Maydi UNAS

hari ini hari terakhir ngajar Maydi. besok adalah UNAS terakhirnya. rasanya berat sekali.

aku masih inget waktu pertama kali aku ketemu dia. waktu itu dia masih kelas 1 SMP, dan aku baru tingkat 2. pertama kali ketemu, aku ngerasa aku ngga diterima olehnya.

tapi, 3 tahun berlalu, ternyata rasanya berat untuk melepas dia.

aku pasti akan selalu inget gimana dia selalu ngeles kalau aku coba nerangin mata pelajaran. gimana ekspresinya yang manja sekaligus nakal waktu tanya, "Mbak Nisaaaaaa, ini gimanaaa?" juga waktu minta dibelikan sesuatu.

aku hampir selalu ngga tega menolak permintaannya.

bagiku, dia bukan murid. dia adikku.

aku ngerasa diterima di rumahnya. bagaimana keluarga menerimaku dengan tangan terbuka. aku, yang notabene memeluk agama yang berbeda dengan mereka, selalu diterima. tak pernah sekalipun aku diperlakukan sebagai "pesuruh"

ya, rumah yang begitu hangat.

aku juga masih inget gimana aku menjalani masa-masa sulit di mana aku harus berjuang untuk hidup, juga masa-masa indah yang aku jalani bersama "dia".

rasanya berat sekali. berat....

tapi, waktu kan terus berjalan ya. Maydi sekarang udah kelas 3. sudah waktunya lulus dari SMP. dan masuk ke jenjang yang lebih tinggi. oh ya, dia berencana masuk SMK St. Louis. meskipun aku setengah berharap dia masuk SMA, tapi aku menghargai keputusannya.

hari ini hari terakhir aku bertemu dia di masa SMP.

sebentar lagi, dia akan menjadi seseorang yang lebih dewasa lagi. kira-kira, kalau nanti dia udah besar dan berkeluarga, masih inget ngga ya sama aku? hahaha....

okay, that was a lame joke. jujur aku rada cemas juga, gimana dia menjalani UNAS IPA besok? semoga aja dia ngga ceroboh dan berhati-hati waktu ngitung nanti. aku jadi cemas kalau inget itu. secara emang dari dulu Maydi masih aja suka ngga teliti kalau itung-itungan. tapi yaaaah... semoga dia sukses untuk UNAS nya. amin...

Maydi bilang, "nanti kalau aku masuk SMK juga kita les lagi kok, Mbak"

aku cuma tersenyum aja. aku tau, aku ngga menguasai pelajaran SMK. tapi, rasanya ngga tega mengatakan "tidak". aku masih pingin terus bersama dia, sedikit lebih lama lagi.

hari ini hari terakhir aku ngajar dia di masa SMP. begitu aku mengucapkan terima kasih dan pamit kepada ibunya,

"Makasih banyak ya, Mbak Nisa. Sampai ketemu lagi."

there's no "goodbye". but "see you again"

aku berusaha keras untuk menahan tangis.

tadi, sebelum aku pulang, Maydi masih melakukan "ritual" biasa. dia masih ngusilin aku, gangguin aku, nggodain aku, sampai aku jadi berlama-lama pulang karena ngeladeni dia.

rasanya aku jadi ngga pingin pulang.

lalu aku inget, aku masih punya janji sama dia. jadi, dalam waktu dekat ini aku akan ketemu dia lagi. agak ringan juga perasaanku.

tapi, begitu sampai kos, aku tetep aja nangis di depan laptop sambil nulis postingan ini.

ini pasti gara-gara playlistku lagu slow semua. hahahaha...

頑張ってね、メイディちゃん。立派なレディーになりますように。



malam ini rasanya begitu sepi. aku cuma bisa tersenyum melihat bulan purnama di atas perempatan BG Junction.

Ulang Tahun ke-22

sebenernya aku juga ngga tau sih mau posting apa soal ultah ke-22. hahahaha... cuma ya, karena ini ulang tahunku, jadi ya sedikit menulis kesan tentang hari spesial ini juga ngga apa-apa kan ya :D

aslinya sih, ulang tahun kali ini ngga ada yang terlalu fenomenal. hahaha apa sih. ngga ada surprise, ngga ada kado, ngga ada pesta. ya atari mae darou, udah tua juga masa mau ada pesta segala. engga mungkin juga kan hahaha...

tanggal 10 April 2013, aku nulis puisi. tapi menurutku puisinya agak fail. soalnya, bukannya nulis tentang kebahagiaan menyambut ulang tahun, eh malah nulis puisi yang suram. tau deh kenapa aku bisa mikir kayak gitu. aku sampai takut-takut sendiri. sampai sekarang pun aku masih ragu, apa puisi itu aku posting di blog puisiku, atau sebaliknya, aku hancurkan saja ya? entahlah. apapun, semoga itu bukan semacam kutukan buatku sendiri.

terus, tengah malem, aku dapet sms dari Rezar dan Alfi yang isinya ucapan selamat ulang tahun. malem itu aku lagi engga enak badan, jadi pikiran dan tindakan agak random gitu :p waktu aku dapet sms dari mereka, aku buka, baca (setengah sadar), dan berniat ngetik balesan. tapi berhubung tubuh dan pikiranku lagi random, jadi malah ngga kekirim hahahaha....

terus, aku ngerasa ada seseorang masuk kamarku. waktu itu aku ngerasa itu mimpi. Mbak Mega masuk kamarku, uyel-uyel pipiku dan memeluk bonekaku, Resnu. aku ngga ngerti bener-bener apa yang sedang terjadi. rasanya aku cuma capek dan ngga enak badan. mataku berat. rasanya pingin tidur terus engga bangun-bangun.

paginya, ada beberapa sms masuk. isinya ucapan selamat tahun dari Papa dan teman-teman. aku yang baru buka mata, senyum-senyum sendiri ngeliatnya. semacam orang tolol gitu lah. hahaha... puas baca-baca sms, aku bangun dari tempat tidur, ambil nafas dalam-dalam, lalu aku lepaskan sambil bergumam, "terima kasih ya Allah, aku masih diberi kesempatan hidup sampai detik ini" lalu aku beraktifitas seperti biasa.

di hari ulang tahunku, engga ada yang heboh. semuanya berjalan seperti biasa. yang ngga biasa sih timeline facebook ku. seharian itu penuh dengan ucapan selamat. beda kayak tahun-tahun lalu, kali ini aku baca bener-bener semua ucapan selamat itu. entah kenapa rasanya seneng gitu. dari situ aku ngerasa, "oh, ini ya rasanya dapet ucapan selamat ulang tahun. mungkin ada juga orang-orang di luar sana yang menganggap betapa berartinya ucapan selamat ulang tahun itu dan ngerasa senang hanya dengan satu kalimat kecil begitu"

yah, jujur selama ini kalau dapet ucapan selamat ulang tahun, aku ngga terlalu memperhatikan semuanya satu per satu. mungkin dulu aku cuma fokus sama beberapa orang yang aku anggep penting. ternyata, begitu aku belajar membaca semua ucapan itu satu per satu, aku jadi paham. dapet ucapan selamat ulang tahun itu emang menyenangkan kok. semacam kebahagiaan kecil yang sederhana, tapi manis.

keesokan harinya, aku dapet sms dari Mama. Mama minta maaf karena baru bisa ngasih ucapan selamat ulang tahun di tanggal 12. Mama cerita kalau di sana Mama lagi kesulitan sekali, sampai buat beli pulsa aja engga ada. aku terharu dapet sms dari Mama. ternyata emang bener, meskipun jauh, yang namanya ibu pasti selalu inget anaknya. apa aku besok juga bakal begitu sama anakku? Godspeed. hahaha....

tanggal 15, aku dikasih hadiah sama muridku, Maydi. isinya dompet besar. saking besarnya, buku tabungan juga bisa masuk loh. modelnya kayak dompet wanita-wanita karir gitu lah. cocok deh buat aku yang semakin tua ini wahahaha.... これからもその財布を大事にします :)

ya, kira-kira begitulah ulang tahunku yang ke-22 ini. banyak hal yang terjadi, terutama hal-hal tak terduga. ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan. kesanku di ulang tahun ini, aku ngerasa kalau aku mulai belajar stay cool. bukan sok cool loh yah :p

aku merasa harus bisa mengendalikan diri, terutama menghadapi masalah. bukan senewen dulu baru menghadapi masalah. sekarang aku belajar mendinginkan kepala dulu, baru menghadapi masalah dengan tenang. masih terasa sulit sih, tapi... ganbarimasu! :p

semoga, di usiaku yang ke-22 ini aku bisa menghasilkan (paling tidak) satu karya yang baik. aamin :)

Tiga Bulan Awal 2013

mungkin sekilas posting ini seperti rangkuman setelah lama aku absen menulis di blog ini. tapi, ada begitu banyak cerita yang lebih dari sekedar rangkuman selama tiga bulan ini. sebenarnya udah lama aku mau menulis, tapi berhubung pikiran dan waktu terasa selalu penuh (hehehe) jadi baru sekaranglah aku bisa menulis.

hm, mulai dari mana dulu? oke, kita cerita mulai dari bulan Januari dulu :)

Januari 2013

aku lupa sejak tanggal berapa kita UAS semester ganjil, tapi aku ingat tanggal berapa sidang proposal. yaitu tanggal 10 Januari 2013.

hari itu, sebenarnya aku dijadwalkan sidang jam 9 pagi. tapiiiiii..... berhubung Bu Diah Arimbi, dosen tamu dari Sastra Inggris, masih ada rapat di kampus C, jadinya ditunda sampai siang.

sekitar jam 1 siang (kalau tidak salah), sidang proposal Kie diadakan. selama ini aku belum pernah menonton sidang, baik itu sidang proposal maupun sidang skripsi, jadi aku datang ke sidang skripsi, sekalian siap-siap juga (aku sidang setelah Kie). Kie diuji sama Bu Diah dan Syahrur-sensei.

setelah Kie mempresentasikan proposalnya, Bu Diah langsung mengajukan pertanyaan tentang surealisme itu apa, bagaimana reputasi Haruki Murakami dalam sastra surealisme, dan sebagainya. suara Bu Diah yang cetar membahana membakar kompleks sebelah itu benar-benar bikin aku keder. aku ngga tau gimana perasaan Kie menghadapi kedua dosen penguji itu. Kie keliatan gigih mempertahankan argumennya. sementara itu, aku udah dag dig dug tegang menonton sidang itu. aku duduk di belakang sama Eli-sensei. Eli-sensei cuma senyam-senyum, malah ketawa aja nonton sidang itu.

sidang Kie berjalan alot. melebihi batas waktu sidang malah. emang seru sih. Bu Diah dan Kie sama-sama berkutat di satu hal yang sama. aku ngga seberapa ingat itu apa, yang jelas serulah. setelah akhirnya selesai, barulah sidangku dimulai.

jujur, aku guguuuuup banget waktu mau sidang itu. apalagi aku kan memutuskan untuk pakai teorinya Barthes, yang notabene teori Barat. kalau soal teori Barat, aku yakin Bu Diah sudah paham bangetlah. berasa ciut di depan Bu Diah. gimana kalau aku salah kaprah tentang teori ini? bakal didamprat macam apa aku ini? dan berbagai pertanyaan lain muncul, membuat aku makin gelisah dan ngga pingin sidang. but show must go on. jadi aku banyak-banyakin menyebut nama Allah dalam hati.

saking gugupnya, aku sering keselip lidah waktu presentasi. yah, emang itu satu kebiasaan jelek yang belum bisa aku ubah. rasanya pingin aku lepas aja dulu lidahku biar ngga belepotan. tapi ngga bisa ya. hehehe...

setelah presentasi, aku makin gugup. aku udah takut bakal ditanyain kayak Kie juga. duuuh! tapi ternyata ngga juga sih. Bu Diah mengkonfirmasi antara yang aku tulis dengan yang aku presentasikan. ternyata aku goblok banget. aku lupa mengganti judul di sub-bab sekian. aku lupa halaman berapa, sub-bab apa, yang jelas seharusnya aku mengganti judul lama, yaitu "Representasi Ibu dalam Puisi Kaneko Misuzu - Hubungan antara Puisi dengan Riwayat Hidup Penulis-" dengan judul yang baru, yaitu "Representasi Ibu dalam Puisi 'Kokoro', 'Suzume no Kaa-san', dan 'Umi wo Aruku Kaa-sama' Karya Kaneko Misuzu". tolol banget lah aku itu. aku menjelaskan kalau aku salah tulis. terus aku diketawain sama Bu Diah ._.

ternyata, sidang berjalan tidak seseram yang aku bayangkan. aku ngga terlalu didamprat, tapi justru malah dikasih banyak masukan. aku legaaaa banget udah sidang.

dan hasilnya juga ngga sia-sia. sekian hari kemudian, di cybercampus muncul nilai mata kuliah Seminar. aku dapat nilai A untuk proposal :)

begitulah cerita tentang sidang proposalku. oh ya, aku tahun ini ikut ujian Japanese Studies Monbusho lagi. untuk menghadapi tes yang sulitnya minta amplop itu, aku dan beberapa anak yang lolos ujian saringan ikut benkyoukai di suatu kelas geno bernama Tokushin-kurasu (Tokushin class) di bawah bimbingan seorang sensei yang geno pula bernama Oonishi Satoshi. Satoshi ini sebenarnya sebaya sama aku. dia dan Sumitomo Kazuma, adalah volunteer dari Ashinaga Foundation tahun ini (Ashinaga Foundation tiap tahun selalu mengirim dua orang volunteer ke jurusan kita. biasanya mereka jadi semacam asisten dosen atau pembimbing untuk ujian semacam Nouryoku Shiken dan sebagainya). beda sama volunteer sebelum-sebelumnya, Satoshi ini gampang beradaptasi dan mudah bergaul dengan semua kalangan. bahkan hari kedua dia dateng ke FIB, dia udah bergaul sama Cak Mo, petugas parkir FIB. kita sampe melongo, ngga habis pikir gimana caranya (dengan bahasa apa) Satoshi dan Cak Mo berkomunikasi. bahkan sampai ada spekulasi jangan-jangan Cak Mo bisa bahasa Jepang -,-

by the way, Tokushin-kurasu tahun ini terbagi jadi 2 kelas, kelas A dan kelas B. pembagiannya berdasarkan peringkat nilai yang diperoleh waktu ujian saringan itu. berhubung namaku berada di peringkat pertama, masuklah aku ke kelas A bersama teman sekelas yang disebut Satoshi sebagai "mendouna gakusei" alias murid-murid yang menyusahkan. ya wajar sih kalau dia bilang begitu. soalnya, selain aku, masih ada 6 mahasiswa lain yang sangat menyusahkan. setelah namaku, ada nama Vina Ardha, adik kelasku angkatan 2010 (oke, dia ngga mendou, tapi ternyata cukup geno), disusul nama Ratu Addina alias bebeb Nene yang kepintaran dan kepolosannya sangat abnormal itu. terus ada si "cantik" yang geno, Alfi Ardian Pratama. ditambah mbak kosku yang seksi manly, Mega Dian Putra, eh Pramita. adik kelasku yang multi-tasking (bukan multi talent loh ya) Sukma Prayoga alias Unko. dan terakhir, teman seangkatan mbak Mega, yang berhasil memacari Kazuma, mbak Nurul Indah Sumitomo, eh Susanti.

dibawah bimbingan Satoshi-sensei, jadilah kelas A sebagai kelas geno mendouna kurasu alias kelas geno yang sangat merepotkan.

beda sama tahun lalu, kelas ini sangat menyenangkan. rasanya tiada hari tanpa tawa bersama orang-orang sedeng ini. ada aja yang jadi bahan guyonan. bahkan dalam keadaan sumpek dan buntu sekalipun, kita masih bisa guyon. yah, kita emang orang-orang iseng yang kreatip dalam menciptakan guyonan.

tapi, di samping sikapnya yang suka bercanda itu, Satoshi serius membimbing kita. dia ngga segan-segan kasih PR yang banyak (it was hell!!!), bahkan sampai ngadain bimbingan dua kali sehari bagi mereka yang menginginkannya.

begitulah situasi dan kondisi bimbingan Tokushin Kurasu. sementara itu, sejak tanggal 16 Januari 2013, Papa opname di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. papa harus menjalani operasi pengangkatan kantung kemih. karena tumor yang Papa derita, dokter menyarankan supaya kantung kemih Papa diangkat dan diganti dengan kantung buatan. Papa pasrah menerima semua ini. aku menemani Papa selama liburan semester ganjil ini.


keadaan kelas A yang seperti itu, kondisi Papa, dan kesibukanku mengurus segala macam administrasi dan keperluan Papa di rumah sakit, membuatku semakin ingin berjuang untuk bisa lolos dalam ujian Monbusho tahun ini.

emang ada kalanya aku benar-benar sumpek, lelah... saat seperti itu, aku udah hampir nyerah. ngga sekali dua kali aku nangis di depan mbak Mega dan mbak Vita saat di kos. kadang rasanya sepi dan sendiri. kadang merasa marah, kepada mereka yang ninggalin aku begitu aja, di saat aku dalam keadaan susah seperti ini.

tapi toh Tuhan ngga pernah meninggalkanku. bahkan Ia mengirimkan teman-teman yang selalu mendukung. bahkan para dosen pun memberi perhatian juga. karena itu jugalah aku bisa bangkit dan berjuang lagi.

Februari 2013
4 Februari 2013, Papa operasi. saat operasi, aku ngga tau harus gimana. aku bolos kelas Tokushin hari itu dan menunggu sampai Papa selesai operasi. operasinya lama sekali, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. aku minta Onyonk dateng buat menemaniku di saat dia lowong. aku cuma ngerasa takut. aku pingin ditemani seseorang. sempat kepikiran buat manggil dia, tapi akhirnya aku urung. sebagai gantinya aku minta tolong sama Onyonk. Onyonk dan mbak Mega dateng menemani sampai sore. aku benar-benar berterima kasih.

dan akhirnya operasi Papa berhasil. aku ikut lega rasanya.

selama Papa operasi dan masa pemulihan adalah masa-masa terberat. tubuh Papa jadi rentan sekali. sering sekali menggigil kedinginan, mual dan muntah kalau makan, dan sebagainya. aku bingung, hampir putus asa. di saat genting seperti itu, aku harus ikut ujian tanggal 21 Februari. aku jadi serba salah.

tapi karena aku ingin lolos, semangat yang diberikan orang-orang di sekitarku, dan Papa merestui, maka aku tetap pergi ujian.

21 Februari 2013
ujiannya sangat sulit. sasuga Monbusho shiken lah. tapi, biar bagaimanapun juga, aku dan teman-teman udah berjuang keras sampai bisa ikut ujian itu. dalam hatiku aku hanya bisa berdoa semoga bisa lolos.

ternyata Tuhan mengabulkan doaku.

27 Februari 2013, muncul pengumuman hasil ujian tulis Monbusho. dari 24 nama yang lolos, namaku dan nama Nene tertera di dalamnya. kami berdoa lolos dan bisa mengikuti tes tahap selanjutnya, yaitu wawancara di Kedubes Jepang Jakarta.

senang, terharu, ngga percaya, semua campur aduk jadi satu. akhirnya tahun ini mahasiswa Sastra Jepang UNAIR berhasil lolos ke ujian wawancara. dan mahasiswa itu adalah aku dan Nene. aku senang, luar biasa senang. aku bisa ke Jakarta, ikut tes wawancara, bersama sahabatku pula.

28 Februari 2013, ulang tahun mbah Ity. bertepatan dengan itu pula Papa diperbolehkan keluar dari rumah sakit. rasanya hari itu jadi hari yang bahagia.

Maret 2013
2 Maret 2013, aku dan Nene untuk ikut Kanji Cup 2013 level Chukyuu. sebenernya aku seneng juga, karena itu artinya udah 3 tahun berturut-turut aku mewakili UNAIR ikut Kanji Cup. apalagi akhirnyaaaaaaaa tahun ini bisa ikut level Chukyuu. tapi, di sisi lain aku khawatir, gimana kalau seandainya aku kalah lagi di awal pertandingan? masa 3 tahun kalau mulu tanpa pernah, setidaknya, masuk semi final? duh, malu banget lah kalau kayak gitu. aku kan juga pingin sekali-sekali nama UNAIR itu masuk ke semi final kek, atau kalau bisa ya ke final. tapi yah, siap ngga siap aku dan Nene tetap ikut pertandingan ini.

by the way, sebenernya pemilihan peserta ini benar-benar mendadak. sebelumnya, Eli-sensei udah melatih angkatannya Vina sejak H-sekian. tapi, H-7, tiba-tiba aku, Nene, dan mbak Nurul ditunjuk untuk ikut level Chukyuu. ternyata, Sensei (kayaknya sih lupa) baru tau kalau yang ikut level Chukyuu haruslah mereka yang sudah N3. di antara angkatan Vina, baru Ayu yang punya N3. selebihnya pada belum. akhirnya, kita bertiga diikutkan supaya genap 2 tim (tiap instansi minimal mengirimkan 2 tim yang masing-masing terdiri dari dua orang untuk ikut level Chukyuu). jadilah UNAIR kirim dua tim, yaitu aku dan Nene dalam tim UNAIR 1, terus Ayu sama Mbak Nurul dalam tim UNAIR 2. persiapan kita sama sekali ngga mateng. kecuali Ayu yang udah dilatih sejak liburan semester ganjil. kita menaruh harapan besar pada Ayu. sementara aku sendiri, menaruh harapan besar pada partnerku yang mengambil Nouryoku Shiken N1 tahun 2012 kemaren.

begitulah cerita di balik pertandingan ini. akhirnya pada hari H, aku berangkat pagi-pagi ke Gedung Gema, UNESA Ketintang, tempat diadakannya pertandingan ini. Nene dan anak-anak lainnya udah pada dateng. aku udah gugup ngga karuan, sementara Nene santai-santai makan coklat.

jam 9, para peserta diperbolehkan masuk ke dalam gedung. seperti biasa, pendukung Brawijaya dan UNESA mebludak dan heboh. iri deh. apalagi waktu Brawijaya naik ke atas panggung mengembalikan piala bergilir Kanji Cup. dobel iri! kapan ya UNAIR bisa kayak gitu?

setelah sambutan dan segala macam acara protokoler lainnya, akhirnya pertandingan dimulai. beda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini dimulai dari level Chukyuu dulu! mati mak! tapi untuk tim UNAIR 1 dapet blok kedua, sementara UNAIR 2 dapet blok keempat. jadi aku dan Nene masih punya waktu buat observasi dulu.

babak penyisihan blok pertama dimulai. aku dan Nene memperhatikan soal dan mencoba menjawab dari kursi penonton. seru, heboh, menyenangkan banget. di tengah keramaian itu, aku tanya pada partnerku itu, "kira-kira kita bisa jawab berapa soal ya, Beb?"

"10 kana~" katanya. entah itu ekspresi yakin atau ragu.

tapi, dengan kata-kata itu, entah kenapa ada satu keyakinan yang masuk ke dalam diriku.

"10 yah. oke deh. aku padamu, Beb. at least kita jangan sampai malu-maluin nama UNAIR lah."

Nene mengambil tanganku, lalu menjabatnya.

blok kedua dimulai. tim UNAIR 1 dapat whiteboard nomor 4. nomor 4 itu sebenarnya dijaga sama Kazuma (fyi, Satoshi jaga whiteboard nomor 2 lhoo). tapi supaya fair, dituker sama Izuka-sensei dari Brawijaya. jadi Kazuma jaga nomor 3, Izuka-sensei jaga nomor 4.

peraturan babak penyisihan level Chukyuu seperti ini:

satu babak ada 6 pertanyaan. tiap blok ada 4 tim. tiap babak penyisihan per blok, dipilih dua tim dengan nilai terbesar untuk maju ke babak semi final.

tiap pertanyaan muncul di layar. biasanya seputar cara baca, cara tulis Kanji, jukugo, puzzle, dan sebagainya. tiap tim menulis jawaban di papan tulis yang disediakan untuk masing-masing tim. tim yang menjawab dengan benar dapat 1 poin. biasanya sesekali muncul pertanyaan "Hayaoshi", yaitu menjawab cepat. kalau pertanyaan ini muncul, tiap tim harus berlomba untuk menjawab yang paling cepat. tiap tim harus menulis jawaban secepat mungkin, lalu memencet tombol di meja. tim yang paling cepat dan benar menjawab, akan mendapatkan poin.

seandainya setelah pertanyaan keenam nilai keempat tim masih seimbang, maka diadakan pertanyaan tambahan. tim yang paling cepat dan benar menjawab, akan mendapat poin tambahan.

pada babak ini, aku bertugas menulis jawaban di papan tulis, sementara Nene melihat soal dan memberi hint seandainya aku ngga tau jawabannya. dia juga bertugas memencet tombol kalau seandainya muncul "Hayaoshi". sebenernya aku kurang yakin sama kemampuanku. tapi aku cukup percaya kalau aku bisa menulis cepat. selain itu, aku percaya Nene bisa menuntunku di saat aku bingung. kalau seandainya Nene yang menulis, dan aku yang bertugas memberi petunjuk, pasti tambah kacau.

soal pertama,  「お湯が沸く」
"Bagaimana cara baca Kanji yang digarisbawahi?"

aku dan Nene sama-sama tahu artinya, yaitu "airnya mendidih". tapi, aku dan Nene pro-kontra mengenai jawabannya.

"apa nih, Beb? waku bukan sih?"

"masa sih? kayaknya bukan deh..."

tapi tetep aja aku tulis waku. di sebelahku, Nene udah geleng-geleng kepala sambil gigit jari.

ternyata jawabannya benar waku.

di bangku penonton, Eli-sensei, Adis-sensei, Santi-sensei, dan anak-anak UNAIR lain bersorak-sorak. aku udah lemes saking leganya.

soal demi soal muncul bergantian. di babak pertama, tim UNAIR 1 berhasil mengumpulkan 4 poin dari 7-8 soal. itu adalah nilai terbesar dalam blok kedua. kami berhasil masuk semi final.

aku bener-bener ngga percaya. aku dan Nene berhasil masuk semi final! saking ngga percayanya, aku sampai histeris dan mau nangis. gara-gara itu, orang-orang ngeliatin aku. aku sih udah ngga peduli. yang penting masuk semi final, mewakili UNAIR untuk pertama kalinya! yeeeey!

blok ketiga dan keempat dimulai. di blok keempat, tim UNAIR 2 gugur. aku dan Nene ngga percaya, karena kita bener-bener menaruh harapan besar pada Ayu. tapi menurutku, tim UNAIR 2 gugur bukan karena mereka benar-benar ngga mampu, tapi karena soalnya luar biasa sulit. aku dan Nene mencoba menjawab soal dari kursi penonton, tapi tetap aja banyak salah.

setelah babak penyisihan Chukyuu, babak penyisihan Shokyuu dimulai. aku ngga inget berapa persisnya peserta dari UNAIR, yang jelas ada anak-anak 1nen seperti Harun, Dayan, Lukman, Puteri, dkk dan anak 2nen seperti Sicha dkk, juga 3nen seperti Vina, Alifah, dkk. meskipun ngga ada satupun anak UNAIR yang masuk ke semi final, Lukman udah berjuang keras. dia bertahan sampai soal kesekian belas. biar gimanapun, aku tetap bangga sama mereka, mengingat 2 tahun yang lalu aku gugur di soal ke-6, dan tahun lalu aku gugur di soal ke-2 :p

setelah penyisihan dan semifinal Shokyuu, semi final Chukyuu dimulai. selama pertandingan Shokyuu, Nene keluar cari minuman dingin dan snack untuk kita berdua. dia dateng beberapa menit sebelum semi final Chukyuu dimulai. pas lagi enak-enaknya makan coklat dan minum teh dingin, nama tim kita dipanggil untuk maju ke babak semi final blok pertama. Nene yang masih sibuk dengan coklatnya, menyuruhku naik duluan ke atas panggung. setelah ketiga tim lainnya naik panggung, barulah dia menyusulku. sekali lagi, papan kami dijaga Izuka-sensei.

di babak semifinal, kami ngga bisa berbuat banyak. hanya berhasil menjawab 3 soal. tapi karena kecerobohan kami, hanya 1 jawaban yang benar-benar diakui juri. akhirnya kami hanya dapat 1 poin. dengan muka kecewa aku kembali ke bangku penonton.

yah, meskipun ngga bisa menang, tapi setidaknya aku dan Nene berhasil masuk ke semi final. kami berhasil memenuhi janji untuk ngga (terlalu) malu-maluin nama UNAIR :p


3 Maret, aku dan Nene berangkat ke Jakarta naik kereta Sembrani dari stasiun Pasar Turi. ini pertama kalinya aku pergi jauh tanpa dikawal orang tua. aku mengharapkan perjalanan yang menyenangkan, tapi ternyata ngga terlalu menyenangkan juga. soalnya kereta eksekutif ini dingin banget dan apa-apa bayar. pernah ada kejadian, petugas KAI membagi-bagikan kopi hangat. karena Nene bilang itu coklat panas, aku ambil satu. ternyata bukan. aku cuma minum sedikit, terus aku taruh di samping Nene. ngga lama setelah itu, kita ditagih uang 10.000 untuk segelas kecil kopi itu. aku merasa dibohongi. udah aku cuma minum sedikit, ikut bayar pula. kenapa sih mereka ngga bilang kalau kopi itu dijual? tapi ya udahlah. mau gimana lagi. buatku sih, yang penting bisa ke Jakarta lagi setelah sekian lama :')

4 Maret, aku sampai di Jakarta. aku menginap di rumah Tante Lilik. rasanya terharu banget, karena benar-benar udah lama aku ngga berkunjung ke rumah Tante Lilik. rumah itu ngga banyak berubah. Tante masih sama Bibik yang setia. keduanya welcome. aku senang, merasa diterima. di rumah itu aku mempersiapkan diri untuk wawancara tanggal 5 Maret. selama persiapan itu, Andi-sensei rela meluangkan waktu untuk membantuku memilih universitas Jepang via sms. bahkan sampai jam 12 malem loh. aku sampai ngga enak hati jadinya. tapi, berkat bantuan Sensei, akhirnya aku dapat gambaran kira-kira universitas seperti apa yang bisa aku pilih.

5 Maret, aku berangkat dari rumah Tante pagi-pagi sekali, sekitar jam 6.30. Bibik udah membekali roti bakar, air mineral, dan sebagainya. aku terharu banget. apalagi roti bakar buatan Bibik enak banget. aku diantar sama ojek langganan Bibik. begitu di jalan, aku agak shock juga ngeliat jalanan Jakarta yang luar biasa macet. "oh My God, ini baru jam berapaaa?" pikirku dalam hati. tapi ngga apa-apa. inilah suasana yang aku rindukan. suasana Jakarta yang luar biasa sibuk sampai sumpek. bikin kangen banget. tapi, karena kita sama-sama ngga tau Kedubes itu di mana, akhirnya kita kelewatan. terpaksa putar balik lagi. aku sampai kasihan sama Pak Ojeknya. soalnya putar baliknya jauh amat! -,-

aku sampai sekitar jam 7.15. aku pikir udah buka, eh ternyata kantor Kedubes belum buka :p ngga lama setelah itu, Nene dateng dari Kemang dianter saudaranya. hari itu Nene keliatan kawaii banget. dia pakai blazer yang sekilas mirip almamater, udah gitu pakai rok panjang sama wedges. wuih, nomor satu lah! satu pengalaman langka bisa liat Nene dalam penampilan seperti itu :D

jam 8.00, kami diperbolehkan masuk ke dalam kantor Kedubes. masih ada 30 menit lagi sebelum pembekalan dimulai. aku ke kamar mandi dulu, sementara Nene udah anteng nongkrong setia di samping steker buat isi baterai hp kesayangannya. di kamar mandi, aku ketemu Cattleya, mahasiswi dari Universitas Brawijaya. waktu kecil dia tinggal di Hakodate, Hokkaido. yah, ngga heran juga sih kalau dia bisa lolos ujian tulis Monbusho. sasuga yang udah pernah tinggal di Jepang lah ._.

tapi toh, selain Cattleya, masih banyak lagi saingan yang tangguh. ada yang udah lolos N1, ada yang menang Kanji Cup kemarin. banyak deh. aku emang sempet minder juga. tapi, biar gimana juga, aku tetap berjuang.

aku dan 5 orang lainnya, dipanggil untuk wawancara kloter pertama. Nene dapet kloter terakhir di sesi wawancara pagi itu. di kloterku, ada Ahmad dan Cattleya dan Brawijaya, Anggi dari Universitas Negeri Semarang, Daniel dari UNESA, dan Erwin dari BINUS. Erwin inilah yang udah lulus N1. sementara Ahmad yang kemaren juara Kanji Cup. duuuuh, kenapa harus satu kloter sama orang-orang hebat ini sih ._.

aku dapat giliran wawancara nomor 5. setelah peserta nomor 4, yaitu Daniel, keluar ruangan, aku langsung masuk ruang wawancara.

di ruangan itu ada empat orang Jepang. semuanya keliatan begitu berwibawa. aku tambah gugup. karena gugup, cara ngomongku jadi kayak cafe maid . itu tuh, yang kalau ngomong "desu", akhiran "-su" diucapkan dengan jelas. (fyi, orang Jepang kalau bilang "desu" atau "-masu" biasanya "-su" nya ngga jelas. jadi kedengerannya seperti "des" atau "mas". orang yang ngomongnya "desu" atau "masu" dengan jelas, dianggap imut atau sok imut) aku ngomong kayak gitu bukan supaya kedengeran imut, tapi karena aku terbiasa denger kayak gitu dan aku gugup. jadinya keceplosan ngomong kayak gitu. pasti aku dianggap sok imut sama para pewawancara ._.

sebenernya wawancaranya ngga setegang yang aku bayangkan. para pewawancara begitu ramah dan memberikan pertanyaan yang ngga terlalu sulit juga. tapi berhubung aku tegang, aku menjawab dengan konyol.

misalnya, waktu ditanya begini,
「どうして新潟大学に入りたいんですか。寒いですよ。」 ("Kenapa ingin ke Universitas Niigata?")

「ええ。。。あのう。。お米がおいしそうですから。。」 ("Eh... anu... soalnya nasinya enak...")

terus semuanya ketawa. dodol banget sih jawabanku.

terus ada juga pertanyaan seperti ini,

「もし日本へ行けば、勉強以外に何をしたいですか。」 ("Seandainya bisa pergi ke Jepang, selain belajar, apa lagi yang ingin kamu lakukan?")

「ええ。。。実は、私はたま駅長に会いたいんです。」 ("Eh... Sebenarnya saya ingin bertemu dengan Tama-ekichou")

「たま駅長?誰?」 ("Tama-ekicou? Siapa itu?")

「あのう。。猫の駅長ですが。」 ("Anu, kucing yang jadi kepala stasiun")

mungkin waktu itu pewawancara ngga begitu denger jawabanku karena suaraku kecil. terus akhirnya tanya lagi.

「あ、そうですか。どこの駅長ですか。」 ("Oh, begitu ya. Kepala stasiun di daerah mana?")

mati aku. aku lupa....

「確かに、山口県のほうが。。」 ("Kalau tidak salah, di Prefektur Yamaguchi")

aku tau jawaban itu salah. Yamaguchi itu kampung halamannya Kaneko Misuzu. memoriku ketuker-tuker. pokoknya yang aku inget ada -yama nya. tapi di mana ya?

pewawancara mencatat jawabanku. terus tanya lagi,

「で、その駅長に会いたいんですか」 ("Jadi, kamu ingin bertemu kepala stasiun itu?")

「はい。三毛猫の、すごくかわいくて。。」 ("Ya. Dia kucing belang tiga dan sangat lucu....")

aku belum selesai ngomong, salah seorang pewawancara langsung tersadar.

「あ、三毛猫?あれか?!」 ("Ha, kucing belang tiga? Ooooh, yang itu ya?!")

lalu semuanya langsung sadar kalau yang aku maksud adalah kucing maskot salah satu stasiun di Jepang. kucing itu belang tiga, betina, dan bernama Tama. dia dipercaya membawa keberuntungan. karena itu dia diangkat menjadi "kepala stasiun". bahkan ada topi, medali, dan plat khusus untuk dia. ada kereta khusus untuk dia segala. lucu bin unik deh pokoknya.

sekali lagi, semua pewawancara ketawa. pasti dipikir aku ini masih kekanak-kanakan banget (ya emang sih).

Salah seorang pewawancara tanya lagi.

「え?それって和歌山県の駅じゃありませんか」 ("Eh? Bukannya itu dari Prefektur Wakayama ya?")

aku diam. iya ya... Wakayama. aargh salah!

「あ、そうです。すみませんでした。」 ("Ah, ya.. Benar. Maaf tadi saya salah")


begitulah wawancaraku yang konyol dan sukses membuat pewawancara tertawa. haduuuh, berhasil lolos ngga yah ._.

pulang wawancara, aku cerita ke Andi-sensei dan Mbak Mega. aku ngerasa ngga tenang sama sekali. rasanya pingin ulang wawancara. tapi yah, yang udah terjadi ya udah terjadi. sekarang hanya bisa berdoa supaya bisa lolos dan berangkat ke Jepang. aamin...


itulah cerita tentang apa saja yang aku alami selama 3 bulan pertama di tahun 2013. ada kisah sedih, senang, sibuk, panik, heboh, lucu, dan sebagainya. apapun yang telah terjadi, semuanya menjadi kenangan yang berkesan buatku. terkadang ada perasaan sedih juga, mengingat sebentar lagi aku harus menghadapi skripsi, dan wisuda. eh, sekarang emang lagi skripsi sih hehehe :p

rasanya aku masih pingin kuliah, main sama teman-teman, melakukan banyak kegiatan kampus, dan sebagainya. tapi yaaaa.... waktu ngga bisa diulang. yang sekarang harus aku lakukan adalah menyusun skripsi dan menyelesaikannya dalam semester ini. udah banyak orang yang mengharapkan aku bisa segera selesai dan sidang dalam waktu 8 semester ini. aku emang kurang suka buru-buru begitu, tapi aku tau kalau orang-orang sebenarnya mengharapkan aku untuk segera mandiri. ya aku emang harus bisa segera mandiri sih. jadi aku juga berusaha untuk bisa segera menyelesaikan skripsi. toh kalaupun seandainya aku jadi berangkat ke Jepang (aamin...) aku jadi ngga punya beban lagi.

jalanku masih panjang. meskipun perjalanan kuliah S1-ku akan segera berakhir. tapi hidupku insya Allah masih terus berlanjut. aku harus segera mandiri dan melakukan banyak hal menyenangkan lainnya. insya Allah.

semoga bulan-bulan berikutnya juga banyak hal menyenangkan yang bisa aku alami. aamin :)

Ketika Kehilangan

aku yakin, kita semua pasti pernah merasakan yang namanya kehilangan. entah itu kehilangan sesuatu atau seseorang. entah itu karena perpisahan yang sifatnya sementara, atau perpisahan abadi oleh kematian.

gimana cara kalian mengatasi semua itu?

pasti ada banyak jawaban. aku yakin cara apapun yang kalian tempuh, itu adalah obat terbaik bagi masing-masing pribadi kita.

tapi mungkin, masih adakah di antara kita yang ngga rela melepas kehilangan itu?

aku yakin pasti ada.

mari kita bahas ini sejenak.

kalau kita ngga rela, apa sih sebenernya yang membuat kita ngga rela?

karena terlalu cinta? karena kenangan? karena merasa menjadi korban?

mungkin, jawaban terakhir adalah jawaban yang paling dasar dari kita yang masih belum rela melepas kehilangan itu.

menurutku, banyak di antara orang-orang itu merasa ngga rela karena merasa jadi korban. merasa dirugikan. ngga heran kalau orang-orang ini masih belum bisa menerima kenyataan, dan selalu meminta agar sesuatu atau seseorang itu kembali padanya.

atau setidaknya, terus-menerus mengenang masa lalu yang indah.

apa itu salah?

terlepas dari benar atau salah, itu manusiawi kok.

tapi, ada sesuatu yang perlu direnungkan.

bagi kita yang kehilangan seseorang (bukan karena kematian), lalu masih berusaha menyangkal kenyataan, pernahkah kita mencoba bertanya kepada diri kita, "what's wrong with me?"

apa iya sepenuhnya adalah salah orang yang meninggalkan kita?

take a five, then think again.

bagi kita yang masih menyalahkan orang yang meninggalkan kita, pernahkah kita memposisikan diri kita sebagai orang itu?

think again.

menurutku, tidak sepenuhnya kesalahan ada pada mereka yang meninggalkan kita.

pasti ada, meskipun kecil, kesalahan yang kita buat.

dan itu menyebabkan orang lain meninggalkan kita.

terus, apa itu berarti orang lain ngga tulus menemani kita? ngga sayang pada kita?

menurutku, ngga selalu seperti itu.

think again. try to recall those memories.

pernahkah kita coba menyadari, betapa besarnya cinta yang diberikan orang lain kepada kita?

meski tak pernah terucap, tak pernah terungkap. cinta itu selalu ada, meliputi kita di setiap langkah kita.


orang lain telah memberikan cinta yang besar kepada kita. tetapi bentuknya beda dengan "cinta" yang kita bayangkan.

cinta tidak selalu berupa sentuhan lembut, pelukan, atau bisikan kata-kata manis.

cinta bisa hadir dalam sosok yang begitu angkuh dan kejam. cinta ini datang untuk menyeret bagian lemah diri kita, supaya bisa lebih kuat lagi.

dalam bentuk nasihat, omelan, bahkan perdebatan.

isn't it?

----------------------------------
kepada mereka yang masih belum rela melepas satu kehilangan (terutama kehilangan seseorang)

boleh saja bersedih, tapi jangan pernah putus asa. jangan pernah kehilangan harapan untuk terus melanjutkan hidup.

dan jangan selalu menyalahkan mereka yang meninggalkan kita.

kenali diri kita, akui kesalahan kita. meminta maaf atas kesalahan itu. berterimakasihlah atas cinta yang pernah kita terima. itu yang akan membuat kita belajar.

maka, kehilangan yang kita alami tidak jadi sia-sia.

jangan jadikan kehilangan yang kita alami menjadi sia-sia, karena kita sibuk menyalahkan orang lain.

lagipula, sebenarnya ngga pernah ada kehilangan yang sia-sia

sebab kehilangan, justru membuat kita menyadari betapa pentingnya sesuatu yang pernah ada itu

To Bid A Farewell

kira-kira pertengahan bulan ini, Yulia request terjemahan ke aku. dia dikasih tinjauan pustaka buat proposalnya sama Syahrur-sensei. terus, dia minta tolong supaya diterjemahin sama aku. deadlinenya akhir bulan ini.

jujur, di antara semua naskah yang pernah aku terjemahin, mungkin ini yang tersulit. aku sampai frustasi sendiri. jangankan aku, Satoshi juga ikut-ikutan stres waktu aku tanyain. soalnya, dia bingung gimana jelasin dengan bahasa yang sederhana ke aku. emang sih banyak kosakata yang baru buat aku. tapi di atas itu, masalah yang paling sulit adalah karena banyak ambiguitas di sini. dan yang bikin frustasi lagi, kalimatnya ini berlapis-lapis. ibarat baju, bertumpuk-tumpuk, susah pula dibuka. haissh...

tapi untunglah, aku bisa nyelesein tepat waktu :'D

bukan cuma itu, aku pun dapet hikmah dari naskah ini.

oke, aku ceritain sedikit tentang naskah ini.

jadi, naskah ini adalah semacam ulasan atau penelitian tentang novelet karya Yoshimoto Banana yang berjudul "Moonlight Shadow". novelet ini jadi obyek penelitiannya Yulia. buat menunjang penelitiannya, dia dikasih sama Syahrur-sensei naskah ini. waktu aku liat, emang ulasannya cukup bagus. rapi, detil, dan lengkap. tapi ya itu tadi, bahasanya belibet banget =_=

dalam naskah ini, diulas macem-macem aspek yang ada dalam "Moonlight Shadow". mulai dari kenapa "kematian" diletakkan dalam cerita, karakter para tokoh, asal mula judul ini, dan sebagainya. sebenernya naskah ini asyik, karena ulasannya ga cuma asal jeplak aja. ada argumen yang valid, berdasarkan teori-teori ilmiah, dan sebagainya. dan gara-gara naskah ini, aku jadi lupa sama penelitianku sendiri :p malah aku sempet bias ke sastra Inggris gara-gara nemu nama Edgar Allan Poe, Dante Alighieri, dan sebagainya. aku sampai mau pinjem The Divine Comedy karya Dante gara-gara baca naskah ini. saking penasarannya. tapi untung aja aku masih bisa menahan diri. kalo ngga, bisa-bisa naskah ini ngga selesai dan tugas-tugasku terlantar semua. hahaha...

tapi di balik suka dan duka nerjemahinnya, aku dapet pelajaran dari cerita "Moonlight Shadow"

yaitu tentang kehilangan.

di dalam novelet ini, diceritain kalo Satsuki kehilangan pacarnya, Hitoshi, yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. adik kandung Hitoshi, Hiiragi, juga kehilangan pacarnya Yumiko, karena kecelakaan yang sama. sejak saat itu, hidup Satsuki dan Hiiragi jadi ngga seperti dulu lagi. Satsuki sering mimpi buruk. dia berusaha menyibukkan pikirannya, supaya ngga inget lagi sama Hitoshi. salah satunya jogging tiap pagi. sementara itu, Hiiragi berubah jadi aneh. dia pergi ke sekolah, memakai seragam peninggalan Yumiko. aku ngga bisa bayangin, seorang cowok pergi ke sekolah pake seragam cewek. bener-bener bikin patah hati banget bacanya.

menurut ulasan di naskah ini, jogging dan seragam peninggalan Yumiko adalah sesuatu yang dianggap "obat" bagi kesedihan mereka berdua. mereka merasa nyaman dengan melakukan hal itu. meskipun itu masih belum bisa benar-benar menyembuhkan mereka.

lalu akhirnya, Satsuki bertemu dengan arwah Hitoshi dalam 'fenomena Tanabata'. Hitoshi tersenyum dan melambaikan salam perpisahan. sementara itu, Hiiragi juga bertemu dengan arwah Yumiko yang membawa pergi seragam itu.

mungkin bagi pembaca yang kurang suka cerita fantasi, bakal awkward bacanya. tapi menurutku, justru di sinilah poin pentingnya.

bagian fantasi itu adalah penyelesaian cerita ini.

setelah kejadian itu, pada akhirnya Satsuki bisa bangkit dan melanjutkan hidup. begitu juga dengan Hiiragi. akhirnya dia kembali memakai seragam sekolahnya yang biasa.

meskipun aku sendiri kurang ngeh sama penyelesaian ini. tapi, menurutku cerita ini luar biasa.

Banana telah menyuguhkan kepada kita proses yang dialami orang yang bersedih ketika kehilangan seseorang atau sesuatu. proses itu menyakitkan. tapi, ketika akhirnya bertemu dengan penyelesaiannya, mereka bisa bangkit lagi.

dalam naskah ini juga dijelaskan tentang proses kehilangan itu sendiri. macem-macem teori yang disuguhkan. misalnya pendapat Freud tentang mourning work. menurut Freud, ketika orang kehilangan seseorang, dia akan kehilangan minat terhadap dunia luar, kehilangan minat untuk mencari pasangan baru, menghindari segala tindakan yang berhubungan dengan kenangan tentang orang yang hilang itu, dan sebagainya. itulah yang disebut mourning work. selain itu, ada juga teorinya Bolwby tentang 3 tahap proses kehilangan. menurut Bolwby, ketika seseorang kehilangan sesuatu, tahap pertama yang ia alami adalah "penyangkalan". pada tahap ini, orang itu akan menyangkal dan meminta agar sesuatu yang hilang itu bisa kembali lagi padanya. lalu tahap kedua adalah "putus asa". pada tahap ini, ia mulai menyadari bahwa hal yang hilang itu tidak akan bisa kembali lagi padanya, meski ia berusaha sekuat apapun. karena itu, ia mulai putus asa. tahap terakhir adalah "penerimaan". pada tahap ini, ia mulai melupakan hal yang hilang itu, lalu mulai tertarik pada hal yang baru.

teori yang menarik, bukan?

membaca naskah ini, aku jadi merenung dan terus merenung. kehilangan, adalah sesuatu yang pasti kita semua alami. apapun bentuknya. tapi mau tidak mau kita harus melewati prosesnya, kan? ketika Tuhan menimpakan suatu cobaan kepada kita pasti ada maksudnya. mungkin, ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kita, tujuannya supaya kita tahu betapa pentingnya sesuatu itu. mungkin akan sakit, tapi Tuhan tahu kita harus jadi lebih baik lagi.

setuju? :D

dari naskah ini, aku dapet satu pelajaran gimana caranya supaya kita bisa lepas dari rasa kehilangan itu.

kita harus berani mengucapkan perpisahan pada masa lalu.

jujur, menurutku itu suatu tantangan. mungkin pembaca yang lain juga ada yang merasa seperti aku. berpisah pada masa lalu, adalah hal yang sulit, karena masa lalu adalah bagian dari diri kita juga, meski itu hanya ada di belakang kita.

tapi ya, mau tidak mau, suatu saat, kita harus berpisah dengan masa lalu.

aish, aku pasti jadi patah hati kalau baca ulang tulisan ini :'D

jadi, saudara-saudara, siapkah kita berpisah dengan masa lalu?

Godspeed. we won't know until that day comes :)

tapi, apapun yang terjadi, anggaplah sebagai suatu berkah. dalam keadaan apapun, kita selalu punya Tuhan sebagai sahabat kita.

dan Tuhan adalah sahabat terbaik :)

inilah coretan akhir tahun 2012. semoga kita semua bisa melewati satu tahun ke depan dengan penuh kebahagiaan. amin :D

Menyederhanakan Hidup

Papa masih harus dioperasi lagi. kata dokternya, penyakit Papa benar-benar ganas, jadi harus segera dioperasi. semua orang shock, terutama Papa.

apakah di saat seperti ini aku juga harus shock?

Mbah Ity bilang, "Kakak harus lebih tegar dari kami-kami ini. lebih tegar dari siapapun."

makanya, aku ngga mau meneteskan air mata lagi.

-----------------------------
dalam hidup ini, kita akan selalu menemukan kesusahan. mungkin ada yang berpikir karena Tuhan ngga adil. mungkin ada juga yang berpikir kalau cobaan itu adalah hukuman karena dirinya telah berdosa. aku pikir, banyak orang yang berpikir seperti itu.

tapi, sepertinya sedikit yang berpikir kalau cobaan itu adalah bukti kasih sayang Tuhan kepada kita.

aku percaya, segala sesuatu harus diuji dulu sebelum dia bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. artinya, kalau kita diberi cobaan ya itu berarti karena Tuhan emang sayang sama kita. coba deh bayangin, seandainya Tuhan meloloskan semua orang ke tingkat yang lebih tinggi tanpa mengujinya dulu? pasti semua orang tidak akan pernah tahu apa itu kesalahan, apa itu keburukan. soalnya, dia sendiri tidak pernah mengalaminya. ya kan? terus, dunia ini pasti akan kacau, karena semua orang melakukan apapun yang ia mau. dia pasti bakal masa bodoh ketika melanggar hak orang lain, karena dia ngga pernah tahu apa itu kesalahan.

tetapi, kalau orang diuji, dia akan belajar apa itu penderitaan, kesalahan, kegagalan. dengan begitu, ketika dia berhasil naik ke tingkat yang lebih tinggi, dia tidak akan memperlakukan orang dengan cara yang buruk. terus, gimana seandainya kalau orang yang berada di "tingkat atas" tetep aja memperlakukan orang lain dengan cara yang buruk? ya itu artinya ada yang salah atau kurang dari proses yang dia alami. berarti dia sudah gagal uji.

oke, balik lagi ke pembicaraan awal. aku yakin, semua cobaan itu harus dijalani, bukan dihindari atau diratapi. sebab, dengan cobaan itulah kita berhak untuk mencapai tingkat yang lebih dan lebih tinggi lagi.

apakah itu artinya kita ngga boleh mengeluh? well, menurutku manusiawi banget kalau orang mengeluh ketika menghadapi situasi yang tidak dia inginkan. wajar sih. tapi bukan berarti kita harus selalu meratapi keadaan. kita juga ngga perlu berpikiran yang macem-macem. just stay strong and do it.

gampang banget kalau ngomong? prakteknya?

aku tau, pasti bakal ada yang ngomong kayak gitu. aku juga dulu pernah berpikir kayak gitu. tapi, semakin banyak dan semakin sulit cobaan yang aku dan keluargaku hadapi, aku jadi semakin mengerti kalau sebenernya menjadi tegar dan kuat itu bukan sesuatu yang mustahil. we are what we think. kita bisa membentuk diri kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan, apapun itu. mau bahagia? berpikirlah bahwa kita bahagia. mau kuat? berpikirlah kuat.

kalau aku pribadi, aku memilih untuk menjalani hidup dengan cara yang sederhana.

ya, sederhana. tanpa berpikir terlalu "canggih". ngga perlu berpikir "aduh, gimana ya". atau "ya ampun, kalau aku begini terus rencanaku gimana?". atau "duh, kalau aku ngga bisa memenuhi ekspektasi orang terus gimana?" dan sebangsanya.

aku memutuskan untuk melewati cara berpikir seperti itu. aku ingin hidup tanpa tekanan.

bukan berarti melupakan semua dan melepaskan tanggung jawab. tapi, aku lebih memilih untuk menyederhanakan hidup. aku memilih menjalankan apa yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya. segala beban tetap kubawa, tapi tak akan pernah aku monopoli sendiri. akan kubagi bebanku dengan Tuhan. karena Tuhan adalah sahabat terbaik setiap manusia.

aku tau, ketika kita menghadapi tekanan atau cobaan, kita cenderung mencari pertolongan dari orang lain. itu wajar dan manusiawi. tapi, mencari pertolongan berbeda dengan mencari perhatian. aku ngga mau lagi "pamer" kesusahan. bagiku, cukup aku, beberapa orang terdekatku, dan Tuhan saja yang tau ketika aku merasa lelah karena cobaan yang aku hadapi. ngga perlu jugalah orang seantero timeline tau kalau kita galau.

itulah yang namanya tegar dan mandiri. kita tetap teguh berjuang dengan segenap kekuatan yang kita punya, tapi di sisi lain nggak perlu sok mengingkari kelemahan kita. karena, mengakui kelemahan bukan berarti kalah. tapi kita harus selalu ingat, mengakui kelemahan tidak sama dengan meminta dikasihani.

aku ingin jadi pribadi yang seperti itu.

-----------------------
aku menerima semua kesusahan yang aku dan keluargaku hadapi. aku membaginya dengan Tuhan. aku titipkan semua cita-citaku kepadaNya. aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik.

semua kesusahan aku jadikan pelajaran. hikmah yang kudapat aku jadikan senjata. aku jalani hidup dengan perasaan yang ringan dan tenang.

don't "take it easy", but "make it simple" instead :)





Waktu yang Berlalu Cepat

sebentar lagi UAS, ya... itu akhirnya semester 7 bakal segera berakhir. terus masuk semester 8. itu artinya aku harus menyusun skripsi dan segera menyelesaikannya sebelum semester 8 berakhir.

jujur, aku agak takut juga menghadapi semester 8. rasanya belum siap. aku merasa ilmuku masih kuraaaaaaang banget. aku jadi agak khawatir, gimana nantinya waktu nyusun skripsi? bisa ngga skripsiku berjalan lancar? lagian, rasanya berat dan sedih kalau membayangkan aku harus pisah dengan teman-temanku dan kampusku tercinta.

tapi mau ngga mau harus dihadapi, kan. kita ngga akan pernah bisa kembali ke masa lalu.

ngomong-ngomong soal masa lalu, aku jadi keingetan masa-masa kuliah yang udah aku lewati selama 7 semester ini.

aku ingat saat-saat aku tertawa bersama teman-temanku, bertengkar dengan salah satu di antaranya, menghadapi masa yang sulit karena masalah ekonomi, merasakan jatuh cinta, dan segala manis pahitnya.

semua itu terasa begitu indah. kadang aku suka mau nangis, kenapa semua itu berlalu begitu aja?

yaaah, namanya juga masa lalu. ia akan selalu ada di belakang kita, melingkupi kita. seperti tembok di kamar kita. mereka melingkupi kita, tapi tak pernah menyentuh kita. ialah yang memberi kita rasa aman, privasi, dan peringatan agar kita selalu berhati-hati agar jangan sampai menabraknya.

jadi yah, seperti apapun masa lalu, entah itu manis atau pahit, ia jugalah yang melindungi dan membesarkan kita.

dengan berpikir seperti itu, aku jadi agak tenang. dan optimis.

kemudian, apa yang ada di depan, kita ngga akan pernah tahu sampai kita berada di sana. aku tau, aku kini berada dalam masa sulit. Papa yang sakit, masalah di masa lalu yang belum selesai, juga kehilangan orang yang aku sayangi, semua adalah cobaan untukku. aku tau, aku punya banyak alasan untuk sedih, tapi bukan berarti aku punya alasan untuk putus asa.

mbak Vita pernah bilang begini, "kamu diberi cobaan seperti ini karena Allah tahu hanya kamu yang bisa melewatinya"

makanya, aku memutuskan untuk terus dan terus bertahan hidup, sampai aku menemukan sesuatu.

aku tau, aku bukan seseorang yang sempurna. kalau mau ngitung kekuranganku, banyak banget deh. aku tau aku bukan orang yang 100% kuat, karena aku masih suka nangis. tapi, dengan segala kelemahanku, aku memutuskan untuk tetap berjuang.

tujuanku dalam waktu dekat ini, aku ingin jadi mandiri. aku akan tetap berjuang supaya bisa mencapai titik itu. kini aku berusaha sedikit demi sedikit dan melakukan apa yang aku bisa agar bisa sampai ke sana. mungkin hanya langkah-langkah kecil, tapi aku yakin itu bisa mengantarku untuk sampai pada tujuanku.

aku tau, ketika aku bisa mandiri, mungkin akan ada sesuatu yang berakhir. mungkin aku akan sedih lagi karenanya. dan itu juga yang membuatku takut luar biasa. tapi, aku tau ada banyak orang yang ingin melihatku berhasil. aku ingin berjuang demi harapan mereka. aku ingin supaya kesuksesanku nantinya adalah perwakilan dari impian banyak orang, bukan semata-mata impianku sendiri aja.

ketika aku bisa mandiri, aku ngga akan berhenti berjuang. masih ada banyak impian yang ingin kukejar. salah satunya adalah menjadi penulis puisi. inilah cita-citaku. inilah passion-ku. aku tau sebenernya udah lama sekali aku menginginkan hal ini. tapi karena aku masih belum mempercayai diriku sendiri, aku berkelana ke mana-mana mencari cita-cita. akhirnya sekarang, aku menemukannya kembali. aku memberi kepercayaan pada diriku sendiri. aku beri kesempatan pada diriku, agar bisa mengejar impiannya.

aku tau, menjadi seorang penulis di Indonesia ngga akan mudah. di tengah gempuran karya-karya pop seperti chicklit dan teenlit, kurangnya apresiasi sastra di tengah masyarakat kita, kurang layaknya perhatian untuk kesejahteraan penulis, dan lemahnya sorotan media massa, menjadi penulis adalah satu tantangan besar. tapi ya ngga apa-apa. aku tetap ingin menjadi seorang penulis puisi. menjadi ibu yang melahirkan banyak karya. aku ingin, karya-karyaku nantinya menjadi sandaran bagi jiwa yang menangis, sekaligus tambatan bagi jiwa yang tersenyum.

itulah cita-citaku.

bukan hanya itu, masih banyak lagi impian yang ingin aku wujudkan. salah satunya adalah "impian besar". aku ngga tau sih, apa impian ini masih menjadi prioritasku apa ngga. setelah sekian bulan aku gelisah, mengkhawatirkan apakah impian ini akan terwujud dan bagaimana caranya supaya bisa terwujud, kini aku mencapai titik tenang. aku putuskan untuk menitipkannya kepada Allah. bukan berarti aku menyerah atau melupakannya. tetapi, aku tau masalah ini terlalu besar untuk dipikul seorang diri. aku tau Allah mengetahui yang lebih baik untukku. dan yaah, aku tau kadang-kadang aku pasti bakal gelisah lagi, atau nangis lagi, seperti saat-saat sebelumnya. perasa, cengeng, dan senewen emang udah sifatku. tapi ya sekali lagi, dengan segala sifatku yang ngga banget itu, aku bakal tetap berjuang.


----------------
di tengah perputaran waktu yang cepat ini, aku mulai menyusun impian-impianku. seiring dengan berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi orang yang semakin mengenali diri sendiri, tentang kelebihan dan kekurangan yang aku punyai. juga belajar bagaimana menjadikan semuanya sebagai alat untuk mencapai tujuanku.

mungkin, kalau melihat kondisiku sekarang, semua itu sulit tercapai. tapi bagiku, semua itu bukan hal yang muluk.

even today is the worst day of my life, I simply dream for a better tomorrow :)
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates