Nakayoshi Naito 2009

tanggal 7-8 November angkatan Sastra Jepang 2009 menjalani ospek jurusan: Nakayoshi Naito. tempatnya di Pondok Indah CLaket, Pacet. aku langsung terdiam begitu memasuki kota Pacet. ini bulan November.. ya, mungkin pada saat yang sama di tahun lalu aku juga ke Pacet, bersama Hanif. aku tidak begitu ingat, dan aku belum sempat membuka arsip blogku yang lama. aku hanay bisa mengingat adegan ketika kami berboncengan naik sepeda motor, dia melepas tangan kirinya dari stang sepeda motor lalu seolah bertepuk dengan udara dingin Pacet, "udaranya enak. mirip sama di rumah Akang..."

acaranya cukup padat. aku tidak bisa menyebutkannya satu-persatu karena aku sendiri tidak bisa mengingatnya dengan baik. bodoh, padahal baru beberapa jam aku kembali dari Pacet, tapi tidak bisa mengingat apa-apa kecuali capek. yang jelas, aku tidak menangis di Pacet karena luka lamaku itu. aku tertawa bahagia, bersama teman-teman baruku sesama angkatan 2009 Sastra Jepang. yes, we are Niseikai!

ada banyak permainan menarik dan mendidik. aku kagum pada para senpaiku. mereka pasti sangat jenius sehingga bisa merancang permainan sedemikian rupa ini. ah, aku ingin menjadi panitia Nakayoshi Naito tahun depan!

permainan yang cukup seru adalah people to people. mirip sama Simon Says, tapi harus berpasangan: kohai-senpai. aku lupa siapa senpai pertama yang menjadi pasanganku, tapi untuk yang kedua, aku bersama Kahima Sastra Jepang, Gembul-senpai. aku memegang bahunya dari belakang, membuat dia kaget. semua menyaksikan kejadian itu sambil tertawa. aku jadi tidak enak pada Metha-senpai, kanojonya. tapi setelah itu, apes buatku. aku memilih Asuseno-senpai a.k.a Broedin-senpai yang terkenal sebagai nemuri senpai. aku memilihnya karena dia kocak dan gokil. tapi kenyataannya tidak selucu yang aku bayangkan. pertama, ada instruksi yang menyuruh kami untuk menempelkan hidung ke telinga teman kami. aku langsung mengkeret, sementara Broedin-senpai bilang, "sudah, terima saja!" enak aja dia bilang gitu! dan itu belum seberapa karena ada instruksi lagi untuk saling menempelkan pantat masing-masing. aku tengsin setengah mati. lalu tangan kanan memegang teliga kiri temannya, ditambah tangan kiri memegang perut temannya. gyaaa!!! aku langsung teriak dan kabur. Nene-chan terbahak-bahak menyaksikan adengan itu.

malamnya kami presentasi dan art show. baik presentasi maupun art show, penampilan kelompokku benar-benar ancur. tapi aku ga begitu peduli karena aku bisa bersenang-senang bercanda mengenai hal-hal yang sangat tidak penting.

setelah art show, kami diberi kesempatan untuk tidur. aku dan teman-teman yakin pasti ada sesuatu pada malamnya, semacam surprise dari panitia untuk kita. aku tidak sabar menantikannya, sampai hampir tidak bisa tidur.

tengah malam, kami semua dibangunkan. udara begitu dingin. aku menggigil. kami dibagi ke dalam lima kelompok secara acak. aku di kelompok satu bersama Rezar, Haru, Ian, Dian, dan Monniza. aku diberi kehormatan oleh mereka untuk menjadi ketua. aku bangga, sekalogus khawatir: tugasku ga bakalan mudah. lalu kami berangkat ke pos-pos untuk bermain game dan mendapatkan petunjuk ke suatu tempat final. di setiap pos itu, aku benar merasakan pentingnya kebersamaan, kerja sama, koordinasi, atau apapun itu istilahnya. aku merasa terharu. aku ingin seperti ini selamanya dengan mereka. kerja sama timku cukup baik, walaupun di pos 4 kami gagal. di pos ini, kami bermain balance: botol Aqua diikat dengan 7 potong tali rafia dan di atasnya diletakkan bola pingpong. kami harus membawa Aqua itu dari titik lampu menanjak ke titik lampu di atas. bola tidak boleh jatuh. waktu hanya 15 menit. permainan ini sangat sulit menurutku. koordinasi yang tepat benar-benar dibutuhkan dalam permainan ini. aku bersyukur haru masuk dalam kelompokku karena dia mengerti benar strategi yang harus kami pakai di setiap permainan. aku sampai iri padanya, dalam arti positif. ah, aku memang bukan apa-apa. tapi dengan begitulah aku harus menjadi seseorang yang mampu memimpin dengan lebih baik lagi!

bola jatuh sampai 3 kali. tapi kami tidak menyerah, sampai akhirnya kami menyelesaikannya. panitia bilang kami kelebihan 4 menit. kami tidak dapat poin, tapi kami mendapatkan petunjuknya.

kami ke pos lain. di pos terakhir, masing-masing dari kami diwawancarai oelh panitia, di tempat terpisah. aku diwawancarai oleh Upi-senpai. senpai yang baik hati. dia menanyakan padaku apa arti kebahagiaan, kesabaran, segala sesuatu yang ada hubungannya dengan prinsipku. aku menjelaskan dengan antusias sampai akhirnya aku merasa sungkan. sepertinya aku terlalu banyak mulut. tapi tak apa, aku senang bisa mengutarakan apa yang ada di pikiranku.

kami mendapatkan semua petunjuk. kami merangkainya. lalu jadilah kalimat: "Menghadaplah Aku seketika itu diberkahi jiwamu" aku merinding. benar-benar religius, menggungah hati kecilku hingga sampai ke tingkat takut yang setakut-takutnya. dari petunjuk itu, kami menyimpulkan bahwa tempat yang dimaksud adalah musholla. tapi aku takut begitu melihat musholla yang begitu sepi. anak-anak juga tidak yakin. akhirnya kami semua pergi ke lapangan tempat api unggun tengah dipersiapkan.

kami semua berjuang melawan dingin. untunglah aku dipinjami jaket oleh Dian. api unggun dinyalakan. permainan yang sesungguhnya akan dimulai. panitia menanyakan kelompok mana saja yang tidak pergi ke musholla, yaitu tempat yang seharusnya kami datangi jika kami bisa memecahkan petunjuk itu. dari 5 kelompok, hanya kelompok Alfi saja yang pergi ke musholla. sedangkan keempat yang lain tidak pergi. ternyata sebagian besar dari kami semua berpikiran sama, tidak yakin dengan petunjuk yang ada. padahal di sana kami akan dibagikan pin Niseikai. benar-benar teledor. aku mengira kami akan dimarahi karena keteledoran itu. tapi tidak. kami tetap dibagikan pin. aku lega, sampai kami menyadari bahwa ada satu orang yang tidak mendapatkan pin.

inilah masalah intinya. ternyata semua kelompok juga harus mengorbankan satu orang. orang itulah yang tidak mendapatkan pin. Rezar mengalah untukku, karena dia tahu tanpa pin itu aku tidak memiliki kesempatan untuk menjadi Kahima. pin itu memang tidak seberapa nilainya, tapi artinya sangat penting. pin itu adalah simbol kami, penanda bahwa kami adalah anggota resmi Niseikai, Sastra Jepang UNAIR. hampir semua menolak menerima pin itu jika ada anggotanya yang tidak kebagian. senpai menyerang argumen kami. apakah kami setolol itu sehingga mau mengalah demi orang lain? bagiku, jika mengalah demi teman yang juga berhak untuk mendapatkan sesuatu yang sama dengan kami adalah tolol, maka aku ingin menjadi orang tolol. aku sebagai ketua merasa sangat tidak becus sehingga menyebabkan kami gagal dalam satu pos dan itu berakibat pada pembagian pin ini. seandainya kami berhasil di semua pos, masing-masing dari kami akan mendapat pin. tapi aku bersyukur, inilah training bagi kami, agar kami bisa mengerti apa arti kebersamaan. antara senpai dan kohai beradu argumen, mengenai pembagian pin ini. senpai menekankan kepada kami, apa kami mau berkorban demi orang lain? dan kami menegaskan: ya. kelompok Didin misalnya, mereka tidak mau menerima pin itu jika ada yang tidak kebagian. aku salut pada kegigihannya. senpai terus memaksa agar Didin membagikan pin itu kepada siapapun yang ada di dalam kelompoknya yang dianggap brehak menerima pin itu. tapi Didin tetap tidak mau. Wawan-senpai bertanya, siapa yang mau berkorban untuk kelompk mereka? aku, yang ada di sebelah kelompok Didin menyerahkan pinku. Didin kaget. dan menolaknya. aku emosi, dan aku memaksanya untuk menerima pin itu. Haru mem-back upku dengan menyerahkan pinnya.

Totot-senpai bertanya padaku, "Cha, siapa dalam kelompokmu yang belum mendapatkan pin?" aku belum selesai menjawab, Totot-senpai melemparkan pinnya kepadaku. aku kaget. lalu, bersamaan dengan terbitnya matahari, para senpai memberikan pinnya kepada mereka yang tadinya belum mendapatkan pin.

ya, saat itulah aku menangkap arti nakayoshi. senpai telah mengajarkan kepada kami malam itu. aku terharu, menatap pinku dengan bangga. ini adalah pin yang diberikan senpai kepada kami. Rezar menyalamiku dan bilang, "keren kamu Cha, itu pinnya senpai. kalau begitu aku merestuimu menjadi Kahima. tapi bukan berarti tanpa perlawanan dariku ya..." aku hanya tersenyum sambil merenungkan pertanyaan yang terlintas di benakku: pantaskah aku menjadi ketua?

namun, walaupun aku bukan siapa-siapa, aku berusaha menjadi seseorang yang pantas menjadi pemimpin.

setelah merenungkan satu visi yang telah kami capai, kami main basah-basahan. perang air antara peserta dengan panitia, dilanjutkan dengan acara saling menceburkan satu sama lain ke kolam villa

nisekai aidai

aku pun tak luput dari sergapan Kie, Risda, Pika, dkk ^^;

begitu pulang, aku menemukan kenyataan bahwa kebersamaan itu hanyalah sesaat saja. aku menemukan beberapa di antara kami kembali menjadi individualis. misalnya, ketika Dewi-senpai membawa tasnya masuk ke dalam bus, dia kelihatan kesusahan. tak ada yang berinisiatif menolong pada awalnya. aku ingin menolong, tapi terhalang oleh Ian yang duduk di sampingku. aku menyesal tak dapat menolongnya. tapi untung Dina menolong. itu memberiku secercah harapan: kami pasti bisa benar-benar bersatu. amin..

viva Niseikai!

UTS minggu kedua

huaa... ini sudah memasuki minggu kedua UTS. inilah saat-saat nightmare, karena mata kuliah yang diujikan mulai masuk dalam kategori sulit. PPKN, IAD, Hyoki, huaaa.... bisa botak aku! belum lagi 5 tugas yang harus disubmit setelah UTS. mati aku...

tugas-tugas itu antara lain tugas Agama (kelompok 4 mendapat giliran presentasi setelah UTS), tugas makalah Bahasa Indonesia, tugas PPKN (aku mendapat giliran pertama, jadi harus presentasi setelah UTS), tugas mebuat presentasi budaya Jepang untuk Nakayoshi Naito, lalu yang deadlinenya sudah dekat, Etika: berpartisipasi dalam lomba poster ilmiah. deadlinenya adalah hari ini. benar-benar bikin stress. bagaimana engga, kelompokku mengalami banyak kendala dalam pembuatannya. mulai dari jadwal yang selalu molor, ga ada kendaraan, ga punya kamera, sampai autisme-ku yang kumat ^^; tapi alhamdulillah akhirnya hari ini juga selesai! terima kasih Ya Allah...

fuh.. hari ini aku ujian Hatsuon dan Ilmu Alamiah Dasar. aku ga belajar secara maksimal untuk ujian hari ini, karena kemarin sepulang mengerjakan poster itu aku benar-benar capek. mau diajak belajar ya mogok. kemarin malam sih aku tidur saja. lalu paginya aku engga sempat belajar karena harus hunting foto anak-anak jalanan dengan kamera hp Amel. Hatsuon alhamdulillah tidak ada kesulitan. tapi untuk Ilmu Alamaiah Dasar... mari kita menyanyi viva autisme! wakakakk... aku hanya bisa menjawab separo dengan yakin. selebihnya ya pake "aji-aji pangawuran". tapi aku 100% mengerjakan sendiri. eh, tadi ada soal yang isinya asli keren abis. intinya kita disuruh menjawab dengan jujur apakah kita mengerjakan sendiri ataukah meminta bantuan dari orang lain. ya aku jawab mengerjakan sendiri donk.. aku kan ga pernah nyontek. hehehehe...

oh ya, ada cerita konyol kemarin. kemarin sebenarnya ga ada UTS maupun kuliah (ada sih, UTS Hatsuon, tapi Rizky-sensei ga bisa jadi ditunda sampai hari ini). begitu keluar asrama, aku bertemu Itagaki-sensei yang berjalan terburu-buru. aku menyusulnya dan menyapa, "Ohayou gozaimasu, sensei.." tapi ternyata yang bersangkutan lagi dengerin mp3. tapi akhirnya dia melepas headsetnya dan menjawab salamku. dan tahu apa yang selanjutnya terjadi? dia mengajakku bicara dalam bahasa Jepang yang sangat cepat sehingga aku hanya bisa "Patrick Star mode: on". aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia bicarakan. baka! XD

oke... itulah cerita tentang minggu kedua UTSku. masih banyak UTS lain menunggu. besok UTS Hyoki, momoknya anak Sastra Jepang. yah, mudah-mudahan aku bisa mengerjakannya dengan baik. amin ya rabbal alamin...

UTS, kemarin dan hari ini

kemarin aku online sebelum UTS Etika. aku datang di fakultas jam 11 kurang 5. aku pikir aku belum telat karena menurut jadwal, UTS Etika dimulai jam 11.15. tapi ternyata Pak Moses dan beberapa anak sudah berada di dalam kelas 302, bersiap-siap untuk memulai ujian. aku heran dan melirik jam tanganku. masih belum jam 11.15. tapi mengapa sudah mau dimulai? panik, aku buru-buru duduk di bangku nomor 2 dan mempersiapkan alat tulis, KRS, juga KTM.

soal etika sebenarnya tidak terlalu sulit. semua mengandalkan kemampuan kita menganalisis pertanyaan dan mengungkapkan pendapat kita sendiri terhadap soal-soal itu. tapi berhubung aku tidak konsentrasi, jawabanku jadi acak-acakan. dari 4 soal esai yang ada, aku hanya yakin pada jawaban untuk nomor 4. heu.... baiklah, aku coba menuliskannya di sini, sekalian untuk mengingat-ngingat soal sial yang membuatku pusing itu:

1. jelaskan pengertian etika dan ruang lingkupnya!
2. menurut anda, apa manfaat anda mempelajari etika bagi diri anda sebagai mahasiswa Universitas Airlangga dan sebagai anggota masyarakat?
3. jelaskan perbedaan etika, etiket, moral, hukum, dan agama! berikanlah masing-masing contoh konkritnya!
4. bagaimana anda menjelaskan hati nurani retrospektif dan hati nurani prospektif? berikanlah masing-masing contoh konkritnya!

aku hanya bisa menepuk dahi begitu melihat soal-soal ini.

menghadapi soal pertama, aku berusaha mengingat-ngingat apa yang tertulis di slidepresentasi Pak Moses maupun di catatanku. aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. maka dari itu aku merangkai kata-kata saja. untuk nomor dua, aku ingin muntah. di sinilah aku sebagai pentolan anak bahasa mempraktekkan teknik "menggombal". yah, aku mengakui sendiri bahwa jawabanku benar-benar tidak bermutu. banyak coretannya. aku memang tidak menggunakan tipe-ex karena aku pikir akan lebih cepat dan rapi jika aku cukup mencoret kata-kata yang salah. tapi bagusnya, jawabanku jadi penuh dengan ornamen coretan, apalagi di nomor 3. ugh! itu benar-benar soal yang membuatku mati kutu. mana poin terbesar terletak di nomor itu lagi... dan aku tidak bisa memberikan jawaban yang bagus! aku ingin menangis rasanya...

huff... itulah sekilas tentang akibat aku tidak belajar dengan serius kemarin.

belajar dari pengalaman itu, aku berusaha untuk lebih serius dalam persiapan menghadapi UTS Bahasa Indonesia hari ini. tadi malam aku berusaha untuk membaca buku bahasa Indonesia yang sudah kubeli. tapi aku begitu mengantuk dan akhirnya kuputuskan untuk tidur saja. paginya aku bangun dan mulai belajar lagi. memang ada momen-momen aku blank. tidak konsentrasi sepenuhnya. tapi kali ini aku belajar dengan cara yang berbeda: menerka kira-kira seperti apa soal yang keluar. dari soal Etika kemarin, aku mengambil hipotesis bahwa soal UTS di dunia perkuliahan lebih banyak menuntut kita untuk belajar kritis dan mandiri. jadi akan ada banyak soal yang memerlukan jawaban yang panjang dan berbelit-belit bersumber dari pemikiran kita sendiri mendominasi soal UTS. maka aku membaca catatanku (yang tentunya jauuuhhh lebih ringkas dari buku bahasa Indonesia yang bertele-tele itu) dan mencoba berpikir ala dosen. "kalau aku jadi dosen, soal apa yah yang akan aku berikan kepada mahasiswaku?" gumamku. lalu aku menemukan perkiraan soal mengenai fungsi bahasa. memang di catatanku hanya disebutkan tentang fungsi-fungsi bahasa secara pokok, yaitu fungsi komunikasi, ekspresi diri, integrasi dan adaptasi sosial, serta kontrol sosial. aku mencoba menguraikan penjelasan mengenai itu. feelingku mengatakan soal semacam ini akan keluar. akhirnya pikiranku terpusat untuk menguraikan fungsi-fungsi bahasa itu hingga energi otakku terkuras. akibatnya, moodku down untuk mempelajari yang lain. bodoh... tapi aku tetap berusaha membaca bab-bab lain walaupun cuma sekilas.

jam 9 aku ke Student Centre FIB. aku dan kelompokku akan mengerjakan poster layanan masyarakat untuk Pekan Ilmiah Mahasiswa UNAIR. memang ini tugas wajib dari Pak Moses. yah, aku tak keberatan sih... malah bagus, untuk tabungan skp-ku. berkat mengikuti lomba ini, skp-ku untuk semester ini berjumlah 60. aku sudah dapat 25 poin dari PPKMB. jadi, aku akan mendapatkan 85 poin skp. sementara itu, untuk bisa lulus S1, mahasiswa harus mengumpulkan minimal 100 poin. hore! peluangku untuk bisa mendapatkan predikat wisudawan terbaik bakal terbuka neh.. hehe...

sekitar jam setengah 10 barulah semua datang. kami mulai bekerja. laptop Gisca sudah mencapai power limit. harus segera di-charge. kami bergantung pada laptopnya karena yang memiliki software image editor semacam Photoshop hanyalah Gisca. kami naik ke lantai 2 dan mencoba untuk men-chargenya di area Wi-Fi milik departemen Sejarah. sialnya, stop kontak yang ada di sini begitu tinggi, hampir mencapai langit-langit. aku yang bertubuh tinggi diminta untuk mencolokkan kabel charger ke sana. aku sudah bersusah payah meraih stop kontak itu dan berhasil memasukkannya. sialnya lagi, stop kontak itu tidak berfungsi. akhirnya kami pindah ke ruang dosen Sastra Jepang. tapi sayangnya kami tidak boleh masuk ke sana karena tidak ada penjaganya. sial 3 kali. akhirnya kami memakai laptop Dewi untuk browsing foto-foto anak jalanan. begitu searching, tiba-tiba aku mendapat ide. aku mengajak Yudiah mencari anak-anak yang biasanya menjual koran di lingkungan sekitar kampus. mereka adalah contoh image yang pas untuk tema poster kami: pendidikan untuk anak jalanan. ah, pasti keren! aku sudah antusias mencari mereka, tapi malah tidak bertemu. aku dan Yudiah kembali ke lantai 2 dengan tangan kosong.

jam 11, diskusi bubar. aku, Yudiah, Gisca, dan Dewi menuju musholla untuk mengikuti PBA. tentorku datang telat sekali, hampit setengah jam. aku sudah gelisah menunggu karena aku belum makan. akhirnya sang tentor datang dan PBA berlangsung sekitar setengah jam. masih ada waktu untuk sholat dan makan siang.

jam 1, UTS bahasa Indonesia dimulai. aku hampir bersorak kegirangan begitu melihat soal-soalnya. ternyata tebakanku benar, ada soal yang meminta kami untuk menjelaskan fungsi-fungsi bahasa! oh, terima kasih ya Allah... soal-soal lainnya pun bisa kukerjakan dengan mantap. hmm... mungkin ini masalah kepercayaan diri juga ya... sebenarnya bobot pertanyaan Etika dengan bahasa Indonesia hampir sama. tapi mungkin aku kurang percaya diri karena aku tidak belajar dengan serius. tapi kali ini aku cukup percaya diri dan bisa mengerjakan soal dengan baik. senangnya!

ya Allah, terima kasih atas segala ridhoMu ini...

UTS pertama di FIB

aku tidak bisa membayangkan seperti apa UTS di dunia perkuliahan. apakah sama dengan UTS semasa SMA dulu ataukah berbeda. aku hanya bisa membayangkan aku duduk di kelas yang sunyi sambil mengernyitkan dahi, berkutat menyusun argumen untuk sebuah esai yang diajukan sang dosen dalam UTS.

tapi kenyataannya tak sepenuhnya seperti itu. memang aku baru menjalani hari ketiga dalam UTS, tapi aku menikmati UTS yang masih sama dengan waktu SMA dulu. soalnya masih ada yang berupa multiple choice, dan cukup mudah. bedanya, jarak antar tempat duduk benar-benar diatur. aku lega, setidaknya kali ini aku bisa meminimalisir "keharusan" untuk memberi contekan kepada yang lain. selamat datang di dunia perkuliahan, dunia individualistik!

bahasa Inggris di hari pertama cukup menyenangkan. aku mendapat urutan tempat duduk nomor 4. ini lagi yang beda, urutan tempat duduk bisa berubah-ubah, sesuai dengan kebijakan dosen. soal-soal berhubungan dengan reading compherensive, banyak teks yang harus dibaca untuk bisa memecahkan soal yang ada. sama seperti SMA dulu. aku sampai bosan membacanya. apalagi banyak kosakata yang tidak aku mengerti. tapi yah, aku terka-terka saja. aku rasa untuk bahasa Inggris nilaiku tidak akan benar-benar jeblok. yang menyenangkan dari ujian hari itu, aku duduk di belakang, sementara orang yang aku sukai duduk di depan. wah, puas rasanya menatap punggungnya yang gagah itu dari belakang! aku jadi tidak perlu bersusah payah menoleh seperti biasanya. lucky ♥

hari kedua adalah Shokyuu Nihongo. aku bisa mengerjakan 98% soal dengan mantap. hanya ada dua soal yang aku ragukan. tapi aku yakin untuk Shokyuu aku tidak ada masalah.

hari ini aku akan menghadapi ujian Etika. aku ke warnet untuk mencari info tentang relativitas moral, karena tadi pagi aku membaca handout (baru sempat kubaca sekarang, padahal aku sudah menyimpan filenya lama sekali) dan menemukan kata-kata itu. tidak punya bayangan untuk menebak, aku mencoba mencari di google. tapi tetap saja menemui jalan buntu karena menurutku tidak ada yang sesuai. ah, mungkin ini juga karena aku tidak konsentrasi. saat ini aku tengah mendengarkan The One-nya Maliq & D'Essential. asyik dengan mp3-ku, jelaslah aku tidak konsentrasi. aku menutup tab google dan membika facebook :p

aku jadi merasa bersalah. saat ini papa pasti sedang berusaha keras mencari uang untuk memenuhi kebutuhanku yang makin mendesak. tapi apa yang aku lakukan? tidak ada, selain menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting. memang aku mengurangi jatah makan siangku dengan berpuasa. tapi aku merasa....

Allah, kekasihku, maafkanlah hambaMu ini....

Nonton Yosakoi di Taman Bungkul

hari ini aku bangun pagi-pagi untuk menonton lomba Yosakoi di Taman Bungkul Surabaya. kenapa aku begitu bersemangat? karena aku akan bertemu dengan orang yang aku sukai =3

tapi harapan itu hampir patah ketika Ephine sms. dia bilang dia tidak bisa datang jam 6.15, sesuai jadwal. alasannya: air di kamar mandi kosnya mati. dia mau ngungsi ke kos temannya, tapi sang teman belum bangun. jadi paling dia bisa datang jam 8.

aku hapir saja jatuh dalam kondisi bad mood yang parah dan ingin sekali mengatakan pada Ephine, "baka!"

tapi ya apa pula perlunya aku marah-marah begitu? memangnya bisa mengubah keadaan? aku jadi ingin nangis.. T^T

sempat terpikir minta tolong Sanji-senpai untuk menjemputku. tapi.... dia sudah terlalu baik padaku. aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan orang lain. itu sama saja kalau aku ini licik. aku tidak mau seperti itu.

aku murung. masa aku batal pergi? aku tidak bisa bertemu orang itu donk? ah, aku pasrah saja akhirnya. biar bagaimana juga aku harus menemui Rio. mungkin dia punay ide bagus.

ketika Rio sms dan memberitahu dia sudah ada di tandon FIB, aku segera ke sana, dengan wajah yang tetap saja murung. di sana para penari Yosakoi sudah berkumpul. senpai-senpai menyapaku, tapi aku malah mengacuhkan. aku menemui Rio dan kaget menemukan orang yang aku sukai belum datang. akhirnya aku meminta Rio untuk menjemputnya. Rio pergi dan lama sekali kembalinya. aku jadi khawatir. bagaimana kalau dia tidak jadi datang? aku memasang muka mendung sepanjang penantian itu. senpai-senpai memperhatikanku. bahkan Niken-senpai dengan penuh perhatian bilang, "dek, kamu sepertinya sedang memikirkan masalah yang berat sekali." aku hanya tersenyum padanya. aku sebenernya tak ingin memasang wajah sedih di depan mereka. aku hanya ingin memasang muka sedihku di depan orang yang aku suka, supaya dia tahu aku sedih dan dia menghiburku...

persiapan selesai. Rio dan orang itu belum datang juga. akhirnya aku bareng Niken-senpai. aku takut, apakah aku terlihat seperti menghindari Sanji-senpai? tadi dia menawari untuk mengantarku ke taman Bungkul. tapi aku malah bareng Niken-senpai. aku bukannya bermaksud acuh atau jahat atau selabelnya lah. aku cuma tidak enak aja, kalau aku terus-terusan dengan Sanji-senpai, aku pasti akan tergoda untuk memanfaatkannya. aku tidak mau. aku yakin senpai orang yang baik dan aku juga tidak mau menjadi orang jahat dengan memanfaatkan kebaikannya.

akhirnya kami sampai di taman Bungkul. kami buru-buru karena acara akan dimulai. kostum Nisekai menurutku lumayan. percampuran antara baju adat Bali dengan kimono Jepang. nice, tapi ga norak. aku bertemu Nene. kami berbaur dengan penonton. pesertanya mulai dari SD, SMP, SMA, dan Universitas. wajahku yang sedari tadi dingin perlahan mencair seiring dengan berjalannya pertunjukkan. penampilannnya bagus-bagus. aku jadi bersemangat ingin ikut Yosakoi juga. tahun depan pasti aku akan main di panggung itu. ya, aku akan berusaha!

tiba-tiba Rio datang dan membawakan Aqua pesananku. aku melihat orang yang kusukai juga datang. rasanya pingin nangis. aku bahagia sekali. apalagi waktu dia menjabat tanganku dan duduk di sampingku. aku mau mati! rasanya senang, ga bisa diungkapin dengan kata-kata. tapi kesenanganku tidak berlangsung lama karena dia pergi membeli minuman dan tidak kembali lagi.

semangatku turun. tapi setidaknya penampilan para peserta membuatku terhibur. penampilan Niseikai Aidai sangat bagus. energik. aku ingin menari seperti itu tahun depan! yatta!!

aku celingak-celinguk mencari orang yang aku sukai. beberapa kali aku menangkapnya melalui ekor mataku. aku senang, lalu mengalihkan mataku ke arah panggung tempat para peserta menari. begitulah yang kulakukan berulang-ulang. sampai akhirnya dia benar-benar menghilang dari jangkauan mataku. aku panik. aku berdiri dan berpura-pura mencari Niken-senpai. sialnya, aku terpeleset. celana jeansku belepotan lumut. aku malu. tapi untung orang yang aku sukai tidak melihat. kira-kira begitu. aku tidak begitu yakin karena aku tidak menemukannya. ah, semoga saja dia tidak melihat kejadian itu. gara-gara kejadian memalukan itu, aku jadi ingin cepat pulang. untung Farissa akan pulang. aku ikut dengannya naik bemo. dia turun di Royal. dengan petunjuk yang diberikan Farissa, aku pulang sendirian. dan alhamdulillah aku pulang ke asrama dengan selamat.

hari ini begitu menyenangkan, sekaligus menyedihkan. wahahaha.... I feel so good right now :)

Menyambut Miyabi dengan Pena

Senin, setelah kuliah bahasa inggris, aku, Dina, Nene, Farissa, dan Kome berdiskusi tentang Miyabi. Kome yang tidak tahu apa-apa tentang Miyabi kaget begitu aku beritahu bahwa Miyabi adalah bintang film porno. aku sendiri juga baru tahu dari obrolan Ian dkk yang menyebut-nyebut nama Miyabi. seperti apa orangnya, aku tidak tahu. yang jelas aku tidak akan langsung mencelanya walaupun aku tahu dia seorang bintang JAV, secara aku sendiri belum mengenalnya.

terinspirasi dari diskusi asal-asalan itu, aku jadi ingin menulis opini tentang Miyabi. malam itu juga aku mencari info tentangnya di Internet. lalu aku menulis draft opini. tapi otakku buntu. aku tidak dapat berpikir jernih. entah mengapa aku ingin sekali menulis tentangnya. yah, mungkin karena ambisi ingin karyaku dimuat di koran dan ingin mendapat honor kali ya.. maklum, mahasiswa miskin Indonesia. hohohoo...

besoknya, aku tidak konsentrasi pada kuliah Shokyuu Nihongo. aku malah membuka binder besarku dan mencoret-coret draft dengan penuh semangat. aku tidak peduli draftku kacau-balau, yang penting aku harus menuangkan semua ideku. tapi mungkin karena kebanyakan yang ingin dituangkan, aku jadi bingung mau menulis apa. tetap saja buntu. aku ingin supaya hatiku tenang dan bisa refreshing sebentar saja. aku sampai berniat absen mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar. tapi setelah kupikirkan kembali, yang menjadi prioritasku adalah kuliah. jadi, jika aku mengorbankan kuliah untuk menulis opini, sama saja aku mengecewakan banyak pihak yang menggantungkan harapan padaku. aku tidak mau aku dituntut karena hal itu.

Kuliah Ilmu Alamiah Dasar begitu membosankan. dosennya kali ini Bu Endang lagi. aku tidak begitu tertarik. teori ekologi, apa pula itu? aku duduk di depan, sebelahku Sanji-senpai, Ephine, Didin, dkk. walaupun di depan, aku sempat tertidur juga. setengah sadar kepalaku bertopang pada telapak tanganku. dan saking ga kuatnya menahan kantuk, kepalaku hampir merosot dari telapak tanganku. aku segera bangun dan menoleh ke belakang, malu seandainya ada yang menyadari hal itu.

sorenya, aku ke warnet. aku menulis draft di komputer sambil mendengarkan mp3. entah mengapa, ide keluar begitu mengalir. aku langsung menulis dengan antusias. beberapa puluh menit kemudian, selesailah opiniku. aku baca kembali, tambal sana-sini, dan setelah semua kurasa cukup, aku mengirimkannya via e-mail. aku tahu, opiniku bukanlah yang terbagus, tapi apa salahnya dicoba? kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak pernah mencobanya. lagipula, sebuah ide belumlah dianggap ada jika tidak dituang dalam rangkaian kata-kata. itulah yang aku pelajari dalam kuliah bahasa Indonesia minggu lalu. terima kasih Pak Puji!

ada kendala ketika mengirim e-mail. aku mencoba mengirim via gmail.com, tetapi macet. aku refresh berulang-ulang tetap saja tidak bisa. aku log out dan coba di yahoo.com. alhamdulillah bisa... yah, mudah-mudahan sih bisa dimuat di koran. amin ya rabbal alamin.. aku belum baca koran hari ini dan aku merasa deg-degan sekali.

aku lega, karena akhirnya baru kali ini aku berani mengirimkan karya ke surat kabar. tidak seperti biasanya yang ragu atau pesimis khawatir karyaku tidak diterima, kali ini aku mantap mengirimkan dengan sebuah tekad: segala sesuatunya harus dicoba. aku melakukannya. kalaupun ada kendala, ya itu tadi. masalah teknis. tapi di dalam pribadiku aku sempat merasa khawatir, bagaimana jika karyaku benar dimuat lalu orang akan menganggapku pro Miyabi? tapi segalanya aku serahkan pada Allah Subhannalahu wata'ala. aku yakin haqqul yakin Allah tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk tumbuh begitu saja. jika memang tulisanku itu adalah sesuatu yang buruk, atau akan menimbulkan akibat buruk, aku yakin Allah akan mencegahnya. mengapa aku begitu yakin? karena aku selalu percaya bahwa Allah Maha Penyayang...

draftnya masih ada dalam flash diskku. aku simpan sebagai kenang-kenangan. diterima atau tidak, aku puas karena aku sudah berani mengirimkan karyaku.

selamat datang, Miyabi! aku menyambutmu dengan pena. semoga kamu merasa lebih baik setelah membaca tulisanku...

pulang ke Mojokerto

haa.. akhirnya aku pulang ke Mojokerto juga. sebelum pulang, aku latihan Jujitsu dulu. Ian katanya mau jemput, tapi dia ga dateng-dateng juga. waktu aku sms, dia bilang baru bangun. ya udah, aku tungguin aja. tapi dia telat satu jam. aku agak jengkel juga. tapi akhirnya aku tidak marah, karena marah juga percuma. memangnya dengan aku marah-marah bisa membuatnya lebih cepat? toh dia sudah minta maaf. untung-untung juga aku diajak latihan bareng. hari ini yang latihan cuma sedikit. dan Jujitsan yang aku sukai juga tidak ada :( yang ngajar juga kurang cakap. masa dia melatih seperti sedang mempermainkan orang? bete aku... tapi aku senang karena hari ini sudah dapat bantingan sapuan kaki. aku lupa istilahnya, tapi teniknya kita menyapu kaki lawan sehingga lawan jatuh. kupikir ini cara yang sederhana. tinggal memperdalamnya saja.

pulang latihan tadinya aku dan Ian mau ke Wapo untuk minum. tapi Wapo masih tutup dan baru buka jam sebelas. ian kecewa, aku bernapas lega. ya setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan 12 ribu untuk sekali minum kan? bisa tambah tekor aku kalau minum di Wapo. aku sih tadi terpaksa ikut karena diajak Ian. sungkan untuk menolak, secara dia baik banget sama aku. tapi alhamdulillah, Waponya tutup. jadi kami hanya beli minuman ringan di seberang jalan.

Rei sms. dia menyuruhku cepat pulang karena kami akan berangkat bersama-sama ke stasiun Gubeng. aku segera balik dan mengambil tas di asrama, tanpa ganti baju. jadi aku berangkat masih mengenakan kaos oblong dan training. parah.. tapi not bad lah... untung aku memakai jaket, jadi kaos oblongku tertutup oleh jaket itu.

perjalanan kali ini cukup lancar. tidak seperti perjalanan terakhirku dengan kereta waktu aku berangkat dari Mojokerto ke Surabaya naik KRD dengan Mbah Ity. aku dapat tempat duduk yang nyaman. tapi aku suka ga tega melihat pengemis, pengamen, atau pedagang yang bersliweran dari satu gerbong ke gerbong lain. aku merasa sakit ketika aku ingin menolong orang-orang itu, tapi kemudian menyadari bahwa aku sendiri tidak bisa berbuat banyak. sedih...

aku mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat pemadangan di luar jendela. ya, aku suka naik kereta karena perjalanan dengan kereta selalu menyuguhkan pemandangan menarik. sawah-sawah, padang rumput yang kering, rumah-rumah kumuh beratapkan seng. semuanya sangat menarik bagiku. bahkan indah. aku jadi ingat perjalananku ke Jakarta beberapa tahun yang lalu. aku menemukan pemandangan yang sangat indah: kesenjangan antara rumah-rumah kumuh di tepi kali dan lahan kosong bersaing gengsi dengan gedung-gedung pencakar langit. aku suka pemandangan kontras itu. sama seperti halnya aku menyukai pucatnya salju dihiasi tetesan darah merah yang segar.

aku sampai di Mojokerto. aku sms Papa dan dijemput tidak lama kemudian. kami beli gado-gado untuk makan siang. pelayanannya lelet. aku kesel, tapi aku maklum karena Ibu itu hanya sendirian menangani pembeli.

sesampainya di rumah, aku langsung mandi. segar rasanya. lalu makan siang dengan Papa. kami membicarakan banyak hal. aku lega, setidaknya Papa sudah berbicara dengan Bu Nur via telepon. jadi aku tidak perlu khawatir ditagih uang asrama Senin besok. aku memang belum bayar. waktu ditagih rasanya sesak. ya, tapi harus dihadapi juga. entah mengapa akhir-akhir ini kebutuhanku banyak sekali. tapi aku percaya selalu, bahwa Allah akan selalu melimpahkan rahmatNya kepada kami (amin...)

dan benarlah. Pak Bambang dan Bu Dwi mengambil lukisannya. kami diberi jeruk, salak, dan amplop berisi uang. memang tidak seberapa, tapi ya itu sudah alhamdulillah. dan aku lebih bersyukur karena setidaknya Papa sehat-sehat saja. jauh lebih baik dibandingkan kemarin-kemarin.

lalu, kami ke warnet. penyakitku dan penyakit Papa memang sama: internetholic. aku browsing di internet, berburu barang gratis. aku menemukan Xpango.com di urutan pertama. aku ingat Yongki dulu pernah menawarkanku untuk register ke sana. dulu aku tidak begitu mengerti, jadi aku tinggalkan saja. tapi kali ini aku mencoba memahami aturan mainnya. ternyata tipe MLM gitu lah. I'm sick about MLM, but I tried to keep reading. yah, kita cuma disuruh ngisi formulir data pribadi, milih gadget yang kita inginkan, lalu mengumpulkan kredit untuk mendapatkan gadget itu. caranya macam-macam. tapi yang paling gampang menurutku ya dengan mengajak teman untuk register ke sana juga. sama seperti Yongki dulu mengajakku bergabung. memang sepenuhnya gratis dan di situ tertulis bahwa itu legal. aku percaya dan register.

tapi setelahnya ada hambatan. pertama, ketika aku register dengan alamat email amaryluna-ku, tiba-tiba saja Opera error. lalu, aku coba lagi buka pakai Mozilla dan register ulang dengan alamat email luna.stellar. kali ini bisa. aku sampai pada tahap mengajak teman via email. aku yakin tidak ada seorangpun temanku yang akan membuka emailnya. jadi aku memutuskan untuk menulis pesan via fitur Notes di Facebook lalu di-share ke teman-temanku. ketika aku menulis note, aku merasa aku ini pengemis yang hina. tapi aku lanjutkan menulis karena aku ingin sekali mendapatkannya dan merasa optimis. tapi, sebelum note itu selesai, lampu mati. aku menyadari, mungkin Allah tidak meridhai. aku ragu, mungkin saja ini hanya cobaan. tadinya aku mau mencobanya sekali lagi. tapi akhirnya urung. kuputuskan untuk mendapatkannya dengan cara yang lebih mulia: mengumpulkan uang secara halal. pikiranku langsung tertuju pada dunia tulis-menulis yang dulu sempat aku geluti.

tapi sekarang aku jadi agak menyesal, kenapa aku tidak mencobanya lagi? ah, mungkin aku ini terlalu cepat putus asa ya...

ya sudahlah. kalau mau dicoba kan bisa kapan-kapan. aku ingin mencoba cara lain, yaitu dengan menulis suatu karya lalu mengirimkannya ke redaksi koran atau majalah. memang tidak bisa instan, tapi aku rasa cara seperti lebih baik. hanya saja, aku sendiri tipe orang yang kurang beruntung dalam hal gambling. mengirimkan karya kan sama seperti gambling? bayangkan, karyaku harus benar-benar bagus untuk bisa mengalahkan sekian banyak karya yang masuk redaksi itu juga. entah, aku agak pesimis. tapi patut dicoba.

ya Allah, sudikan Engkau meridhai jalan yang hamba pilih ini? berikanlah rahmatMu ya Allah....
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates