Kuliah, bosen!

fuh.. akhir-akhir ini aku mengalami krisis semangat. aku lupa kapan dimulainya, tapi aku jadi males banget untuk kuliah. jujur, aku perlu banyak gerak badan dan otak. tapi di fakultas hampir sama dengan mendekam di kamar. ga ngapa-ngapain. kuliah pun itu-itu aja. bosen............ mungkin ini sindrom semester awal kali ya.... memang belum saatnya sibuk. tapi mungkin begitu semester-semester berikutnya aku akan sangat menikmati waktu luang dan bersyukur bisa istirahat. ya, aku tahu itu akan terjadi. makanya aku tidak mau banyak mengeluh.

sebenarnya ada yang bisa membuatku bersemangat, yaitu seseorang yang aku sukai. aku tidak mau menyebutkan namanya dulu. lagipula, aku lagi merasa bersalah. bukannya dulu aku berkoar-koar cinta mati sama Hanif? sekarang malah suka sama orang lain. payah aku......

fuh.... aku ingin jalan-jalan ke suatu tempat. naik motor atau jalan kaki, sendiri atau sama teman, it's okay. aku bosan sekali dan orang yang aku sukai belum masuk juga. aku tambah bad mood -_-"

hari ini aku ada kuis Shokyuu bab 2 dan 3. masih dasar sih. aku ga belajar. haha! nakal banget aku ini.. sok pinter ato apa? tapi untunglah aku bisa mengerjakan 90%. ada satu soal yang bikin aku gregetan, yaitu "oikutsu desuka?" aku tidak mengenali pertanyaan ini. aku mengira-ngira saja. lalu aku jawab, "iie, sou ja arimasen". penasaran, aku tanya Putri-sensei. lalu Putri-sensei bertanya apda Haru-chan yang udah lulus Noryoku Shiken level 4, "Ratih-san, oikutsu desuka?" dan Haru-chan menjawabnya dengan lancar, "juu-hassai desu." glodak! ternyata oikutsu
sama dengan nan sai. aku lupaaa..... gagal deh dapet nilai sempurna gara-gara si oikutsu sialan itu.

habis ini aku ada mata kuliah Hyoki. aku cukup berminat pada mata kuliah ini, karena di sinilah kita belajar Kanji. tadi malam aku belajar karena aku dengar hari ini ada kuis. aku dengar dari Nene-chan, Andi-sensei kalo ngasih kuis itu yang tidak ada di materi. jadi kita harus pandai-pandai nyari sendiri di luar. mak! mana tadi malem aku ga bisa belajar. lampu mati. Erlina marah-marah ama temennya via telepon. nasibku....

tapi di balik itu semua, aku bersyukur aku dulu masuk kelas Bahasa. benar kata Norma, kita ini sudah mencuri start. jadi kami tidak terlalu kesulitan saat kuliah. kami sudah punya basic bahasa, jadi tinggal memperdalam saja. aku bersyukur dulu pernah mendapat pelajaran bahasa Mandarin. untuk saat ini, aku tidak terlalu kesulitan dengan Kanji karena mirip dengan Hanzi yang dulu pernah diajarkan Didik-laoshi. xie xie, laoshi!

oke... aku harus bisa membangun spiritku lagi. ga boleh tergantung pada siapapun. ga peduli sama si dia. biarkan saja dia berbolos-bolos ria. aku ingin bisa kuliah dengan semangat lagi dan mendapatkan nilai baik. amin.........

Ramadhan tahun ini..............

aku tidak ingat apa aku udah pernah ngasih judul seperti di atas pada posting sebelumnya, tapi bagiku lebih penting menuangkan isinya saja.

Ramadhan tahun ini aku begitu sibuk dengan OSPEK, perkuliahan, dan jujitsu. aku senang bisa sibuk seperti itu. tapi ibadahku di bulan ini malah menurun. mungkin tahun ini aku mendapat "rapor merah" mengenai ibadah. atas nama tugas, aku selalu melalaikan tarawih, padahal itulah keistimewaan Ramadhan! kita tidak bisa sholat tarawih di bulan lain kan? padahal dulu waktu kecil aku begitu menyukai tarawih, karena pada saat itulah aku bisa berkumpul dengan teman-temanku di masjid Al=Anshor perumahan BSK. aku bisa sholat bersama, mengobrol, jajan, semua bersama dengan teman-teman yang aku sayangi. tapi..........

tahun ini aku kehilangan banyak momen indah bulan Ramadhan.

tadarusku juga nihil. aku hanya memegang Al-Quran pada saat aku belajar mengaji untuk PBA. payah yah aku?

sekarang aku di Mojokerto. Kamis malam (17 September 2009) aku datang ke Mojokerto. uangku tersisa hanya sepuluh ribu lalu habis untuk ongkos. di bus aku tidak punya uang lagi. untung Imaroh mau meminjamkan aku uang untuk ongkos bus. tiba di Mojokerto, benar-benar tidak ada uang. aku naik becak ke rumah dan bayar dengan uang Papa setibanya di rumah. Papa sakit kronis. demam tinggi disertai muntah-muntah. bahkan Papa sempat pingsan hari sebelumnya dan baru sadar Kamis siang. aku merasa bersalah. seandainya aku datang lebih cepat, mungkin Papa tidak akan seperti ini. aku tidak bisa membayangkan ketidakberdayaan dalam kesendirian. pasti begitu perih dan menyakitkan....

malam itu aku berusaha merawat Papa. pada awalnya aku merasa kecewa karena tidak ada minuman atau apapun menyambutku, kecuali suara muntah Papa. tapi aku merasa malu. begitu kurang ajarkah aku sehingga lebih mementingkan diri sendiri? aku memang bodoh...

hmm.. berarti aku tiba di Mojokerto H-2. kurang dua hari menjelang akhir Ramadhan. tapi aku masih saja bandel, tidak mau memanfaatkan waktu yang tipis ini untuk meraih secuil saja keindahan ibadah di bulan suci ini. kurang 2 hari, tapi aku malah tidak puasa. ada saja alasan yang aku pakai untuk membenarkan diriku sendiri. tarawih? nihil. jangan coba-cba tanya apa aku beritiqaf, tadarus denga tilawatih yang indah, atau yang lainnya. percuma menanyakan hal itu karena tak satupun aku kerjakan.

BODOH!

ya Allah... maafkanlah hambaMu yang hina ini...

ah.. besok sudah Idul Fitri... aku menulis ucapan selamar Idul Fitri dan permohonan maaf via statusku di Facebook (dengan bahasa Jepang). apa kesanku tentang Idul Fitri besok? masih belum tahu. aku hanya tahu aku tidak akan mendapatkan uang saku sebanyak dulu, atau sebanyak teman-temanku (Erlina mentargetkan dapat satu juta untuk tahun ini ^^;). aku tahu tidak akan ada masakan dan kue-kue enak seperti ketupat, opor ayam dan sebangsanya. aku tahu tidak akan ada Mama dan Iqal... aku tahu semua tidak akan seperti dulu lagi...

tapi aku yakin Allah selalu memberikan kebahagiaan untuk hambaNya, tak peduli siapa dia, di mana dia, dan kapanpun. Allah tidak perlu menunggu momen yang tepat untuk memberikan rahmatNya kepada para hambaNya.

karena Allah-lah Yang Maha Penyayang, Maha mencintai hambaNya dibandingkan dengan apa pun yang pernah ada, ada, dan akan ada di dunia ini...

aku selalu punya alasan untuk bahagia, karena aku yakin akan kasih sayangNya.

selamat Idul Fitri 1430 H, mohon maaf lahir dan bathin.

aku memang belum pantas jadi mahasiswa

akhirnya, setelah beberapa hari kulalui di FIB, aku mulai merasa nyaman dengan keadaan kelasku. bahkan aku mulai akur dengan teman-teman yang tadinya kubenci. aku senang, ternyata memang benar hanya perkara waktu saja.

apalagi, aku mulai dekat dengan orang yang aku suka, jadinya tambah semangat deh! ^^

sudah 2 hari berturut-turut aku ditraktir makan di Wapo Airlangga depan kampus B. pertama, hari Selasa kemarin, aku, Gian, dan Rezar pulang latihan Ju-jitsu. setelahnya kami makan di Wapo. waktu itu yang bayarin Rezar. masing-masing berhasil menghabiskan satu piring nasi goreng porsi Wapo yang banyaknya bukan main dan bergelas-gelas minuman yang seharusnya bisa jadi konsumsi untuk 7 orang ^^; pulangnya aku ambruk karena kekenyangan sampai tidak bisa ikut OSPEK Asrama yang diadakan sejak tanggal 7 September kemarin.

kedua, kemarin. sebenarnya kami satu kelas berencana makan di Wapo. tapi ada komplain dari yang indekost. maklum,uang terbatas, begitu juga aku. akhirnya satu kelas berencana ikut buka bersama gratisan di Auditorium FIB. tapi Rezar ngajak makan di luar lagi. kali ini ditambah 2 personil lagi: Haru-chan dan Kemal. yang jadi bos Gian karena dia sedang bahagia XD. aku hanya pesan sandwich, karena aku masih harus OSPEK Asrama. kami berlima menceritakan tentang rahasia masing-masing dan berjanji tidak akan membocorkannya. aku senang mendengar cerita mereka. ternyata mereka lucu dan unik ^^

aku senang sekali, tapi tak bisa bulat utuh. biasa, habis tawa pastilah ada tangis.

waktu aku pulang dari Wapo hari Selasa (aku ketinggalan sholat Ashar,Maghrib, dan Tarawih) Papa sms. Papa sakit dan ga turun-turun. aku panik dan nangis. tapi untunglah Papa tidak apa-apa. tapi sebagai gantinya, aku akan pulang ke Mojokerto hari Minggu. aku tak bisa membiarkan Papa begitu saja, aku harus melihat kondisi Papa.

lalu tadi malam, aku pulang jam 8 lagi. aku mandi dan langsung ikut OSPEK Asrama. Lina terlihat capek. aku khawatir dia sakit. dan benar, waktu minta tanda tangan dia hampir jatuh. mungkin darah rendah. aku dan teman-temanku mendudukkannya di kursi. aku ingat dia pernah mengeluh mengenai sanksi. jika tidak ikut Malam Keakraban, atau jumlah tanda tangan penghuni asrama kurang, maka akan dikenai sanksi membayar koran selama 2 bulan. Lina jelas keberatan. sedang asyik merenung, tiba-tiba ada Kak Nabila, ketua asrama. aku menyampaikan keluhan Lina tadi. tapi tanggapan kak Nabila tidak seperti yang kuharapkan. dia hanya bilang, bukan hanya angkatan 2009 saja yang mengalami kendala seperti itu, tapi hampir semua angkatan pasti pernah kena sanksi. aku diam saja, agak jengkel karena keluhan itu jadi mentah. tapi aku sadar, memang begitulah seharusnya. lalu, pas kami minta tanda tangan di kamar 6, kamar mbak Xaxa, kak Nabila menekankan bahwa mengenai uang koran itu bukanlah hukuman. wah, kayaknya ada miskomunikasi nih... mungkin kak Nabila mengira yang aku maksudkan itu "iuran koran" dan beberapa iuran lainnya. tapi yang kumaksudkan adalah sanksi yang tadi itu. kak Nabila juga menyampaikan tentang "keluhan" dari mbak-mbak kami yang bilang ada beberapa dari angkatan 2009 yang tidak punya sopan santun. kak Nabila menanyakan pertanggungjawabanku sebagai SC 2009 (SC atau Student Center adalah semacam mediator dan penegak aturan asrama. waktu ada forum, aku secara sukarela mencalonkan diri dan diterima). aku hanya bisa diam saja. baru kusadari malam itu bahwa tugas SC tidak semudah yang kubayangkan. tapi aku harus tetap konsekuen dan memperbaiki kesalahanku itu. aku memang kurang care, dan itu harus kuubah. maka, aku berinisiatif mengadakan forum angkatan 2009 di ruang tamu. kemudian aku berpikir, rasanya tidak sopan juga kalau kita kumpul-kumpul tanpa ada izin atau semacamnyalah. makanya tadi pagi, sehabis mandi, aku ke kamar kak Nabila untuk minta izin. tapi kak Nabila masih tidur. aku titip pesan ke Mbak Ifa. tapi begitu aku mau keluar, kak Nabila bangun dan bertanya ada apa dengan kesan sepertinya dia terganggu dengan kehadiranku. aku jadi serba salah. ya aku sampaikan saja langsung maksudku. huff... memang tidak mudah semua ini.

di fakultas, habis kuliah Etika aku ikut rapat panitia Buka Bersama seluruh angkatan Sastra Jepang. aku bagian Sie Perizinan. tugasnya insya Allah tidak begitu berat, hanay harus pandai melobi. kami baru bergerak setelah permohonan izin turun, jadi agak santailah untuk saat ini. rapat bubar. aku dan keempat teman baruku berencana mengadakan benkyokai sendiri. yah, semacam belajar bersama. aku ingin membantu teman yang kurang bisa, apalagi Putri-sensei akalu menagjar agak cepat. seandainya aku masih baru belajar bahasa Jepang, mungkin aku tidak akan mengerti apa-apa. makanya lebih baik belajar bersama kan? tapi yang ada hanya aku, Gian, dan Rezar. Haru-chan dan Kemal sudah pergi entah kemana u_u yaa... jadinya hanya bertiga saja. kami belajar di SC Sastra Jepang. Rezar kurang mengerti tentang "kore" dan "kono". aku mengerti maksudny, tapi tidak bisa menjelaskannya dengan gamblang. lalu Wawan senpai datang. aku bilang padanya, "senpai, tolong ini diajarin. dia (Rezar) ga ngerti kapan pake 'kore' kapan pake'kono'. aku ngerti maksudnya, tapi aku ga bisa jelasinnya pake bahasa Indonesia." nah, itu dia letak kesalahanku. seharusnya ya aku tidak usah bilang begitu. cukup bilang saja, "aku ga bisa jelasin". beres kan? lalu Wawan senpai bertanya dengan serius, "kamu ga bisa pake bahasa Indonesia?" aku diam saja, mati kata. lalu dia berceramah, intinya: percuma saja belajar bahasa Jepang tapi ga bisa pake bahasa Indonesia. tidak usah takut ga bisa bahasa Jepang, kita kan bukan budak Jepang. kata-kata itu benar-benar menusuk di hatiku. belum lagi dia bilang, "kahima (ketua Himpunan Mahasiswa) kok gitu." aku langsung pulang dan menuju ke warnet ini. aku hampir menangis. tapi aku sadar karena kata-katanya. aku merenungi beberapa hal. aku memang terobsesi ingin menjadi Kahima. bahkan sempat beberapa kali berdebat dengan Rezar tentang siapa yang lebih pantas jadi Kahima, aku atau dia. tapi aku seperti ini, pemikiranku masih cetek, masa mau jadi Kahima? hal ini mengganggu ketenangan pikiranku....

aku mengakui, cara belajarku masih seperti siswa biasa. nih buktinya. tadinya aku ke warnet ingin mencari referensi mengenai PPKN. tapi aku hanya mencari sebentar lalu bosan. malah main di Facebook dan blog. childish kan? ah....

well, my heart is sent to disorder now... I don't know what exactly I feel....

Allah, mengapa aku makin jauh denganMu?

OSPEK.. OSPEK... OSPEK..

fuuuu... lama juga aku ga online di blog. banyak yang ingin aku ceritakan di sini, tapi agak lupa juga =P kalo gitu aku ceritain yang aku inget aja yah?

pertama, pengukuhan mahasiswa baru oleh rektor di Auditorium kampus C tanggal 18 Agustus. penerima beasiswa mendapatkan tempat di depan (kayak VIP ajah :p) aku merasa bangga sekali waktu itu. dan aku senang dengan dress codenya juga: serba putih. aku memakai atasan putih dengan kerah berdiri dan aksen tali. bawahannya rok panjang yang menurut aku sih cute. hehe... benar-benar melegakan dan membanggakan saat itu.

lalu, tanggal 19 Agustus aku ada OSPEK universitas (julukan kerennya sih PPKMB= Pekan Pembinaan Kebersamaan Mahasiswa Baru). aku kaget juga begitu tahu aku dapet kelompok 1. lebih kaget lagi ternyata aku OSPEK di Fakultas Kedokteran! what thee..??? padahal aku selalu "menghindari" fakultas yang satu ini. alasannya tak lain dan tak bukan adalah Hanif. bukannya itu impian Hanif untuk masuk FK??

tapi mau tak mau kan aku harus di sana. ternyata, yang berkumpul di kampus A adalah anak-anak yang lolos via PMDK prestasi. senang dan bangga juga sihh.. lebih senang lagi karena aku bertemu dengan senpai yang cute :3 namanya Arya, denger-denger sih dari jurusan Radiologi. sumpah, cute banget! rambutnya juga keren... tingkahnya ga macem-macem (menurut penglihatanku loohh...) dan pada akhirnya aku menyesal harus pergi dari FK untuk melanjutkan OSPEK di fakultas masing-masing. sejak saat itu, aku mengalami gejala yang disebut Mbak Yessi sebagai jomblo error.

sekitar tanggal 24 Agustus kami mengikuti OSPEK Fakultas. di FIB peraturannya tidak begitu ketat dan tugasnya juga tidak terlalu banyak seperti fakultas lainnya. aku bersyukur sekali... setidaknya Fakultas Ilmu Budaya tidak seketat Fakulas Kesehatan Masyarakat apalagi Fakultas Sains dan Teknologi. yang terakhir disebut ini sadis banget. menurut testimoni temanku, para seniornya "hobi" banget meneriaki, membentak, dan sebagainya dan sebagainya kepada para juniornya. berarti apa yang dikatakan oleh Hanif dulu bukan isapan jempol belaka. dulu dia pernah cerita tentang seniornya yang suka menekan mental juniornya. dulu sih aku hanya bisa menganggapnya berlebihan. tapi sekarang aku ragu kalau dia berlebihan...

OSPEK fakultas ditutup dengan acara Mayapada (Mahasiswa berkarya dan berapresiasi dalam ilmu budaya). di sini FIB mulai repot, tapi tetap tidak serepot FST atau FKM. ada semacam pressing juga, tapi aku menganggapnya biasa. ada kejadian "unik". kalau tidak salah tanggal 27 Agustus, kami ada acara "Renungan". dari judulnya aku menebak bahwa ini semacam acara ESQ atau apalah. tapi ternyata lain. sebelumnya, kami semua dibagikan pita berwarna merah, kuning, dan hijau. aku mendapatkan pita merah, sama seperti Hilmy (ketua kelompokku: Batara Ismaya), Novi, Namira, dan lainnya. lalu kami semua disuruh masuk ruangan-ruangan sesuai dengan warna pita. pita merah kalau tidak salah di ruangan 306. di sana kami dimarahi karena ada yang melanggar peraturan. aku sendiri menganggapnya sepi. toh aku tidak melakukan pelanggaran. kalaupun ada, itu tidak termasuk pelanggaran berat. aku membawa dompet. pada hari sebelumnya tidak diberi tahu bahwa kami dilarang membawa dompet. kami baru tahu keesokan harinya. aku jengkel karena menurutku alasan dilarangnya membawa dompet itu tidak valid: keamanan. masa iya sih bakal ada yang kehilangan dompet? sama-sama sudah besar kok... lagipula isi dompetku tidak seberapa. tapi akhirnya aku menerima alasan itu sebagai suatu bukti bahwa senior kami concern terhadap kami.

nah, ceritanya waktu acara Renungan itu, ada seorang senior yang duduk di atas meja. rambutnya panjang gimbal ala Sujiwo Tejo dan perilakunya sangar. aku mengkritik sikapnya itu. tak disangka, ia malah turun dari meja dan menyalamiku. katanya aku kritis. aku hanya bisa bengong. ternyata memang si kakak ini memancing kami. seberapa berani sih kami ini untuk mengkritik tindakan yang salah, sekalipun tengah diancam (baca: pressing)? itu adalah pengalaman yang berkesan bagiku. belum pernah (seingatku) yang ada menghargai tindakanku semacam itu.

pengalaman lain yang berkesan, aku mendapatkan reward sebagai the best speaker dalam debat esai. hadiahnya berupa pin Mayapada. aku bangga, karena belum tentu semua orang bisa mendapatkan pin itu. menurut penilaian para juri, yang berhak mendapatkan reward sebagai the best speaker adalah mereka yang menyampaikan pendapat maupun argumennya secara sopan, tidak berapi-api, sehingga suasana debat tetap kondusif. aku tidak menyangka juga. selain aku, ada juga yang mendapatkan pin itu, namanya Laura. dia juga sopan dalam menyampaikan pendapatnya. aku senang bisa berdebat dengannya. oh, ya... di dalam ruangan itu ada 4 kelompok yang dibagi menjadi dua kelompok: pro dan kontra. kelompokku dengan satu kelompok lain menjadi kelompor pro, sedangkan 2 kelompok lain menjadi kelompok kontra. topik yang kami bicarakan adalah Disahkannya UU Pornografi Dilihat dari Segi Budaya.

tetapi ada juga pengalaman yang........... sulit diungkapkan dengan kata-kata. kami mendapat tugas untuk membuat 2 surat: surat dengan amplop biru dan amplop merah. amplop biru adalah untuk panitia yang kita sukai (entah suka dengan definisi apa) dan amplop merah adalah sebaliknya. aku bingung, kepada siapa saja surat-surat itu akan kutujukan. tak ada panitia yang kubenci, walaupun mereka suka membentak, tapi bagiku itu biasa saja. akhirnya kuputuskan untuk mengalamatkan surat merah kepada Kak Rief, salah satu anggota tim Pantau yang lumayan keren (mirip Afgan malah. sumpah!) aku memilihnya karena dia pernah bersikap sombong. pernah sekali, ketika aku meminta tanda tangannya (biasalah, kalau acara orientasi semacam ini pasti ada tugas mengumpulkan tanda tangan panitia atau teman sejawat) dia mengacuhkanku. aku jengkel, tapi aku maklumi saja. karakter setiap orang berbeda-beda dan mungkin saja dia bersikap seperti itu untuk menegaskan image tim Pantau yang garang. aku menulis sejujurnya di dalam surat itu dan kukatakan bahwa aku tidak membencinya. malah, di akhir surat kutuliskan kutipan lirik Harmonia.

lalu, kepada siapa amplop biru itu kutujukan? aku tak kenal banyak panitia. tapi aku pernah menaruh simpati pada kak Andreas, trainer kami. trainer itu bisa dikatan semacam kakak pembimbing kelompok. kak Andreas itu ramah, tanggung jawab, walaupun agak lebay juga ^^v dia anak teater. entah mengapa aku merasa aman di bawah bimbingan dia. wah, kalau aku ingat itu, mukaku bakal merah lagi...

ternyata bukan aku saja yang mengirimkan surat amplop biru padanya. beberapa teman satu kelompokku juga melakukan hal sama. kak Andreas mengirimkan sms kepada kami semua yang intinya mengucapkan selamat datang di FIB dan terima kasih untuk yang sudah mengirim surat biru itu. mak! malunya aku....

hari terakhir Mayapada ditutup dengan sesi seremonial "perenungan". tadinya kami sedang asik mengikuti acara Art Show. tapi tiba-tiba saja dihentikan oleh tim Pantau (semacam panitia pengawas peserta yang berhak untuk menghukum peserta yang melakukan pelanggaran). alasannya, Art Show kami tidak menunjukkan sikap berbudaya. memang, ada beberapa kelompok yang bermain band dan menyanyikan lagu-lagu populer (kelompokku sendiri menyajikan deklamasi puisi. tapi karena membosankan, oleh juri dihentikan dengan cara membunyikan gong, sama dengan acara Gong show). panitia mengaku kecewa, lalu kami semua digiring ke lapangan parkir. di sama kami dimarahi lagi, terkait dengan kasus plagiat. ternyata ada beberapa yang mengambil materi mentah dari internet untuk disalin pada esainya. banyak yang menagku secara gentle. suasana menjadi tegang. lalu kami disuruh menutup mata dengan slayer dan menunduk. kami semua disuruh merenungkan kesalahan-kesalahan kami. aku tidak bisa bernafas dengan wajah ditutupi slayer begitu. saat aku hampir mencapai titik kejengkelanku, tim Pantau menaburi kepala dan tubuh kami dengan tepung. surprise!!! dasar, ternyata ini semua cuma ulah kakak-kakak kami untuk mengerjai kami. seremonial itu disemarakkan dengan kembang api yang indah. bertepatan dengan maghrib, kami semua berkumpul untuk berbuka puasa bersama. menyenangkan sekali, walaupun saat itu aku sedang bad mood dan mengantuk. tapi aku tak dapat menyangkal bahwa acara itu sangat berkesan...

acara selesai pada jam 7 malam. aku buru-buru pulang ke asrama. Papa sudah menjemputku. malam itu juga aku pulang ke Mojokerto karena harus mengambil ijazah. aku bahagia sekali hari itu... dan juga mengantuk.

Layout baru!!

Ich liebe meine neüe blog layout! hehehe... akhirnya bisa juga aku bikin dengan image background Lacus dan Meer. gimana? bagus ga??? oke, emang agak melenceng dari tema "The City of Splendour", tapi aku suka! cuman yah.. tulisannya terlalu kecil yah? ah, kapan-kapan bisa dibenerin lagi.

akhirnya aku bisa juga bikin banner yang semi-transparent itu. sebenernya di pimp-my-profile.com bisa aja bikin tabel yang semi-transparent dengan mengatur opacity-nya. tapi herannya kok ga seperti yang diharapkan. ya udah, aku copy ajah beberapa kode dari layoutku yang lama. jadi deh semi-transparent! asik kan??

aku juga bikin layout baru untuk friendster-ku. Lacus juga! dengan sayap warna-warni di punggungnya. keren ga tuh?? hehe... entah mengapa seakrang aku jadi serba-Lacus gini. yang jelas layout friendster baruku bikin aku betah buka friendster. aku buka terus setiap kali online, walaupun ga ada comment masuk. tapi engga apa-apa. enakan juga mandangin layout baru (ih, narsis!) XD

aku tak tahu mengapa dan kapan mulainya aku suka dengan anime chara berambut pink. aku hanya menyadari semua primary facebook-ku rambutnya pink semua. jadilah pink hair mania! sekarang aja aku pasang Lacus yang lagi duduk termenung memikirkan sumthing (atau sumone??) emang kebetulan aku lagi bingung niii...

entah aku yang ke-GR-an, atau memang Hajime-san nembak aku???

My God....

abisnya di comment terakhir dia, dia (awalnya) tanya pendapatku tentang the difference of care dan love. terus buntut-buntutnya "kimi ga suki! anata wa kawaiteru and anata wo aishiteru" glodak! apa pula ini?? ga mau GR, aku tanya maksudnya apa, tapi in Indonesian please... aku kan cinta Indonesia. Halah! bilang aja udah lupa ma bahasa Inggris... (emang gitu kenyataannya. Jerman, Inggris, Jepang, udah out semua diusir pejuang 45! merdeka! bentar lagi kan Agustusan. ya engga??)

apa pula hubungannya.... ngaco ah =='a

ah, udah dulu.. aku mau maen facebook lagi. ga sholat Maghrib lagi... sableng! XD)

Dehidrasi...

baru hari ketiga di asrama aku sakit. panas di tenggorokan, udah gitu demam keesokannya. aku sudah berusaha menanggulangi dengan Adem Sari dan Decolgen. tapi tak ada perubahan berarti. hari kelima aku ke klinik di sebelah asrama. aku diperiksa dan diberi obat, gratis. selama ada Kartu Mahasiswa, aku berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. hehe...

benar-benar payah.. setelah minum obat, badanku lemas. keesokannya malah aku tak bisa berbuat apa-apa. demamku makin tinggi. aku berusaha bangkit dan mengambil air untuk kompres. di kamar aku terbaring sendirian, menangis. seandainya saja ada teman sekamar, aku mungkin bisa mendapatkan pertolongan dari mereka. tetapi aku hanya sendirian.. aku merasakan hawa buruk di udara kamar ini. aku... tidak begitu menyukai tinggal di sana. bodoh, padahal dalam bayanganku aku bisa survive dan hidup mandiri di sana. kini aku merasa seperti anak manja...

aku berpikir untuk meminta Papa menjemputku hari Sabtu karena Mbah Ity rencananya akan menginap hari itu (Jum'at, 7 Agustus 2009). aku tak mau Papa dan Mbah Ity repot. bagaimana kalau aku meminta dijemput sekarang? aku tak tahan... tetapi itu berarti meninggalkan Mbah Ity di Mojokerto.

hp-ku berdering. sms dari Papa. Mbah Ity tidak jadi menginap karena Jum'at malam harus ikut pengajian. selain itu, hari Sabtu Mbah Ity akan ke Jakarta. aku lemas saja membaca sms itu, menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan. setelah beberapa lama di tempat tidur, aku memutuskan untuk pulang harti itu juga. aku sms Papa agar Papa meneleponku. lama sekali tak ada jawaban. aku bangun dari tempat tidur dan mengemasi baju-bajuku. seandainya Papa tak memberikan jawaban, aku akan tetap pulang sendiri. tapi aku takut juga, karena kondisiku lemah sekali. aku tak yakin nanti bisa bertahan apa tidak, terutama jika ada yang menyerangku.

untunglah Papa meneleponku. rupanya sms itu lama sampainya ke Papa. Papa bertanya ada apa. aku meminta Papa menjemputku, dengan suara gemetar. tanpa bisa kutahan, aku menangis. Papa mengerti. Papa segera berangkat.

aku keluar untuk berpamitan pada Ibu Nur. Ibu Nur memaklumi dan berpesan agar aku cepat sembuh. aku mengunci kamar dan menaruh kuncinya di tempat Ibu Nur mengambilnya dulu, ketika pertama kalinya aku masuk ke kamar itu. kubawa tas dan jaketku ke ruang tamu asrama supaya ketika Papa datang aku bisa segera pulang. aku.. merasa tak nyaman di kamar itu.

lama sekali Papa datang. aku menunggu dengan gelisah. aku ke kantik fakultas Ilmu Budaya, tempat aku biasa makan, untuk membeli minuman. aku tahu seharusnya aku tak minum minuman ringan yang manis seperti Fruitea karena akan memperparah batukku. tapi aku tak bisa menahan keinginanku. selain itu aku membeli Aqua dan tisu. aku kembali ke ruang tamu asrama. di sana hanya ada beberapa anak menonton televisi. barulah kali itu aku menonton tv lagfi. aku baru tahu ternyata Mbah Surip dan Rendra telah meninggal dan keduanya dikuburkan di pemakaman Bengkel Teater milik Rendra. Papa mempunyai kenangan tersendiri tentang Rendra. Papa-lah yang menajdi saksi ketika Rendra menjadi seorang mualaf. sebenarnya Papa berniat menjemputku hari Minggu supaya aku bisa mempersiapkan segala sesuatunya untuk perkuliahan lebih awal. aku memang berencana pulang tanggal 12 untuk membeli rok putih (pengukuhan mahasiswa baru oleh rektor tanggal 18 di Auditorium kampus C dan kami diwajibkan memakai pakaian putih-putih). tanggal 11 aku ada janji dengan Divo, online di YM dan mengerjai Kamil lagi :D makanya kupilih tanggal 12. tapi aku sakit dan aku ingin pulang hari itu juga.

setelah satu jam lebih Papa datang dan membawa galon untukku di asrama. aku sangat bersyukur dan berterima kasih. aku memeluk Papa dan menangis. persis anak kecil. Papa mengerti ketakutanku. aku kembali ke kamar untuk menaruh galon itu. aku bertemu Mbak Uchie, penghuni kamar 11 yang meminta gula Mbak Yessi. kami bertukar nomor hp dan dia berpesan agar aku cepat sembuh. aku melihat banyak baju kotor bertumpuk di ember kecilku. sempat terpikir untuk membawanya pulang, tapi entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku urung membawanya. aku menulis pesan pada Mbak Yessi dan aku berjanji akan segera mencuci baju-bajuku ketika aku kembali.

Papa memberiku jaket lagi untuk kupakai di atas jaketku. kali ini aku tak menolak. aku hanya ingin cepat pulang. dan kami segera pulang...

sesampainya di Mojokerto, aku merasa asing. aku tak merasakan sensasi orang yang pulang ke rumahnya sendiri. entah, mungkin karena aku sedang sakit. yang jelas aku senang bisa kembali.

Papa benar-benar memanjakanku. aku jadi merasa sedikit bersalah dan bertekad untuk cepat pulih..

aku... bahagia bisa menjadi anak kecil lagi.

i can't believe these....

kira-kira kenapa aku ga bisa percaya? ada beberapa hal yang menakjubkan, sekaligus mengejutkan. kemarin akhirnya aku masuk asrama Ekanita, asrama putri yang dikelola Dharmawanita kampus B Unair. di kamar 12 aku seharusnya bersama senior dari jurusan farmasi bernama Yessi, tetapi yang bersangkutan sedang pulang kampung. jadilah aku sendirian saja di kamar yang cukup luas itu. I was so excited, couldn't say anything about this experience.... segalanya begitu berbeda di sini. peraturan di mana-mana, bahkan untuk masalah "sepele" seperti urusan kamar mandi. di keempat sudut asrama ada kamar mandi, yang terbagi untuk para penghuni beberapa kamar. misalnya, kamar mandi di sudut pertama adalah untuk para penghuni kamar 1-5, dan seterusnya. setiap kamar mandi memiliki peraturannya sendiri-sendiri. lucu dan unik. intinya, setiap pemakai kamar mandi harus menjaga kebersihan dan menghemat air yang ada. dilarang juga untuk seenaknya saja "menyelundup" ke kamar mandi orang lain. aku pernah masuk ke kamar mandi untuk kamar 6 kalau tidak salah. aku bingung menemukan banyak kertas peraturan ditempel di dindingnya. dan aku merasa lucu sekali menemukan peraturan di kamar mandi itu yang menyebutkan "antri mandi memakai handuk". aku tak bisa membayangkan sederet gadis mengantri di luar kamar mandi hanya menggunaka handuk saja. pastilah paradis tersendiri untuk para cowok ^^;

di kamar mandi bagian kamar 11-16, peraturannya seperti umumnya, membersihkan kamar mandi setidaknya seminggu sekali dengan urutan giliran yang tela ditentukan. kamar mandinya ada 3 dan toilet 2. kamar mandi 1 hanay boleh digunakan oleh mereka yang namanya tercantum di pintu kamar mandi. begitu pula dengan kamar mandi 2 dan 3. aku kan masih baru, jadi belum tahu apa-apa. aku juga sebenarnya kurang nyaman dengan peraturan itu. aku suka mandi, dan sesak juga rasanya kebebasan untuk mandi jadi berkurang, apalagi kita harus menghemat air yang ada. jika air habis, ya harus mengambil di tando untuk mandi. pemakaian pompa air listrik dibatasi pada jam-jam tertentu: pagi mulai jam 5 sampai jam 7 dan sore pada jam 3 sampai jam 5. lagi, jika ada penghuni kamar yang tidak berhak memakai salah satu kamar mandi(yang namanya tidak tercantum di pintu masing-masing kamar mandi), dia harus "mengganti" air yang dia pakai dengan mengambil dari tandon. itu pun jika dia tahu diri. peringatan itu terasa tajam menusuk. tetapi biar bagaimanapun juga aku harus bisa menyesuaikan diri. aku berinisiatid menanyakan pada Mbak Itiana, penghuni kamar 11 tentang kamar mandi mana yang berhak aku pakai. aku tak mau lancang, hanya karena aku anak baru. Mbak Itiana sendiri nampaknya kebingungan. tetapi dia bilang aku boleh pakai kamar mandi 1 untuk sementara.

aku tak mengira bahwa kesan pertama yang aku dapat ketika masuk asrama ini adalah "kesengsaraan" kupikir semua akan berjalan lancar dan bahagia. ya, seharusnya aku bahagia karena aku akan menjalani kehidupan baru di kampus. suasana yang pasti akan berbeda dengan kehidupan belajar SMA, apalagi SMP (atau SD???). tetapi aku mengalihkan perhatianku untuk bersedih-sedih ria, karena aku sendiri yang telah bertekad untuk tawakkal. aku memutuskan begitu karena aku tak tenang melihat Papa yang sedih, putus asa, dan merasa bersalah karena tak bisa memberiku lebih banyak materi untuk bekalku mengawali perjalanan hidup mandiri ini...

aku bisa survive kok. aku yakin! Allah pasti akan melindungiku, bukan? aku tahu aku bukanlah hamba favoritNya, tetapi aku selalu yakin Allah mencintai semua makhlukNya, bahkan yang berdosa sekalipun...

untuk mengalihkan perhatianku, aku membaca novel Harry Potter and the Deathly Hallow milik Mbak Yessi (maaf ya, Mbak.. ^^;) aku hanyut dan tenggelam dalam alur cerita yang dengan piawai dituturkan J.K. Rowling itu. tak terasa berjam-jam aku melewatkan waktu, sampai lupa shalat dan tidur ^^;

hmm.. tapi harus kuakui aku agak "tersiksa" dengan kurangnya materi. aku hanya dibekali uang 30 ribu rupiah, sementara mulai tanggal 4 (hari ini) hingga tanggal 18 semua pengurus libur. ini yang aku takutkan. jadi kurang lebih selama 2 minggu aku tidak mendapat makanan. ya, jika pengurus libur, penghuni asrama tidak mendapat makanan dan jasa cuci. bagaimana yah aku bisa bertahan dalam waktu 14 hari dengan uang 30 ribu? aku berseloroh pada Kay dengan "mengajaknya taruhan" kira-kira berapa hari lagi aku mati :p Sialnya, sms itu malah nyasar ke Papa. aku tak tahu bagaimana bisa, tetapi ini bukan yang pertama kalinya sms itu nyasar ke addresse yang kebetulan dikirim bersamaan dengan addresse yang lain. mungkin tertukar, tapi itu alasan yang hampir nonsens. aku berharap-harap cemas semoga Papa tidak menyadari maksud sms itu, atau paling tidak, tidak menjadikannya sebagai masalah besar. untung saja Papa tidak membahasnya lebih lanjut. alhamdulillah... (fiuuu.. O_o')

satu hal yang membesarkan hatiku, aku masih aka mendapat makan malam itu. dan urusan besok.. aku yakin baik Papa maupun Mbah Ity tidak akan diam begitu saja, karena mereka juga mengetahui duduk perkaranya. bahkan mendengarnya sendiri dari Ibu Nur yang menjadi pengurus asrama mengenai liburnya para pengurus yang biasanya mencuci dan memasak untuk penghuni asrama. aku yakin keesokan harinya Papa akan membawakanku sedikit uang saku. aku tahu kondisi kami saat ini. begitu sulit dan membuat stress. terakhir aku di rumah, Papa tengah putus asa karena pak Taufik, tetangga kami, yang memesan lukisan belum juga memberikan uang muka. padahal tadinya uang muka itu untuk bekalku. tapi aku berusaha memaklumi dan dengan percaya diri aku yakin bisa survive. mau tak mau, kan?

tapi meski begitu, aku nekad juga. siangnya aku tak makan, melainkan online ke warnet di depan asrama. tak begitu nyaman, karena tak ada headset dan browsernya juga hanya Mozilla yang sepertinya kurang layak dipakai. aku bertekad akan mencari warnet yang lebih nyaman keesokannya jika aku dapat uang. boros ya? tapi aku stress dan aku mencari hiburan. tak terasa 5500 rupiah melayang untuk online. can you imagine? padahal uangku sangat sedikit! belum lagi aku tak punya air. aku tak menyangka asrama tak menyediakannya dan para penghuni diwajibkan membawa galon sendiri. tapi aku yakin Papa akan membawakannya keesokan hari. belum lagi aku tak punya penolak nyamuk, jadi aku berjalan kaki cukup jauh mencari minimarket atau semacamnya lah. aku tak menemukannya, padahal kakiku sudah sakit akibat sepatuku. dan itu malam hari, membuatku agak was-was juga. tak menyangka aku senekad ini. tetapi yang lebih mengherankanku adalah mengapa kali ini aku begitu terintimidasi? aku biasa berjalan sendirian. aku mandiri. tapi mengapa??? akhirnya aku menemukan suatu jawaban yang cukup masuk akal: Surabaya adalah kota besar. kejahatan selalu siap menyergap mangsanya yang lengah. maka aku berdoa setengah memohon pada Allah agar aku dilindunginya...

aku hampir mengumpat ketika tahu harga penolak nyamuk adalah 8500 rupiah. mau tak mau aku membelinya, karena aku butuh dan lagi aku sduah terlanjur bertanya-tanya. malu donk kalo ga beli?? sebenarnya bsia saja aku meminta penolak nyamuk Mbak Yessi. tapi aku rasa itu kurang sopan. aku harus menghargai barang-barang miliknya, sekalipun yang bersangkutan tidak ada. saking hati-hatinya, aku bahkan tak berani mebmbuang kertas instruksi pemakaian Albothyl yang ada di atas tempat tidurku. mengingat sepertinya dia anak Farmasi (kulihat dari buku-bukunya), mungkin saja itu berharga kan? oh ya, kesanku ketika memasuki kamar itu, Mbak Yessi mungkinlah seorang yang childish. aku menganggapnya begitu karena di dinding tertempel jadwal kuliah dan kata-kata motivator yang ditulis dengan krayon, persis coretan anak TK. ditambah dengan tulisan "kuliah itu cepet ko! Yessi Endah love Mom" tadinya kupikir Yessi Endah adalah 1 orang. tapi ada spasi di antara nama-nama itu yang seolah menegaskan bahwa itu adalah nama 2 orang. benar saja, ketika aku makan malam di ruang makan, aku mendengar seniorku yang menyebutkan nama "Endah". sepertinya sebelumnya dia tinggal sekamar dengan Mbak Yessi, tapi pindah.

malam tadi sungguh berat. kepalaku pusing karena tak terisi makanan. kalau saja Mbak Itiana tak mengajakku makan tepat pada waktunya, mungkin aku sudah pingsan. membaca Harry memang membuat otak dan hatiku kenyang. tapi aku tak bisa berpura-pura perutku tidak lapar. biskuit dari Mbah Ity tak banyak membantu. aku harus memompa air dari galon mbak Yessi sebelum bisa minum. tak segampang kelihatannya, karena meski aku sudah memompa berulang kali, aku hanya mendapatkan sedikit air. aku tak tahu mana yang tak beres, pompanya atau tanganku?

hari ini Papa datang membawakan peralatan yang kubutuhkan. sambil mengajakku ke kantin, Papa menyerahkan uang 400 ribu. aku bersyukur sekali. di kantin, Papa hanya memesan Pepsi dan aku langsung menyerang nasi ayam karena aku dari pagi memang belum sarapan. Papa bilang 200 ribu sebaiknya diserahkan dulu untuk membayar biaya asrama bulan September. memang masih kurang 150 ribu, tapi aku yakin Ibu Nur bisa maklum. sementara 200 ribu bisa kujadikan pegangan. seandainya Bu Nur menolak dengan alasan bisa dibayar awal September nanti, aku harus menyimpannya. aku mengangguk patuh. oh ya, aku bisa masuk asrama ini karena bantuan Mbah Ity. Mbah Ity yang menanggulangi biaya masuk asrama untuk bulan Agustus. kemarin ketika kami bertiga sampai di asrama, Papa menjelaskan bahwa kami belum bisa membayar dua bulan sekaligus dan menyerahkan uang 350 ribu untuk membayar bulan Agustus ini. Ibu Nur sangat memakluminya dan mengatakan bahwa aku bisa membayarnya lagi bulan September. tapi kami tak mau punya beban dan berniat membayar sisanya hari ini karena hari ini Mbah Ity baru mendapat uang pensiun. aku sangat berterima kasih pada Mbah Ity dan aku rasa hanya prestasilah yang dapat membayarnya....

meski begitu, ketika aku mendapatkan bantuan biaya hidup dari beasiswa, Mbah Ity mengharapkan aku mengganti paling tidak 500 ribu saja karena Mbah Ity mendapat giliran mengadakan pengajian minggu ketiga bulan ini. dan lagi, ini menjelang Ramadhan. pasti banyak sekali kebutuhannya...

begitu Papa pulang, aku menemui Bu Nur. dan seperti dugaanku, beliau mengatakan sebaiknya aku membayar awal September saja. aku bersyukur. setidaknya aku punya pegangan lagi...

siang ini, aku memutuskan untuk mencari warnet yang layak. warnet di sekitar kampus sepertinya tak ada yang menyediakan headset. jadi aku harus berjalan jauh demi online! aku sekilas berpikir aku ini gila karena rela berjalan jauh hanya untuk mendengarkan koleksi laguku. mungkin ini takkan terjadi seandainya aku punya MP3 player... ah, tak ada guna aku sesalkan! aku memilih untuk tetap berjalan. di tengah perjalanan, aku melihat toko alat tulis dan aku mampir untuk membeli peralatan tulis sekalian menanyakan warnet terdekat. tapi nyaliku ciut begitu tahu harganya sangat mahal. aku menghabiskan 16 ribu hanya untuk pensil, isi pensil, dan refill loose leaf. tadinya aku mau membeli spidol dan lainnya, tetapi aku tak berani merogoh kocek lebih dalam. sempat juga terlintas untuk membatalkan niat online. tapi akhirnya aku tetap pada tujuanku semula. aku mengumpat dalam hati dan aku belajar bahwa kalau ingin belanja sebaiknya di Mojokerto saja. sekarang aku sudah di warnet dan lega sekali mendapati headset bertengger manis di atas CPU. kalau tidak, aku mungkin frustasi karena menyadari aku ini gila. sekali lagi, demi sebuah warnet yang ada headsetnya.

fuuhhh.. aku tak tahu kapan lagi bisa online, mengingat jauhnya warnet ini. tapi aku lega setidaknya bisa melepaskan semuanya ke blog ini. selalu, aku bedoa Allah senantiasa melindungiku dari kesulitan dengan kasih sayangNya....
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates