih inget masa-masa susah yang aku lalui, perjuanganku untuk bertahan hidup dan terus kuliah, kenangan bersama teman-teman dan orang-orang yang aku sayangi... rasanya aku ngga sanggup meninggalkan kota ini.

tapi, Anna, salah satu murid lesku bilang, "Anggep aja ini PKL atau KKN. meskipun pergi jauh, pasti bakal kembali lagi."

well, she's right. I'll be back.

mbak Mega juga pernah bilang, "Yang berat itu berangkatnya, Cha. tapi nanti kalau udah di sana pasti kamu seneng. begitu juga nanti waktu pulang. waktu mau berangkat pulang pasti berat. tapi begitu sampai rumah lagi, kamu pasti akan seneng."

kata-kata mereka membuatku lebih tegar. iya, aku pasti kembali kok. yang berat cuma berangkatnya aja. di sana aku pasti baik-baik aja. aku bakal ketemu orang-orang baru, dan berteman dengan mereka. aku ngga akan kesepian.

lagipula, aku bawa Resnu. si kecil Resnu bakal selalu menemani malam-malamku di kamar apartementku, seperti selama ini di kos.

Kamis pagi, aku sampai di rumah. keadaan Papa emang ngga begitu baik, tapi... Papa selalu menunjukkan wajah ceria. aku terenyuh. aku belum pernah menjadi orang tua, dan aku ngga bisa membayangkan seperti apa perasaan orang tua yang akan ditinggal anaknya pergi jauh sendirian.... tapi, kalau melihat wajah ceria Papa yang sebenernya sedang sakit, aku merasa ngga tega. dan aku jadi menyesal, kenapa aku ngga bisa menghabiskan waktu lebih lama di rumah...

selama di rumah, aku berusaha untuk ngga inget-inget hal apa yang bisa memberatkan aku berangkat. aku juga harus lebih kuat lagi.

sekarang adalah malam terakhir aku tidur di rumah. ah, rasanya aku pingin menghabiskan waktu berkualitas yang lebiiiiiiiih banyak lagi di rumah. rasanya aku belum cukup menyenangkan Papa.

tapi, besok aku udah harus ke Jakarta. waktu packing tadi, rasanya berat banget...

si Piko bolak-balik gangguin aku yang lagi packing. berhubung aku lagi capek, aku terus-terusan marahin dia. semakin aku marahin, semakin nakal ulahnya.

tapi, aku pasti bakal kangen sama kenakalannya...

ada banyak, begitu banyak hal yang memberatkanku untuk pergi.

tapi pergi ke Jepang adalah impianku. ada banyak orang yang menginginkan kesempatan ini. untuk menghormati mereka, aku ngga boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

aku akan berusaha untuk tidak menunjukkan muka sedihku pada orang-orang yang aku sayangi.

ketika aku sampai di sana, aku juga akan berusaha yang terbaik.

memang, malam ini adalah malam terakhirku di rumah sebelum berangkat ke Jepang.

tapi aku tau, malam ini bukanlah malam yang terakhir dalam hidupku.

semoga, semoga ya Tuhan, Engkau bersedia memberiku hari-hari lain untuk menyenangkan orang-orang yang kusayangi, seperti hari-hari terakhir ini.

aamin....

Aku Memang Tidak Bisa Menari

ngga terasa waktuku di sini tinggal sebentar lagi. ada begitu banyak hal menakjubkan yang aku lewati di sini.

pertama, pertemuan kami dengan anak-anak SUAC. aku merasa bener-bener beruntung bisa bertemu mereka, beberapa minggu sebelum aku berangkat ke Jepang. aku bisa belajar banyak percakapan bahasa Jepang dengan mereka. setidaknya aku ngga terlalu kagok waktu nanti di Hiroshima.

dan bukan cuma itu aja.

kali ini, banyak hal yang membuka mataku tentang budaya Indonesia.

seperti yang pernah aku posting sebelumnya, aku merasa kagum sama anak-anak Pakar Sajen yang menekuni budaya gamelan yang adiluhung ini. dan ternyata, masih ada lagi orang seperti anak-anak Pakar Sajen.

sedikit OOT, aku diminta sama Bu Retno (istrinya Syahrur-sensei, bendahara PPI yang sekarang) untuk menari di acara HIA (ngga tau apa singkatannya. kayaknya sih Hiroshima Indonesian Association). karena itu, akhirnya aku belajar nari.

salah satu anak Pakar Sajen, Andi, ngenalin aku ke Windy. Windy ini anak UKTK, dan sepertinya lagi merintis BSO Tari di FIB UNAIR. aku belajar nari Kasomber sama Windy. menurut Windy sih, Kasomber itu tarian yang gampang. jadi mulai masuk perkuliahan 9 September kemarin, aku latian menari.

meskipun katanya gampang, ternyata ngga segampang yang dibayangin.

jujur, aku merasa susah banget ngikutin gerakan tarian ini. emang sih aku bisa hafal, tapi gerakanku kaku banget. Windy keliatan stres waktu ngajarin aku. aku jadi semakin ciut. malah sebenernya tadi aku sempet kepikiran untuk berhenti aja.

tapi, aku pikir-pikir lagi. emang, menari itu bukan hal yang mudah. ini bukan cuma sekedar gerak badan aja. tubuh, hati, dan pikiran harus selaras. ketika aku melihat video tariannya, aku pikir "oh gitu ya. aku bisa kok". tapi toh karena tubuh dan pikiranku ngga selaras, akhirnya ngga maju-maju. aku pikir aku udah melakukan seperti contoh. tapi ternyata masih kurang dan keliatan ngga indah.

dari situ aku sadar kemampuanku. emang badanku kaku dan umurku juga udah terlalu tua untuk belajar nari yang luwes. tapi, bukan berarti aku harus berhenti di tengah jalan begitu aja. paling ngga aku harus belajar sampai terakhir, sebisa mungkin.

meskipun susah dan bikin stres, tapi aku bersyukur bisa ikut latian nari ini. aku jadi bener-bener tau, menari itu bukan hal gampangan. menari itu sesuatu yang luhur, dan tidak bisa sembarangan dipraktekkin gitu aja.

somehow, aku jadi merasa punya kepercayaan diri sebagai orang Indonesia. menurutku ini progres yang bagus. jadi aku bisa berangkat ke Jepang tanpa harus malu dengan identitasku sebagai orang Indonesia. budaya Indonesia ngga jelek, dan aku bisa cerita ke temen-temen yang ada di sana nantinya.

after all, aku merasa sangaaaaat bersyukur bisa berangkat ke Jepang.

ini bukan cuma sekedar gengsi. bukan cuma sekedar 'beruntung' bisa pergi ke luar negeri (secara gratis).

menurutku, aku luar biasa beruntung, karena dikasih kesempatan untuk mencicipi sedikit petualangan dalam hidupku.

umurku sekarang 22 tahun. mungkin agak terlambat untuk "mbolang" (I expect, the ideal age for adventuring must be 19-20 years old). tapi aku masih terbilang muda untuk melihat dunia di luar sana, dan belajar hidup mandiri di luar "comfortable zone".

bukan cuma itu. aku juga merasa bersyukur, karena dengan keberangkatan ini, aku jadi punya kesempatan untuk belajar sedikit lebih dalam tentang budaya Indonesia. mungkin selama ini dari SD sampai SMA aku belajar banyak teori tentang budaya ini, budaya itu blablabla, tapi itu semua cuma melalui buku aja. dan dengan cara belajar yang seperti itu, aku ngga ngerti di mana letak nilai budaya itu. tapi sekarang, aku belajar langsung. I learn that I need to improve not only skills, but also senses, to get accustomed with these cultures. that's why culture is high-valued, because it is not easy to learn it.


Topeng dan Aneka Rupanya

Malem ini, karena alasan tertentu, aku ngga enak badan. Pencernaanku sakit. Pembuluh darahku rasanya mau pecah. Mau dibawa tidur ngga bisa, karena setiap kali nutup mata, rasanya setiap sel darahku berdenyut-denyut minta keluar. Benar-benar malem yang ngga mengenakkan.


Oh ya, mungkin karena pengaruh lampu kamar juga. Lampu kamarku beberapa hari ini kedip-kedip sendiri, terus meredup. Tanda-tanda minta diganti yang baru. Aku belum sempat ngomong sama Bapak kos, jadi untuk sementara aku harus bersabar dalam remang-remang kamarku.

Yah, dan kebetulan aku baru saja melewati satu minggu yang tidak mengenakkan.

Dalam satu minggu ini, aku menghadapi kejadian yang tak kuinginkan. Aku mencoba diam. Tapi percuma.

Akhirnya, aku coba berpikir kembali. Di saat sedang berpikir, muncul satu pertanyaan: adakah seseorang yang benar-benar bisa kuandalkan?

Aku sih berharap: ada. Tapi entah. Aku masih belum bisa melihat sosoknya di dunia nyata. Aku juga ngga mau mereka-reka, takut kalau nanti ngga jadi kenyataan.

Lalu, aku mencoba melihat sekelilingku.

Ada banyak teman di sekelilingku. Tapi... entah kenapa, aku merasa asing.

Rasanya seperti berada di kerumuman orang banyak. Semua ramai membicarakan banyak hal satu sama lain. Terdengar begitu menyenangkan. Tapi, tak ada yang mengajakku bicara. Aku cuma bisa diam di antara keramaian yang mewah ini.

Aku berusaha menepis pikiran negatif semacam itu. Sebagai gantinya, aku selalu menanamkan pikiran ini benakku: itu semua cuma perasaan. Mungkin kenyataannya tidak seperti itu.

Aku berusaha untuk berpikiran positif, dan itu membantuku untuk tetap tegar. Tapi, kadang-kadang ada masa di mana aku jadi sangat sensitif dan lemah. Pada saat itu, rasanya ngga bisa untuk ngga merasa sedih dan kesepian.

Dan di saat seperti ini, tiba-tiba aku pingin ketemu Mama. Aku pingin Mama makein minyak orang-aring ke rambutku. Aku pingin dikepangin sama Mama. Aku pingin ngobrol banyak sama Mama.

Bahkan, rasanya bertengkar dengan adikku jauh lebih menyenangkan ketimbang perasaan sendirian ini.


Salah satu temanku bilang, kalau aku ngga pernah sendiri. Aku harus jaga hubungan baik dengan teman-teman yang lain.

Dia benar. Tapi, kadang-kadang aku sadar, ada saat-saat di mana hubungan kita hanya sekedar permukaan.

Lalu dia bilang, meski cuma permukaan pun, tidak masalah.

Aku kembali berpikir. Mungkin aku melihat masalah dengan cara yang salah. Makanya aku tak bisa menemukan jalan keluarnya.

Yah, mungkin ini pengaruh perasaan pribadi juga kali ya. Emang beda rasanya ketika orang yang kita sukai menasihati kita. Rasanya kata-katanya jauh lebih masuk akal ketimbang yang dikatakan orang lain (meskipun intinya toh sama aja sih).

Berkat kata-katanya, aku mencoba untuk tetap tegar. Aku mencoba untuk melihat masalah dari sisi lain.


Sementara, di satu sisi, aku sadar, sebenarnya yang aku harapkan adalah hubungan yang jauh lebih dekat dengan seseorang.

Selama ini aku merasa tersiksa, karena harus menyukai seseorang yang tak bisa membalas perasaanku.

Tapi yah, aku tetap bandel. Bukannya aku udah berapa kali menghadapi hal semacam ini? Menjadi penggemar rahasia selama bertahun-tahun. Mengalami penolakan dengan cara yang sangat memalukan. Menyaksikan orang yang sangat aku sayangi berbalik badan dan pergi meninggalkanku. Aku udah mengalami banyak hal itu, kan? Toh, aku masih bisa hidup sampai sekarang. Itu artinya, mengalami cinta bertepuk sebelah tangan sekali lagi, seharusnya bukan masalah. Ya kan?

Entah. Aku juga tidak tahu.

Andai, aku punya keberanian yang lebih besar untuk mengungkapkan diriku apa adanya kepada orang lain.

Ya, seandainya.

Rombongan Shizuoka dan Gamelan

mungkin ini rada telat. tapi masih cukup up to date kok hahaha...

jadi cerita, tanggal 19 Agustus kemaren aku bertemu Ikegami-sensei dan rombongan mahasiswanya dari Shizuoka University of Art and Culture (SUAC). ada enam orang mahasiswa. nama-nama mereka:

Rinko (4nensei, angkatan 2009)
Ayuka (4nensei, angkatan 2009)
Mai (3nensei, angkatan 2010)
Yuka (3nensei, angkatan 2010)
Junya (2nensei, angkatan 2011)
Kanako (2nensei, angkatan 2011)

well, akhirnya bisa ketemu juga sama Ikegami-sensei. masih tetep charming seperti biasa. rada penasaran juga apa gitu yah rahasianya kok Sensei masih tetep keliatan segar dan awet muda. malah katanya mbak Mega, keliatan lebih muda daripada 2 tahun yang lalu. wow. bener juga yah.

tapi sayang, sampai sekarang aku masih belum punya kesempatan buat ngobrol-ngobrol secara leluasa sama Sensei. ya mudah-mudahan lain kali.

terus, bersamaan dengan datengnya mereka, aku juga mulai belajar gamelan.

kenapa kok tiba-tiba...? yah, karena bentar lagi berangkat ke Jepang, aku rasa aku harus nyiapin sesuatu buat ditampilin di sana. apalagi kalau menurut pengalaman Syahrur-sensei dan Andi-sensei, biasanya PPI (semacam himpunan mahasiswa Indonesia di Jepang sana) suka ngadain acara kebudayaan gitu. aku juga udah dikasih "pesan" sama Syahrur-sensei. kalau misalnya aku ngga mau tampil di acara kebudayaan, aku bakal dipulangin sama Sensei. hahaha... :'D

sempet bingung awalnya mau belajar apa. tapi untung mbak Mega kasih saran. jadilah aku ikut latihan sama BSO Pakar Sajen di kampus. timbal baliknya, aku bantu jadi interpreter selama rombongan Shizuoka belajar gamelan di sini. aku setuju. aku juga ajak Nene, siapa tau dia berminat. well, meskipun keliatannya dia ngga seberapa minat belajar gamelan, dia minat buat ngobrol sama anak-anak SUAC. sekalian melatih bunpou, mungkin?

hari pertama, mbak Mega cuti kerja untuk mendampingi latihan gamelan hari itu. meskipun di antara kita ada 3 orang Indonesia yang bisa bahasa Jepang (mbak Mega, aku, dan Nene), tetep aja aku yang disuruh maju buat ngejelasin ( _ _)

hari pertama ngga begitu lancar. aku baru belajar gamelan. makanya kurang bisa dapet feel-nya. suka bingung harus menjelaskan gimana pada mereka. jadinya suka miss gitu.

belum lagi hari pertama aku dan mbak Mega udah melakukan banyak hal memalukan. waktu itu tanpa sadar aku mukul.... ngg... bokongnya mbak Mega >///< kebiasaan waktu di kos kayaknya. begitu sadar rasanya langsung pingin sujud di kaki mbak Mega. aku pasti udah bikin malu. mungkin Sensei malah jadi ngga respek sama aku. terus illfeel. duh... oh God...

terus udah gitu yang nyebelin, banyak banget wartawan yang dateng buat meliput orang-orang Jepang yang lagi main gamelan ini. mereka itu bener-bener ganggu! abis gimana ngga, mereka motret di depan para pemain balungan, bikin anak-anak SUAC jadi ngga bisa liat notasi di papan tulis. belum lagi menghalangi gendang dan sebagainya. belum lagi yang minta wawancara salah satu anak SUAC (alasannya, "sebentaaar aja mbak. dua menit aja") ggrrrr!

yah intinya hari pertama kurang begitu memuaskan.

tapi, ada juga hal baik. Rinko dan Ayuka ngajak aku ngobrol. Rinko lagi nulis skripsi tentang hijab (!) sementara Ayuka tentang sepeda motor (?) aku ngga seberapa paham sama apa yang mau diteliti Ayuka. tapi setidaknya aku lumayan ngerti apa yang mau diteliti Rinko.

bagi Rinko, hijab itu fashionable. dia tertarik banget sama hijab. di sini, yang dimaksud hijab sama dia bukan cuma yang modern aja. tapi juga jilbab biasa, seperti yang aku pake. dia penasaran gimana cara makenya, sejarahnya, dan sebagainya. dia keliatan seneng banget waktu aku cerita sedikit tentang jilbab (yang aku tau).

hari itu, kita langsung akrab. dia minta FBku. malemnya, waktu aku add dia, dia kirim message minta nomor hpku. ternyata dia dan anak-anak SUAC lainnya langsung beli hp di sini ^^;

latian berikutnya hari Rabu, tanggal 21 Agustus. hari kedua ini lumayan lancar daripada kemaren. meskipun mbak Mega ngga ada (dia ngga bisa ambil cuti lagi), setidaknya latian ngga terlalu semrawut. mungkin karena sebagian besar udah bisa. aku juga ngalamin kemajuan. setidaknya aku ngga terlalu ngawur waktu nunjukin notasi di LCD :v

oh ya, ngomong-ngomong soal gamelan... aku belum banyak progres T.T

waktu aku coba latian sendiri (tanpa anak-anak SUAC), ternyata gamelan itu ngga gampang.

emang sih alatnya sederhana. balungan misalnya. ada 6 plat logam (dari apa ya... ngg... kuningan) yang memiliki nada berbeda. mungkin seperti piano, tapi ini cuma ada 6 not dan mainnya dengan cara dipukul. tapi... ternyata.. bener-bener ngga segampang itu ._.

setiap kali kita mukul satu not, kita harus memegang plat yang kita pukul tadi, bersamaan dengan memukul not berikutnya. dan seterusnya.

misalnya begini:

2.3.  5.6.

nah, pada saat aku memukul not 2, tanganku memegang not 6. lalu ketika aku mukul not 3, bersamaan dengan itu pula aku memegang not 2 yang tadi aku pukul. waktu mukul not 5, harus pegang not 3. pukul not 6, pegang not 5. dan seterusnya.

menurut penjelasan Sigit (ketua Pakar Sajen, ternyata teman satu timku waktu PPKMB), itu penting supaya suara yang dihasilkan ngga bising. emang ketika aku coba mukul satu not ke not lainnya, tanpa memegang not yang tadi kupukul, suaranya jadi berdenting gitu. sementara kalau kupegang sambil mukul not berikutnya, suaranya jadi lebih harmonis.

teorinya sih begitu.

masalahnya, aku ngga cukup reflek. antara mukul not satu dengan megang not lainnya itu suka ngga sinkron ( _ _)

karena masih belum bisa, aku merhatiin Sigit dan kawan-kawan memainkan balungan.

sambil merhatiin mereka, diam-diam tumbuh rasa kagum. selama ini emang aku kurang berminat sama musik tradisional. aku cuma ngga paham aja sama musik tradisional. tapi begitu liat beberapa orang memainkan balungan secara bersamaan, aku bener-bener kagum. gimana caranya, dengan alat musik yang begitu sederhana, mereka semua bisa memainkan musik dengan begitu harmonis? gimana caranya mereka, yang notabene anak-anak muda, bisa menyukai dan memahami musik tradisional yang adiluhung ini?

sambil merhatiin mereka, aku menyadari ada banyak hal yang tak terpikirkan olehku sebelumnya.

dari situ muncul perasaan, aku pingin belajar gamelan lebih serius lagi. setidaknya sampai aku bisa memainkan satu lagu sederhana.

latian gamelan minggu pertama selesai sudah. dilanjutin lagi hari Senin dan Rabu minggu depan. itu artinya, selama Kamis dan Jumat aku dan Nene "menganggur".

tapi, hari Jumat, kita berdua tetep dateng ke kampus. Nindy, Gisca, dan Risa sidang skripsi hari itu, jadi kita pingin nonton. aku bisa dateng ke sidang Gisca yang lumayan seru itu, tapi sayang aku ngga bisa dateng ke sidang Nindy dan Risa karena harus ngurus surat permohonan pembebasan SPP selama aku cuti di UNAIR.

waktu aku mau urus itu, bertepatan dengan jam makan siang. Putri-sensei memanggilku dan menyuruhku menemani rombongan SUAC makan siang di kantin. akhirnya kami sama-sama ke kantin. aku sms Nene yang ada di musholla untuk menemani mereka sementara aku ke ruangan Pak Puji.

waktu aku kembali, semuanya udah selesai makan. ada rasa ngga enak juga karena aku seperti lepas dari tanggung jawab. satu per satu mulai bubar. Mai dan Yuka jalan-jalan sama Rin. Ikegami-sensei ada perlu. Kanako, Ayuka, dan Rinko kembali ke ruang jurusan. tinggal aku dan Junya yang masih di kantin. kita ngobrol banyak hal. terutama tentang Andi, anak Pakar Sajen yang suka sama cowok-cowok ganteng.

awalnya, aku dan beberapa orang sempet ada pikiran kalau Junya agak ngga nyaman sama Andi karena nganggep Andi ngg.... you know what I mean lah. tapi ternyata Junya ngga punya pikiran kayak gitu. malah, Junya bilang dia seneng bisa bertemen sama Andi dan pingin ngobrol-ngobrol lagi. Junya juga pingin ikut ngopi bareng Sigit dkk. aku salut. ngga nyangka Junya ternyata cukup terbuka sama orang asing ^^

yang bikin aku tambah salut, ternyata Junya pernah loh jalan kaki dari asrama kampus C ke kampus B. dia bilang dia jalan selama satu jam lebih (!) muke gileee... yang aku agak heran, kok dia tau rutenya ya :?

setelah ngobrol-ngobrol, aku dan Junya tukeran nomor hp. eits, jangan salah. ngga ada tendensi apa-apa kok. beneran. aku kan masih punya perasaan sama... ehm... oke, ngga usah dibahas.

ngomong-ngomong, menurutku nama Junya itu unik. jarang ada yang punya nama begitu. karena penasaran, aku tanya gimana dia menulis namanya dalam huruf Kanji.

ternyata namanya terdiri dari dua huruf: 隼矢

隼 dibaca "Jun" atau kalau menurut Kunyomi dibaca "Hayabusa". artinya burung Falcon. sementara 矢 dibaca "Ya", yang artinya anak panah. kedua huruf ini sama-sama melambangkan kecepatan.

bener-bener unik.


Belajar Menelan Sesuatu yang Pahit

hmm... semakin banyak yang kuposting di sini, semakin besar rasa bersalahku. soalnya aku belum ngelunasin janji buat nulis resensi tentang buku terjemahan yang aku baca itu loh xD

tapi, sebelum aku ngelunasin janji itu, kayaknya bakalan banyak postingan geje bermunculan. mungkin ini semacam sindrom kegalauan sebelum pergi merantau jauh.

oke, oke.. ngga usah kebanyakan intro. jadi ceritanya hari ini aku menemukan sesuatu yang pahit buatku.

semua ini berawal dari kecerobohanku sih. aku menunjukkan sisi lemahku pada seorang teman dekat.

aku bilang kalau aku takut.

yah, aku ngga tau sih gimana reaksinya. aku ngga berani liat wajahnya. takut.

tapi terus dia bilang sesuatu.... ngg, intinya begini. jangan sia-siain apa yang udah diperjuangkan. ada orang lain yang juga menginginkan kesempatan yang sama.

waktu itu, aku emang dalam keadaan lemah. jadi ketika dia ngomong gitu, aku berasa ketampar keras banget.

kata-katanya itu pahit banget.

tapi, sepahit apapun buatku, apa yang dia bilang itu bener.

aku masih inget dulu ada temanku yang lain, dia dikasih kesempatan untuk meraih sesuatu yang tinggi, tapi dia ragu dan galau. aku gregetan banget ngeliatnya.

dan sekarang, ternyata aku di posisi temanku dulu itu. jadi yaa... mungkin wajar kalau orang lain rada gregetan ngeliat aku yang seperti ini.

akhirnya aku jadi ngerti perasaan temanku yang dulu galau itu. dan juga alasan kenapa temanku yang ini ngomong sesuatu seperti di atas.

lucu ya... pada akhirnya kita semua ditempatkan di posisi yang berbeda-beda secara bergantian. mungkin supaya kita bisa ngerti perasaan dan pikiran orang lain ketika berada di posisi itu?

karena berpikir seperti itu, makanya aku belajar untuk menerima kata-kata itu. berusaha positive thinking aja sih. kalau emang kata-kata itu pahit, aku anggap itu obat. pahit, tapi menyembuhkan.

dan mungkin ini obat terbaik, karena dikasih oleh orang yang sangat dekat dengan kita.

aku berterima kasih. akhirnya aku dapet kesempatan buat belajar menerima sesuatu yang sulit diterima dengan hati yang lebih legawa.

terima kasih, Teman.


Persiapan

sebelum ke inti cerita, aku mau OOT sebentar.
aku ngerasa, kayaknya aku bisa ngerti perasaan orang-orang yang ngga mau aktif di social media.

ya abis gimana ya, banyak orang rese sih....

aku sempet juga pingin marah-marah sama orang rese itu. tapi untung, aku diingetin sama suatu kalimat (entah aku denger dari siapa atau baca di mana, aku lupa) kalau apapun yang dipublish di social media, ya berarti itu untuk dishare dengan orang lain. kalau ngga mau dikepoin ya jangan dishare donk.

jadi aku sadar, lalu memutuskan untuk ngga terlalu banyak share di FB atau Twitter. mending tulis di blog aja.

yaa emang sih blog juga termasuk social media. tapi, karena ngga ada yang namanya "news feed", "timeline", "linimasa", dan semacamnya (oke, ada sih Google Buzz, tapi itu pun di tempat yang ngga mencolok), kita ngga ada keharusan untuk membaca postingan orang lain kalau kita ngga mau. kalau kita mau, kita cukup melipir ke blog yang bersangkutan.

jadi bisa disimpulkan, kalau nulis di blog, ngga banyak orang rese. lebih tenang.

tapi kelemahannya (mungkin) karena ini blog, mau ngga mau terdorong buat nulis panjang. ngga bisa instan kayak FB atau Twitter. ya iyalah, nanggung amet mau nulis pendek di blog :s

emang, kalau di blog kita ngga bisa banyak berinteraksi. kita ngga tau siapa yang membaca tulisan kita dan seperti apa reaksinya. tapi tetep, aku pingin ngucapin terima kasih banyak untuk mereka yang mau melipir dan baca-baca tulisan randomku ini. semoga bisa sedikit menghibur anda-anda sekalian yang sumpek atau berharap menemukan informasi penting (tapi ternyata kena PHP di sini hahaha :p)

oke, masuk ke inti cerita.

hari ini, ittenary (semacam draft) tiket pesawat untuk peserta Monbusho udah keluar. tadi dishare di grup MEXT 2013 Japanese Studies. di situ tertulis aku dan Dida berangkat tanggal 1 Oktober dari Bandara Soekarno-Hatta. sementara Nene berangkat tanggal 3 Oktober.

seneng sih, akhirnya ada kepastian. tapi rada kesepian juga, soalnya ngga bareng-bareng. apalagi ngga bareng Nene :(

tapi ya setidaknya aku ngga sendirian. masih ada Dida. ya untung aja sih. soalnya di bandara Narita kita masih harus oper ke Haneda, baru ke Kansai. astagaa, bisa-bisa nyasar aku kalau ngga ada temen :'(

kalau liat dari jadwalnya sih, kita transit di Tokyo lumayan lama. Dida bilang masih bisa ke Akihabara atau Tokyo Tower gitu. wiii, aku mau >w<

tapi rada takut juga sih. gimana kalau misalnya kita ngga tepat waktu di Haneda? woooo >.<

ya mudah-mudahan sih ngga ada hal-hal semacam itu.

terus mengenai persiapan di sini.... yaa, ini sih masih nunggu gimana keputusan jurusan, apa aku dan Nene bisa dapet keringanan buat SPP selama cuti di UNAIR atau ngga. kalau udah pasti, rencananya mau urus cuti.

aku juga udah sempet liat-liat koper. bulan ini ada diskon sih. lumayan lagi. 30-50%. aku termasuk beruntung lah. jadi setidaknya kan aku bisa aja dapet koper kualitasnya bagus tapi dengan harga yang masih bisa dijangkau.

mengenai visa, yaa... tadinya sempet mbulet karena salah satu staf Kedubes bilang kalau Konjen di daerah belum bisa buat urus visa. aku sih rada ngga percaya, karena waktu aku telpon, Konjen bilang bawa aja dokumennya ke sini. waktu aku ke sana juga, ternyata bisa kok. malahan tanggal 19 udah bisa diambil.

aku juga mulai hari Kamis kemaren belajar main gamelan. ini persiapan buat acara kebudayaan di sana. aku ngga tau sih apa nanti ada gamelan apa engga, tapi setidaknya kan ada yang bisa aku pelajari di sini. ternyata belajar gamelan itu susah-susah gampang. malah lebih banyak susahnya mungkin. apalagi aku udah lama ngga bersentuhan sama notasi musik. jadinya rada lemot waktu latian. hahaha...

tapi aku seneng belajar gamelan sama anak-anak Pakar Sajen. mereka semua baik, ramah, dan lucu.

bersyukur banget karena urusan yang besar-besar dimudakan dan udah hampir selesai. tinggal masalah packing dan beberapa hal yang ngga terlalu urgent. tapi tetep itu harus diurus dari sekarang.

terus soal skripsi....

aku masih tetep buntu ( _ _)

tapi setidaknya ada sedikit kemajuan. iya, sedikit banget. hahaha...

anyway, kemarin aku coba e-mail penerbit Indonesia Tera (lagi).

sebelumnya kan aku e-mail, mau request buku-buku terbitan Indonesia Tera tahun 2001. tapi karena penerbit ini ganti manajemen (!), jadi buku-buku lama udah ngga dicetak lagi. katanya kalau butuh arsipnya, silakan dateng sendiri ke kantornya.

pikiranku, ke Jogja? mau sih, tapi gimana?

tapi Allah kasih aku satu batu loncatan lagi.

aku ketemu sama salah satu peserta Monbusho dari UGM. namanya Katya. dia sebenernya tinggal di Surabaya, tapi kuliah di Jogja. beberapa minggu lalu kita ketemu di FIB karena dia mau masukin poster acara Sastra Jepang UGM, Mangafest 2013.

ngobrol punya ngobrol, Katya bersedia ke kantor Indonesia Tera. uwwoooooo....!

karena itu, aku semangat buat ngejar buku ini. aku e-mail lagi penerbitnya, cerita kalau Katya mau mewakili aku ke sana buat minta data buku itu.

terus, dateng e-mail balesan mereka.

penerbit Indonesia Tera bersedia minjemin buku yang aku maksud dalam jangka waktu tertentu. pokoknya nanti tinggalin tanda pengenal yang masih berlaku.

sujud syukur, senengnya bukan main.

eh tapi....

ada syaratnya:

"kalau skripsinya sudah selesai, mohon kami dikirimkan copy-nya untuk dijadikan arsip"

eeeaaaaaa.........

yaa, aku mau-mau aja sih ngirimin copy-nya. tapi, tapi, tapi... masalahnya, kapan skripsiku selesai :')

kan aku mau ke Jepang dulu setaun :(

bingung, sekaligus bersemangat. rasanya kayak dicambuk buat ngerjain skripsi lagi.

tapi emang, sengebut apapun, aku bakal tetep sidang setelah pulang dari Jepang. artinya skripsiku baru komplet setelah itu. nah loh, mau ngga ya pihak penerbit nungguin selama itu....

ya gimana nanti aja sih, yang penting dijalanin dulu aja. gimana nanti jadinya, aku harus menjelaskan baik-baik ke pihak penerbit.

but after all, I feel so blessed :3

mudah-mudahan semua persiapan berjalan dengan lancar. juga skripsiku, mudah-mudahan progresnya lebih banter lagi. aamiiiiin.....

Menuju Jepang

finally, penantianku berakhir sudah.

tanggal 22 Juli 2013 kemarin, e-mail dari Hiroshima Daigaku datang sudah. pas hari itu, pasporku juga udah selesai.

jadi, resmilah saya diterima di Hiroshima Daigaku. saking seneng dan leganya sampai lemes xD

mungkin aku bisa dibilang cukup beruntung, soalnya aku ada temen. Dida (nama aslinya siapa aku lupa, yang jelas panjang dan ga gampang diinget -,-) dari UNBRAW juga keterima di sana. dia orang pertama yang ngasih tau aku soal e-mail dari Hiroshima itu. makanya abis ambil paspor aku langsung buru-buru pulang buat buka e-mail :D

bukan cuma itu, Syahrur-sensei juga nanti mau lanjut S3 di Hiroshima Daigaku. lengkap deh pendamping saya selama di sana hahaha...

di e-mail itu, kita diminta kirim foto dan nama untuk tanda pengenal selama di sana. nanti mereka kirim e-mail lagi mengenai tanggal keberangkatan dan nomor kamar di Hiroshima University International House. aku langsung sujud syukur, karena malem sebelumnya aku panik browsing soal apartemen dan aku dibuat pusing karena biayanya. eh ternyata, Tuhan begitu baik hati. aku ga perlu pusing-pusing cari apartemen, dan lagi biaya sewa I-house per bulannya lebih murah dibandingkan di luar. wohoooo~

sejak hari itu, aku jadi semakin ngga sabar nunggu bulan Oktober. tapi, biar gimana juga ada banyak hal yang aku pikirin. awalnya sih cuma masalah sepele kayak peralatan makan, di mana mau cari sayur dan buah (saking terobsesinya pingin hidup sehat, yang kupikirin cuma sayur dan buah, tapi ga kepikiran nasi donk -,-) plus berapa harganya, nanti pakai handphone dan provider apa, di mana cari lungsuran sepeda, berapa biaya sambung wi-fi sampai ke kamar, dan sebagainya.

karena bingung, aku jadi banyak tanya ke Andi-sensei. aku dapet banyak masukan, bahkan bantuan. dari situ aku agak lega, setidaknya untuk urusan remeh temeh tadi itulah.

tapi, masih ada masalah lain yang aku pikirin.

sebenernya, ada rasa takut kalau nanti aku ga bisa survive di sana.

sekarang ini alhamdulillah aku udah N2. tapi, aku masih bener-bener tau sejauh mana kemampuanku berkomunikasi (terutama lisan) dalam bahasa Jepang. bisa ngomong lancar ga ya? gimana seandainya ga lancar? gimana kalo nanti di sana aku malah jadi pendiam? bla bla bla dan bla.

karena itu juga, aku makin gencar nonton dorama atau bangumi. soalnya kesempatan aku buat ngomong bahasa Jepang selama di sini itu sedikit, sejak Satoshi dan Kazuma pulang. apalagi aku ngga seberapa dekat sama Hokuto dan Mika. partner yang bisa diandalkan ya Nene, tapi kapan juga bisa bener-bener praktek ngomong langsung, sementara dia jarang beredar di kampus? akhirnya aku mikir, setidaknya aku harus banyak denger percakapan bahasa Jepang, biar kemampuan bahasa Jepangku ngga ilang sama sekali.

terus, aku juga agak takut kalau seandainya nanti di sana aku ga mampu ngikutin pelajaran. aku udah sering banget denger cerita kalau belajar di Jepang itu susah dan super ketat. aku takut, nanti aku ga bisa selesai dengan baik, akibatnya nilai yang ditransfer ke sini juga lebih rendah kan. ya aslinya juga aku ngga seberapa peduli pengaruhnya ke IP. cuma ya pada akhirnya nanti malah ngecewain pihak lain, bahkan mungkin di masa depan nanti aku juga nyesel kalau hasilnya ngga bagus. aku takut gara-gara ga bisa ngikutin terus akhirnya aku malah jadi tambah stres. beuh.

aku juga agak stres soal uang. aku ngga tau nanti Monbusho bakal ngasih berapa ke pesertanya. aku cuma takut seandainya aku jadi boros dan akhirnya ga mampu nabung. terus belum lagi pra-berangkat ini. udah ada semacam pemberitahuan kalau uang dari Monbusho baru cair di akhir bulan pertama. sementara kita nanti datengnya awal bulan. dengan kata lain kita harus siap uang untuk hidup satu bulan pertama kan. mereka nyaranin kita bawa sekitar 100.000 yen (sekitar sepuluh juta rupiah). hembok, itu uang banyak, dapet dari mana coba? Dida malah sampai mau jual motornya buat modal ke sana. haduh, stres udah aku.

dan masih banyak lagi ketakutan lainnya.

tapi ya, biar gimana juga harus dihadapi kan.

sekarang ini, yang harus aku lakukan adalah super bersyukur karena udah dikasih kesempatan langka menuju Jepang.

aku juga harus banyak berdoa, mudah-mudahan mulai dari sebelum berangkat sampai pulang nanti ke Indonesia, semuanya lancar-lancar aja tanpa halangan yang berat-berat. mudah-mudahan juga aku bisa dapet banyak pelajaran, pengalaman, dan sebagainya (dan yang jelas, ga dapet masalah).

iya, harus begitu donk. positive thinking.


Hiroshima, I'm coming! :3

Piko Piko Piko Piko

Aku sebenernya pingin cerita soal si Piko ini udah lama. tapi berhubung sibuk, ngga sempet-sempet nyantronin blog hahaha...

jadi ceritanya, di rumahku kedatangan seorang anggota baru. seekor anak kucing berbulu hitam. dia datang ke rumahku malem-malem, pas hujan lebat. dia ngeong-ngeong tanpa henti. melaaaaaas banget kedengerannya. tapi berhubung dia berbulu hitam, aku ngga bisa melihatnya dengan jelas. setiap kali aku berusaha mendekati sumber suaranya, dia selalu kabur.

keesokan harinya, dia ngeong-ngeong lagi. setelah kucari-cari, ternyata dia ada di bawah meja kerja Papa. aku berusaha mengambilnya, tapi dia malah mendesis dan mencoba mencakarku. galak banget. akhirnya aku biarin :v

tapi, karena dia ngeong-ngeong terus, akhirnya aku siapin makanan untuk dia. aku taruh di dekat meja Papa. terus kutinggal. ngga lama setelah aku masuk rumah, dia makan makanan yang aku siapin itu.

lama kelamaan, dia berani masuk rumah. terus berani ngedeketin kita. akhirnya jadi anggota keluarga juga deh :3

aku kasih nama dia Piko, kebalikan dari kata "kopi". bulunya kan hitam, mirip-mirip kopi gitulah. makanya dikasih nama gitu. sebenernya rada maksain juga sih, tapi aku masih belum mau ngelepasin kebiasaan "kasih nama kucing berdasarkan nama makanan" itu hahaha...

kalau ngga salah udah dua bulan Piko di rumahku. bulunya makin mengkilat dan badannya juga udah agak besar sekarang. Piko ini suka pilih-pilih makanan, maunya pindaaaaaaaang terus =_= beda sama si Moka yang makan apa aja yang kita kasih.

yang khas dari Piko ini, nakalnya ngga ketulungan! dia suka banget nyakar atau gigitin kita tanpa alasan. suka gangguin orang kerja. udah berapa kali dia naik ke atas S-jou tiap kali aku kerja di ruang TV. dilarang ngga bisa, dimarahin ngga mempan, tetep aja nakal. gara-gara itu Papa sempet muntab terus si Piko mau dibuang ke pasar. ya aku diem aja sih, meskipun rada ngga rela juga kalau Piko dibuang. eh tapi toh ternyata dia ngga jadi dibuang =^.^=

tapi, di balik kenakalannya itu, dia sebenernya lucu dan manis (kalo ngga mau dibilang tsundere)

minggu lalu aku balik ke Surabaya, tapi ngga pamitan dulu sama si Piko. kata Papa, begitu aku pergi, Piko nyari-nyariin aku terus. dia bolak-balik masuk kamarku dan ngeong-ngeong melas. dia terus begitu sampai Papa bilang ke dia kalau aku ke Surabaya dan baru balik hari Jumat.

begitu aku pulang hari Jumat, dia langsung naik ke pangkuanku. pas aku elus-elus, eh tangan dan mukaku malah dicakar, terus bibirku ditampol sama dia =_= tsundere banget, kan?

tapi, kayaknya yang dikangenin itu bukan aku, melainkan ranselku. entah kenapa dia hobi banget masuk ke dalam tasku dan nyakar-nyakar ranselku. tiap kali aku larang dia selalu nyakar. sampe aku berpikir, dia itu bukan tsundere, tapi yandere =_=

oh ya, si Piko ini mirip banget sama kucing hitam di kampus, yang pernah main di ranselku. katanya sih kucing kampus itu udah mati. jangan-jangan si Piko ini titisannya? :O

aku ngga punya foto si Piko, karena dia hitam dan udah pasti ngga keliatan apa-apa selain matanya. jadi percuma aja foto si Piko. tapi aku masih ada foto kucing kampus yang mainan di ranselku itu.





Piko dan kucing kampus ini mirip banget, mulai dari bentuk badannya, bulunya, corak putih di dadanya, dan hobinya yang suka main di tasku.


Little Miracle





kemaren aku di-mention sama Nene. isinya hilarious banget:


"DJAYENG LO KALO GA BUKA GMAIL SEKARANG NINO GUA LEMPAR KE KALI PARKIRAN BELAKANG CEPETAN"

bingung, ngga ngerti apa-apa, akhirnya aku buka emailku. tapi ga ada satu pun email masuk. aku buka semua akun email yang aku punya, tapi hasilnya nihil.

akhirnya aku reply tweet dari Nene itu, lapor kalo ngga ada email masuk. pas begitu, tiba-tiba hpku bergetar. ups, telepon masuk. gila, pikirku, masa iya urgent banget sampe nelpon segala.

tapi ternyata bukan Nene.

nomor pesawat telepon Jakarta. waduh. ada apa pula ini ya.

"halo?"

"ya, halo. dengan Djayeng Channissa?"

deg. oke, bukan dari orang yang kukenal.

ternyata dari Kedubes Jepang Jakarta. suaranya kecil, aku ngga bisa denger dengan jelas. tapi aku denger kata-kata "selamat, kamu dinyatakan lolos seleksi beasiswa Japanese Studies Monbusho."

buset, ngga salah denger nih? aku tanya sekali lagi buat mastiin. dan ternyata, kupingku emang ngga menipuku.

jantungku deg-degan ngga karuan. suara si penelepon udah terbang entah ke mana, yang jelas ngga mendarat di pikiranku. pikiranku sibuk bertanya-tanya, "ini beneran kan? ngga boong kan? ah, masa sih? kok cepet? kok..." dan seterusnya.

terus si penelepon mengkonfirmasi kalau mereka sudah kirim ke emailku. dia tanya apa emailnya udah masuk apa belum. aku cuma jawab belum, meskipun aku kurang yakin apa emailnya itu nyasar atau malah kesaring masuk spam.

si penelepon memintaku untuk join grup FB, alamatnya ada di email tersebut. terus dia juga menjelaskan kalau aku dinyatakan lolos, tapi belum positif berangkat. sekarang kita harus menunggu kepastian dari universitas tujuan, apa bersedia menerima atau tidak. kalau tidak ada yang bersedia menerima, maka beasiswanya dibatalkan.

ya, aku emang udah pernah denger tentang itu sih. tapi tetep aja rasanya patah hati dengernya.

terus dia bilang begini, "kemungkinan batal pasti ada. tapi kecil sekali. terus berdoa ya." dan entah kenapa di kepalaku muncul bayangan seorang perempuan yang ngomong begitu sambil tersenyum.

aku juga tersenyum kecil. ya, sekarang ini yang bisa aku lakukan hanya berdoa dan berdoa.

telepon ditutup. aku cek Echofon lagi. aku dan Nene lanjut ngomongin soal email itu. akhirnya Nene kirim email yang dia terima ke emailku. rupanya orang Kedubes salah nulis alamat emailku. katanya sih, mereka nulisnya "d.chanissa", bukan "d.channissa". yah, namaku emang sedikit sophisticated sih haha...

di situ tertulis nama 19 orang yang dinyatakan lolos seleksi ujian beasiswa Japanese Studies Monbusho 2013. beberapa nama yang kukenal juga lolos ternyata. yang jelas ada nama Nene juga, dan masih ditulis dengan ejaan yang salah: 'Ratu Adoina'. aku ketawa.

meskipun masih ada rasa ngga percaya, aku kabari orang-orang terdekatku. Papa, Mama, Mbah Ity, Putri-sensei, Syahrur-sensei, Andi-sensei, Angga... semua aku kabari. sementara itu, di FB dan twitter temen-temen terus kasih ucapan selamat. aku terharu.


Kalau Bab II selesai....

yang kepo blog saya, saya punya berita baru untuk anda: saya belum move on di skripsi

oke, itu maksain banget. hahaha....

yah, aku ngga akan lagi beberin sejuta alasan kenapa kok sampe sekarang progresku lambat sekali. sampai kapanpun itu hanyalah alasan. jadi kita stop pembicaraan soal alasan itu.

aslinya ya menyesal, gregetan sendiri, kok bisa progresku lambat banget. rasanya pingin banting laptop, berharap bisa nuntasin perasaan ganjel ini. ekstrim banget yak. hahaha...

terus, akhirnya aku sadar. buat apa juga gregetan sendiri tapi ga ada hasilnya? daripada kelamaan ngukur masalah, lebih baik bikin langkah kecil menuju perubahan. ya kayak kata iklan rokok itu.

jujur, aku suka banget sama iklan rokok. soalnya, biarpun iklan rokok, ngga pernah ada adegan orang ngerokok. dan yang paling penting, menginspirasi banget. ada aja kata-kata atau adegan yang menggugah hati. kadang bikin terharu, kadang bikin "yosh!! aku juga harus semangat!!", kadang bikin otak meledak (baca: mind blow), dan sebagainya.

oke, balik lagi ke topik awal (-_-) jadi, supaya semangat ngerjain skripsi, aku bikin motivasi sendiri. balik lagi ke kebiasaan waktu aku masih 1nen -2nen (aaaaak, aku kangen masa-masa itu ;_;)

apakah itu? (cieh, ngga penting banget baris ini. oke, lompatin aja)

aku nulis goal-ku di papan tulis kecil yang dikasih Mbah Ity waktu aku masuk UNAIR.

dulu goal-nya mungkin sedikit 'realistis' dan terkesan 'memaksa'. malah kadang-kadang lebih semacam deklarasi perang (kadang orang ngeliatnya aku terkesan sombong banget dan ambisius gitu. padahal aslinya ya biasa aja). tapi sekarang, aku bikin dengan kesan yang lebih sederhana, manja, dan 'egois'.

ngomong-ngomong soal egois, aku terinspirasi dari dorama Last Hope (ini dorama bagus banget menurutku. dari awal nonton aja udah langsung "kyuu~n" terus akhirnya ketagihan nonton. sampe sekarang ngga ada episode yang ngga bisa bikin aku nangis T^T)

di dorama itu, ceritanya ada seorang pasien yang kena penyakit berat banget. antara hidup dan matilah. dia itu udah putus asa dan ngga mau jalanin operasi lagi. dia udah nyerah, seakan-akan "udah deh, mati ya mati aja"

tapi, dokternya bilang (intinya begini), "wajar sih kamu ngga mau lagi ngejalanin perawatan yang nyusahin. tapi apa kamu ngga punya mimpi yang ingin kamu wujudkan? ngga apa-apa kalau kamu sedikit egois dengan mimpi-mimpimu. coba bertaruhlah padaku. aku ngga akan membiarkan kamu mati" ya, ya, ya, kurang lebih seperti itu.

aku paling suka sama baris ini: "ngga apa-apa kalau kamu sedikit egois dengan mimpi-mimpimu"

aku setuju. terkadang kita perlu egois. dan egois itu emang manusiawi banget kan. kalau kita ngga egois sama mimpi-mimpi kita sendiri, ngga mau ngotot berusaha untuk itu, sampai kapanpun mimpi itu ngga akan pernah terwujud, ya kan?

ngga akan ada orang lain yang bisa mewujudkan keinginanmu selain kamu sendiri. sehebat apapun orang lain itu.

makanya, aku buat semacam goal yang bisa nyenengin diriku sendiri. anggaplah semacam hadiah untuk diriku sendiri setelah berjuang keras. ketika aku berhasil menyelesaikan targetku, aku bakal manjain diriku khusus untuk saat-saat itu. ngga akan peduli lagi sama apa dan siapa, pokoknya hari itu aku boleh 'seegois' mungkin.

dan entah kenapa itu bikin aku jadi makin semangat :3

hmm... sebenernya, goal macam apa sih yang aku tulis?

oke, ini rada malu-maluin soalnya. でも、やっぱり どうでもいいや。だって これは わがままの だもん。

jadi.... aku nulis begini:

"Bab II selesai:
- Larissa <3 br="">
- Rumah Cantik Citra ^^
- Soft/hard case kacamata baru
- Rantai kalung baru ^w^"

 di bawahnya aku tulis ガンバッテ!

sumpah malu-maluin. hahaha...

jadi, kalau bab II ku selesai, aku akan mewujudkan salah satu dari keempat keinginanku itu. pokoknya tergantung budget sih (this is sooooo lame T-T) bisa dibilang "sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui" soalnya dengan begitu, aku jadi termotivasi juga buat berhemat kan, uangnya ditabung buat hadiah nanti. hahaha....

kalau udah terwujud, aku bakal hapus dan aku ganti sama goal bab III. ya paling masih sekitar-sekitar itu aja sih. tergantung mana udah terwujud dan mana yang belum hahaha....

mungkin... langkah kecilku ini kelewat sepele. ngga ada hubungannya secara langsung sama proses penulisan skripsi. so what? siapa lagi yang bakal mendorong aku kalau bukan diriku sendiri?

semogaaaaaaa aku jadi semakin semangat :3




dan kayaknya, aku butuh beli boardmarker baru lagi :|


みんなは友達だよね

aku ngalamin 4 tahun yang menyenangkan selama kuliah di Sastra Jepang. sebelumnya aku ga pernah nyangka bisa dapet temen-temen yang asyik, lucu (note: super lucu!), pintar, dan menyenangkan. bukan cuma itu, aku pun pada akhirnya bisa berteman juga dengan senpai-senpai dan kohai-kohaiku. padahal selama SD, SMP, ataupun SMA, aku selalu ngga bisa berteman dengan orang selain angkatanku. aku selalu takut kalau sama kakak kelas, sementara itu aku menganggap adik-adik kelasku terlalu songong. but hey, look at me now! sekarang malah aku jadi suka ngobrol-ngobrol bareng kohai-kohaiku. bener-bener menyenangkan! :D

tapi... kadang ada kalanya juga aku ngerasa ditinggalin, dibedain, atau bahkan diem-diem dijauhin.

aku tau, waktu awal-awal kuliah banyak orang yang ngerasa ngga cocok sama aku. banyak yang ngerasa aku ini terlalu kaku, ngga bisa diajak bercanda, terlalu serius, dan semacamnya. itulah kenapa banyak yang heran kalau misalnya ngeliat aku ketawa atau bercanda. aku tau itu, dan aku akui, aku dulu seperti itu. awalnya aku sendiri ngerasa takut gimana caranya berteman dengan orang-orang yang bener-bener asing ini. terus tanpa sadar, aku menutup diri dan malah keliatan dingin dari luar.

tapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya banyak orang bisa menerima aku. mereka akhirnya tau kalau aku pun bisa bercanda, nangis, ketawa keras-keras, marah, galau, dan sebagainya. mereka tau kalau aku cuma anak biasa. ngga lebih.

tapi (lagi), ternyata beberapa masih ada yang beranggapan aku belum berubah.

itu wajar sih. karena selamanya akan susah mengubah kesan pertama kita terhadap sesuatu atau seseorang. meskipun awalnya agak susah menerima, lama-lama aku maklum.

sakit? pasti. lebih sakit lagi ketika ternyata pemikiran semacam itu malah berkembang kelewat jauh. pernah sekali waktu, karena ada miskomunikasi, teman-temanku "mengira" (kalau ngga mau bilang "menuduh") aku menyembunyikan informasi penting dan menyimpannya untuk diriku sendiri. seolah-olah aku ini bernafsu sekali untuk menjadi yang terbaik dan menjatuhkan yang lain.

jujur, aku marah. marah sekali. alasannya karena dua hal. pertama, waktu kejadian itu, aku minta maaf. dan pada saat itu, temen-temenku menunjukkan sikap "oh, ngga apa-apa kok. kamu ngga sengaja kan". tapi ternyata, omongan di belakangku lain lagi. kenapa coba, hal itu diungkit-ungkit dan ditambahi prasangka seperti itu? kalau udah maafin, apa lagi yang harus dipermasalahkan? kalaupun sebaliknya, mereka masih belum maafin, kenapa harus "berbohong"?

kedua, kalau emang ada yang berpikiran seperti yang aku sebutin di atas, berarti orang itu udah memfitnahku. gimana yah... selama ini aku berusaha dengan jujur dalam kuliah. lurus-selurus-lurusnya jalan. aku bukan tipikal orang yang berbuat curang kalau itu udah menyangkut belajar. aku ga punya nafsu berlebihan terhadap nilai. soalnya aku masuk Sastra Jepang atas pilihanku sendiri, dengan motivasi ingin belajar bahasa Jepang. bukan asal masuk kuliah, asal lulus cepet, asal dapet ijazah, asal dapet kerja, asal menghasilkan uang, dan asal-asal lainnya. aku bener-bener tersinggung. kalau aku emang sekotor itu, sampai menyembunyikan informasi supaya yang lain jatuh, dari semester awal juga ga akan ada yang dapet nilai bagus kalau begitu kan? toh buktinya selain aku juga masiiiiiiih banyak temen lain yang dapet nilai bagus-bagus. so what? aku bener-bener ngga suka kalau orang harus dilabeli berdasarkan IP-nya. yang "NASAKOM" lah. yang apa lah. くだらないわ!

begitulah. dan mungkin itu sebabnya kenapa aku sedikit "dibedakan" oleh temen-temenku sendiri. 友達なのに、仲良くするわけじゃないか。

sebenernya itu kejadian lama. lama-lama aku mulai ngelupain hal-hal itu dan menganggap semuanya biasa aja. sampai akhirnya, baru-baru ini aku ngerasain kejadian itu lagi. marah, sakit, sedih, kecewa. bener-bener perasaan yang ngga enak.

oh ya, ada satu hal lagi. aku denger gosip dari orang tertentu. katakanlah orang tertentu ini C. suatu hari C pergi keluar sama temen-temen sekelasku, A dan B. menurut cerita C, A dan B ini "kasihan" sama aku karena aku "ngga dianggep temen" sama temen-temenku sendiri. well, there's nothing new. aku ngga tau apa A dan B bener-bener bersimpati, tapi aku anggap mereka orang baik dan aku menghargai niat baik mereka. tapi, aku shock banget begitu denger kelanjutan cerita C. katanya, A dan B denger gosip kalau aku "cinta setengah mati sama Satoshi" (aku yakin aku udah pernah cerita soal Satoshi di postingan-postingan sebelumnya). di situ aku ngga habis pikir. aku selama ini berteman dengan Satoshi dengan cara baik-baik, tanpa melibatkan perasaan khusus. kok ya bisaaaa gitu ada gosip semacam itu. apa coba? karena ngeliat aku kok sering banget deket-deket Satoshi? hei, aku deket itu karena tanya soal tugas! salah satunya tugasmu juga, kakak! sumpah, aku ngga habis pikir. akhirnya aku ngga ambil pusing, dan ngebiarin hal itu. sebodo amatlah mereka mau gosipin aku suka sama siapa. toh, orang yang bener-bener aku sukai udah tau soal perasaanku, there's no big deal here.

oke, balik lagi ke masalah kekecewaanku terhadap beberapa orang. karena kecewa, aku sempet berpikir aku ngga akan peduli sama yang lain-lain.

sampai hari ini. aku berubah pikiran.

salah satu temanku, sore ini minta tolong aku buat nganterin dia. dan... entah kenapa aku pingin banget jalan-jalan sama dia. jadi, setelah anterin dia ke tempat yang dia maksud, aku ajak dia jalan-jalan ke Delta Plaza. kita makan McFloat bareng, ngemil bareng, sambil cerita-cerita "gosip" baru (I'm well informed enough about our department's issues, because I'm close enough with juniors). kita ketawa bareng, heran bareng, dan seterusnya.

begitu pulang, aku mikir begini. tiap orang punya preferences masing-masing. kalau misalnya ada orang yang ngerasa ngga nyaman berteman sama aku, しょうがないでしょう。aku sendiri pun punya preferences sendiri. aku sendiri, tanpa sadar "memilih" siapa yang jadi temanku. teman yang aku bolehin masuk ke dunia privatku. bukan karena aku benci sama yang lain. tapi karena aku percaya orang ini ngga bakal ngerusak duniaku. meskipun aku deket sama beberapa orang tertentu, bukan berarti aku ngga suka sama yang lainnya. aku tetap suka sama yang lain, dan aku tetap mau berteman dengan yang lainnya.

mungkin, seperti itu jugalah yang dipikirkan dan dirasakan beberapa temenku itu.

だったら、一緒 じゃん?

aku ngerasa, selama ini aku salah. kenapa aku harus melihat hal-hal yang buruk, tapi ngga memperhatikan hal-hal yang baik juga? kenapa aku harus merasa dimusuhi, kalau ternyata aku masih punya banyak teman? bukannya, kita semua pernah ngalamin masa-masa indah bareng? NN, MK, Kinenbi, JW, dan masih banyak kejadian lain yang kita lewati bersama. aku masih inget, aku dan temen-temenku, bahkan dengan mereka yang sekarang "menjauhi" aku pun, pernah bercanda bareng. ketawa bareng. saling marah. kecewa. saling ledek. masih, masih banyak lagi hal lain yang kita rasain bersama.

akhirnya aku ngetawain diriku sendiri. selama ini aku bangga sama diriku yang "mampu melihat hal-hal kecil". tapi apa? ada sebuah masalah di depanku, belum apa-apa aku udah ngeliat itu sebagai masalah besar. padahal, itu sebenernya bukan apa-apa. ya kan?

細かいことって もういいよ, 別に。 どうしても、あたしはみんなの友達だよ。そして、みんなもあたしの友達だよね。

aku sangat bersyukur karena Tuhan menyadarkan aku lebih cepat :)



Confused Degree Zero

oke, tak patutlah itu judulnya. seolah-olah mempermainkan karya Barthes "Writing Degree Zero". tapi jujur aku ngga ada maksud seperti itu. berhubung aku rada buntu bin random, jadi ya begitulah judulnya.

aku lagi dalam keadaan stagnan. dan aku jenuh sama itu.

skripsiku belum ada progres. hubunganku dengan beberapa teman dekat jadi agak renggang karena udah jarang ketemu. tetangga sebelah kamar kos sangat kurang ajar (sampai mbak Mega menjuluki mereka "mendouna shimai" dan sekarang naik tingkat menjadi "noroi shimai") dan masih banyak lagi kemalangan lain yang menyerang seperti combo attack di game King of Fighters.

tapi ngga ada yang bisa aku lakukan. aku cuma bisa stag di sini, kayak tanaman.

paling cuma nongkrong di depan S-jou, dengerin mp3 yang sama berulang-ulang, begitu sajalah hidupku selama beberapa bulan terakhir.

sampai-sampai aku berpikir, aku ini benar-benar ngga berguna.

aku tau, satu hal yang aku perlukan hanyalah pelampiasan. pengalihan perhatian. selingan. hiburan. atau apalah itu namanya.

aku ingin pergi berlibur ke suatu tempat, bersama orang yang aku suka, lalu melakukan banyak hal sebebas-bebasnya. travelling, backpacking, wisata kuliner, foto-foto, bercanda sepanjang hari sepanjang malam, everything!

tapi untuk sementara itu ngga mungkin.

jadi yaa, kembali lagi pada rutinitas yang sama. aku mencoba menikmatinya. tapi, untuk sementara ini belum berhasil. waktuku jadi ngga produktif lagi.

memang susah ya kalau terjebak dalam kondisi seperti ini.

just simply hope I can come through this moment

Ulang Tahun ke-22

sebenernya aku juga ngga tau sih mau posting apa soal ultah ke-22. hahahaha... cuma ya, karena ini ulang tahunku, jadi ya sedikit menulis kesan tentang hari spesial ini juga ngga apa-apa kan ya :D

aslinya sih, ulang tahun kali ini ngga ada yang terlalu fenomenal. hahaha apa sih. ngga ada surprise, ngga ada kado, ngga ada pesta. ya atari mae darou, udah tua juga masa mau ada pesta segala. engga mungkin juga kan hahaha...

tanggal 10 April 2013, aku nulis puisi. tapi menurutku puisinya agak fail. soalnya, bukannya nulis tentang kebahagiaan menyambut ulang tahun, eh malah nulis puisi yang suram. tau deh kenapa aku bisa mikir kayak gitu. aku sampai takut-takut sendiri. sampai sekarang pun aku masih ragu, apa puisi itu aku posting di blog puisiku, atau sebaliknya, aku hancurkan saja ya? entahlah. apapun, semoga itu bukan semacam kutukan buatku sendiri.

terus, tengah malem, aku dapet sms dari Rezar dan Alfi yang isinya ucapan selamat ulang tahun. malem itu aku lagi engga enak badan, jadi pikiran dan tindakan agak random gitu :p waktu aku dapet sms dari mereka, aku buka, baca (setengah sadar), dan berniat ngetik balesan. tapi berhubung tubuh dan pikiranku lagi random, jadi malah ngga kekirim hahahaha....

terus, aku ngerasa ada seseorang masuk kamarku. waktu itu aku ngerasa itu mimpi. Mbak Mega masuk kamarku, uyel-uyel pipiku dan memeluk bonekaku, Resnu. aku ngga ngerti bener-bener apa yang sedang terjadi. rasanya aku cuma capek dan ngga enak badan. mataku berat. rasanya pingin tidur terus engga bangun-bangun.

paginya, ada beberapa sms masuk. isinya ucapan selamat tahun dari Papa dan teman-teman. aku yang baru buka mata, senyum-senyum sendiri ngeliatnya. semacam orang tolol gitu lah. hahaha... puas baca-baca sms, aku bangun dari tempat tidur, ambil nafas dalam-dalam, lalu aku lepaskan sambil bergumam, "terima kasih ya Allah, aku masih diberi kesempatan hidup sampai detik ini" lalu aku beraktifitas seperti biasa.

di hari ulang tahunku, engga ada yang heboh. semuanya berjalan seperti biasa. yang ngga biasa sih timeline facebook ku. seharian itu penuh dengan ucapan selamat. beda kayak tahun-tahun lalu, kali ini aku baca bener-bener semua ucapan selamat itu. entah kenapa rasanya seneng gitu. dari situ aku ngerasa, "oh, ini ya rasanya dapet ucapan selamat ulang tahun. mungkin ada juga orang-orang di luar sana yang menganggap betapa berartinya ucapan selamat ulang tahun itu dan ngerasa senang hanya dengan satu kalimat kecil begitu"

yah, jujur selama ini kalau dapet ucapan selamat ulang tahun, aku ngga terlalu memperhatikan semuanya satu per satu. mungkin dulu aku cuma fokus sama beberapa orang yang aku anggep penting. ternyata, begitu aku belajar membaca semua ucapan itu satu per satu, aku jadi paham. dapet ucapan selamat ulang tahun itu emang menyenangkan kok. semacam kebahagiaan kecil yang sederhana, tapi manis.

keesokan harinya, aku dapet sms dari Mama. Mama minta maaf karena baru bisa ngasih ucapan selamat ulang tahun di tanggal 12. Mama cerita kalau di sana Mama lagi kesulitan sekali, sampai buat beli pulsa aja engga ada. aku terharu dapet sms dari Mama. ternyata emang bener, meskipun jauh, yang namanya ibu pasti selalu inget anaknya. apa aku besok juga bakal begitu sama anakku? Godspeed. hahaha....

tanggal 15, aku dikasih hadiah sama muridku, Maydi. isinya dompet besar. saking besarnya, buku tabungan juga bisa masuk loh. modelnya kayak dompet wanita-wanita karir gitu lah. cocok deh buat aku yang semakin tua ini wahahaha.... これからもその財布を大事にします :)

ya, kira-kira begitulah ulang tahunku yang ke-22 ini. banyak hal yang terjadi, terutama hal-hal tak terduga. ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan. kesanku di ulang tahun ini, aku ngerasa kalau aku mulai belajar stay cool. bukan sok cool loh yah :p

aku merasa harus bisa mengendalikan diri, terutama menghadapi masalah. bukan senewen dulu baru menghadapi masalah. sekarang aku belajar mendinginkan kepala dulu, baru menghadapi masalah dengan tenang. masih terasa sulit sih, tapi... ganbarimasu! :p

semoga, di usiaku yang ke-22 ini aku bisa menghasilkan (paling tidak) satu karya yang baik. aamin :)
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates