hari ini hari terakhir ngajar Maydi. besok adalah UNAS terakhirnya. rasanya berat sekali.
aku masih inget waktu pertama kali aku ketemu dia. waktu itu dia masih kelas 1 SMP, dan aku baru tingkat 2. pertama kali ketemu, aku ngerasa aku ngga diterima olehnya.
tapi, 3 tahun berlalu, ternyata rasanya berat untuk melepas dia.
aku pasti akan selalu inget gimana dia selalu ngeles kalau aku coba nerangin mata pelajaran. gimana ekspresinya yang manja sekaligus nakal waktu tanya, "Mbak Nisaaaaaa, ini gimanaaa?" juga waktu minta dibelikan sesuatu.
aku hampir selalu ngga tega menolak permintaannya.
bagiku, dia bukan murid. dia adikku.
aku ngerasa diterima di rumahnya. bagaimana keluarga menerimaku dengan tangan terbuka. aku, yang notabene memeluk agama yang berbeda dengan mereka, selalu diterima. tak pernah sekalipun aku diperlakukan sebagai "pesuruh"
ya, rumah yang begitu hangat.
aku juga masih inget gimana aku menjalani masa-masa sulit di mana aku harus berjuang untuk hidup, juga masa-masa indah yang aku jalani bersama "dia".
rasanya berat sekali. berat....
tapi, waktu kan terus berjalan ya. Maydi sekarang udah kelas 3. sudah waktunya lulus dari SMP. dan masuk ke jenjang yang lebih tinggi. oh ya, dia berencana masuk SMK St. Louis. meskipun aku setengah berharap dia masuk SMA, tapi aku menghargai keputusannya.
hari ini hari terakhir aku bertemu dia di masa SMP.
sebentar lagi, dia akan menjadi seseorang yang lebih dewasa lagi. kira-kira, kalau nanti dia udah besar dan berkeluarga, masih inget ngga ya sama aku? hahaha....
okay, that was a lame joke. jujur aku rada cemas juga, gimana dia menjalani UNAS IPA besok? semoga aja dia ngga ceroboh dan berhati-hati waktu ngitung nanti. aku jadi cemas kalau inget itu. secara emang dari dulu Maydi masih aja suka ngga teliti kalau itung-itungan. tapi yaaaah... semoga dia sukses untuk UNAS nya. amin...
Maydi bilang, "nanti kalau aku masuk SMK juga kita les lagi kok, Mbak"
aku cuma tersenyum aja. aku tau, aku ngga menguasai pelajaran SMK. tapi, rasanya ngga tega mengatakan "tidak". aku masih pingin terus bersama dia, sedikit lebih lama lagi.
hari ini hari terakhir aku ngajar dia di masa SMP. begitu aku mengucapkan terima kasih dan pamit kepada ibunya,
"Makasih banyak ya, Mbak Nisa. Sampai ketemu lagi."
there's no "goodbye". but "see you again"
aku berusaha keras untuk menahan tangis.
tadi, sebelum aku pulang, Maydi masih melakukan "ritual" biasa. dia masih ngusilin aku, gangguin aku, nggodain aku, sampai aku jadi berlama-lama pulang karena ngeladeni dia.
rasanya aku jadi ngga pingin pulang.
lalu aku inget, aku masih punya janji sama dia. jadi, dalam waktu dekat ini aku akan ketemu dia lagi. agak ringan juga perasaanku.
tapi, begitu sampai kos, aku tetep aja nangis di depan laptop sambil nulis postingan ini.
ini pasti gara-gara playlistku lagu slow semua. hahahaha...
頑張ってね、メイディちゃん。立派なレディーになりますように。
malam ini rasanya begitu sepi. aku cuma bisa tersenyum melihat bulan purnama di atas perempatan BG Junction.
skip to main |
skip to sidebar
and at the dawn, armed with the schorching patience, we shall enter the cities of splendour... (Arthur Rimbaud)
Tampilkan postingan dengan label job. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label job. Tampilkan semua postingan
Maydi UNAS
Diposting oleh
Djayeng Channissa
on Rabu, 24 April 2013
Label:
job,
les privat
/
Comments: (0)
Semester 5, Titik Nol
Diposting oleh
Djayeng Channissa
on Selasa, 20 September 2011
Label:
field of hope,
job,
jujitsu,
kafe es krim,
kamar tidur yang mungil,
kuliah,
padang edelweiss,
unair
/
Comments: (0)
16 September 2011
23:20
Sekarang aku udah semester 5. 3 nensei. Ngga kerasa aku udah jadi mahasiswa senior. Udah saatnya jadi dewasa.
Aku masih belum bisa bayangin seperti apa tantangan yang menantiku di semester ini. Tapi, untuk mengantipasinya, aku persiapkan waktu lebih untuk belajar. Aku kurangi kegiatan organisasi-organisasi. Aku udah ngga berminat lagi terlibat terlalu mendalam di kegiatan selain kuliah.
Oh ya, sekilas tentang hasil semester 4. IP turun jadi 3,71. bukan perubahan drastis emang. Tapi itu cukup untuk menjadi pelajaran bagiku. Aku sadar, aku bisa turun begini bukan karena kemampuan berpikirku menurun. Malah sebaliknya, kemampuan berpikirku meningkat sedikit demi sedikit. Nilaiku bisa turun karena aku sendiri kurang fokus. Juga karena aku terlalu sombong, mengira bisa mengatasi semua 24 sks itu dengan hebatnya. IP turun ini menyadarkanku tentang batas kemampuanku. Makanya, semester 5 ini aku mengurangi sks yang aku ambil (sampai Putri-sensei dan temen-temenku heran dan bertanya, "Yakin cuma 20 aja?") dengan harapan aku bisa bener-bener fokus. Kalau sampai nilaiku tetap atau malah turun (naudzubillah min dzalik) berarti aku bener-bener keterlaluan. Entah dengan cara apa aku bakal menghukum diri sendiri kalau begitu caranya.
Oke, balik lagi ke semester 5. Aku udah memasuki awal semester. Rasanya? Agak sedikit bosan. Kalau kurasa sih, karena aku makin menyadari kalau belajar itu emang ngga selalu menyenangkan seperti yang selama ini aku tanamkan di otakku. Selama ini aku cuma menipu diri sendiri dengan menganggap bahwa belajar itu selalu menyenangkan. Aku menanamkan pikiran seperti itu karena aku ingin jadi "berbeda" dari yang lain. Kalau yang lain bilang, "Belajar itu ngga asik!" maka aku pingin bilang, "Belajar itu asik kok!"
Tapi toh nyatanya ngga selalu gitu. Ada aja saat-saat aku menjadi jenuh belajar tanpa alasan. Dulu mungkin aku bisa alasan, "Ngga punya laptop. Mau belajar jadi terhalang karena ngga ada sarananya". Kalau aku pikir-pikir sekarang, sumpah alasan itu tolol banget. Keliatan banget ngga niatnya. Oke, tapi biar gimana juga sekarang aku udah disediain sarana. Laptop udah. Sama printer lagi (biarpun printernya rewel). Apalagi? Modem? Halah. Toh masih ada warnet (biarpun harus liat isi kocek dulu). Masih bisa akses wi-fi entah di mana (wi-fi kampus sumpah busuk banget). Masih bisa pinjem modem sama Angga ("apa sih yang ngga buat kamu?"). Sarana bukan alasan. Terus, apa donk yang bikin jenuh? Entah. Kurang makan sama kurang perhatian aja kali.
Back to topic. Meskipun ngerasa bosen, aku tetap berusaha bersikap dewasa dalam belajar. Ceileh, makanan model apa lagi tuh? Dewasa dalam belajar? Oke, aku berusaha menjelaskan maksudku gimana. Maksudku, aku berusaha bertanggung jawab lebih baik lagi dalam belajar. Kalau ada tugas, ya dikerjain sebaik-baiknya. Belajar lebih intensif lagi, ngga cuma waktu mau ulangan aja. Brainstorming. Eksplorasi ilmu di segala media. Sering-sering diskusi. Banyak baca buku. Benar-benar rencana yang sempurna.
Tapi tetep aja, rencana ya tinggal rencana kalau ngga dijalanin.
Aku serasa balik ke titik nol.
Itu tentang kuliah.
Lalu, gimana dengan kegiatan lain?
Kita mulai dari AIESEC. Kayaknya sih aku udah pernah cerita. Ya pokoknya aku udah resign. Aku udah bukan anggota AIESEC lagi dan udah ngga boleh make atribut apapun yang berhubungan dengan AIESEC. Dalam sistem, mungkin aku bisa dibilang sebagai alumni yang tidak menyelesaikan AIESEC Experiences. Apapun judulnya, yang jelas aku udah ngga terlibat dalam AIESEC lagi.
Lalu, HIMA. Niseikai yang dulu sangat-sangat kucintai, kini tergeser kedudukannya dalam hatiku karena ada Angga. Halah. Apa sih. Hahahaha.... Ngga gitu juga. Aku cuma ngga pingin cuma bisa masukin kaki ke dalam kolam, kecipak-kecipuk buang-buang air, kalau aku ngga berniat berenang ke dalamnya. Jangan sampai aku memberi kontribusi cuma setengah-setengah. Makanya, aku ngga mau jadi rakus, semua posisi aku ambil, tapi ngga sadar kemampuanku seberapa. Aku cuma ambil posisi yang bisa aku handle dengan baik dan menjaga amanah yang diberikan kepadaku. Udah cukup aku mengecewakan banyak orang, sekarang aku udah ngga mau ngecewain mereka lagi.
Kemudian, Ju jitsu. Satu hal yang bisa kukatakan: mundur. Aku mengalami kemunduran. Baik itu dalam will maupun power. Aku serasa ngga memiliki alasan lagi untuk tetap di sana. Di sana tidak ada lagi orang-orang yang kukenal. Semuanya berubah. Dan bagiku, perubahan itu menuju kemunduran. Meskipun keorganisasian dan sarananya semakin maju, tetapi ada yang mundur. Entah apa itu. Mungkin keakraban. Mungkin persatuan. Mungkin kekeluargaan. Mungkin kesadaran. Mungkin rasa hormat. Entah. Aku tak tahu. Yang jelas, ketika aku menulis kalimat-kalimat ini, air mataku udah mau tumpah, kangen sama UKM Ju jitsu yang dulu. UKM yang serba ngga jelas dan mungkin ngga diperhitungkan orang. Tapi di UKM itu aku mengenal pelatihku, teman-temanku, senpai-senpaiku. Dan kini, meski masih dalam satu nama yang sama, orang yang sama, semua berubah. Berubah menuju kemunduran! Entah ini pantas aku tangisi atau enggak.
Karena will udah hampir hilang, powerku juga melemah. Jadi serba ngga niat. Aku semakin lemah dan tertinggal. Puncaknya ya waktu aku mendapat perlakuan yang bener-bener keterlaluan dari beberapa orang di dalam sana. Ceritanya udah aku posting di blog yang satu lagi.
Tekadku jadi naik-turun. Ketika mendapat perlakuan itu, aku langsung berpikir untuk segera mundur begitu aku masuk semester 5. Tapi, karena ada beberapa orang lain yang menguatkanku, aku jadi ragu untuk mundur. Akhirnya, alasanku tertambat di orang-orang itu.
Aku tahu, itu cara yang salah. Sejak awal aku masuk UKM itu, pelatih dan senpai-senpaiku udah bilang, "Jangan sampai masuk Ju jitsu hanya karena seseorang. Entah itu teman, pacar, atau mungkin orang yang disukai. Karena, kalau suatu hari mereka keluar, kita pasti pingin keluar juga".
Celakanya, aku malah mengambil cara itu.
Dan benarlah. Ketika orang-orang yang menguatkanku malah berbalik mengecewakanku, aku jadi ragu untuk tetap berada di sana.
Dan yang kupikirkan hanyalah: aku ingin merdeka. Dari segala penipuan terhadap diri sendiri. Dari segala hinaan dan tekanan yang menekanku. Dari segala belenggu untuk jadi diri sendiri.
Sekali lagi, aku balik ke titik nol.
Itu tentang kampus.
Lalu, tentang kerjaan.
Semua muridku sekarang udah ngga les lagi sama aku. Akhirnya, aku ngga ada kerjaan. Di satu sisi, aku bersyukur bisa punya waktu luang untuk belajar dan istirahat. Jadi bisa sedikit lebih fokus. Di sisi lain, aku ngerasa harus melakukan sesuatu. Uang bukan segalanya, tapi kita butuh uang untuk menghidupi diri. Aku bersyukur karena beasiswaku sekarang dikasih per bulan, bukan per semester lagi. Menurutku itu cara yang aman. Karena kalau dikasih per semester, di awal semester pasti udah abis. Payah dah.
Meski begitu, aku harus mengakui kalau itu ngga cukup. Bayar kos, uang makan, dan kebutuhan lainnya per bulan ngga bisa terpenuhi dengan uang 400 ribu. Alhamdulillah kalau dapat dari Papa. Mudah-mudahan rezekinya lancar. Amin...
Tapi, yang namanya hidup kan harus punya rencana cadangan. Aku ngga bisa terus-terusan bergantung sama orang lain, ngutang sama temen, dikasih belas kasihan dari orang lain, ngerepotin Angga. Aku harus punya sumber yang lain. Malu aku kalau dibantu orang hanya karena belas kasihan, sekalipun yang ngebantu adalah pacarku sendiri. Rasanya rendah banget kalau ngga bisa ngebales kebaikannya. Masalah rezeki, aku selalu percaya Allah sudah mengatur yang terbaik. Kalaupun aku boleh meminta, aku cuma pingin rezeki yang bisa membuat aku dan keluargaku mandiri, juga bisa membantu orang lain. Ngga perlulah kaya raya melimpah ruah sampai bisa beli Gerard Way sekalian sama antek-anteknya. Hahahahaha....
Back to topic. Ngga ada kerjaan membuatku merasa seperti dulu lagi. Kembali ke titik nol.
Begitu aku menyadari hal ini, aku mencari-cari apa sih penyebabnya aku mengalami kemunduran kayak gini? Apa aku semakin jauh dari Tuhan? Apa aku udah berubah? Apa aku salah bergaul? Apa? Apa? Apa? Apaaa??!!
Yah. Mau teriak-teriak kayak apa juga ga bakal tau jawabannya.
Butuh instrospeksi diri.
Mungkin ada hikmahnya juga. Kembali ke titik nol berarti kesempatan untuk menjadi orang baru yang lebih baik.
Mudah-mudahan sih begitu. Amin...
Hari Pertama Semester 5
Diposting oleh
Djayeng Channissa
on Selasa, 13 September 2011
Label:
field of hope,
job,
kuliah,
padang edelweiss,
unair
/
Comments: (0)
12 September 2011
saking jeleknya hari ini, aku sampe bingung mau kasih judul apa.
yang jelas hari ini aku stres banget.
ini adalah hari pertama masuk kuliah di semester 5, setelah liburan panjang yang ngebosenin banget. ya iyalah, aku cuma di rumah aja. saking bosennya aku sampe kangen kuliah, kebawa-bawa mimpi segala. herannya, yang ada di dalam mimpiku itu selalu Syahrur-sensei sama Nene. kangen apa dikangenin nih? entah.
back to topic. aku pikir hari pertama kuliah itu bakal nyenengin.
tapi malah sebaliknya.
oke, mungkin mulai hari ini aku harus menanamkan kata-kata ini ke dalam otakku:
hari pertama kuliah itu ngebosenin banget
bukan karena kuliahnya. aku mah asik-asik aja kalau harus kuliah lagi. daripada nganggur ngga jelas. tapi entah kenapa di hari pertama masuk kuliah ini orang-orang terdekatku jadi nyebelin banget.
pertama, masalah rapat PKL.
aku udah persiapin agenda rapat serapi dan seefektif mungkin. aku ngga suka rapat lama-lama dan berbelit-belit. bikin pegel aja. entar malah jadi ajang ngerumpi lagi. makanya aku jadwalin hari ini jam 12, pas pada ngga kuliah. emang sih mepet sama kuliah Pengantar Kajian Budaya Urban jam 1. tapi toh ngga lama-lama juga rapatnya. jadi ngga bakal ada masalah.
itu rencananya.
tapi begitu jam 12.08 aku ke lantai 3 (aku tadi konsultasi dulu ke Putri-sensei), ngga ada orang kecuali Nathania. dia di sana juga kayaknya cuma pingin cari tempat sepi buat ngegame aja. buktinya waktu aku bilang ada rapat dia malah cengo.
beberapa saat kemudian, datanglah Alfi.
akhirnya aku malah curhat akbar ke Alfi.
setelah berpanjang-panjang cerita, lama-lama jadi kesel juga. ke mana sih anak-anak? Alfi bilang sih lebih baik diganti hari lain aja. akhirnya aku sms Nene dan Vita: "rapat dibatalkan. tolong sebar"
begitu aku dan Alfi turun, muncullah Nene dkk. mereka tanya, "di mana rapatnya?"
dengan muka kesel aku bilang, "Nggak jadi"
mukaku udah kayak Angry Birds yang ada di kaos yang aku pake. eh ya, kaos itu baru dibeliin Angga loh :p
mungkin kayak gini mukaku:
kedua, masalah 能力試験 a.k.a Japanese Language Proficiency Test.
pendaftaran terakhir tanggal 13 September 2011. setor nama, setor duit. sama setor foto juga.
mati gua mak.
ngga punya duit!!!
ya ada sih duit beasiswa 400 ribu. tapi udah dibagi-bagi buat kebutuhan yang lain. duit tinggal 200 ribuan. kalau aku ambil buat NS, ya bisa terkatung-katung hidupku sebulan.
aku curhat sama Angga. tapi ya seperti biasa, dia selalu mengeluarkan kata-kata ajaib: "Ya udah" dan "Yo sing sabar". tapi yang terakhir ini dimodofikasi dikit jadi agak alusan dikit: "kamu pandai-pandai bersyukur ya"
aku, yang udah capek dari tadi, jadi tambah sensi.
akhirnya masalah melebar ke mana-mana, bahkan ke hal-hal yang ngga ada hubungannya sama itu.
capek, pusing, akhirnya aku tidur deh. daripada semua orang aku marahin.
hm... mungkin karena PMS kali ya? itunganku sih emang minggu ini bakal mens. wah, bakal tambah sensi berat aku ini.
tapi yah, hidup ini aja udah banyak masalah. kenapa aku harus nambah-nambahin masalah? santai ajalah!
mauku sih begitu.
hm.. kalau tak liat-liat, Papa juga sensi banget kalo pas ngga punya duit. apa aku juga gitu ya?
yang jelas aku harus cari kerja lagi nih. Maydi sana Anin dan Evan udah ngga les lagi sama aku. jadi aku harus cari yang lain.
mudah-mudahan deh aku ngga lama-lama nganggurnya. biar bisa punya duit lagi.
oh ya, aku sempet kepikiran ide yang rada sinting juga (mungkin) loh.. kan kuliahku rata-rata siang semua. aku kepikiran buat kerja di warung Mama Titik yang deket kosku itu loh.. orangnya kan baek tuh. apalagi deket kan, ngga perlu pake ongkos angkot segala. hehehe... aku coba pdkt ke Mama Titik, minta kerjaan gitu. entah itu cuci piringkah, ngepel, nyapu, apa aja deh. daripada pagi-pagi aku nganggur kayak orang goblok gitu. entar aku beneran goblok gimana?
tapi toh ngga berhasil juga. rayuanku ngga mempan sama Mama Titik.
akhirnya ya aku pulang dengan muka hampir mewek.
tapi ada hikmahnya juga loh. jurus muka melas ala Shinchan-ku membuat Mama luluh sedikit. aku beli ayam sama tempe cuma seharga dua ribu aja loh! dua ribu rupiah koma nol-nol. huahahahaha....
ya, itulah sedikit cerita tentang hari pertama semester 5. rasanya kayak semester 1 lagi. aku balik ke titik nol lagi.
tapi ya mudah-mudahan ngga lama. amin..
saking jeleknya hari ini, aku sampe bingung mau kasih judul apa.
yang jelas hari ini aku stres banget.
ini adalah hari pertama masuk kuliah di semester 5, setelah liburan panjang yang ngebosenin banget. ya iyalah, aku cuma di rumah aja. saking bosennya aku sampe kangen kuliah, kebawa-bawa mimpi segala. herannya, yang ada di dalam mimpiku itu selalu Syahrur-sensei sama Nene. kangen apa dikangenin nih? entah.
back to topic. aku pikir hari pertama kuliah itu bakal nyenengin.
tapi malah sebaliknya.
oke, mungkin mulai hari ini aku harus menanamkan kata-kata ini ke dalam otakku:
hari pertama kuliah itu ngebosenin banget
bukan karena kuliahnya. aku mah asik-asik aja kalau harus kuliah lagi. daripada nganggur ngga jelas. tapi entah kenapa di hari pertama masuk kuliah ini orang-orang terdekatku jadi nyebelin banget.
pertama, masalah rapat PKL.
aku udah persiapin agenda rapat serapi dan seefektif mungkin. aku ngga suka rapat lama-lama dan berbelit-belit. bikin pegel aja. entar malah jadi ajang ngerumpi lagi. makanya aku jadwalin hari ini jam 12, pas pada ngga kuliah. emang sih mepet sama kuliah Pengantar Kajian Budaya Urban jam 1. tapi toh ngga lama-lama juga rapatnya. jadi ngga bakal ada masalah.
itu rencananya.
tapi begitu jam 12.08 aku ke lantai 3 (aku tadi konsultasi dulu ke Putri-sensei), ngga ada orang kecuali Nathania. dia di sana juga kayaknya cuma pingin cari tempat sepi buat ngegame aja. buktinya waktu aku bilang ada rapat dia malah cengo.
beberapa saat kemudian, datanglah Alfi.
akhirnya aku malah curhat akbar ke Alfi.
setelah berpanjang-panjang cerita, lama-lama jadi kesel juga. ke mana sih anak-anak? Alfi bilang sih lebih baik diganti hari lain aja. akhirnya aku sms Nene dan Vita: "rapat dibatalkan. tolong sebar"
begitu aku dan Alfi turun, muncullah Nene dkk. mereka tanya, "di mana rapatnya?"
dengan muka kesel aku bilang, "Nggak jadi"
mukaku udah kayak Angry Birds yang ada di kaos yang aku pake. eh ya, kaos itu baru dibeliin Angga loh :p
mungkin kayak gini mukaku:
kedua, masalah 能力試験 a.k.a Japanese Language Proficiency Test.
pendaftaran terakhir tanggal 13 September 2011. setor nama, setor duit. sama setor foto juga.
mati gua mak.
ngga punya duit!!!
ya ada sih duit beasiswa 400 ribu. tapi udah dibagi-bagi buat kebutuhan yang lain. duit tinggal 200 ribuan. kalau aku ambil buat NS, ya bisa terkatung-katung hidupku sebulan.
aku curhat sama Angga. tapi ya seperti biasa, dia selalu mengeluarkan kata-kata ajaib: "Ya udah" dan "Yo sing sabar". tapi yang terakhir ini dimodofikasi dikit jadi agak alusan dikit: "kamu pandai-pandai bersyukur ya"
aku, yang udah capek dari tadi, jadi tambah sensi.
akhirnya masalah melebar ke mana-mana, bahkan ke hal-hal yang ngga ada hubungannya sama itu.
capek, pusing, akhirnya aku tidur deh. daripada semua orang aku marahin.
hm... mungkin karena PMS kali ya? itunganku sih emang minggu ini bakal mens. wah, bakal tambah sensi berat aku ini.
tapi yah, hidup ini aja udah banyak masalah. kenapa aku harus nambah-nambahin masalah? santai ajalah!
mauku sih begitu.
hm.. kalau tak liat-liat, Papa juga sensi banget kalo pas ngga punya duit. apa aku juga gitu ya?
yang jelas aku harus cari kerja lagi nih. Maydi sana Anin dan Evan udah ngga les lagi sama aku. jadi aku harus cari yang lain.
mudah-mudahan deh aku ngga lama-lama nganggurnya. biar bisa punya duit lagi.
oh ya, aku sempet kepikiran ide yang rada sinting juga (mungkin) loh.. kan kuliahku rata-rata siang semua. aku kepikiran buat kerja di warung Mama Titik yang deket kosku itu loh.. orangnya kan baek tuh. apalagi deket kan, ngga perlu pake ongkos angkot segala. hehehe... aku coba pdkt ke Mama Titik, minta kerjaan gitu. entah itu cuci piringkah, ngepel, nyapu, apa aja deh. daripada pagi-pagi aku nganggur kayak orang goblok gitu. entar aku beneran goblok gimana?
tapi toh ngga berhasil juga. rayuanku ngga mempan sama Mama Titik.
akhirnya ya aku pulang dengan muka hampir mewek.
tapi ada hikmahnya juga loh. jurus muka melas ala Shinchan-ku membuat Mama luluh sedikit. aku beli ayam sama tempe cuma seharga dua ribu aja loh! dua ribu rupiah koma nol-nol. huahahahaha....
ya, itulah sedikit cerita tentang hari pertama semester 5. rasanya kayak semester 1 lagi. aku balik ke titik nol lagi.
tapi ya mudah-mudahan ngga lama. amin..
Kerja Jadi No-tulen
Diposting oleh
Djayeng Channissa
on Minggu, 31 Juli 2011
Label:
job,
kafe es krim,
padang edelweiss
/
Comments: (0)
27 Juli 2011, aku jadi notulen untuk seminar tentang UU RS atas tawaran dari Mas Anton. Tempatnya di Empire Palace! Aku bener-bener excited. Selama ini aku cuma bisa mengagumi kemegahan Empire Palace dari jauh. Sekarang aku bisa masuk ke dalamnya!! >///< Malah mas Indra, temen mas Anton yang menyewa jasaku untuk acara ini, menawarkan aku nginep di salah satu kamar hotel yang jadi ruang sekretariat mereka. Tapi karena Papa lebih suka mengantarkanku pagi-pagi, jadi tawaran itu ngga aku ambil.
Senin sebelumnya, aku dibriefing di Rollaas Cafe, TP. Cerita lengkapnya udah aku posting di blog satunya. Hehe... Jadi aku ngga akan mengulang cerita tentang briefing itu di sini. Maaf ya...
Hari H, aku bangun pagi-pagi, mandi, lalu berangkat dianter Papa jam 5.45. Brrr... Dingin banget! Jam 7 kurang kita udah sampe di Empire Palace. Kita minum susu dulu di warung kopi sebelah. Jam 7 lebih kita masuk, langsung menuju lantai 4 room 927, ruang sekretariat acara seminar ini.
Sampe di kamar itu, cuma ada dua orang laki-laki. Mungkin stafnya mas Indra. Lalu salah satu dari mereka menelepon mas Indra. Ngga lama kemudian mas Indra dateng, dengan muka baru bangun tidur. Aku memperkenalkan Papa ke mas Indra. Setelah berbasa-basi sebentar, Papa pamit keluar. Aku masuk ke kamar itu. Tadinya aku mau ganti celana jeansku dengan rok, tapi kamar mandinya masih dipake. Setengah jam kemudian orangnya baru dateng. Aku ganti bawahan, bersihin muka, lalu pake bedak tipis-tipis. Ngga lupa aku jepit poniku ke atas, biar keliatan lebih rapi dikit. Cuma 15 menit, terus aku keluar. Mbak Eva dan mbak Tari, talent dari Acer (entah perusahaan komputer Acer yang terkenal itu atau EO yang bernama Acer) yang bertugas jadi resepsionis, udah dateng. Mereka udah hampi siap. Wajah udah dipoles make-up. Jadi inget Kome kalau mau syuting atau jadi MC di suatu acara. Minder aku di deket mereka. Abis mereka cantik-cantik banget sih dandannya. Pake sackdress hitam pula. Tambah seksi deh. Beda banget sama aku yang cuma pake blus putih dan rok jeans. Satu-satunya item yang girlie banget cuma wedges hitamku. Oh ya, malam sebelumnya aku sempet smsan sama Kome, tanya enaknya aku pake jeans plus Converse atau rok jeans plus wedges? Kome nyaranin opsi terakhir. Dengan sangat jujurnya aku bilang,
“Masalahnya... aku takut kepleset”
Kome ngakak.
“Aku tak al-fatehan sek sebelum pake wedges”
“Surat Yasin sekalian, Cha”
Aku malah makin ngebanyol, “Sekalian ayat kursi, biar ga dijegal setan waktu jalan”
“Hahahahaha... betul betul betul” jawab Kome ala Upin-Ipin.
Jam setengah 9, mbak Eva dan mbak Tari langsung ke tempat seminar untuk menerima tamu. Aku dan mas Indra menyusul seperempat jam kemudian, menuju Hall 2 di lantai 5. Di lantai yang sama, tetapi di hall yang berbeda, juga ada seminar untuk para guru. Aku lupa apa nama acaranya. Yang jelas jadinya rame banget.
Hall 2 ini bener-bener mewah. Aku melihat ke atas. Plafonnya berornamen klasik dan mewah. Semuanya terkesan keemasan. Lampu-lampu di plafon yang tinggi banget itu seolah-olah dari permata. Jendelanya tinggi-tinggi dan besar-besar, dengan tirai gorden yang cantik-cantik. Untuk peserta sudah disiapkan meja-meja bundar dengan kursi-kursi yang dilapisi kain putih, lalu diberi aksen pita merah. Serasa di istana. Ngga salah sih kalau namanya Empire Palace. Bener-bener keren.
Begitu kami sampai di sana, acara masih belum dimulai. Mas Indra menunjukkan mejaku, meja kecil di pojok depan dekat speaker. Mas Indra bilang aku boleh keluar sebentar sebelum acara dimulai. Tapi karena aku ngga ada temen, jadi aku masuk dan menyiapkan laptopku. Iseng, aku idupin bluetooth. Ternyata bisa akses wi-fi. Aku langsung klik Domdomsoft Manga Downloader, lalu buka Google dan FB. Tapi sialan, Domdomsoftnya cengo. Not responding. Kesel, akhirnya aku matiin.
Sampai jam 10 masih belum dimulai. Banyak orang yang tanya-tanya padaku kapan acara dimulai. Kalau nurut jadwal sih, seharusnya sekarang coffee break pertama. Tapi aku ngga bisa kasih jawaban apa-apa, karena bukan aku yang menghandle rundown. Aku kan cuma orang luar yang disewa.
Sementara itu, aku mulai kedinginan. Akhirnya aku kembali ke kamar sebentar untuk ambil jaket. Sebodo amatlah jaketnya ngga matching sama bajuku. Yang penting aku ngga kedinginan. Aku sempetin ke rest room sebentar dan cuci tangan. Ternyata air dari keran wastafelnya hangat. Aku mau berlama-lama ngangetin tangan. Tapi karena banyak orang yang ngantri, akhirnya ngga jadi deh.
Aku balik lagi ke hall. Duh, rasanya bakalan kesiksa di ruangan dingin gini. Tiba-tiba, salah satu pembicara, Pak Habib Adjie, dan salah seorang panitia menghampiriku. Katanya file presentasinya dikopi ke laptopku. Aku langsung konfirmasi ke mas Indra. Mas Indra bilang ada miss, laptop untuk presentasi malah ngga ada. Jadinya pakai punyaku. Lah terus gimana aku nulis notulensinya? Mas Indra memintaku menulis manual. Yah, apa boleh buatlah. Aku kopi filenya, lalu mengatur supaya remote presentasi Pak Habib bisa dipakai. Aku sebenernya ngga familier sama remote semacam itu. Aku pernah liat, tapi ngga pernah pake. Pertamanya S-jou sempet ngga mau kompromi. Tapi setelah direstart, akhirnya mau juga.
Jam 10 lebih acara dimulai. MC langsung menghadap mikrofon, meminta para peserta untuk mengisi tempat duduk di depan. Lalu pintu hall ditutup. Aku baru menyadari kalau pintunya juga mewah banget. Besar dan penuh ornamen tanaman logam keemasan. Begitu pintu ditutup, aku ngerasa kayak di dalam kastil jadinya. Serem, tapi keren.
Semua peserta menuju meja hidangan, mengambil coffee break. Aku agak ragu ke sana, karena mas Indra ngga bilang apakah panitia boleh ikut menikmati coffee break apa ngga. Tapi aku ngeliat mbak-mbak penerima resepsionis dan panitia lain ngambil kue dan kopi. Aku juga ikutan akhirnya. Di coffee break pertama ini ada hidangan kue tart coklat dan lumpia untuk snacknya. Tartnya menggoda banget. Akhirnya aku pilih satu-satunya piring yang berisi cuma tart aja. Terus aku ambil cangkir dan mengambil teh. Tehnya udah dingin. Ngga bisa menghangatkan badan deh... tapi tartnya luar biasa. Manis coklatnya lembut banget. Makan satu loyang juga ngga bakal enek deh kayaknya. Hahaha.... Ini dia surga pecinta makanan manis, kayak aku :p
Baru makan seperempat potong, MC membuka acara. Buru-buru aku taruh piring kue dan cangkir di mejaku. Tapi karena keliatannya kok ngga pantes banget, akhirnya aku taruh di kursi-kursi belakangku. Lalu acara akhirnya bener-bener dimulai.
Setelah sambutan ketua panitia dan perwakilan dari Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur, pak Habib memberikan materi. Judulnya “Membahas Pendirian Rumah Sakit oleh Swasta harus Berbentuk Badan Hukum sebagai Kegiatan atau Usaha Khusus”. Aku berkonsentrasi penuh mencatat. Beuh, ternyata susah juga. Aku ngga bisa nangkep semuanya dengan detil banget. Cuma garis besarnya aja yang bisa aku tangkep. Lalu setelah itu diskusi dibuka oleh moderator. Banyak pertanyaan yang diajukan. Aku agak pusing pas diskusi itu. Abis kebanyakan mereka ngga to the point. Berbelit-belit. Malah ada salah satu peserta yang kayaknya bernafsu banget pingin “menenggelamkan” UU RS itu. Ya, aku bisa ngerti dikit gimana perasaan para pengelola rumah sakit itu. Dulu, yang boleh membangun RS adalah yayasan. Makanya banyak yayasan yang mendirikan rumah sakit kayak Muhammadiyah, Unisula, dan lain-lain. Sekarang, UU yang baru ini mewajibkan mereka memisahkan rumah sakit dari yayasan mereka terus disuruh bikin badan hukum baru. Ribetlah pokoknya. Yang jelas, kalau mematuhi UU itu, ngga sedikit uang yang harus dikeluarkan yayasan untuk membangun rumah sakit dengan badan hukum yang baru lagi. Yah, mungkin kalau aku jadi pengelola RS bakalan emosi juga.
Jam setengah 2 adalah acara favoritku: ISHOMA alias Istirahat, Sholat, dan Makan. Tapi aku bingung, mau solat, makan, atau ngetik notulensi? Waktu briefing, perjanjiannya notulensi selesai hari itu juga. Lah kalau aku ngetiknya nanti bisa-bisa ngga selesai. Tapi aku sadar, kondisi badanku lagi ngga fit. Kalau aku ngga makan, bisa-bisa pingsan ngga kuat ngelawan dingin. Akhirnya aku putuskan makan dulu. Begitu aku mau berdiri, eh ada orang minta filenya Pak Habib. Aku sms mas Indra, boleh apa ngga aku kasih. karena mas Indra bilang ngga boleh, ya ngga aku kasih. Terus aku buru-buru ambil makanan. Pas ambil makanan, di sisi meja seberangku ada mas Indra yang juga lagi ngambil makanan. Aku sekalian minta izin mau sholat, terus dibolehin. Aku keluar, duduk di meja registrasi, lalu buru-buru makan. Abis itu langsung ke kamar lagi untuk sholat.
Di kamar cuma ada satu orang stafnya mas Indra. Aku agak canggung juga. Tapi aku merasa aman sejak detik pertama bekerja dengan mas Indra. Jadi ya aku tenang-tenang aja. Aku wudhu, lalu sholat. Abis sholat, aku sempetin cuci muka dan ngerapiin dandananku sedikit. Aku keinget mbak-mbak tadi. Dandanan mereka lebih ribet dari aku. Tapi kok kayaknya mereka ngga repot benerin make-up ya? Apa karena make-upnya tahan lama? Kok bisa? Karena kualitas dari make-up mahal? Atau karena teknik? Ah, suatu saat nanti aku pasti juga bakal ngerti kalau aku terbiasa dandan. Tapi itu nanti. Sekarang mikir kerjaan dulu.
Begitu sampai di depan lift, ada misscall dari mas Indra. Wah, masa udah dimulai lagi? Terus ada sms dari mas Indra yang nyuruh aku cepetan karena acaranya udah dimulai. Walah... mana liftnya penuh lagi. Aku harus nunggu lift ke atas. Terus setelah dapet, aku langsung jalan cepet-cepet. Ajaibnya, aku ngga kepleset walaupun pake wedges. Apa karena karpet di Empire Palace ngga licin ya? Ah, ngga penting. Yang penting kerja dulu, kerjaaa....
Sampai di hall, MC dan mas Indra mempersilakanku masuk. Waduh, ditunggu banyak orang nih. Aku minta maaf sama mas Indra. Tapi mas Indra malah bilang, “Ngga, ngga apa-apa. Aku yang minta maaf”
Aku tertegun. Kenapa malah mas Indra yang minta maaf? Masa iya cuma basa-basi? Tapi aku ngga yakin mas Indra cuma lip service doank. Dia orangnya santai, tenang dalam menghadapi kerjaan. Aku belum pernah ngeliat dia marah-marah, walaupun kerjaannya menghimpit. Aku kagum padanya. Aku jadi belajar bagaimana caranya menghandle pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang.
Aku buru-buru ke meja dan buka laptop. Pembicara kedua, Pak Budi Sampurno, mengumumkan, “Sepertinya operator sudah datang” Heuh, aku notulen, Paak... Bukan operator. Tapi ya udahlah. S-jou ngambek lagi. Duh, bingung aku. Mas Indra menyuruhku tetap tenang. Aku jadi agak tenang dikit. Untung aja S-jou ngambeknya ngga lama-lama, ngga kayak aku. Hehehe... Begitu dia idup, langsungnya filenya aku kopi . Lalu muncul deh slide presentasinya.
Karena Pak Budi ngga pake remote kayak Pak Habib tadi, akhirnya aku bener-bener jadi operator. Walah, ngga bisa nyantet notulensi nih... Ya udahlah, nanti liat di file presentasinya aja, pikirku. Untung presentasinya ngga lama-lama. Lalu dibuka deh diskusi lagi. Kebanyakan yang tanya ya orang-orang yang tadi tanya di sesinya Pak Habib. Aku sibuk mencatat pertanyaan dan jawabannya.
Dalam hati aku bersyukur banget karena aku bisa terus konsentrasi pada semua pembicaraan, baik dari awal sampai akhir. Emang ada sedikit yang miss, karena sempat diajak ngomong sama orang lain. Tapi sebagian besar pembicaraan bisa aku tangkap dan aku simpen di dalam ingatan. Bahkan dengan ajaibnya, aku bisa memahami alur maksud diadakannya seminar ini, yaitu harapan akan adanya kerja sama dari semua pihak untuk bersama-sama mematuhi UU yang dipersoalkan itu. Dalam hal ini, notaris menawarkan diri untuk membantu para pemilik RS untuk mengurus hal-hal yang menyangkut perizinan seperti yang diminta oleh UU. Lalu Kementrian Kesehatan menyatakan terbuka untuk menerima dan memberi solusi mengenai masalah yang akan ditimbulkan oleh UU ini. Aku sendiri sampai heran, kok ya bisa aku ngerti. Padahal aku awam banget masalah hukum dan kerumahsakitan. Ya, inilah pertolongan dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Aku ngga bisa ngebayangin gimana kalau seandainya aku bener-bener ngeblank, ngga ngerti jalan cerita seminar ini. Bisa kacau kerjaanku. Makanya, aku bener-bener bersyukur karena Allah telah memberikan pertolonganNya kepadaku.
Ceramah kedua berakhir. Ada coffee break lagi. Tapi kali ini aku ngga ikutan karena aku putuskan untuk segera menyelesaikan notulensi ini. Panel dan penutup aku lewatkan. Sekitar jam 4 lebih acara bubar. Aku keluar, lalu duduk di meja registrasi, sambil terus berkutat sama laptop kayak nerd. Aku tolah-toleh mencari mas Indra. Sampai sekitar jam setengah 5 aku masih terus duduk di meja registrasi sambil ngetik. Terus, salah satu staf mas Indra mendekati meja registrasi untuk beres-beres. Aku tanya padanya di mana mas Indra. Ternyata mas Indra udah di kamar. Katanya, aku udah ditunggu. Walah, kok ngga ngomong-ngomong. S-jou aku ganti ke mode sleep, terus ke kamar.
Dari luar kamar, aku mendengar suara Papa lagi ngobrol sama mas Indra. Sepertinya obrolan yang menyenangkan. Aku masuk lalu menyalami Papa. Aku lapor sama mas Indra kalau notulensinya belum selesai aku ketik. Mas Indra bilang biar nanti dikirim via e-mail aja, daripada aku pulang kemaleman. Aku cengo. Bener ngga apa-apa nih? Tapi ya syukurlah tugasku boleh kubawa pulang. Biar nanti aku rapiin sekalian deh. Mas Indra memintaku tanda tangan di kuitansi sebagai tanda kalau aku udah terima uangnya. Setelah aku tanda tangan, mas Indra memberiku uang di dalam amplop kabinet putih. Aku speechless, ngga ngerti harus bereaksi gimana. Seneng itu udah pasti, tapi di sisi lain aku ngerasa ngga enak menerima hak lebih dulu, padahal kewajibanku masih belum rampung. Tapi aku terima uangnya dan berterima kasih sekali pada mas Indra. Mas Indra bilang, “Jangan kapok loh ya..” Aku spontan menjawab, “Oh, ngga kok Mas...” Lalu ketawa.
Setelah ganti rok dengan celana jeans, dan wedges dengan sepatu sandal lagi, aku dan Papa pamit pulang. Huah... pegel banget rasanya. Tanganku kaku dan sakit. Tapi aku senang, karena aku bisa dapat uang senilai gaji mengajar sebulan hanya dalam satu hari. Ah, coba bisa gini terus tiap hari ya? Hahaha...
Aku pulang dengan perasaan bersyukur dan ingin segera istirahat.
Senin sebelumnya, aku dibriefing di Rollaas Cafe, TP. Cerita lengkapnya udah aku posting di blog satunya. Hehe... Jadi aku ngga akan mengulang cerita tentang briefing itu di sini. Maaf ya...
Hari H, aku bangun pagi-pagi, mandi, lalu berangkat dianter Papa jam 5.45. Brrr... Dingin banget! Jam 7 kurang kita udah sampe di Empire Palace. Kita minum susu dulu di warung kopi sebelah. Jam 7 lebih kita masuk, langsung menuju lantai 4 room 927, ruang sekretariat acara seminar ini.
Sampe di kamar itu, cuma ada dua orang laki-laki. Mungkin stafnya mas Indra. Lalu salah satu dari mereka menelepon mas Indra. Ngga lama kemudian mas Indra dateng, dengan muka baru bangun tidur. Aku memperkenalkan Papa ke mas Indra. Setelah berbasa-basi sebentar, Papa pamit keluar. Aku masuk ke kamar itu. Tadinya aku mau ganti celana jeansku dengan rok, tapi kamar mandinya masih dipake. Setengah jam kemudian orangnya baru dateng. Aku ganti bawahan, bersihin muka, lalu pake bedak tipis-tipis. Ngga lupa aku jepit poniku ke atas, biar keliatan lebih rapi dikit. Cuma 15 menit, terus aku keluar. Mbak Eva dan mbak Tari, talent dari Acer (entah perusahaan komputer Acer yang terkenal itu atau EO yang bernama Acer) yang bertugas jadi resepsionis, udah dateng. Mereka udah hampi siap. Wajah udah dipoles make-up. Jadi inget Kome kalau mau syuting atau jadi MC di suatu acara. Minder aku di deket mereka. Abis mereka cantik-cantik banget sih dandannya. Pake sackdress hitam pula. Tambah seksi deh. Beda banget sama aku yang cuma pake blus putih dan rok jeans. Satu-satunya item yang girlie banget cuma wedges hitamku. Oh ya, malam sebelumnya aku sempet smsan sama Kome, tanya enaknya aku pake jeans plus Converse atau rok jeans plus wedges? Kome nyaranin opsi terakhir. Dengan sangat jujurnya aku bilang,
“Masalahnya... aku takut kepleset”
Kome ngakak.
“Aku tak al-fatehan sek sebelum pake wedges”
“Surat Yasin sekalian, Cha”
Aku malah makin ngebanyol, “Sekalian ayat kursi, biar ga dijegal setan waktu jalan”
“Hahahahaha... betul betul betul” jawab Kome ala Upin-Ipin.
Jam setengah 9, mbak Eva dan mbak Tari langsung ke tempat seminar untuk menerima tamu. Aku dan mas Indra menyusul seperempat jam kemudian, menuju Hall 2 di lantai 5. Di lantai yang sama, tetapi di hall yang berbeda, juga ada seminar untuk para guru. Aku lupa apa nama acaranya. Yang jelas jadinya rame banget.
Hall 2 ini bener-bener mewah. Aku melihat ke atas. Plafonnya berornamen klasik dan mewah. Semuanya terkesan keemasan. Lampu-lampu di plafon yang tinggi banget itu seolah-olah dari permata. Jendelanya tinggi-tinggi dan besar-besar, dengan tirai gorden yang cantik-cantik. Untuk peserta sudah disiapkan meja-meja bundar dengan kursi-kursi yang dilapisi kain putih, lalu diberi aksen pita merah. Serasa di istana. Ngga salah sih kalau namanya Empire Palace. Bener-bener keren.
Begitu kami sampai di sana, acara masih belum dimulai. Mas Indra menunjukkan mejaku, meja kecil di pojok depan dekat speaker. Mas Indra bilang aku boleh keluar sebentar sebelum acara dimulai. Tapi karena aku ngga ada temen, jadi aku masuk dan menyiapkan laptopku. Iseng, aku idupin bluetooth. Ternyata bisa akses wi-fi. Aku langsung klik Domdomsoft Manga Downloader, lalu buka Google dan FB. Tapi sialan, Domdomsoftnya cengo. Not responding. Kesel, akhirnya aku matiin.
Sampai jam 10 masih belum dimulai. Banyak orang yang tanya-tanya padaku kapan acara dimulai. Kalau nurut jadwal sih, seharusnya sekarang coffee break pertama. Tapi aku ngga bisa kasih jawaban apa-apa, karena bukan aku yang menghandle rundown. Aku kan cuma orang luar yang disewa.
Sementara itu, aku mulai kedinginan. Akhirnya aku kembali ke kamar sebentar untuk ambil jaket. Sebodo amatlah jaketnya ngga matching sama bajuku. Yang penting aku ngga kedinginan. Aku sempetin ke rest room sebentar dan cuci tangan. Ternyata air dari keran wastafelnya hangat. Aku mau berlama-lama ngangetin tangan. Tapi karena banyak orang yang ngantri, akhirnya ngga jadi deh.
Aku balik lagi ke hall. Duh, rasanya bakalan kesiksa di ruangan dingin gini. Tiba-tiba, salah satu pembicara, Pak Habib Adjie, dan salah seorang panitia menghampiriku. Katanya file presentasinya dikopi ke laptopku. Aku langsung konfirmasi ke mas Indra. Mas Indra bilang ada miss, laptop untuk presentasi malah ngga ada. Jadinya pakai punyaku. Lah terus gimana aku nulis notulensinya? Mas Indra memintaku menulis manual. Yah, apa boleh buatlah. Aku kopi filenya, lalu mengatur supaya remote presentasi Pak Habib bisa dipakai. Aku sebenernya ngga familier sama remote semacam itu. Aku pernah liat, tapi ngga pernah pake. Pertamanya S-jou sempet ngga mau kompromi. Tapi setelah direstart, akhirnya mau juga.
Jam 10 lebih acara dimulai. MC langsung menghadap mikrofon, meminta para peserta untuk mengisi tempat duduk di depan. Lalu pintu hall ditutup. Aku baru menyadari kalau pintunya juga mewah banget. Besar dan penuh ornamen tanaman logam keemasan. Begitu pintu ditutup, aku ngerasa kayak di dalam kastil jadinya. Serem, tapi keren.
Semua peserta menuju meja hidangan, mengambil coffee break. Aku agak ragu ke sana, karena mas Indra ngga bilang apakah panitia boleh ikut menikmati coffee break apa ngga. Tapi aku ngeliat mbak-mbak penerima resepsionis dan panitia lain ngambil kue dan kopi. Aku juga ikutan akhirnya. Di coffee break pertama ini ada hidangan kue tart coklat dan lumpia untuk snacknya. Tartnya menggoda banget. Akhirnya aku pilih satu-satunya piring yang berisi cuma tart aja. Terus aku ambil cangkir dan mengambil teh. Tehnya udah dingin. Ngga bisa menghangatkan badan deh... tapi tartnya luar biasa. Manis coklatnya lembut banget. Makan satu loyang juga ngga bakal enek deh kayaknya. Hahaha.... Ini dia surga pecinta makanan manis, kayak aku :p
Baru makan seperempat potong, MC membuka acara. Buru-buru aku taruh piring kue dan cangkir di mejaku. Tapi karena keliatannya kok ngga pantes banget, akhirnya aku taruh di kursi-kursi belakangku. Lalu acara akhirnya bener-bener dimulai.
Setelah sambutan ketua panitia dan perwakilan dari Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur, pak Habib memberikan materi. Judulnya “Membahas Pendirian Rumah Sakit oleh Swasta harus Berbentuk Badan Hukum sebagai Kegiatan atau Usaha Khusus”. Aku berkonsentrasi penuh mencatat. Beuh, ternyata susah juga. Aku ngga bisa nangkep semuanya dengan detil banget. Cuma garis besarnya aja yang bisa aku tangkep. Lalu setelah itu diskusi dibuka oleh moderator. Banyak pertanyaan yang diajukan. Aku agak pusing pas diskusi itu. Abis kebanyakan mereka ngga to the point. Berbelit-belit. Malah ada salah satu peserta yang kayaknya bernafsu banget pingin “menenggelamkan” UU RS itu. Ya, aku bisa ngerti dikit gimana perasaan para pengelola rumah sakit itu. Dulu, yang boleh membangun RS adalah yayasan. Makanya banyak yayasan yang mendirikan rumah sakit kayak Muhammadiyah, Unisula, dan lain-lain. Sekarang, UU yang baru ini mewajibkan mereka memisahkan rumah sakit dari yayasan mereka terus disuruh bikin badan hukum baru. Ribetlah pokoknya. Yang jelas, kalau mematuhi UU itu, ngga sedikit uang yang harus dikeluarkan yayasan untuk membangun rumah sakit dengan badan hukum yang baru lagi. Yah, mungkin kalau aku jadi pengelola RS bakalan emosi juga.
Jam setengah 2 adalah acara favoritku: ISHOMA alias Istirahat, Sholat, dan Makan. Tapi aku bingung, mau solat, makan, atau ngetik notulensi? Waktu briefing, perjanjiannya notulensi selesai hari itu juga. Lah kalau aku ngetiknya nanti bisa-bisa ngga selesai. Tapi aku sadar, kondisi badanku lagi ngga fit. Kalau aku ngga makan, bisa-bisa pingsan ngga kuat ngelawan dingin. Akhirnya aku putuskan makan dulu. Begitu aku mau berdiri, eh ada orang minta filenya Pak Habib. Aku sms mas Indra, boleh apa ngga aku kasih. karena mas Indra bilang ngga boleh, ya ngga aku kasih. Terus aku buru-buru ambil makanan. Pas ambil makanan, di sisi meja seberangku ada mas Indra yang juga lagi ngambil makanan. Aku sekalian minta izin mau sholat, terus dibolehin. Aku keluar, duduk di meja registrasi, lalu buru-buru makan. Abis itu langsung ke kamar lagi untuk sholat.
Di kamar cuma ada satu orang stafnya mas Indra. Aku agak canggung juga. Tapi aku merasa aman sejak detik pertama bekerja dengan mas Indra. Jadi ya aku tenang-tenang aja. Aku wudhu, lalu sholat. Abis sholat, aku sempetin cuci muka dan ngerapiin dandananku sedikit. Aku keinget mbak-mbak tadi. Dandanan mereka lebih ribet dari aku. Tapi kok kayaknya mereka ngga repot benerin make-up ya? Apa karena make-upnya tahan lama? Kok bisa? Karena kualitas dari make-up mahal? Atau karena teknik? Ah, suatu saat nanti aku pasti juga bakal ngerti kalau aku terbiasa dandan. Tapi itu nanti. Sekarang mikir kerjaan dulu.
Begitu sampai di depan lift, ada misscall dari mas Indra. Wah, masa udah dimulai lagi? Terus ada sms dari mas Indra yang nyuruh aku cepetan karena acaranya udah dimulai. Walah... mana liftnya penuh lagi. Aku harus nunggu lift ke atas. Terus setelah dapet, aku langsung jalan cepet-cepet. Ajaibnya, aku ngga kepleset walaupun pake wedges. Apa karena karpet di Empire Palace ngga licin ya? Ah, ngga penting. Yang penting kerja dulu, kerjaaa....
Sampai di hall, MC dan mas Indra mempersilakanku masuk. Waduh, ditunggu banyak orang nih. Aku minta maaf sama mas Indra. Tapi mas Indra malah bilang, “Ngga, ngga apa-apa. Aku yang minta maaf”
Aku tertegun. Kenapa malah mas Indra yang minta maaf? Masa iya cuma basa-basi? Tapi aku ngga yakin mas Indra cuma lip service doank. Dia orangnya santai, tenang dalam menghadapi kerjaan. Aku belum pernah ngeliat dia marah-marah, walaupun kerjaannya menghimpit. Aku kagum padanya. Aku jadi belajar bagaimana caranya menghandle pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang.
Aku buru-buru ke meja dan buka laptop. Pembicara kedua, Pak Budi Sampurno, mengumumkan, “Sepertinya operator sudah datang” Heuh, aku notulen, Paak... Bukan operator. Tapi ya udahlah. S-jou ngambek lagi. Duh, bingung aku. Mas Indra menyuruhku tetap tenang. Aku jadi agak tenang dikit. Untung aja S-jou ngambeknya ngga lama-lama, ngga kayak aku. Hehehe... Begitu dia idup, langsungnya filenya aku kopi . Lalu muncul deh slide presentasinya.
Karena Pak Budi ngga pake remote kayak Pak Habib tadi, akhirnya aku bener-bener jadi operator. Walah, ngga bisa nyantet notulensi nih... Ya udahlah, nanti liat di file presentasinya aja, pikirku. Untung presentasinya ngga lama-lama. Lalu dibuka deh diskusi lagi. Kebanyakan yang tanya ya orang-orang yang tadi tanya di sesinya Pak Habib. Aku sibuk mencatat pertanyaan dan jawabannya.
Dalam hati aku bersyukur banget karena aku bisa terus konsentrasi pada semua pembicaraan, baik dari awal sampai akhir. Emang ada sedikit yang miss, karena sempat diajak ngomong sama orang lain. Tapi sebagian besar pembicaraan bisa aku tangkap dan aku simpen di dalam ingatan. Bahkan dengan ajaibnya, aku bisa memahami alur maksud diadakannya seminar ini, yaitu harapan akan adanya kerja sama dari semua pihak untuk bersama-sama mematuhi UU yang dipersoalkan itu. Dalam hal ini, notaris menawarkan diri untuk membantu para pemilik RS untuk mengurus hal-hal yang menyangkut perizinan seperti yang diminta oleh UU. Lalu Kementrian Kesehatan menyatakan terbuka untuk menerima dan memberi solusi mengenai masalah yang akan ditimbulkan oleh UU ini. Aku sendiri sampai heran, kok ya bisa aku ngerti. Padahal aku awam banget masalah hukum dan kerumahsakitan. Ya, inilah pertolongan dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Aku ngga bisa ngebayangin gimana kalau seandainya aku bener-bener ngeblank, ngga ngerti jalan cerita seminar ini. Bisa kacau kerjaanku. Makanya, aku bener-bener bersyukur karena Allah telah memberikan pertolonganNya kepadaku.
Ceramah kedua berakhir. Ada coffee break lagi. Tapi kali ini aku ngga ikutan karena aku putuskan untuk segera menyelesaikan notulensi ini. Panel dan penutup aku lewatkan. Sekitar jam 4 lebih acara bubar. Aku keluar, lalu duduk di meja registrasi, sambil terus berkutat sama laptop kayak nerd. Aku tolah-toleh mencari mas Indra. Sampai sekitar jam setengah 5 aku masih terus duduk di meja registrasi sambil ngetik. Terus, salah satu staf mas Indra mendekati meja registrasi untuk beres-beres. Aku tanya padanya di mana mas Indra. Ternyata mas Indra udah di kamar. Katanya, aku udah ditunggu. Walah, kok ngga ngomong-ngomong. S-jou aku ganti ke mode sleep, terus ke kamar.
Dari luar kamar, aku mendengar suara Papa lagi ngobrol sama mas Indra. Sepertinya obrolan yang menyenangkan. Aku masuk lalu menyalami Papa. Aku lapor sama mas Indra kalau notulensinya belum selesai aku ketik. Mas Indra bilang biar nanti dikirim via e-mail aja, daripada aku pulang kemaleman. Aku cengo. Bener ngga apa-apa nih? Tapi ya syukurlah tugasku boleh kubawa pulang. Biar nanti aku rapiin sekalian deh. Mas Indra memintaku tanda tangan di kuitansi sebagai tanda kalau aku udah terima uangnya. Setelah aku tanda tangan, mas Indra memberiku uang di dalam amplop kabinet putih. Aku speechless, ngga ngerti harus bereaksi gimana. Seneng itu udah pasti, tapi di sisi lain aku ngerasa ngga enak menerima hak lebih dulu, padahal kewajibanku masih belum rampung. Tapi aku terima uangnya dan berterima kasih sekali pada mas Indra. Mas Indra bilang, “Jangan kapok loh ya..” Aku spontan menjawab, “Oh, ngga kok Mas...” Lalu ketawa.
Setelah ganti rok dengan celana jeans, dan wedges dengan sepatu sandal lagi, aku dan Papa pamit pulang. Huah... pegel banget rasanya. Tanganku kaku dan sakit. Tapi aku senang, karena aku bisa dapat uang senilai gaji mengajar sebulan hanya dalam satu hari. Ah, coba bisa gini terus tiap hari ya? Hahaha...
Aku pulang dengan perasaan bersyukur dan ingin segera istirahat.
Labels
padang edelweiss
field of hope
kafe es krim
unair
kamar tidur yang mungil
gubuk kecil yang hangat
Niseikai Aidai
ujian
renungan
sekolah tua
kuliah
jujitsu
asrama
AIESEC
Monbukagakusho
ulang tahun
cerpen
job
ramadhan
resensi
Idul Fitri
Noryouku Shiken
les privat
ospek
skripsi
Kanji Cup
pondok ramadhan
puisi
Benron-taikai
MAWAPRES
MK
Nakayoshi Naito
PKL
dorama
drama
j-pop
kucing
opini
