Semester 5, Titik Nol

16 September 2011 23:20 Sekarang aku udah semester 5. 3 nensei. Ngga kerasa aku udah jadi mahasiswa senior. Udah saatnya jadi dewasa. Aku masih belum bisa bayangin seperti apa tantangan yang menantiku di semester ini. Tapi, untuk mengantipasinya, aku persiapkan waktu lebih untuk belajar. Aku kurangi kegiatan organisasi-organisasi. Aku udah ngga berminat lagi terlibat terlalu mendalam di kegiatan selain kuliah. Oh ya, sekilas tentang hasil semester 4. IP turun jadi 3,71. bukan perubahan drastis emang. Tapi itu cukup untuk menjadi pelajaran bagiku. Aku sadar, aku bisa turun begini bukan karena kemampuan berpikirku menurun. Malah sebaliknya, kemampuan berpikirku meningkat sedikit demi sedikit. Nilaiku bisa turun karena aku sendiri kurang fokus. Juga karena aku terlalu sombong, mengira bisa mengatasi semua 24 sks itu dengan hebatnya. IP turun ini menyadarkanku tentang batas kemampuanku. Makanya, semester 5 ini aku mengurangi sks yang aku ambil (sampai Putri-sensei dan temen-temenku heran dan bertanya, "Yakin cuma 20 aja?") dengan harapan aku bisa bener-bener fokus. Kalau sampai nilaiku tetap atau malah turun (naudzubillah min dzalik) berarti aku bener-bener keterlaluan. Entah dengan cara apa aku bakal menghukum diri sendiri kalau begitu caranya. Oke, balik lagi ke semester 5. Aku udah memasuki awal semester. Rasanya? Agak sedikit bosan. Kalau kurasa sih, karena aku makin menyadari kalau belajar itu emang ngga selalu menyenangkan seperti yang selama ini aku tanamkan di otakku. Selama ini aku cuma menipu diri sendiri dengan menganggap bahwa belajar itu selalu menyenangkan. Aku menanamkan pikiran seperti itu karena aku ingin jadi "berbeda" dari yang lain. Kalau yang lain bilang, "Belajar itu ngga asik!" maka aku pingin bilang, "Belajar itu asik kok!" Tapi toh nyatanya ngga selalu gitu. Ada aja saat-saat aku menjadi jenuh belajar tanpa alasan. Dulu mungkin aku bisa alasan, "Ngga punya laptop. Mau belajar jadi terhalang karena ngga ada sarananya". Kalau aku pikir-pikir sekarang, sumpah alasan itu tolol banget. Keliatan banget ngga niatnya. Oke, tapi biar gimana juga sekarang aku udah disediain sarana. Laptop udah. Sama printer lagi (biarpun printernya rewel). Apalagi? Modem? Halah. Toh masih ada warnet (biarpun harus liat isi kocek dulu). Masih bisa akses wi-fi entah di mana (wi-fi kampus sumpah busuk banget). Masih bisa pinjem modem sama Angga ("apa sih yang ngga buat kamu?"). Sarana bukan alasan. Terus, apa donk yang bikin jenuh? Entah. Kurang makan sama kurang perhatian aja kali. Back to topic. Meskipun ngerasa bosen, aku tetap berusaha bersikap dewasa dalam belajar. Ceileh, makanan model apa lagi tuh? Dewasa dalam belajar? Oke, aku berusaha menjelaskan maksudku gimana. Maksudku, aku berusaha bertanggung jawab lebih baik lagi dalam belajar. Kalau ada tugas, ya dikerjain sebaik-baiknya. Belajar lebih intensif lagi, ngga cuma waktu mau ulangan aja. Brainstorming. Eksplorasi ilmu di segala media. Sering-sering diskusi. Banyak baca buku. Benar-benar rencana yang sempurna. Tapi tetep aja, rencana ya tinggal rencana kalau ngga dijalanin. Aku serasa balik ke titik nol. Itu tentang kuliah. Lalu, gimana dengan kegiatan lain? Kita mulai dari AIESEC. Kayaknya sih aku udah pernah cerita. Ya pokoknya aku udah resign. Aku udah bukan anggota AIESEC lagi dan udah ngga boleh make atribut apapun yang berhubungan dengan AIESEC. Dalam sistem, mungkin aku bisa dibilang sebagai alumni yang tidak menyelesaikan AIESEC Experiences. Apapun judulnya, yang jelas aku udah ngga terlibat dalam AIESEC lagi. Lalu, HIMA. Niseikai yang dulu sangat-sangat kucintai, kini tergeser kedudukannya dalam hatiku karena ada Angga. Halah. Apa sih. Hahahaha.... Ngga gitu juga. Aku cuma ngga pingin cuma bisa masukin kaki ke dalam kolam, kecipak-kecipuk buang-buang air, kalau aku ngga berniat berenang ke dalamnya. Jangan sampai aku memberi kontribusi cuma setengah-setengah. Makanya, aku ngga mau jadi rakus, semua posisi aku ambil, tapi ngga sadar kemampuanku seberapa. Aku cuma ambil posisi yang bisa aku handle dengan baik dan menjaga amanah yang diberikan kepadaku. Udah cukup aku mengecewakan banyak orang, sekarang aku udah ngga mau ngecewain mereka lagi. Kemudian, Ju jitsu. Satu hal yang bisa kukatakan: mundur. Aku mengalami kemunduran. Baik itu dalam will maupun power. Aku serasa ngga memiliki alasan lagi untuk tetap di sana. Di sana tidak ada lagi orang-orang yang kukenal. Semuanya berubah. Dan bagiku, perubahan itu menuju kemunduran. Meskipun keorganisasian dan sarananya semakin maju, tetapi ada yang mundur. Entah apa itu. Mungkin keakraban. Mungkin persatuan. Mungkin kekeluargaan. Mungkin kesadaran. Mungkin rasa hormat. Entah. Aku tak tahu. Yang jelas, ketika aku menulis kalimat-kalimat ini, air mataku udah mau tumpah, kangen sama UKM Ju jitsu yang dulu. UKM yang serba ngga jelas dan mungkin ngga diperhitungkan orang. Tapi di UKM itu aku mengenal pelatihku, teman-temanku, senpai-senpaiku. Dan kini, meski masih dalam satu nama yang sama, orang yang sama, semua berubah. Berubah menuju kemunduran! Entah ini pantas aku tangisi atau enggak. Karena will udah hampir hilang, powerku juga melemah. Jadi serba ngga niat. Aku semakin lemah dan tertinggal. Puncaknya ya waktu aku mendapat perlakuan yang bener-bener keterlaluan dari beberapa orang di dalam sana. Ceritanya udah aku posting di blog yang satu lagi. Tekadku jadi naik-turun. Ketika mendapat perlakuan itu, aku langsung berpikir untuk segera mundur begitu aku masuk semester 5. Tapi, karena ada beberapa orang lain yang menguatkanku, aku jadi ragu untuk mundur. Akhirnya, alasanku tertambat di orang-orang itu. Aku tahu, itu cara yang salah. Sejak awal aku masuk UKM itu, pelatih dan senpai-senpaiku udah bilang, "Jangan sampai masuk Ju jitsu hanya karena seseorang. Entah itu teman, pacar, atau mungkin orang yang disukai. Karena, kalau suatu hari mereka keluar, kita pasti pingin keluar juga". Celakanya, aku malah mengambil cara itu. Dan benarlah. Ketika orang-orang yang menguatkanku malah berbalik mengecewakanku, aku jadi ragu untuk tetap berada di sana. Dan yang kupikirkan hanyalah: aku ingin merdeka. Dari segala penipuan terhadap diri sendiri. Dari segala hinaan dan tekanan yang menekanku. Dari segala belenggu untuk jadi diri sendiri. Sekali lagi, aku balik ke titik nol. Itu tentang kampus. Lalu, tentang kerjaan. Semua muridku sekarang udah ngga les lagi sama aku. Akhirnya, aku ngga ada kerjaan. Di satu sisi, aku bersyukur bisa punya waktu luang untuk belajar dan istirahat. Jadi bisa sedikit lebih fokus. Di sisi lain, aku ngerasa harus melakukan sesuatu. Uang bukan segalanya, tapi kita butuh uang untuk menghidupi diri. Aku bersyukur karena beasiswaku sekarang dikasih per bulan, bukan per semester lagi. Menurutku itu cara yang aman. Karena kalau dikasih per semester, di awal semester pasti udah abis. Payah dah. Meski begitu, aku harus mengakui kalau itu ngga cukup. Bayar kos, uang makan, dan kebutuhan lainnya per bulan ngga bisa terpenuhi dengan uang 400 ribu. Alhamdulillah kalau dapat dari Papa. Mudah-mudahan rezekinya lancar. Amin... Tapi, yang namanya hidup kan harus punya rencana cadangan. Aku ngga bisa terus-terusan bergantung sama orang lain, ngutang sama temen, dikasih belas kasihan dari orang lain, ngerepotin Angga. Aku harus punya sumber yang lain. Malu aku kalau dibantu orang hanya karena belas kasihan, sekalipun yang ngebantu adalah pacarku sendiri. Rasanya rendah banget kalau ngga bisa ngebales kebaikannya. Masalah rezeki, aku selalu percaya Allah sudah mengatur yang terbaik. Kalaupun aku boleh meminta, aku cuma pingin rezeki yang bisa membuat aku dan keluargaku mandiri, juga bisa membantu orang lain. Ngga perlulah kaya raya melimpah ruah sampai bisa beli Gerard Way sekalian sama antek-anteknya. Hahahahaha.... Back to topic. Ngga ada kerjaan membuatku merasa seperti dulu lagi. Kembali ke titik nol. Begitu aku menyadari hal ini, aku mencari-cari apa sih penyebabnya aku mengalami kemunduran kayak gini? Apa aku semakin jauh dari Tuhan? Apa aku udah berubah? Apa aku salah bergaul? Apa? Apa? Apa? Apaaa??!! Yah. Mau teriak-teriak kayak apa juga ga bakal tau jawabannya. Butuh instrospeksi diri. Mungkin ada hikmahnya juga. Kembali ke titik nol berarti kesempatan untuk menjadi orang baru yang lebih baik. Mudah-mudahan sih begitu. Amin...

Hari Pertama Semester 5

12 September 2011

saking jeleknya hari ini, aku sampe bingung mau kasih judul apa.

yang jelas hari ini aku stres banget.

ini adalah hari pertama masuk kuliah di semester 5, setelah liburan panjang yang ngebosenin banget. ya iyalah, aku cuma di rumah aja. saking bosennya aku sampe kangen kuliah, kebawa-bawa mimpi segala. herannya, yang ada di dalam mimpiku itu selalu Syahrur-sensei sama Nene. kangen apa dikangenin nih? entah.

back to topic. aku pikir hari pertama kuliah itu bakal nyenengin.

tapi malah sebaliknya.

oke, mungkin mulai hari ini aku harus menanamkan kata-kata ini ke dalam otakku:
hari pertama kuliah itu ngebosenin banget

bukan karena kuliahnya. aku mah asik-asik aja kalau harus kuliah lagi. daripada nganggur ngga jelas. tapi entah kenapa di hari pertama masuk kuliah ini orang-orang terdekatku jadi nyebelin banget.

pertama, masalah rapat PKL.

aku udah persiapin agenda rapat serapi dan seefektif mungkin. aku ngga suka rapat lama-lama dan berbelit-belit. bikin pegel aja. entar malah jadi ajang ngerumpi lagi. makanya aku jadwalin hari ini jam 12, pas pada ngga kuliah. emang sih mepet sama kuliah Pengantar Kajian Budaya Urban jam 1. tapi toh ngga lama-lama juga rapatnya. jadi ngga bakal ada masalah.

itu rencananya.

tapi begitu jam 12.08 aku ke lantai 3 (aku tadi konsultasi dulu ke Putri-sensei), ngga ada orang kecuali Nathania. dia di sana juga kayaknya cuma pingin cari tempat sepi buat ngegame aja. buktinya waktu aku bilang ada rapat dia malah cengo.

beberapa saat kemudian, datanglah Alfi.

akhirnya aku malah curhat akbar ke Alfi.

setelah berpanjang-panjang cerita, lama-lama jadi kesel juga. ke mana sih anak-anak? Alfi bilang sih lebih baik diganti hari lain aja. akhirnya aku sms Nene dan Vita: "rapat dibatalkan. tolong sebar"

begitu aku dan Alfi turun, muncullah Nene dkk. mereka tanya, "di mana rapatnya?"

dengan muka kesel aku bilang, "Nggak jadi"

mukaku udah kayak Angry Birds yang ada di kaos yang aku pake. eh ya, kaos itu baru dibeliin Angga loh :p

mungkin kayak gini mukaku:


kedua, masalah 能力試験 a.k.a Japanese Language Proficiency Test.

pendaftaran terakhir tanggal 13 September 2011. setor nama, setor duit. sama setor foto juga.

mati gua mak.

ngga punya duit!!!

ya ada sih duit beasiswa 400 ribu. tapi udah dibagi-bagi buat kebutuhan yang lain. duit tinggal 200 ribuan. kalau aku ambil buat NS, ya bisa terkatung-katung hidupku sebulan.

aku curhat sama Angga. tapi ya seperti biasa, dia selalu mengeluarkan kata-kata ajaib: "Ya udah" dan "Yo sing sabar". tapi yang terakhir ini dimodofikasi dikit jadi agak alusan dikit: "kamu pandai-pandai bersyukur ya"

aku, yang udah capek dari tadi, jadi tambah sensi.

akhirnya masalah melebar ke mana-mana, bahkan ke hal-hal yang ngga ada hubungannya sama itu.

capek, pusing, akhirnya aku tidur deh. daripada semua orang aku marahin.

hm... mungkin karena PMS kali ya? itunganku sih emang minggu ini bakal mens. wah, bakal tambah sensi berat aku ini.

tapi yah, hidup ini aja udah banyak masalah. kenapa aku harus nambah-nambahin masalah? santai ajalah!

mauku sih begitu.

hm.. kalau tak liat-liat, Papa juga sensi banget kalo pas ngga punya duit. apa aku juga gitu ya?

yang jelas aku harus cari kerja lagi nih. Maydi sana Anin dan Evan udah ngga les lagi sama aku. jadi aku harus cari yang lain.

mudah-mudahan deh aku ngga lama-lama nganggurnya. biar bisa punya duit lagi.

oh ya, aku sempet kepikiran ide yang rada sinting juga (mungkin) loh.. kan kuliahku rata-rata siang semua. aku kepikiran buat kerja di warung Mama Titik yang deket kosku itu loh.. orangnya kan baek tuh. apalagi deket kan, ngga perlu pake ongkos angkot segala. hehehe... aku coba pdkt ke Mama Titik, minta kerjaan gitu. entah itu cuci piringkah, ngepel, nyapu, apa aja deh. daripada pagi-pagi aku nganggur kayak orang goblok gitu. entar aku beneran goblok gimana?

tapi toh ngga berhasil juga. rayuanku ngga mempan sama Mama Titik.

akhirnya ya aku pulang dengan muka hampir mewek.

tapi ada hikmahnya juga loh. jurus muka melas ala Shinchan-ku membuat Mama luluh sedikit. aku beli ayam sama tempe cuma seharga dua ribu aja loh! dua ribu rupiah koma nol-nol. huahahahaha....

ya, itulah sedikit cerita tentang hari pertama semester 5. rasanya kayak semester 1 lagi. aku balik ke titik nol lagi.

tapi ya mudah-mudahan ngga lama. amin..

Kerja Jadi No-tulen

27 Juli 2011, aku jadi notulen untuk seminar tentang UU RS atas tawaran dari Mas Anton. Tempatnya di Empire Palace! Aku bener-bener excited. Selama ini aku cuma bisa mengagumi kemegahan Empire Palace dari jauh. Sekarang aku bisa masuk ke dalamnya!! >///< Malah mas Indra, temen mas Anton yang menyewa jasaku untuk acara ini, menawarkan aku nginep di salah satu kamar hotel yang jadi ruang sekretariat mereka. Tapi karena Papa lebih suka mengantarkanku pagi-pagi, jadi tawaran itu ngga aku ambil.

Senin sebelumnya, aku dibriefing di Rollaas Cafe, TP. Cerita lengkapnya udah aku posting di blog satunya. Hehe... Jadi aku ngga akan mengulang cerita tentang briefing itu di sini. Maaf ya...

Hari H, aku bangun pagi-pagi, mandi, lalu berangkat dianter Papa jam 5.45. Brrr... Dingin banget! Jam 7 kurang kita udah sampe di Empire Palace. Kita minum susu dulu di warung kopi sebelah. Jam 7 lebih kita masuk, langsung menuju lantai 4 room 927, ruang sekretariat acara seminar ini.

Sampe di kamar itu, cuma ada dua orang laki-laki. Mungkin stafnya mas Indra. Lalu salah satu dari mereka menelepon mas Indra. Ngga lama kemudian mas Indra dateng, dengan muka baru bangun tidur. Aku memperkenalkan Papa ke mas Indra. Setelah berbasa-basi sebentar, Papa pamit keluar. Aku masuk ke kamar itu. Tadinya aku mau ganti celana jeansku dengan rok, tapi kamar mandinya masih dipake. Setengah jam kemudian orangnya baru dateng. Aku ganti bawahan, bersihin muka, lalu pake bedak tipis-tipis. Ngga lupa aku jepit poniku ke atas, biar keliatan lebih rapi dikit. Cuma 15 menit, terus aku keluar. Mbak Eva dan mbak Tari, talent dari Acer (entah perusahaan komputer Acer yang terkenal itu atau EO yang bernama Acer) yang bertugas jadi resepsionis, udah dateng. Mereka udah hampi siap. Wajah udah dipoles make-up. Jadi inget Kome kalau mau syuting atau jadi MC di suatu acara. Minder aku di deket mereka. Abis mereka cantik-cantik banget sih dandannya. Pake sackdress hitam pula. Tambah seksi deh. Beda banget sama aku yang cuma pake blus putih dan rok jeans. Satu-satunya item yang girlie banget cuma wedges hitamku. Oh ya, malam sebelumnya aku sempet smsan sama Kome, tanya enaknya aku pake jeans plus Converse atau rok jeans plus wedges? Kome nyaranin opsi terakhir. Dengan sangat jujurnya aku bilang,

“Masalahnya... aku takut kepleset”

Kome ngakak.

“Aku tak al-fatehan sek sebelum pake wedges”

“Surat Yasin sekalian, Cha”

Aku malah makin ngebanyol, “Sekalian ayat kursi, biar ga dijegal setan waktu jalan”

“Hahahahaha... betul betul betul” jawab Kome ala Upin-Ipin.

Jam setengah 9, mbak Eva dan mbak Tari langsung ke tempat seminar untuk menerima tamu. Aku dan mas Indra menyusul seperempat jam kemudian, menuju Hall 2 di lantai 5. Di lantai yang sama, tetapi di hall yang berbeda, juga ada seminar untuk para guru. Aku lupa apa nama acaranya. Yang jelas jadinya rame banget.

Hall 2 ini bener-bener mewah. Aku melihat ke atas. Plafonnya berornamen klasik dan mewah. Semuanya terkesan keemasan. Lampu-lampu di plafon yang tinggi banget itu seolah-olah dari permata. Jendelanya tinggi-tinggi dan besar-besar, dengan tirai gorden yang cantik-cantik. Untuk peserta sudah disiapkan meja-meja bundar dengan kursi-kursi yang dilapisi kain putih, lalu diberi aksen pita merah. Serasa di istana. Ngga salah sih kalau namanya Empire Palace. Bener-bener keren.

Begitu kami sampai di sana, acara masih belum dimulai. Mas Indra menunjukkan mejaku, meja kecil di pojok depan dekat speaker. Mas Indra bilang aku boleh keluar sebentar sebelum acara dimulai. Tapi karena aku ngga ada temen, jadi aku masuk dan menyiapkan laptopku. Iseng, aku idupin bluetooth. Ternyata bisa akses wi-fi. Aku langsung klik Domdomsoft Manga Downloader, lalu buka Google dan FB. Tapi sialan, Domdomsoftnya cengo. Not responding. Kesel, akhirnya aku matiin.

Sampai jam 10 masih belum dimulai. Banyak orang yang tanya-tanya padaku kapan acara dimulai. Kalau nurut jadwal sih, seharusnya sekarang coffee break pertama. Tapi aku ngga bisa kasih jawaban apa-apa, karena bukan aku yang menghandle rundown. Aku kan cuma orang luar yang disewa.

Sementara itu, aku mulai kedinginan. Akhirnya aku kembali ke kamar sebentar untuk ambil jaket. Sebodo amatlah jaketnya ngga matching sama bajuku. Yang penting aku ngga kedinginan. Aku sempetin ke rest room sebentar dan cuci tangan. Ternyata air dari keran wastafelnya hangat. Aku mau berlama-lama ngangetin tangan. Tapi karena banyak orang yang ngantri, akhirnya ngga jadi deh.

Aku balik lagi ke hall. Duh, rasanya bakalan kesiksa di ruangan dingin gini. Tiba-tiba, salah satu pembicara, Pak Habib Adjie, dan salah seorang panitia menghampiriku. Katanya file presentasinya dikopi ke laptopku. Aku langsung konfirmasi ke mas Indra. Mas Indra bilang ada miss, laptop untuk presentasi malah ngga ada. Jadinya pakai punyaku. Lah terus gimana aku nulis notulensinya? Mas Indra memintaku menulis manual. Yah, apa boleh buatlah. Aku kopi filenya, lalu mengatur supaya remote presentasi Pak Habib bisa dipakai. Aku sebenernya ngga familier sama remote semacam itu. Aku pernah liat, tapi ngga pernah pake. Pertamanya S-jou sempet ngga mau kompromi. Tapi setelah direstart, akhirnya mau juga.

Jam 10 lebih acara dimulai. MC langsung menghadap mikrofon, meminta para peserta untuk mengisi tempat duduk di depan. Lalu pintu hall ditutup. Aku baru menyadari kalau pintunya juga mewah banget. Besar dan penuh ornamen tanaman logam keemasan. Begitu pintu ditutup, aku ngerasa kayak di dalam kastil jadinya. Serem, tapi keren.
Semua peserta menuju meja hidangan, mengambil coffee break. Aku agak ragu ke sana, karena mas Indra ngga bilang apakah panitia boleh ikut menikmati coffee break apa ngga. Tapi aku ngeliat mbak-mbak penerima resepsionis dan panitia lain ngambil kue dan kopi. Aku juga ikutan akhirnya. Di coffee break pertama ini ada hidangan kue tart coklat dan lumpia untuk snacknya. Tartnya menggoda banget. Akhirnya aku pilih satu-satunya piring yang berisi cuma tart aja. Terus aku ambil cangkir dan mengambil teh. Tehnya udah dingin. Ngga bisa menghangatkan badan deh... tapi tartnya luar biasa. Manis coklatnya lembut banget. Makan satu loyang juga ngga bakal enek deh kayaknya. Hahaha.... Ini dia surga pecinta makanan manis, kayak aku :p

Baru makan seperempat potong, MC membuka acara. Buru-buru aku taruh piring kue dan cangkir di mejaku. Tapi karena keliatannya kok ngga pantes banget, akhirnya aku taruh di kursi-kursi belakangku. Lalu acara akhirnya bener-bener dimulai.
Setelah sambutan ketua panitia dan perwakilan dari Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur, pak Habib memberikan materi. Judulnya “Membahas Pendirian Rumah Sakit oleh Swasta harus Berbentuk Badan Hukum sebagai Kegiatan atau Usaha Khusus”. Aku berkonsentrasi penuh mencatat. Beuh, ternyata susah juga. Aku ngga bisa nangkep semuanya dengan detil banget. Cuma garis besarnya aja yang bisa aku tangkep. Lalu setelah itu diskusi dibuka oleh moderator. Banyak pertanyaan yang diajukan. Aku agak pusing pas diskusi itu. Abis kebanyakan mereka ngga to the point. Berbelit-belit. Malah ada salah satu peserta yang kayaknya bernafsu banget pingin “menenggelamkan” UU RS itu. Ya, aku bisa ngerti dikit gimana perasaan para pengelola rumah sakit itu. Dulu, yang boleh membangun RS adalah yayasan. Makanya banyak yayasan yang mendirikan rumah sakit kayak Muhammadiyah, Unisula, dan lain-lain. Sekarang, UU yang baru ini mewajibkan mereka memisahkan rumah sakit dari yayasan mereka terus disuruh bikin badan hukum baru. Ribetlah pokoknya. Yang jelas, kalau mematuhi UU itu, ngga sedikit uang yang harus dikeluarkan yayasan untuk membangun rumah sakit dengan badan hukum yang baru lagi. Yah, mungkin kalau aku jadi pengelola RS bakalan emosi juga.

Jam setengah 2 adalah acara favoritku: ISHOMA alias Istirahat, Sholat, dan Makan. Tapi aku bingung, mau solat, makan, atau ngetik notulensi? Waktu briefing, perjanjiannya notulensi selesai hari itu juga. Lah kalau aku ngetiknya nanti bisa-bisa ngga selesai. Tapi aku sadar, kondisi badanku lagi ngga fit. Kalau aku ngga makan, bisa-bisa pingsan ngga kuat ngelawan dingin. Akhirnya aku putuskan makan dulu. Begitu aku mau berdiri, eh ada orang minta filenya Pak Habib. Aku sms mas Indra, boleh apa ngga aku kasih. karena mas Indra bilang ngga boleh, ya ngga aku kasih. Terus aku buru-buru ambil makanan. Pas ambil makanan, di sisi meja seberangku ada mas Indra yang juga lagi ngambil makanan. Aku sekalian minta izin mau sholat, terus dibolehin. Aku keluar, duduk di meja registrasi, lalu buru-buru makan. Abis itu langsung ke kamar lagi untuk sholat.

Di kamar cuma ada satu orang stafnya mas Indra. Aku agak canggung juga. Tapi aku merasa aman sejak detik pertama bekerja dengan mas Indra. Jadi ya aku tenang-tenang aja. Aku wudhu, lalu sholat. Abis sholat, aku sempetin cuci muka dan ngerapiin dandananku sedikit. Aku keinget mbak-mbak tadi. Dandanan mereka lebih ribet dari aku. Tapi kok kayaknya mereka ngga repot benerin make-up ya? Apa karena make-upnya tahan lama? Kok bisa? Karena kualitas dari make-up mahal? Atau karena teknik? Ah, suatu saat nanti aku pasti juga bakal ngerti kalau aku terbiasa dandan. Tapi itu nanti. Sekarang mikir kerjaan dulu.

Begitu sampai di depan lift, ada misscall dari mas Indra. Wah, masa udah dimulai lagi? Terus ada sms dari mas Indra yang nyuruh aku cepetan karena acaranya udah dimulai. Walah... mana liftnya penuh lagi. Aku harus nunggu lift ke atas. Terus setelah dapet, aku langsung jalan cepet-cepet. Ajaibnya, aku ngga kepleset walaupun pake wedges. Apa karena karpet di Empire Palace ngga licin ya? Ah, ngga penting. Yang penting kerja dulu, kerjaaa....

Sampai di hall, MC dan mas Indra mempersilakanku masuk. Waduh, ditunggu banyak orang nih. Aku minta maaf sama mas Indra. Tapi mas Indra malah bilang, “Ngga, ngga apa-apa. Aku yang minta maaf”

Aku tertegun. Kenapa malah mas Indra yang minta maaf? Masa iya cuma basa-basi? Tapi aku ngga yakin mas Indra cuma lip service doank. Dia orangnya santai, tenang dalam menghadapi kerjaan. Aku belum pernah ngeliat dia marah-marah, walaupun kerjaannya menghimpit. Aku kagum padanya. Aku jadi belajar bagaimana caranya menghandle pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang.

Aku buru-buru ke meja dan buka laptop. Pembicara kedua, Pak Budi Sampurno, mengumumkan, “Sepertinya operator sudah datang” Heuh, aku notulen, Paak... Bukan operator. Tapi ya udahlah. S-jou ngambek lagi. Duh, bingung aku. Mas Indra menyuruhku tetap tenang. Aku jadi agak tenang dikit. Untung aja S-jou ngambeknya ngga lama-lama, ngga kayak aku. Hehehe... Begitu dia idup, langsungnya filenya aku kopi . Lalu muncul deh slide presentasinya.

Karena Pak Budi ngga pake remote kayak Pak Habib tadi, akhirnya aku bener-bener jadi operator. Walah, ngga bisa nyantet notulensi nih... Ya udahlah, nanti liat di file presentasinya aja, pikirku. Untung presentasinya ngga lama-lama. Lalu dibuka deh diskusi lagi. Kebanyakan yang tanya ya orang-orang yang tadi tanya di sesinya Pak Habib. Aku sibuk mencatat pertanyaan dan jawabannya.

Dalam hati aku bersyukur banget karena aku bisa terus konsentrasi pada semua pembicaraan, baik dari awal sampai akhir. Emang ada sedikit yang miss, karena sempat diajak ngomong sama orang lain. Tapi sebagian besar pembicaraan bisa aku tangkap dan aku simpen di dalam ingatan. Bahkan dengan ajaibnya, aku bisa memahami alur maksud diadakannya seminar ini, yaitu harapan akan adanya kerja sama dari semua pihak untuk bersama-sama mematuhi UU yang dipersoalkan itu. Dalam hal ini, notaris menawarkan diri untuk membantu para pemilik RS untuk mengurus hal-hal yang menyangkut perizinan seperti yang diminta oleh UU. Lalu Kementrian Kesehatan menyatakan terbuka untuk menerima dan memberi solusi mengenai masalah yang akan ditimbulkan oleh UU ini. Aku sendiri sampai heran, kok ya bisa aku ngerti. Padahal aku awam banget masalah hukum dan kerumahsakitan. Ya, inilah pertolongan dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Aku ngga bisa ngebayangin gimana kalau seandainya aku bener-bener ngeblank, ngga ngerti jalan cerita seminar ini. Bisa kacau kerjaanku. Makanya, aku bener-bener bersyukur karena Allah telah memberikan pertolonganNya kepadaku.

Ceramah kedua berakhir. Ada coffee break lagi. Tapi kali ini aku ngga ikutan karena aku putuskan untuk segera menyelesaikan notulensi ini. Panel dan penutup aku lewatkan. Sekitar jam 4 lebih acara bubar. Aku keluar, lalu duduk di meja registrasi, sambil terus berkutat sama laptop kayak nerd. Aku tolah-toleh mencari mas Indra. Sampai sekitar jam setengah 5 aku masih terus duduk di meja registrasi sambil ngetik. Terus, salah satu staf mas Indra mendekati meja registrasi untuk beres-beres. Aku tanya padanya di mana mas Indra. Ternyata mas Indra udah di kamar. Katanya, aku udah ditunggu. Walah, kok ngga ngomong-ngomong. S-jou aku ganti ke mode sleep, terus ke kamar.

Dari luar kamar, aku mendengar suara Papa lagi ngobrol sama mas Indra. Sepertinya obrolan yang menyenangkan. Aku masuk lalu menyalami Papa. Aku lapor sama mas Indra kalau notulensinya belum selesai aku ketik. Mas Indra bilang biar nanti dikirim via e-mail aja, daripada aku pulang kemaleman. Aku cengo. Bener ngga apa-apa nih? Tapi ya syukurlah tugasku boleh kubawa pulang. Biar nanti aku rapiin sekalian deh. Mas Indra memintaku tanda tangan di kuitansi sebagai tanda kalau aku udah terima uangnya. Setelah aku tanda tangan, mas Indra memberiku uang di dalam amplop kabinet putih. Aku speechless, ngga ngerti harus bereaksi gimana. Seneng itu udah pasti, tapi di sisi lain aku ngerasa ngga enak menerima hak lebih dulu, padahal kewajibanku masih belum rampung. Tapi aku terima uangnya dan berterima kasih sekali pada mas Indra. Mas Indra bilang, “Jangan kapok loh ya..” Aku spontan menjawab, “Oh, ngga kok Mas...” Lalu ketawa.

Setelah ganti rok dengan celana jeans, dan wedges dengan sepatu sandal lagi, aku dan Papa pamit pulang. Huah... pegel banget rasanya. Tanganku kaku dan sakit. Tapi aku senang, karena aku bisa dapat uang senilai gaji mengajar sebulan hanya dalam satu hari. Ah, coba bisa gini terus tiap hari ya? Hahaha...

Aku pulang dengan perasaan bersyukur dan ingin segera istirahat.

Learn from Detective Conan #17

Dalam rangka mau ngelamar kerjaan jadi penerjemah komik freelance, aku harus belajar baca komik lagi nih.. Belajar baca komik? Eits, jangan salah! Kalau mau nerjemahin komik, harus sering-sering baca komik loh... Dan ngga Cuma satu genre komik aja, tapi juga berbagai macam genre. Jadi wawasan perkomikannya luas. Ini dia kerjaan yang paling asyik. Hahahaha...
 
Kenapa harus belajar baca komik? Kalau buat aku pribadi sih, karena aku masih harus banyak belajar bahasa komik. Aku baru sadar kalau bahasaku termasuk kaku banget, setelah terjemahanku dikoreksi sama Tia-sensei. Iya juga sih, secara selama ini mulai dari SD sampe SMA (terutama di kelas Bahasa) aku belajarnya bahasa formal. Liat aja posting-postingan awal di blogku, formal gitu kan? Tapi, kalau soal bahasa formal Jepang, wah... Itu udah di luar kemampuan saya. Hahaha...
 
Selain itu, aku masih harus banyak belajar onomatope. Onomatope Jepang termasuk susah diartiin, kalau kita ngga ngerti konteksnya. Misalnya kata "Batan!!" atau "Zugaa". Mau cari di Zkanji kek, di Jquick Trans kek, ngga bakalan ketemu dah. Ya harus bener-bener memahami konteksnya, maksudnya onomatope itu apa. Pernah waktu nyoba nerjemahin Bara no Souretsu karya Yoko Matsumoto, aku nemuin kata-kata itu tuh. Kalo "Batan" sih aku ngerti, karena dulu waktu pelajaran Dokkai-nya Nunuk-sensei kita juga nemu kata-kata itu. Batan itu onomatope yang melambangkan suara pintu dibanting. Kalau dalam bahasa Indonesia kira-kira sama dengan "Brakk!!". Nah, yang repot tuh "Zugaa". Aku belum pernah nemu kata itu sama sekali. Nyoba nyari di Zkanji, ngga ketemu. Parah. Aku coba nebak dari gambarnya. Di situ ada adegan seorang perempuan yang matanya ditusuk dari belakang (Euuww... =w=). Dari situ aku ngartiin "zugaa" seperti "jleebb" atau "craakk" ya intinya bunyi sesuatu yang ditusuk lah.
 
Nah, dari pengalaman itu aku berpikir, aku harus banyak-banyak baca komik. Onomatope bukan sesuatu yang bisa diartiin secara leksikal, tapi secara gramatikal (oke, ketemu lagi deh kita sama pelajaran Pengantar Linguistik). Mungkin kamus khusus onomatope belum ada. Jadi yaa... Banyak-banyak cari contohnya aja deh. Makanya, selama liburan di rumah, aku buka-buka komik-komik lama. Tapi berhubung yang ada cuma Conan aja, jadinya ya baca Conan doang deh.
 
Aku mulai baca Conan, ngacak. Ya abis males kalo baca dari urutan paling awal, karena aku udah hapal ceritanya semua. Yang penting kan pelajari bahasanya. Baca punya baca, baru kali ini aku menyadari, ternyata Conan bagian awal terjemahannya juga ngga terlalu luwes. Masih ada yang rasanya kaku. Dulu waktu kecil aku juga nyadar sih, tapi berhubung aku ngga ngerti konteks Jepangnya seperti apa, jadinya ya terima apa adanya aja. Tapi sekarang aku mulai mengerti maksud dari percakapan-percakapan di komik itu apa. Sambil baca, aku mikirin gimana kira-kira perbaikannya. "Mungkin enaknya gini" "Kalau kayak gini pasti lebih enak" "Coba, kalau pake yang ini cocok ngga yah sama artinya?" Begitulah pikiranku. Tapi ya kadang-kadang ada yang buntu juga, ngga ngerti maksudnya gimana.
 
Aku juga memperhatikan onomatope di komik Conan. Kadang-kadang aku suka pingin ketawa sendiri. Abis, rasa-rasanya kayak ada pengaruh bahasa daerah gitu. Tapi yaah... Emang ngga gampang sih nerjemahin onomatope itu. Kalau misalnya aku yang jadi penerjemah itu, mungkin ya aku bakal ngelakuin hal yang sama. Dan aku rasa apa yang diterjemahin di komik itu udah lumayan pas sih. Oke, ini jadi tambahan pelajaran buat aku.
 
Selain itu, aku juga dapet pelajaran lainnya loh... yaitu tentang realita emosi dan relasi manusia. Contohnya kayak yang di volume 17. Ceritanya ada kasus percobaan pembunuhan di pantai gitu. Ceritanya, seorang cewek, namanya Harumi, mencoba membunuh tunangan kakak tirinya, Kiwako. Harumi cinta sama kakak tirinya sendiri dan cemburu sama Kiwako. Sementara itu, Kiwako lagi menguji si cowok karena sebentar lagi mereka bakal menikah. Pertama, Kiwako manas-manasin cowoknya, dengan cara ngedeketin Kogoro. Tapi si cowok mah anteng-anteng aja, karena Kogoro orang terkenal. Jadi wajar aja kalau siapapun pingin ngedeketin dia. Terus Kiwako menguji lagi, dengan cara pura-pura tenggelam. Dia pingin liat, apakah si cowok ini bakal dateng nyelamatin dia, walaupun si cowok ngga bisa berenang. Kiwako yang ngga ngerti apa-apa tentang perasaan Harumi, minta tolong sama Harumi untuk ngebantuin rencananya. Harumi ngerasa disindir, makanya dia nyiapin rencana pembunuhan itu. Endingnya, Kiwako masuk rumah sakit, tapi selamat. Dia minta maaf sama Harumi, karena dia baru tau perasaannya Harumi waktu tenggelam itu. Dia bilang dia bakal introspeksi diri lagi.
 
Yaaa... Itulah sekilas ceritanya. Ngga detil? Maaf deh, hehehe... Tapi poin pentingnya adalah nilai di balik cerita itu, yaitu nilai kepercayaan. Banyak sih sebenernya nilai yang ada di situ. Tapi aku liat, yang paling menonjol ya nilai kepercayaan itu. Kasus itu bisa terjadi kan awalnya karena Kiwako masih ragu sama tunangannya sendiri. Bukannya Kiwako ngga percaya sama tunangannya, tapi justru karena dia pingin percaya, makanya dia pingin ngebuktiin hal itu. Aku merenungkan hal itu. Aku berpikir, kadang-kadang, ketika kita tau seseorang sedang menguji kita, atau seseorang mempertanyakan kejujuran kita, kita ngerasa ngga dipercaya. Padahal ya belum tentu seperti itu juga kan? Bisa aja karena orang itu pingin bener-bener percaya sama kita, makanya dia menguji kita. Yah.. Kalau kita orang yang lapang dada dan punya hati, bukannya lebih baik kita ngasih dia kesempatan untuk percaya sama kita?
 
Dalam berhubungan, yang namanya salah paham pasti ada. Kayak Harumi yang mengira Kiwako nyindir dia, padahal Kiwako ngga tau apa-apa soal perasaan Harumi. Itu jelas salah paham. Kalau menurutku, hal yang satu ini emang jebakan paling gawat. Aku sendiri, sering banget ngerasa tersiksa karena salah paham. Karena salah paham sama temen atau sama pacar, nyambungnya bakal ke mana-mana dah. Yang uring-uringanlah, yang ngga bisa tidurlah, yang ngga semangatlah, yang ngga nafsu makanlah. Dan bakal lebih tersiksa lagi kalau salah paham itu ngga bisa dilurusin. Ngga ketemu titik yang satu paham. Repot. Apalagi kalau lawan kita adalah orang yang acuh tak acuh, ngga peduli kita mau paham apa ngga. Susah.
 
Penting untuk aku inget, ketika ada salah paham, cara terbaik adalah pandai-pandai menjaga lisan dan melapangkan dada. Jangan sampai salah paham kecil jadi besar, dan salah paham besar jadi makin besar karena aku ngga bisa jaga mulut. Emang ngga gampang sih, karena selama ini aku juga ngalamin yang namanya memendam pendapat. Sesak rasanya. Karena itu aku sempet berpikir, gimana kalau aku belajar ngomong? Tapi kayaknya pemikiran itu harus ditinjau ulang lagi deh. Ngomong sih boleh, tapi liat lawan dan situasi. Kalau lawan kita tembok, ya percuma. Ngga bakal digubris deh. Malah lebih sakit lagi rasanya. Makanya, kalau lawan tembok, ya lebih bijaksana kalau kita diam. Sama-sama jadi tembok. Hahaha... Tapi kalo gitu, gimana ketemu penyelesaiannya? Nah, itu yang aku ngga tau. Masih harus banyak berpikir.
 
Dari komik itu aku jadi punya banyak renungan deh. Yah, aku harus banyak introspeksi diri juga. Harus lebih hati-hati juga kalau pake lidah. Terkadang yang ada di pikiranku itu A, tapi yang keluar A' atau bahkan B. Jadi lain ke mana-mana. Bikin salam paham. Ujung-ujungnya, ngga dipercaya. Ngga enak banget rasanya. Selama ini, aku sering ngalamin yang namanya salah paham. Aku ngga inget gimana proses penyelesaiannya, karena kayaknya aku sering pake cara instan: ngambek. Yah, sekarang ini aku udah harus lebih dewasa. Masih harus banyak belajar.
 
Aku bersyukur bisa dapet pelajaran dari komik Conan itu. Makin banyak bahan renungan, makin banyak bahan untuk belajar jadi dewasa. Ah, proses pendewasaan itu emang ngga mudah ya... Masa-masa yang sulit.

Aku dan Muridku

Hm... Saking lamanya ngga posting di sini, jadi bingung mau nulis apa. Tapi sekarang, aku pingin share tentang murid-murid les privatku.
 
Kita mulai dari Maydi ya... Maydi, atau Maynada Lara Sati, bisa dibilang dia adalah murid ketigaku di Surabaya. Dia termasuk murid yang paling lama aku ajar selama di Surabaya. Seingatku, aku mulai ngajar dia pas semester 3 sampai semester 4. saat itu dia kelas 1 SMP di SMP Katolik St. Vincentius Surabaya. Rumahnya di Tembok Dukuh gang 6. bisa dibilang juga, dia termasuk murid yang rumahnya paling jauh. Kalau dari kampus B, aku harus naik angkot E jurusan Sawahan, turun di Tidar, lalu jalan nembus gang ke rumahnya. Kalau sama macet-macetnya sih, kira-kira aku butuh waktu 45 menit untuk sampai di sana. Jauh memang, tapi aku merasa sepadan. Maydi emang anak tunggal, tapi dia tidak semanja murid-muridku dulu. Kalaupun mannja, lebih seperti seorang adik bagiku. Kalau belajar emang agak ngerajuk, tapi setidaknya dia masih mau nurut. Keluarganya juga baik banget. Setiap kali selesai les, aku selalu diajak makan malam sebelum pulang. Pakdhe, Budhe, Om, Tante, dan kakak-kakak sepupu Maydi selalu baik padaku. Terkadang, setiap kali aku datang ke rumah itu, aku merasa seperti pulang ke rumah sendiri, rumah yang dihhuni oleh keluarga yang hangat. Aku jadi iri pada keluarganya.
 
Banyak kesan-kesan manis yang aku alami dengan Maydi. Yang paling berkesan manis adalah waktu aku ngajar menjelas ulang tahunnya. Kalau tidak salah, aku mengajarnya pada tanggal 24 Mei 2011, sehari sebelum ulang tahunnya. Aku ingat waktu itu aku belum makan siang. Aku kelaparan. Begitu juga dengan Maydi. Sialnya, di rumahnya tidak ada makanan. Terpaksa kami menahan lapar, menunggu Bu Sasha, mamanya Maydi, pulang kerja. kami lanjut belajar sambil mengeluh lapar. Lalu kami mendengar suara orang berjualan jajan. Maydi langsung teriak, "Mbak, donat mbak! Ayo beli itu aja Mbak!" tanpa banyak cingcong, aku langsung keluar lewat pintu belakang, mencegat tukang donat itu. Aku membeli beberapa donat manis dan donat kentang. Aku membawa masuk donat-donat itu ke kamar Maydi, yang langsung disambut olehnya. Rasanya bener-bener enak. Terutama donat kentang itu. Aku dan Maydi sampai ketagihan. Aku sendiri bener-bener nggak nyangka kalau donat murah itu begitu enak. Maydi bilang, "Mbak, kapan-kapan kalau donatnya lewat lagi, beliin lagi ya Mbak?" aku Cuma tersenyum. Anak ini bener-bener manis.
 
Sekarang aku sedang libur mengajar karena dia juga liburan. Entah kenapa, aku merasa sangat sangat kangen untuk mengajarnya lagi. Maydi bilang di FB kalau dia udah naik kelas 2. katanya, nanti kalau udah masuk sekolah, dia akan mengabariku kapan les lagi. Mendengarnya saja sudah buat aku senang. Aku bener-bener ngga sabar menunggu jadwal les baru lagi. Oh ya, aku harus lebih mempersiapkan diri nih... Aku ngga boleh kayak dulu lagi, Cuma modal badan sama otak doank. Aku harus beli buku-buku, atau download PDF, buat materi ajar, supaya hasilnya lebih maksimal lagi. Kalau aku ada uang dan sempat ke Surabaya, aku mau beli buku di Jalan Semarang ah...
 
Sebelum Maydi libur, aku sempat ditawari mbak Naning untuk mengajar anak-anaknya. Mungkin aku udah cerita ya? Ya, murid selanjutnya adalah Anin dan Evan. Mereka murid-muridku di luar bimbel VISION. Anin masih kelas 3 dan Evan kelas 1. Kalau tidak salah sih, mereka sekolah di SDN Perak Barat. Rumahnya? Jelas di Perak juga donk! Jauh banget kan? Hehehe... Mereka adalah murid yang rumahnya terjauh. Aku ngga inget persis berapa waktu yang dibutuhkan untuk ke sana. Mungkin sekitar 45 sampai 60 menit. Kalau berangkat, aku naik angkot C jurusan Indrapura dari depan kampus B, ngelewatin Pasar Atum, gedung Bank Indonesia (mungkin cabang?), Tugu Pahlawan, Stasiun Surabaya Kota, baru deh nanti turun di depan Brimob. Nanti aku masuk ke jalan Ikan Trowani, lalu sampai deh di rumah mereka.
 
Sehari-harinya, Anin dan Evan tinggal bersama sang Nenek dan pembantunya. Biasanya kalau aku datang, mbak Naning masih belum pulang. Katanya sih masih kerja. kalau aku datang, mereka pasti langsung menghambur menyambutku. Senang sekali rasanya. Mereka cukup antusias kalau belajar, terutama Evan. Kayaknya ngga ada kata "capek" buat dia. dia selalu minta tugas lebih. Bahkan, terakhir kali aku ke sana sebelum libur, dia minta PR perkalian lebih banyak. Aku suka melihat antusiasnya. Satu-satunya hal yang menghalanginya belajar adalah keinginan untuk main. Kakaknya, Anin, lain lagi. Sepertinya dia gampang capek, atau gampang bosan? Dia selalu mengeluh materinya kebanyakan, dan lain-lain. Padahal aku membagi materi dan waktu belajar sama rata. Hanya level antara Anin dan Evan saja yang kubedakan, karena mereka beda kelas. Terkadang aku heran sama dia, masa hanya dalam waktu kurang dari satu jam dia sudah bosan? Gimana kalau dibandingkan dengan Maydi yang dua jam? Aku dan Maydi sampai ngantuk-ngantuk di kamarnya. Tapi yah, mungkin karena Anin juga masih anak-anak, masih pingin main terus. Sama aja dengan Rozy, anaknya Bu Hamzah, pemilik kostku. Tapi aku mencoba mengevaluasi diri. Mungkin emang cara ngajarku juga yang membosankan. Kalau aku punya kesempatan untuk mengajar mereka lagi, aku akan mencoba mengubahnya.
 
Lalu, murid terbaruku, Ayu. Aku memanggilnya Mbak Ayu, karena ia lebih tua dariku, bahkan dari Angga! Dia orang Sulawesi. Aku tidak tahu apa sebenernya tujuan dia di Surabaya, yang jelas dia hanya tinggal sendiri di sini. Dia kost di Karang Wismo I, satu gang sebelum gangnya Dewi. Yang mengontrakku adalah tunangannya, mas Ikhwan, melalui mbak Vita. Mas Ikhwan mencari tentor privat untuk PMDK bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk mbak Ayu. Mbak Vita langsung menawariku. Katanya hanya untuk dua hari saja. Aku sih ngga masalah, toh aku tidak terlalu sibuk. Oke, ngga gitu juga sebenernya. Sebenernya waktu itu aku masih dalam masa UAS. Selain itu, aku harus menyelesaikan makalah Shakai dan Bunka Nyumon. Tapi, namanya juga rezeki, masa aku tolak? Dan lagi materinya ngga terlalu sulit, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris aja kan? Aku menyanggupi. Aku mencari bahan soal SNMPTN di internet. Emang sih, level soal PMDK dan SNMPTN berbeda. Yang aku tahu, soal SNMPTN lebih sulit. Tapi ngga ada sumber yang share tentang soal PMDK di internet. Lagipula, kalau mbak Ayu bisa mengerjakan soal-soal SNMPTN dengan baik, insya Allah dia juga akan bisa mengerjakan soal PMDK dengan baik kan? Aku mempersiapkan semuanya sebaik-baiknya. Aku print soal-soal itu, aku jepret dengan rapi, lalu aku pelajari. Aku ngga mau lagi Cuma jadi bonek, yang bondo nekat alias modal nekat doank. Ngga bagus juga untuk progres murid-muridku. Kalau aku pelajari lebih dulu, aku bakal lebih siap mengajar.
 
Hari pertama les, agak terasa canggung. Entah kenapa aku merasa dia manja. Yah, tadinya kupikir dia lebih muda dariku, makanya aku maklum aja kalau dia manja. Tapi ternyata dia lebih tua dariku, jauh lebih tua. Kalau tidak salah dia kelahiran tahun 1986. pokoknya jauh lebih tualah! Agak kikuk juga jadinya. Saat itulah pertanyaanku terjawab, kenapa dia sudah bertunangan. Wong pada dasarnya dia udah umur siap nikah kok. Terus, aku bertanya, mau soal bahasa Inggris dulu atau bahasa Indonesia dulu. Karena kelihatannya dia ngga minat sama bahasa Inggris, aku memberinya sola bahasa Indonesia yang sudah aku print. Keliahatannya dia langsung bosan. Dia bilang, "Duh, harus ngerjain soal ya?" aku berusaha membujuknya. Suaraku sampai tercekat. Aku bilang kalau kita pemanasan dulu. Lalu aku baru sadar, aku dikontrak untuk berapa jam per pertemuan yah? Normalnya sih 1,5 jam. Tapi mbak Vita ngga bilang sih! Waduuuhh... Rasanya 1,5 jam itu lama banget. Tapi aku berusaha sabar. Toh, aku yakin dia bisa.
 
Tidak sampai 30 menit, dia langsung menyerah. Sambil membuang kertasnya, dia bilang, "Aduh, ngga ada cara lain ya? Pusing aku. Banyak banget bacaannya." iya emang sih, soal bahasa Indonesia itu banyak bacaannya. Yang aku pilihkan untuk dia itu yang soalnya sedikit. Aku ada soal yang lebih banyak. Aku ngga bisa ngebayangin reaksinya kalau aku kasih dia soal itu. Aku mengambil soal yang dia buang itu. Aku tersenyum sabar. Yah, setidaknya dia udah separuh soal. Terus aku bilang, "kita bahas ya?" satu per satu soal dan jawabannya aku bahas. Dia mendengarkan. Dia mencatat beberapa hal yang tidak dia mengerti. Aku agak lega. Berarti dia masih ada minat belajar. Aku terus melanjutkan, sampai soal yang terakhir dia kerjakan. Kelihatannya minat belajarnya kembali lagi. Katanya, "Nah, kalo gini kan enak. Aku jadi ngerti." lalu dia cerita kalau sebelumnya dia pernah diajar oleh seorang tentor untuk mata pelajaran ini, anak buahnya mbak Vita juga. Lalu aku tanya, "Kenapa kok ngga dilanjutin lagi?" Jawabannya singkat dan enteng, "Orangnya nggak asik." aku langsung jantungan. Terus gimana kalau dia nganggep aku juga nggak asik? Waduh...
 
Tapi untungnya itu ngga terjadi. Kelihatannya dia menganggapku "asik". Hehehe... Setelah semua soal kubahas, aku jadiin sisa soal itu sebagai PR. Dia langsung mau. Heran juga melihat perubahan sikapnya. Setelah itu, dia cerita lagi, kalau tentor sebelumnya hanya menyuruhnya mengerjakan soal-soal di buku SNMPTN yang Ayu beli sendiri. udah gitu, sama tentornya juga ngga dibahas. Yah, istilahnya kayak aku dulu, ngga modal apa-apa. Akhirnya dia ngambek dan ngga mau belajar lagi. Tapi mas Ikhwan membujuknya dan mencarikan tentor lain. Akhirnya ketemulah aku sebagai pengganti. Huufft... Untung aja aku sedikit mempersiapkan diri. Gimana kalau seandainya aku ngga mempersiapkan diri? Bisa-bisa aku didepak deh...
 
Hari kedua, kami belajar bahasa Inggris. Dia langsung menunjukkan muka ngeri. Dugaanku sih, dia ngga menguasai bahasa Inggris sama sekali. Tapi aku membujuknya. Tapi kali ini dia bener-bener ngga mau ngerjain. Buntu deh. Akhirnya aku bimbing dia pelan-pelan. Aku coba artiin bacaan-bacaannya, dan juga pilihan-pilihan jawabannya, lalu kubiarkan dia memilih jawaban sendiri. emang agak kurang efektif, tapi setidaknya better daripada ngga belajar sama sekali kan?
 
Selesai belajar, kami mengobrol. Dia cerita kalau dia seorang muallaf. Keluarganya adalah penganut Kristen yang taat. Orang tuanya bener-bener ketat soal agama. Katanya, dulu waktu sekolah, kalau dia dapat nilai 8 untuk mata pelajaran agama, pasti dia dicubit mamanya. Lalu dia cerita, sebenernya dia dulu kuliah jurusan agama, lalu semester 6 dia keluar. Alasannya, karena ia ingin mendalami Islam. Tapi secara diam-diam.
 
Aku mendengarkan ceritanya dengan takjub. Aku bertanya, kenapa dia memutuskan untuk masuk Islam? Lalu dia menceritakan awalnya. Katanya, ternyata ayahnya dulu seorang Muslim. Lalu, menikah dengan ibunya mbak Ayu dan masuk Kristen. Mbak Ayu mengetahui hal itu ketika ia berkunjung ke rumah keluarga besar ayahnya di Jakarta. Lalu dia cerita, dia sering ditinggal sang kakek sholat malam. Setiap subuh pun, ia mendengar adik sepupunya yang masih kecil membaca Al-Qur'an. Mbak Ayu suka sekali dengan suara itu. Katanya, rasanya damai. Aku tersenyum membayangkannya. Aku sendiri juga suka mendengar suara orang mengaji subuh-subuh. Rasanya jauh lebih damai dan menenangkan dibandingkan dengan nyanyian pengantar tidur manapun.
 
Cerita berlanjut. Dulu ia sering berteman dengan orang-orang Islam. Ia memperhatikan tingkah laku orang Islam beribadah. Katanya, setiap kali ia mendengar suara adzan, ia merasa seperti tertarik. Ia selalu merasa ingin masuk ke dalam. Lalu ia melihat orang berwudhu, ia juga pingin seperti itu. Akhirnya ia minta pada teman-teman Islamnya supaya diajarkan wudhu. Jadi, kalau teman-temannya sholat, ia juga ikut wudhu. Hanya saja dia ngga ikut sholat seperti teman-temannya.
 
Aku hanyut mendengar cerita itu. Rasanya aku ini kerdil banget. Seorang dari agama lain bisa menerima hidayah dari Allah, lalu menekuni Islam sepenuh hatinya. Aku jadi iri, kenapa ya aku yang dari lahir bergama Islam, malah ngga seperti dia. Kapan ya aku bisa bener-bener setulus dia? Lalu aku jadi malu sendiri. sepertinya ini teguran dari Allah untukku.
 
Ngga terasa hari sudah malam. Aku pamit pulang, dan bilang semoga sukses untuknya. Dia minta aku untuk mengajarnya lagi, kalau dia mampir ke Surabaya. Aku mengiyakan. Aku selalu ingin mengajar orang-orang yang punya keinginan untuk belajar, seperti mbak Ayu.
 
Ya, itulah cerita tentang murid-muridku. Banyak kesan selama mengajar mereka. Terkadang emang lelah, bosan. Tetapi aku senang bisa kenal murid-muridku. Aku bisa mengenang masa-masa ketika aku seusia mereka. Aku pun jadi teringat, bahwa masa belajar adalah masa yang sangat menyenangkan.
 
Serasa aku diberi kekuatan untuk terus hidup...

Learning from Heike

Sebenernya, posting ini agak konyol dan memalukan kalau dibaca orang lain. Tapi, setelah kupikir-pikir, ada sesuatu yang bisa dishare dalam cerita ini dan insya Allah bermanfaat. Selain itu, aku sendiri perlu menulisnya, supaya bisa dibaca oleh diriku di masa depan. Jadi, kalau aku menemui masalah tentang diriku, aku bisa baca posting ini dan refresh lagi deh!

Cerita ini diambil dari The Heike Story, terjemahannya Heike Monogatari karya Eiji Yoshikawa. Belum selesai kubaca sih, dan aku masih belum bisa nangkep ide besar novel ini tuh apa. Yang aku baca isinya perang mulu. Si ini nebas itu. Si itu menggal ini. Si ini bales dendam, begitu seterusnya sampai aku sendiri agak bosen. Tapi, ada satu penggalan cerita yang menarik, yaitu pas masa kejayaannya Kiyomori, si tokoh utama dari klan Heike. Diceritakan Kiyomori selingkuh dengan Tokiwa, gundik musuh bebuyutannya. Ceritanya emang Tokiwa ini masih muda dan cantik banget, sampai orang satu ibu kota iri sama dia. Sementara itu, istrinya Kiyomori, Tokiko, udah tua dan lama-lama ngga keliatan cantik lagi. Tokiko cemburu sama Tokiwa, dan maksa Kiyomori untuk mengusir Tokiwa dari Rokuhara. Kiyomori pasrah aja, dan cenderung ngga seberapa peduli sama istrinya yang marah. Merasa dapet restu dari Kiyomori, Tokiko menyuruh adiknya, Tokitada, untuk meyampaikan perintah atas nama Kiyomori supaya membawa Tokiwa keluar Rokuhara. Tokitada menerima perintah kakaknya, tapi dia juga membuka mata Tokiko kalau Tokiko sendirilah yang salah. Dia membiarkan diri sendiri menua dan ngga berusaha mempercantik diri. Tokiko jugalah yang membawa Bamboku, saudagar yang licik dan juga berperan membantu perselingkuhan Kiyomori dengan Tokiwa, masuk ke dalam lingkungan keluarga Kiyomori. Lalu, Tokitada menasihati Tokiko supaya mempercantik diri lagi. Tokitada menambahkan kalau pria itu menginjak usia empat puluhan bakal merasa siap menaklukan dunia (serius?) dan sebelum menaklukan dunia, pria merasa harus menaklukan rumahnya sendiri dulu. Dari situ Tokiko beranggapan kalau pria itu maunya menang sendiri. Tokitada membenarkan argumen kakaknya. Emang bener pria itu maunya menang sendiri. Katanya sih, biar gimana juga, pria-pria itu tetap mencintai istri-istri mereka. Tapi mereka mengeluh karena istri-istri mereka menua dan tidak menarik lagi, makanya mereka cari yang lebih muda dan cantik.

Agak ruwet juga kalau aku bilang. Tapi dari cerita itu, aku belajar beberapa hal. Pertama, wanita cenderung terlena dengan kebaikan orang lain, sampai-sampai dia sendiri ngga tau kalau dia masuk ke dalam bahaya. Contohnya waktu Tokiko memasukkan Bamboku ke dalam lingkungan keluarga Heike Kiyomori karena merasa bahwa Bamboku itu orang yang menyenangkan. Padahal ternyata Bamboku itu licik dan malah membantu perselingkuhan Kiyomori. Kedua, sifat cowok yang mau menang sendiri itu emang udah jadi semacam kodrat, sama seperti kodrat cewek yang bawelnya minta ampun. Jadi, emang sebaiknya sama-sama memahami dan memaklumi sifat-sifat itu. Ketiga, yang namanya cewek itu emang harus cantik. Ini agak makjleb juga, tapi kalau dipikir-pikir, sebenernya semua cewek itu cantik kok, dan cantiknya itu berbeda-beda, tergantung cara melihatnya. Nah, sekarang pertanyaannya, apa kita harus memaksa semua orang untuk mencari sudut pandang tertentu supaya bisa melihat kecantikan kita? Ya, bisa aja sih, dan silakan aja kalau mau. Tapi, kayaknya better kalau kita sendirilah yang menampilkan kecantikkan kita supaya bisa dilihat orang dari sudut manapun. Susah? Emang iya. Mana ada hidup yang mudah? Bahkan matipun (katanya) juga susah banget. Oke, terus, gimana caranya supaya bisa kelihatan cantik bagi semua orang? Hmm... Bentar ya, aku sendiri belum nemu jawabannya. Nanti aja kalau udah nemu aku share lagi. Hahahaha....

Nah, itulah beberapa pelajaran yang bisa aku petik dari Heike yang tebelnya minta ampun itu. Ngga nyesel baca buku tebel macam begitu. Hahaha... nanti kalau udah sampai halaman terakhir dan aku udah bisa nangkep ide besarnya, insya Allah aku share lagi.

Baca novel itu emang asyik, apalagi kalau novelnya bermutu. Siap-siap nemu pelajaran lain ah...

Hatachi wa yo....

11 April 2011, aku genap berusia 20 tahun. 20 tahun! Hatachi wa yo! Tuaaaaa!!! Aku hampir tak percaya sudah setua inikah aku? Kepala dua... oh, tidak... rasanya baru kemarin aku bermain-main dengan adek dan teman-temanku, berenang di bawah sinar matahari Jakarta, sepedaan panas-panas dengan sahabat-sahabatku, manjat pohon keres pakai rok SMP, berantem gara-gara main PS... ya, rasanya saat-saat itu baru saja terjadi setiap aku menutup mata untuk mengingatnya. Tapi kenyataannya, sekarang masaku sudah jauh dari masa-masa itu. Masa-masa yang sangat menyenangkan di tengah-tengah berbagai macam kepahitan yang aku alami di masa lalu. Dan kini, di umurku yang keduapuluh ini, aku memang sudah tidak pantas untuk bermain-main lagi. Tetapi, aku ingin selalu menyimpan semua kenangan masa laluku di dalam memoriku dengan utuh. Aku ingin, bahkan sampai pada tutup usiaku nanti, aku bisa tetap memeluk kenangan-kenangan itu. Selamanya aku ingin berjiwa anak kecil. Zettai ni.

Sebenarnya sejak Minggu malam sudah aku niatkan untuk berpuasa. Yah, hitung-hitung untuk mengungkapkan rasa syukur kepadaNya karena aku masih diberi umur hingga hari ini, dan mudah-mudahn sampai hari-hari berikutnya.tapi, karena suatu hal, puasaku ngga nyampe. Ya sudahlah. Allah Maha Mengetahui. Lagipula kondisi badanku belum pulih benar (entah kenapa akhir-akhir ini aku gampang drop).

Jam 5 subuh, aku mendapati batere hp yang baru aku charge malam sebelumnya, sudah hampir habis lagi. Ternyata ada banyak sms yang masuk. Ada dari Alfi-kun, Hana-chan, Yanuar, dan tentu saja Papa dan Adek Iqal. Semuanya mengucapkan selamat ulang tahun dan mengirimkan doa-doa yang baik untukku. Senang juga rasanya dapat sms begitu, karena biasanya aku dapat sms tentang kuliah dan pekerjaan. Hahaha....
Sms-sms dari yang lain pun berdatangan. Sms dari Nene, Risa, dan juga notifikasi FB berturut-turut masuk ke hpku. Aku menerima ucapan selamat dari hampir semua temanku, kecuali sms dari Angga. Sudah beberapa hari dia tidak bisa smsan denganku, karena harus berhemat. Baik aku maupun dia lagi dalam masa prihatin. Walau aku benar-benar kangen padanya dan rasanya ngga enak banget kalau ngga smsan, tapi aku berusaha memahami keadaannya. Toh aku juga sering dalam kondisi prihatin begitu, dan dia bisa memahamiku dengan sangat baik, kan? Maka aku harus bisa seperti itu juga ke dia.

Sebenarnya aku masih mengantuk, tapi aku memaksakan diriku untuk tidak tidur lagi. Aku ngga mau jadi malas di hari ulang tahunku yang keduapuluh ini. Aku beres-beres dan lain-lain sebelum berangkat kuliah. Sampai di kampus, kepalaku agak pusing. Badanku juga jadi lemas. Beberapa anak, Karu, Rin, Vita, Farah, dan lainnya menyalamiku dan mengucapkan selamat ulang tahun. Aku berterima kasih dan bercanda-canda dengan mereka tentang umurku yang semakin tua ini. Tapi, kepalaku makin pusing. Akhirnya aku mencoba untuk diam saja.

Aku mengikuti kuliah sebisaku. Tapi, siangnya aku bolos kuliah Bahasa Belanda, karena aku merasa semakin ngga enak badan. Aku melihat jam, jam 1 siang lebih. Masih ada waktu untuk istirahat sebelum mengajar. Kenapa aku memilih bolos kuliah daripada bolos mengajar? Hmm... yah, selain karena tuntutan dari orang tua muridku (secara ngga langsung sih), aku juga sadar aku membutuhkan pekerjaan ini, terutama untuk uang saku tambahan. Mengingat kondisiku yang makin prihatin, menyia-nyiakan pekerjaan adalah hal yang bodoh. Lagipula jatah bolosku masih ada. Jadi aku putuskan untuk pulang dan tidur sebelum mengajar.

Jam 3 kurang seperempat, aku bangun. Aku buru-buru cuci muka dan berangkat. Di jalan aku membeli susu dan snack, karena badanku butuh asupan energi. aku melihat jam, setengah 4. Wah, bisa ngga ya tepat waktu? Tapi untunglah angkotnya ngga lama. Akhirnya aku sampai di rumah Maydi tepat waktu.

Aku pulang mengajar jam setengah 7. Papa sudah sms berkali-kali menanyakan aku di mana. Aku bilang aku masih dalam perjalanan pulang. Hpku terus bergetar karena banyaknya sms yang masuk, sampai-sampai kartu 3 ku aku matikan. Aku hanya menatap hpku dengan perasaan sedih. Mengapa? Yah, aku rasa kurang etis juga sih kalau aku mengungkapkannya di sini. Biarlah nanti aku posting di blog satunya lagi aja. Himitsu wa yo, gomen ne...

Di jalan, aku terus keinget Angga. Jujur aku berharap dia datang untuk menepati janjinya. Aku pernah meminta dia untuk datang saat ulang tahunku, dan aku meminta sesuatu padanya. Dia menjawab, “as you wish, my lady”. Artinya dia udah janji kan? Tapi saat latihan Sabtu minggu sebelumnya, kayaknya dia ngga jadi datang, karena kondisinya yang prihatin banget. Aku kecewa, tapi masih menanti sambil harap-harap cemas sampai detik terakhir.

Sampai di kost, aku sms Papa, lalu mandi. Aku frustasi karena batere hpku ngedrop lagi. Payah! Kedinginan setelah mandi, aku pakai baju hangat dan nangkring di depan laptop. Maunya sih mengerjakan tugas-tugas, tapi aku benar-benar suntuk. Aku main game. Tapi karena ngga mood, akhirnya aku kalah terus. Makin kesellah aku. Aku berulang kali melihat hp, kalau-kalau ada sms dari Angga. Aku juga sudah sms dia. Duh, bener-bener deh aku... frustasi tingkat tinggi. Aku menunggu dia pulang dari kuliah malamnya. Tapi... sudah jam 9 lebih kok dia ngga kasih kabar sih? Hampir putus asa, aku sms Isma. Siapa tahu dia lagi sama anak-anak. Hope so...
Sedetik kemudian, ada sms dari Angga. Dia sudah di depan kost. Saking kagetnya, aku langsung turun, ngga pake sendal.

Aku bener-bener senang melihat dia di depan kost, sampai aku kikuk sendiri. Dia mengucapkan selamat ulang tahun, lalu memberiku bungkusan. Apa pula ini? Penasaran, aku buka kotaknya. Ternyata sepatu Converse. Aku ngga percaya. Sepatu itu berwarna hitam, dalamnya berwarna ungu. Modelnya kembar dengan sepatu Angga. Cantik sekali. Aku bener-bener ngga percaya. Dia prihatin begitu dan membelikan aku Converse? Saat aku tanya, dia malah jawab ngga tahu. Dasar. Khas dia banget sih. Dia ngga pernah mau mengungkit-ungkit apa yang dia berikan padaku. Dia hanya cerita kalau dia beli sepatu itu dengan Isma. Sebelum pulang, Angga pesan supaya sepatu itu aku jaga baik-baik. Wah, iya donk! Setelah itu, dia langsung pulang. Aku menatapnya dengan perasaan bahagia, lalu naik ke atas sambil memeluk sepatu itu. Sampai di kamar, aku langsung sms Isma untuk mengucapkan terima kasih.

Dia Cuma datang sebentar, tapi buatku itu sudah cukup. Aku merasa malu karena sempat mengira dia bakal ingkar janji. tapi, ternyata tidak. sampai saat ini, aku masih tidak tahu hatinya terbuat dari apa. Aku hanya tahu, aku beruntung bisa menjadi seorang kekasih dari cowok langka seperti dia.
Di ulang tahun keduapuluh ini, aku mendapat kado istimewa dari Tuhan: kesederhanaan yang begitu indah...
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates