Igauan Pra-Sahur

lama banget yah ngga nulis di sini. apa itu tandanya aku udah ngga galau lagi? bukan begitu. tepatnya aku mengidap penyakit malas akut, yang bikin aku malas ngapa-ngapain, termasuk menulis. padahal aku tahu kalau menulis itu baik untuk kesehatan mentalku (baca: sebagai tempat melepas stress).

oke, jadi masalah apa lagi nih yang membawaku kembali ke sini?

banyak. ruwet. complicated. fukuzatsu. susah menguraikannya satu per satu. yang jelas aku jadi semakin aneh. iya, aneh. buktinya aku kudu rajin konsultasi ke bidang kesehatan mental di kampus setiap minggu. bahkan kalau aku tiba-tiba jadi parah, dokter bilang aku harus segera menghubungi dan datang ke ruangan kesehatan mental (selama ruangan itu buka sih).

gila? ngga tau juga sih ya. cuma kalau dibilang gila juga kok kesannya setengah-setengah. ngga maksimal gilanya. abis masih bisa ngomong, makan, tidur (walaupun makin susah tidur aja sih), belajar, main, nyepik berondong *eh* jadi kalau dibilang waras juga ngga waras-waras banget. dibilang gila kok ya kayaknya belum memenuhi syarat untuk jadi pasien RSJ. statusku menggantung.

oke, kita sampingkan dulu masalah keanehanku untuk sejenak. aku kembali ke sini cuma pingin curhat sesuatu yang ngga penting: aku mengalami gejala suka sama seseorang, dengan prosentasi patah hati lumayan besar.

iya, aku tau aku jelek. tiap kali ngaca selalu aja para jerawat nyengir bandel. jerawat-jerawat ini tidak baik bagi kesehatan mental saya, karena tiap kali ngeliat jerawat ini saya jadi sadis (baca: mecahin jerawat sampe berdarah. kalo ngga keluar darah ngga marem). tau sih, apa akibatnya mecahin jerawat sembarangan. yang ada jerawat makin parah. tau sih, dengan mengatur pola makan dan tidur (terutama tidur), kulit bisa semakin membaik dan jerawat hilang dengan sendirinya. tapi saya sendiri lagi aneh ini, meskipun maksain diri buat tidur, tetep aja mata ngga mau merem. beberapa bulan yang lalu sih masih dibolehin minum obat tidur sama dokter karena insomniaku parah, dan aku jadi cenderung sensitif begitu. tapi sekarang aku udah ngga dikasih obat tidur lagi karena setidaknya aku bisa tidur sendiri (walaupun susaaaah banget). alhasil, jerawat saya ngga ilang-ilang.

oke, kita sampingkan dulu masalah kejelekanku untuk sejenak. kembali lagi ke soal sebelumnya. jadi ceritanya saya lagi suka sama seseorang. cuma ngga tau ini beneran suka atau asal suka aja. you know, cowok di sini rata-rata baik dan sopan. tapi yaa... gimana yah. mungkin mereka baik karena aku orang asing. atau mungkin karena merasa itu semacam `kewajiban`. itu loh, honne-tatemae. makanya kadang aku ngga bisa bedain apa orang ini beneran baik dengan tulus atau cuma honne-tatemae aja. makanya perasaanku ke orang ini juga ngga jelas. pada dasarnya aku bakalan suka sama siapa aja yang baik sama aku. tapi begitu tau itu cuma basa-basi, aku langsung hilang minat. jadi itulah kenapa aku bilang perasaanku ini ngga jelas.

tapi, ya entah kenapa rasanya seneng banget begitu deket orang ini.

waktu awal ketemu, aku pikir dia orang yang susah dideketin. abis pendiem banget. kalah dah patung gajah mada depan SMA ku dulu. terus sejak aku dibolehin ikut jigeiko (dan aku harus menghadap para senpai untuk mengajari saya), aku merasa orang ini beda. di permukannya sih dia baik dan sopan, sama seperti yang lain. tapi abis jadi lawan latianku, dia selalu mengawali dengan memujiku terlebih dulu. misalnya, "teknik kendomu semakin membaik" dan sebagainya. abis itu baru deh dia kasih nasihat supaya teknikku berkembang. suaranya, cara ngomongnya, halus banget. tapi ngga kehilangan wibawa sebagai cowok dan sebagai seorang senpai. oke, dia lebih muda dari aku setaun, tapi tetep aja dia senpai dalam kendo.

tapi, ada sesuatu yang beda dari dia. kalau senpai yang lain, keliatan banget memperlakukanku sebagai kohai. ya aku sih ngga masalah. toh itu kenyataan. tapi kadang aku bingung harus gimana, soalnya ada beberapa senpai yang tiap kali jigeiko menghadapiku dengan serius, sama seperti menghadapi yang lainnya. jadi aku harus terus dan terus menyerang. tapi kebanyakan mengadapiku, yaa bukannya ngga serius sih, tapi keliatannya mereka berpikir karena teknikku masih banyak salah (ini kenyataan) maka lebih baik fokus memperbaiki teknik daripada latian duel. ya itu ngga salah sih. cuma kadang-kadang aku jadi bingung, aku harus menyerang atau fokus memperbaiki teknik nih? kalau menyerang, jujur teknik dasarku jadi ancur, soalnya aku berpikir harus terus dan terus menyerang. tapi kalau fokus memperbaiki teknik, aku terus-terusan kalah dalam duel. nah loh. itu yang bikin aku kadang-kadang ngga pingin latian sama kebanyakan senpai, karena mereka bikin bingung.

tapi, orang ini beda. dia termasuk senpai yang menghadapiku dengan serius. dia tau kalau teknikku ancur. tapi keliatannya dia menghargai keberanianku untuk terus menyerang. jadi pas latian dia benar-benar jadi lawan, seolah-olah kita setara. padahal kenyataannya teknikku ngga ada seujung kuku jarinya. setelah latian barulah dia mengajari dan kasih nasihat. dan satu lagi, tiap kali kita latian, dia selalu tertawa pas menghadapiku. bukan ketawa ngejek. bukan. beda. ketawanya itu.... kayak merasa senang karena aku berani nyerang dia. aah susah dijelasin! pokoknya tawanya itu bikin aku tenang, semangat, dan percaya diri tiap latian.

tapi waktu itu aku cuma merasa sampai di situ aja. belum ada (atau lebih tepatnya "sadar"?) perasaan suka. aku cuma merasa, kok aneh ya tiap kali sama orang ini aku selalu percaya diri. begitulah kira-kira perasaanku, sampai suatu hari....

kita dapat kesempatan untuk ngobrol di luar jam latian.

ceritanya, aku nyebar angket penelitian di klub kendo. angketnya sih pendek. sebenarnya angket itu cuma alat untuk menjaring responden wawancara. di angket itu aku minta bagi siapa aja yang bersedia untuk diwawancara lebih lanjut, mohon isi nama, kontak, dll. aku kasih deadline 1 minggu untuk mengumpulkan. kenyataannya banyak yang molor. termasuk dia. aku sih waktu itu ngga marah. soalnya dia langsung minta maaf dan janji segera mengembalikan. waktu dia kembalikan, pada kolom responden wawancara dia menyatakan menyanggupi. aku kaget. kok tumben banget, padahal kita jarang banget ngobrol selain waktu latian.

waktu wawancara, sumpah datar banget. aku sampe bingung mau ngomong apa. supaya suasana lebih cair, aku ngomong soal maskot prefektur ehime, mikyan. omong-omong soal maskot, di jepang tiap prefektur punya maskot masing-masing. misalnya kumamoto punya kumamon, ehime punya mikyan, dan lain-lain. mikyan itu sesosok makhluk berbentuk seperti jeruk (ehime terkenal sama jeruknya) tapi berkepala seperti guguk bermata kecil. di pantatnya ada tulisan "i love ehime". namanya sendiri berasal dari kata "mikan" (bahasa jepangnya jeruk), tapi diplesetin jadi mi-can (dibaca "mi-kyan"). "can" nya ini bahasa inggris, yaitu "bisa". mungkin maksudnya seperti "ehime can do it!" gitu kali yah. aku paling suka mikyan, soalnya simpel dan imutnya itu reasonable. ngga kayak beberapa maskot lain yang menurutku rada absurd. aku bahkan sampai beli gantungan kunci mikyan waktu study tour ke benteng matsuyama di ehime. nah, orang ini asalnya dari ehime, dan di profile line-nya dia pakai gambar mikyan. siapa sangka orang sependiem ini punya sisi lucu juga. jadi waktu itu aku tunjukin gantungan kunciku, sambil bilang "aku suka mikyan". terus waktu liat gantungan kunci itu dia langsung spontan ngomong "deta!" (mungkin kalo diterjemahin jadi "itu dia!") dengan nada yang beda dari biasanya. seperti excited gitu. aku jadi ikutan excited juga. akhirnya kita malah ngobrolin lain-lain kayak keluarganya, rencana setelah lulus, dan lain-lain. dia anak pertama dari empat bersaudara, laki semua! adiknya paling kecil umur 10 tahun. waktu dia cerita soal adeknya kok kayaknya lucuuuu banget. aku jadi gemes sendiri.

oh ya, sebelum wawancara aku sempet kepo di facebook. aku menemukan dua fakta mengejutkan. pertama, ternyata dia punya fb donk. orang sini jarang main facebook. kadang cuma bikin doank tapi ngga diurus. tapi dia punya dan dia ternyata lumayan suka update juga. kedua, mutual friends kita cuma satu orang, salah seorang senpainya (yang seumuran denganku. sekarang senpai itu udah lulus) dia bahkan ngga berteman dengan teman kendo seangkatannya! aku asal klik add aja, dan langsung di-approve. padahal itu tengah malem. belum tidur, kang? duuuh, rasanya pingin teriak "banzai!" waktu di-approve sama dia itu.

kalau liat status-statusnya, foto profilnya, ternyata orang ini manis dan lucu juga. ganteng sih engga. cuma manis, apalagi waktu ketawa. oh ya, waktu ngobrol di line buat janjian wawancara, dia pake emoji donk. lucu gitu. omaigod, orang ini kok lucu seeeeeeh

menurut cerita salah seorang teman cewek di kendo (yang kebetulan juga seangkatan sama orang ini), orang ini emang pendiem waktu di kendo. tapi begitu udah ngumpul sama temennya, jadi rame. duh kah jadi penasaran kan. kayak apa sih dia kalau rame. aku jadi makin kepo soal dia.

kemaren pun, waktu pertandingan kendo antar mahasiswa se-prefektur hiroshima, aku ngerasa seneng banget waktu ketemu dia. semua anggota klub mulai dari tingkat 1 sampai 3 ikut pertandingan. jadi cuma aku dan anak-anak tingkat akhir aja yang ngga tanding. anak-anak yang ngga ikut tanding jadi panitia pertandingan, sementara aku yang ngga tau apa-apa cuma seliwar-seliwer hunting foto. waktu kita ketemu, muka seriusnya berubah jadi ramah. bahkan dia keliatan senyum sekilas. dia tanya kok aku ngga ikut tanding. aku bilang kalo aku sih masih amatir, jadi ngga mungkin. terus dia bilang, "ah, masa? kayaknya ngga gitu juga deh..."

cuma digituin aja aku langsung seneng. duh ternyata aku emang bocah. bocah yang aneh dan jelek.

begitulah cerita tentang orang ini. tapi... sekali lagi aku ngga tau apa aku beneran suka sama dia apa engga. dan kalaupun suka beneran, aku takut. aku udah pernah nembak seseorang lain, terus ditolak. katanya dia cuma nganggep aku sebagai kohai di kendo (woi, aku lebih tua woi!). makanya sama orang ini pun aku ngga banyak berharap. untuk sementara ini, aku mau menikmati saat-saat bersamanya, sebelum akhirnya aku pulang nanti.

eh btw, foto-foto pertandingan yang aku upload ke fb di-like doooooonk sama dia. duh kah, gitu aja aku udah seneng.

oke, karena sekarang udah lewat imsak, maka kita akhiri igauan kita sampai di sini dulu.

23 Tahun

Tanggal 11 kemarin aku ulang tahun. Hmm, nothing special but I feel so grateful for being alive till today. Ulang tahun di Jepang, dengan penuh kedamaian. Yah, meskipun ada sedikit masalah, tapi setidaknya aku tak perlu berhadapan langsung secara fisik dengan masalah itu. Aku harus bersyukur karenanya.

Oke, umurku sekarang udah 23 tahun. Apa sih yang udah aku capai?

Sejauh ini... Kuliah di Sastra Jepang UNAIR, berhasil dapet IPK yang bagus tiap semesternya, dapet temen-temen yang asik, bangke, kampret, all things you'll miss one day. Pernah pacaran dengan orang-orang yang bener-bener ngasih aku pelajaran tentang hubungan antar manusia dan kehidupan bermasyarakat (lebay? Intinya begitulah). Dan mungkin ini pencapaian terbesarku sampai hari ini: berhasil mendapatkan beasiswa Japanese Studies Monbusho, kuliah di Hiroshima University, bertemu plus berteman dengan banyak orang dari berbagai macam belahan dunia, menikmati dinginnya musim gugur, indahnya salju, dan indahnya bunga sakura yang sedang mekar. Oh ya, ngga lupa juga, berhasil mewujudkan salah satu impianku: belajar kendo. Juga satu impian remeh: memotong rambutku ala Baba Ayako di "35-san no Koukousei". Aku cinta rambut baruku.

Oke, itu sederet daftar pencapaian yang aku raih hingga hari ini.

Pertanyaan berikutnya: apa itu aja udah cukup?

Belum. Masih belum.

Apa yang aku capai ini, baru level "main-main" saja. Kecuali tes Monbusho dan latian kendo, pencapaian lainnya aku dapat hampir tanpa bekerja sangat keras.

Makanya, aku merasa itu semua masih belum cukup.

Selain itu, ada hal lain yang membuatku merasa belum cukup. Kehidupanku masih belum teratur. Aku masih belum pinter menata segala sesuatunya. Akibatnya, aku suka terjebak dalam segala macam kesulitan yang sebenernya masih bisa dicegah. Kesulitan keuangan, misalnya. Jangankan menata keuangan, menata kamarku aja masih belum bener. Aku suka iri kalau main ke kamarnya Dida. Kamarnya rapi banget. Dan kalau aku liat segala macem postingan jalan-jalannya, aku yakin dia pasti pinter banget ngatur keuangannya. Nah, kalau dia aja bisa, kenapa aku ngga? Itu pertanyaan besar. Oke, artinya aku harus mencontoh suri tauladan Dida XD

Itu aja? Belum, masih ada lagi.

Aku.. masih kalah dengan diriku sendiri.

Aku masih suka bohong, terutama membohongi diriku sendiri. Aku masih suka kalah dengan segala macam perasaan. Aku masih suka ngeluarin alasan "karena perasaan" dalam menghadapi masalah. Akibatnya, ngga jarang aku malah terpuruk dalam hal-hal yang sebenernya ngga terlalu penting, dan itu malah menghambat tugas utamaku. Skripsi terbengkalai, aku pun juga ngga bisa fokus mengerjakan hal lainnya. Waktu dan energiku abis terbuang untuk mengurusi "perasaan".

Tiap kali aku bercermin, aku suka muak. Bukan cuma karena wajahku ngga cantik secara fisik, ekspresiku memuakkan. Selama ini aku suka salah paham, mengira karena aku ngga cantik makanya aku ngga puas. Akhirnya aku putus asa membeli berbagai macam produk kecantikan. Awalnya emang menyenangkan, memanjakan diri sendiri. Tapi lama-lama aku bosan, karena toh ngga terlalu banyak perubahan berarti. Aku emang cepet bosan sih.

Lalu, setelah aku pikir-pikir, bukan masalah cantik atau engganya. Akunya aja yang terlalu putus asa. Coba seandainya aku lebih santai dan menerima diriku apa adanya, aku juga ngga akan putus asa begini.

Kesimpulannya, aku masih kalah sama anak kecil yang ada dalam diriku ini.

Oke, berkeluh-kesah ngga akan membuat perubahan apapun. Yang ada cuma bikin keadaan makin muram aja. Jadi, aku mulai menulis apa aja yang perlu aku lakukan untuk membuat perubahan.

Pertama, gunakan waktu seefisien mungkin. Aku yakin, akar permasalahan dari semua ini adalah karena aku ngga menggunakan waktu secara efisien. Daripada menghabiskan 10-20 menit untuk dengerin lagu sambil bergalau ria di atas tempat tidur, lebih baik digunakan untuk mengerjakan apapun yang bisa aku kerjakan saat itu juga. Beresin kamar-kah, baca buku-kah, masak makanan yang bener-kah, nonton dvd sambil gerak badan-kah, apapun. APAPUN yang bisa aku kerjakan saat itu, di tempat itu.

Kedua, membiasakan membaca dan menulis. Kenapa? Karena aku yakin, satu-satu skill yang aku punya dan bisa dimanfaatkan saat ini adalah kemampuan bahasaku. Aku punya banyak kesempatan untuk mendengar dan berbicara dengan orang Jepang di sini. Tapi yang sangat kurang adalah kesempatan untuk membaca dan menulis. Aku, dengan sangat hectic-nya, membeli banyak buku. Tapi ngga ada satupun dari buku-buku itu yang bener-bener habis dibaca. Begitu juga dengan menulis. Ada banyak hal yang ingin aku tulis, tapi lebih banyak ide yang menguap percuma dibandingkan yang tertuang ke dalam tulisan. Mottainai. Bener-bener mottainai. Jadi, mulai sekarang, aku harus membiasakan membaca buku apapun, minimal 2 halaman per hari, dan menulis apapun, minimal 2 kalimat per hari. Sedikit banget? Iya sih. Tapi buat apa juga menarget banyak-banyak dari awal? Progres itu, terasa semakin nikmat kalau dimulai dari sedikit demi sedikit. Pasti akan terasa perbedaanya.

Ketiga, be easy. Ketika aku memutuskan potong rambut ala Ayako, alasanku satu: aku ingin lebih santai. Emang sih, punya rambut panjang yang indah adalah impianku sejak lama. Tapi, ngga gampang merawatnya. Sedikit-sedikit kudu diperhatiin. Jadi, aku pilih rambut acak adut ala Ayako. Tiap pagi, cukup pakai styling mousse yang super hard, acak-acak rambut sesuka moodku hari itu, beres! Sepanjang hari rambutku akan tetap keliatan acak-acakan, dan aku ngga perlu repot nyisir-nyisir setiap saat. Pikiranku sih, dengan style yang santai seperti ini, bisa membawa moodku untuk lebih santai juga. Aku ngga pingin jadi orang yang terlalu belibet dengan segala sesuatunya. Orang yang kayak gitu, gampang terluka, cenderung iri hati, dan akhirnya malah muncul dendam. Semua itu bak rantai yang membelenggu hati dan pikiran. Lama-lama kita jadi lemah sendiri karena kegalauan kita. Apa enaknya? Aku ingin jadi orang yang lebih santai, ngga usah bawa-bawa pikiran dan perasaan terlalu dalam terhadap segala sesuatunya. Yang penting sekarang adalah, mampu mengerjakan semua kewajiban dengan baik dan tenang. Dengan begitu, pasti kita pun akan lebih dan lebih kuat lagi.

Oke, itulah resolusiku di umur 23 tahun ini. Target jangka pendekku:
1. Menyelesaikan skripsi dengan baik, dapat prestasi terbaik
2. Bebas dari segala kesulitan uang
3. Pacaran sama orang yang suka (absolut ini, ngga bisa diganggu gugat)

Target jangka panjang:
Mandiri dan bebas

Sekian, pengakuan dan resolusi saya di umur 23 tahun ini. Sekarang saatnya mengerjakan hal lain lagi. Sampai jumpa di postingan berikutnya~

Nggggrandom

Sekedar posting random aja. Akhir-akhir ini ngga bisa tidur. Bahkan main Pokopang dan Line Bubble beronde-ronde ngga bisa bikin tidur. Mata ngantuk, badan capek, tapi begitu kepala nyentuh bantal malah ngga mau merem. Bahan penelitian dengan segala macam Kanji anehnya itupun juga ngga bisa mengantarku tidur. Entah ini akunya yang udah kelewat parah atau teori "mengerjakan tugas ampuh buat insomnia" udah invalid.

Emang sih aku ngerasa ngga enak badan. Kayak mau pilek tapi toh ngga jadi-jadi (alhamdulillah... Jangan sampai sakit deh). Seperti lemas dan ngga semangat. Padahal makanku banyak bin abnormal. Mungkin karena kebanyakan itu makanya jadi lemes? Bisa jadi. Tapi aku bersyukur sekarang aku bisa mengumpulkan niat untuk mengerjakan tugas dan baca bahan penelitian, tanpa mengandalkan the power of kepepet.

Apa mungkin penyebabnya masalah..... Mental?

Hmm, ya... Akhir-akhir ini emang banyak yang aku pikirkan. Papa sakit, keadaannya belum tambah baik juga. Aku bingung, ngga tau harus gimana.

Selain itu, di sini aku mengalami semacam dilema. Aku sangat bersyukur bisa kuliah di Hiroshima ini. Tempatnya bagus, fasilitas lengkap, dosen-dosennya baik, kuliahnya pun tidak terlalu gila. Aku punya banyak waktu untuk penelitian dan latihan kendo. Oh ya, sejak pertengahan Oktober kemarin aku ikut klub Kendo. Cuma aku satu-satunya yang ngga berpengalaman di sini. Tapi untungnya senpai-senpainya ramah. Mereka bergantian mengajari aku teknik dasar Kendo. Serba cepat, tapi karena kebaikan mereka alhamdulillah aku berangsur-angsur terbiasa. Dan untungnya lagi, aku bukan satu-satunya orang asing di situ. Ada satu orang asing lagi, dari Korea Selatan. Namanya Shin Tae Hun. Waktu kenalan pertama kali aku baru nyadar kalau kita sama-sama level 4. Cuma Shin lebih banyak ambil kelas level 5, jadi kita jarang ketemu. Ketemu paling cuma di kelas hari Rabu dan Kamis.

Beda sama aku, Shin udah pernah latian kendo satu tahun di negaranya. Jadi pada akhirnya cuma akulah satu-satunya yang ngga berpengalaman (。-_-。)

Oke, cerita soal Kendonya kapan-kapan lagi. Balik lagi ke masalah apa yang akhir-akhir ini bikin aku kepikiran.

Seperti yang aku bilang tadi, bisa kuliah di Hiroshima itu bener-bener suatu keberuntungan. Tapi... Aku ngerasa ada yang kurang: persahabatan.

Kalau mau bilang secara jujur, hubungan antar teman sekelas terasa dingin. Gapnya bener-bener kerasa. Di sini mayoritas orang Cina dan Korea. Mereka berkelompok dengan teman-teman senegaranya sendiri. Orang Indonesia juga banyak, tapi kalau aku amati masih mau membaur dengan orang asing lainnya. Orang-orang Eropa sebenernya ramah, tapi ngga gampang masuk grup mereka. Entah kenapa. Orang Amerika pembawaannya santai dan ceria. Salah satu temen Amerika kita, Albert, selalu jadi pemersatu di antara kita semua.

Tapi.... Tetep aja, gapnya masih ada.

Jujur aku rada shock. Aku pikir keadaannya ngga bakal beda jauh sama tempatku dulu di UNAIR, kalau soal pertemanan. Aku pikir kita semua bisa akrab satu sama lain tanpa memandang perbedaan....

Tapi ternyata hal itu ngga gampang ya. Syukurlah aku dikasih liat lebih cepat. Dan dari situ aku bisa berpikir jernih kalau perbedaan semacam ini adalah biasa.

Nah, satu hal yang ngga biasa buatku adalah.... Untuk pertama kalinya aku bener-bener merasa harus waspada dalam berteman.

Seperti yang aku bilang tadi, di sini ada banyak orang Indonesia. Yang sebaya dan satu program sama aku aja ada tiga orang termasuk aku. Awalnya kita bertiga main sama-sama, makan bareng, dan sebagainya...

Sampai suatu hari aku ngerasa ada yang berbeda.

Salah satu dari kita, awalnya suka banget senyum dan ketawa lepas. Tapi sejak menginjakkan kaki di Jepang, entah kenapa dia berubah 180 derajat. Dia jadi jarang senyum, kalau ketawa juga cuma "hmph". Udah gitu kalau ketemu di jalan ngga nyapa lagi.

Yang satunya lagi, nggg, entah gimana jelasinnya. Yang jelas aku jadi ragu harus percaya sama siapa.

Sebulan pertama aku cukup stres dengan keadaan ini. Ngga ada orang yang bisa aku andalin. Ngga ada tempat buat berbagi cerita selepas-lepasnya. Ya aku masih bisa kontak Nene atau Mbak Mega via LINE. Tapi kadang ada perasaan kalau aku berlebihan.

Aku jadi inget, dulu waktu makan bareng Shin, dia tanya, "Kamu punya teman dekat kan?"

Aku cuma bisa menggelengkan kepala.

Yaa mungkin aku su'udzon. Tapi aku berusaha jujur, aku ngga bisa percaya dengan mudah pada orang lain di saat ini, di tempat ini, karena aku belum tau apa-apa. Aku udah merasa kalau diem-diem aku "diinjak", meskipun ngga parah. Ya aku sih ngga akan balas dendam atau gimana. Aku cuma bersikap "cukup tau aja" dan sebisa mungkin ngga banyak berinteraksi dengan orang-orang yang berusaha menginjakku, atau ngga menaruh rasa peduli padaku.

But, afterall, I am fine.

Emang bener ada orang-orang yang ngga ramah sama aku. Tapi toh ada lebih banyak lagi orang yang ramah padaku, dengan baiknya menyambutku, menerimaku, membantuku, mengajariku... Buang-buang waktu dan energi cuma untuk mengurusi hal negatif bener-bener rugi. Hal itu tidak membantuku menyelesaikan penelitianku dan juga tidak membantuku mencapai hal-hal yang aku inginkan.

Ngomong-ngomong, sejak menginjakkan kaki di Negeri Momiji ini, aku jadi pingin belajar banyak hal. Pergi ke banyak tempat. Mengeksplorasi diri sepuas-puasnya.

Tapi, kalau inget keadaan Papa, aku jadi merasa agak......

Yah, Allah juga yang memberi jalan, kan...

Setidaknya, aku pingin menabung dulu. Menabung impian untuk diwujudkan

In Memoriam: Monniza Argha Listiadara

Hari ini aku sendirian di kamar. Cuaca dingin. Aku lagi males ke mana-mana. Jadi aku putusin untuk nyoba ngerjain tugas-tugasku.

Pukul 8.19, Nene telepon aku. Seandainya itu orang lain, aku pasti ngga akan angkat, karena aku ngga mau diganggu. Tapi begitu liat nama Ratu Addina di layar hp, aku langsung sumringah membayangkan percakapan konyol dengannya.

Tapi, begitu aku angkat telepon, suara Nene agak beda.

"Djayeng, lu baca grup Niseikai ngga? Yang LINE"

"Hah? Grup Niseikai..? Gua ngga...."

"Djayeng, gua ga tau ini becanda apa ngga, tapi Didin bilang Bune meninggal?"

"HAH?!"

"Gua ga tau ini becanda atau bukan..."

"Eh, bentar. Maksud lo grup 2009 ta? Gua belon cek LINE dari tadi."

"Iya Dijeh..."

"Bentar, gua coba telpon anak-anak deh"

"Emang bisa?"

"Ya via LINE. Gua coba telpon Alfi"

"Ya deh. Entar lu telpon gua lagi yak"

Aku langsung mutusin telpon, terus cek LINE.

Sebenernya emang ada yang salah sama hpku. Notifikasi LINE, FB, dll ngga muncul otomatis di layar Home. Padahal udah aku setting. Akibatnya aku ngga bisa langsung tau kalau seandainya ada chat masuk. Solusi sementara ya aku harus sering-sering cek LINE.

Begitu aku buka LINE, ada banyak chat masuk, salah satunya dari grup Niseikai 2009.

Didin dkk bilang Bune meninggal.

Aku ngga percaya. Aku panik. Duh, masa iya ini bercanda?

Aku coba telepon Alfi. Sejenak seperti diangkat, tapi aku ngga dengar suara apapun. Akhirnya aku coba telepon Didin. Ngga diangkat. Telepon Firtha, juga ngga diangkat.

Aku chat di grup, "Beneran ta ini?"

Aku tau kedengarannya bego banget. Tapi aku ngga tau harus gimana.

Semua bilang bener.

Di timeline LINE, Pika dkk update status mengucapkan selamat jalan untuk Bune. Begitu juga di FB. Grup Niseikai ramai dengan postingan tentang Bune. Adek kelasku, Ekput, posting berita duka di grup Japanology. Timeline FB penuh dengan status anak-anak Sastra Jepang tentang Bune.

Aku sangat ingin percaya kalau ini semua cuma bercanda.

Biarpun bercandanya keterlaluan, ngga lucu, itu masih lebih baik.

Sayangnya, berita ini sepertinya benar.

Aku nangis. Aku telepon Nene.

"Bebeb....."

"Iya, Dijeh?"

"Katanya beneran...."

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun..."

Aku udah ngga bisa mikir jernih lagi. Kenapa, di saat aku ada di sini, salah satu teman dekatku meninggal? Begitu cepat, dan tiba-tiba...

Nene menyarankan aku sholat dan mendoakan Bune.

Tapi. Aku ngga bisa.

Akhirnya aku stuck di depan meja belajar, ngecekin semua akun social mediaku. Berusaha mencari kepastian.

Tapi, semakin aku baca, semakin perih hatiku.

Menurut berita di LINE, Bune kena chikungunya. Aku jadi ingat statusnya

Aku sama sekali ngga kepikiran kalau keluhan sakitnya itu akan jadi berita terakhir tentang dia...

Aku bahkan ngga tau kalau dia kena chikungunya.

Aku berpikir, apa Bune juga tau kalau dia sedang sakit chikungunya? Apa waktu itu, dia tau kalau dia akan..... Pergi?

Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba aku membayangkan seandainya aku adalah Bune.

Kalau aku tahu kalau waktuku sebentar lagi, mungkin aku akan meminta maaf dan "berpamitan" sebelum pergi.

Atau sebaliknya, aku akan mengurung diri di kamarku. Tanpa perlu orang lain tahu tentang penderitaanku.

Oke, apa yang aku pikirkan itu tidak penting.

Tapi.... Melihat status-statusnya, sepertinya dia ngga tau.

Entahlah.

Tapi, kalau memang benar dia pergi tanpa tahu apapun yang terjadi...

Menurutku itu cara yang indah untuk meninggalkan dunia ini.

Allah pasti sangat sayang padanya, sehingga memberi Bune karunia yang luar biasa indah ini.

Iya, pasti. Pasti Tuhan sangat sayang padanya. Aku yakin. Soalnya Bune sangat sayang pada Mamanya, dan ketiga adik perempuannya.

Aku masih inget bagaimana perjuangannya belajar sambil cari uang. Dia kerja sambilan mengajar les privat bahasa Jepang. Aku inget, sebelum aku berangkat ke Jepang, dia sering minta tolong padaku untuk mengantarkannya ke tempat les privat, untuk mengambil gajinya. Karena tempatnya jauh dan dia ngga punya kendaraan, tidak setiap bulan dia bisa ambil gajinya.

Waktu dia minta tolong padaku, sudah dua bulan dia belum menerima gajinya. Akhirnya dia minta tolong aku untuk nganterin ke sana.

Kemudian, sekitar sebulan dua bulan setelah itu, dia minta tolong padaku lagi. Tapi, berhubung aku lagi berhalangan (aku lupa karena apa, sepertinya karena persiapan untuk berangkat ke Jepang), aku ngga bisa nganterin dia. Aku janji akan nganterin dia lain hari.

Tapi ternyata... Dia jalan kaki sendirian.

Tadinya aku ngga tau, sampai dia sms.

"Cha, leh minta tolong ngga?"

"Aku di kampus. Kenapa, Bun?"

"Aku sekarang di depan rumah orangnya (tempat les privat), tapi kok rumahnya sepi ya..."

"Loh, udah janjian?"

"Udah, Cha. Katanya ketemu jam 10. Tapi ini udah lewat... Ditelepon ngga diangkat. Aduh, gimana ya Cha?"

"Waduh, apa kamu pulang aja? Tak jemput wes ya?"

"Sek wes, Cha... Tunggu sebentar lagi. Be'e orangnya dateng"

"Oke. Tapi kalau 15 menit lagi dia ngga dateng, pulang aja. Kabari aku. Jangan pulang sendirian"

"Oke."

Dan benarlah, orang itu tidak menepati janjinya pada Bune. Malah menyuruh Bune ke rumah pribadinya di daerah Semampir, dekat rumahnya Nene. Ngga mungkin ditempuh jalan kaki. Gila aja.

Akhirnya Bune pulang dengan tangan hampa.

Waktu aku jemput dia di depan rumah lea privat itu, aku merasa sangat.... Yah... Apa yah.. Aku tau gimana susahnya jadi tenaga pengajar les privat. Gajinya kecil, kerjaannya susah. Belum lagi kalau perantaranya ngga bener. Somehow aku merasakan bagaimana sulitnya Bune.

Tapi, aku ngga ngerasa kasihan padanya. Dia ngga pantes dikasihani. Bune udah sangat gigih berjuang. Aku salut.

Masih.... Masih banyak kenangan lagi tentang dia...

Tentang pertengkaran kami soal jus

Tentang "hubungan" palsu kami yang dulu pernah bikin ramai Sastra Jepang

Tentang kekonyolan-kekonyolan waktu jadi panitia di berbagai acara

Tentang "keputusasaan" menghadapi skripsi

Tentang kebahagiaannya waktu dapat kesempatan pergi ke Jepang melalui program Rainbow Ashinaga

Tentang bersin dan muletnya yang lucu, seperti kucing

Tentang senyumnya yang manis

Tentang semuanya....

Aku ngerasa ada yang salah. Bune sedang berjuang keras untuk skripsinya. Dia sedang berusaha mewujudkan cita-citanya untuk bisa ke Jepang lagi. Agar Mamanya bangga.

Lalu, Allah memanggilnya dengan begitu cepat.

Tadinya aku pikir, ini benar-benar tidak adil.

Tapi, setelah aku bisa tenang dan berpikir jernih, kepergian Bune bukanlah sesuatu yang tidak adil.

Aku ingat bagaimana Bune bilang kalau dia pingin ketemu almarhum ayahnya. Ayahnya meninggal saat Bune masih umur 5 tahun.

Aku ngga tau gimana rasanya kehilangan ayah, tapi pasti sedih banget. Apalagi kalau udah ngga ketemu dari kecil.

Dan sekarang, Allah mempertemukan mereka di surga....

Oke, aku sok tau banget. Tapi aku yakin pasti begitu.

Pasti Bune sekarang tersenyum, bertemu ayah yang sangat dirindukannya.

Benar-benar kepergian yang indah....


Bune, aku tau selama ini aku bukan teman yang baik buatmu. Aku tau kadang-kadang aku suka mengabaikan pertanyaan dan permintaanmu kalau aku lagi malas. Maafin aku ya Bune...

Aku masih ingat permintaanmu. Aku pasti belikan kok. Akan aku kirim ke rumahmu. Janji.



Bune, tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik. Sekarang adalah saatnya kamu menikmati buah manisnya. Aku tahu, karena Allah memberimu
kepergian yang sangat indah.

Selamat jalan, Bune... Otsukaresama deshita.

Aku pasti merindukan senyumanmu yang manis itu. Pasti sekarang jauh lebih manis, karena kamu bisa bertemu ayahmu di sana.


Sampai jumpa, Bune....


Menapakkan Kaki di Negeri Momiji



久しぶり~!
fiuh, akhirnya... ini postingan pertamaku setelah nyampe Jepang :D

Oke, ini ungkin agak telat. Tadinya aku pikir aku bisa posting di hari kedua aku sampai Hiroshima. Tapi ternyata engga. Soalnya ada banyak hal lebih penting yang harus segera diurus sih. Hahaha...

Ada banyak hal yang mau aku ceritain. Tapi... ngga mungkin juga kan ya ngerangkum 25 hari dalam satu postingan. Pasti bakalan kelewat panjang dan membosankan. Hahaha.... Ya aku mau cerita beberapa hal yang mengesankan buatku.

Jadi ceritanya, ini adalah hari ke-25 aku berada di Hiroshima.

Tanggal 1 Oktober 2013, aku berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Setelah nginap dua hari di rumah Tante Lilik, aku diantar Mbah Ity dan kerabat-kerabat almarhum Mbah Kakung menuju bandara. Sempat hectic, soalnya aku ngga tau di terminal mana aku harus tiba. Sementara itu Dida ngga bisa dihubungi sama sekali. Tapi, berkat petunjuk Nene akhirnya aku sampai juga di Terminal 2D.

Aku pikir aku bakal berangkat berdua aja sama Dida. Ternyata ada 5 orang peserta Teacher Training yang juga berangkat pada tanggal dan jam yang sama. Jadilah kami bertujuh dalam satu rombongan.

Jam 10 malam, pesawat lepas landas. Ini pertama kalinya aku naik pesawat. Pas pesawat mau lepas landas, aku nonton pemandangan yang direkam kamera di depan kokpit pesawat. Tapi karena hari udah malam, ngga banyak yang bisa dilihat. Gelap. Yang ada, aku malah semakin takut. Dan bukan cuma itu. Kupingku kerasa sakit banget. Mungkin karena perbedaan tekanan udara. Aku hampir ngga bisa tidur gara-gara itu.

Pesawat yang aku tumpangi itu milik Japan Airlines (JAL), nomor pesawat JL 726. Kita naik kelas ekonomi. Tapi biarpun begitu, pelayanannya baik banget. Banyak makanan enak disediain di dalam pesawat. Malam itu menunya makanan Barat. Ngga seberapa suka sih, tapi lumayanlah. Ringan dan sehat. Ada macem-macem minuman disediain. Tapi sayang, ngga ada teh manis. Lucunya, para pramugari ngga ngerti maksudku waktu aku minta teh manis. Iya sih, emang dalam budaya Jepang ngga ada teh dikasih gula. Mungkin di Barat pun juga ngga ada. Paling cuma dikasih perasan lemon, susu, atau madu. Jadi aku minta teh tawar. Lumayan membantu meredakan rasa mual karena mabuk udara.

Oh ya, waktu check-in di bandara sebelumnya, barang bawaanku over 6 kg. Kalau mau tetap maksa bisa aja, tapi harus bayar Rp600.000. Uang Rupiahku ngga cukup. Akhirnya atas saran dari rekan-rekan seperjalanan, aku bagi bawaanku jadi dua. Masing-masing 22 kg. Akhirnya dibolehin.

Setelah check-in, aku bayar airport tax sebesar Rp150.000. Agak shock juga sih, kenapa di saat mau berangkat masih harus ngeluarin duit lagi. Tapi apa boleh buat lah.

Kembali lagi ke cerita perjalanan.

Tanggal 2 Oktober 2013, sekitar jam setengah 8 pagi waktu Jepang, kita sampai di Bandara Narita, Chiba. Sebenernya aku sama Dida ada rencana jalan-jalan ke kota Tokyo sebelum take off dari Haneda ke Kansai. Tapi, berhubung kita rombongan dan waktunya juga mepet banget, rasanya bakal repot kalau maksain jalan. Dan lagi, waktu itu hujan. Cuacanya jadi dingin banget. Akhirnya batal jalan-jalan.
 
Tapi, ngga jalan-jalan bener-bener keputusan yang tepat. Soalnya, meskipun keliatannya jeda waktu antara sampai di Narita dengan take off ke penerbangan berikutnya panjang (sekitar 4 jam), ternyata mepet juga. Setelah dari imigrasi dan kirim barang sampai International House, sekitar jam 9 kita berangkat naik bus ke Bandara Haneda di kota Tokyo. Ternyata perjalanannya panjaaaang banget. Sampai Haneda udah jam 11, sementara kita harus check-in jam setengah 12. Kita buru-buru pesan tiket, mampir beli onigiri sebentar, terus check-in. Jam 12 pas pesawat take off menuju Kansai. Dan lagi-lagi, kupingku sakit dibuatnya. Tapi untungnya ngga separah waktu dari Jakarta ke Narita semalem.

Aku agak lupa kita sampai di Kansai jam berapa. Tapi yang jelas kita langsung naik shinkansen Haruka menuju Shin-Osaka. Dari Shin-Osaka, kita langsung oper kereta Sanyo ke Fukuyama. Dan terakhir, dari Fukuyama puter balik lagi ke Higashi-Hiroshima naik Kodama.

Bener-bener perjalanan yang panjang dan melelahkan. Aku ngga tau kenapa kita disuruh naik kereta, pakai duit sendiri lagi. Padahal lebih praktis naik pesawat menuju Hiroshima menurutku. Tapi, kalau inget-inget betapa sakitnya kupingku waktu naik pesawat, mungkin ada hikmahnya juga naik kereta. Selain itu, bisa menikmati perjalanan dengan shinkansen yang terkenal kecepatannya itu. Pemandangannya juga indah banget.
 
Sekitar jam setengah 7 malam waktu setempat, kita sampai di Stasiun Higashi-Hiroshima. Kita sampai setengah jam lebih awal daripada yang dijadwalkan pihak Hiroshima University. Stasiun itu sepi banget, dan dingin. Waktu itu aku pakai baju panjang, plus jaket rajutan tebal dan syal. 

Dua orang perwakilan dari Hiroshima Daigaku (Hirodai) menjemput kami. Aku lupa nama-nama mereka. Tapi salah satunya adalah tutornya Bu Moresta (salah satu peserta Teacher Training). Kami naik taksi menuju International House. Untuk naik taksi ini pun kita pakai uang sendiri. Masing-masing dari kita urunan 500 Yen.

Sepanjang perjalanan bener-bener gelap. Rasanya kayak naik bus malam menuju Jogja atau Bali waktu study tour. Rada kaget juga sih. Tutornya Bu Moresta bilang, kalau di sini itu desa, jadi masih banyak pohon dan gelap.
 
Sekitar jam 8 malam kita sampai di International House. Di sana para tutor sudah menunggu kedatangan kita. Akhirnya aku ketemu sama tutorku, Ishikawa Chiaki. Chiaki ini cantik, imut, dan fashionista banget. Dia mahasiswa Sougogakubu tingkat 1. Agak susah nerjemahin Sougo-gakubu itu apa, karena di Indonesia kayaknya ngga ada. Kalau menurut terjemahan bahasa Inggrisnya sih, Faculty of Integrated Social Studies.

Aku diantar Chiaki sampai kamarku, di lantai 6. Kamarku ada persis di depan lift. Kamarku ngga terlalu luas, tapi ada kamar mandi di dalam dan dapurnya juga. Lumayan praktis buat hidup sendiri. Perabotan termasuk lengkap: meja belajar, lemari baju, lemari alat makan, kompor, bak cuci piring, lemari buku, tempat tidur, dan berbagai macam lampu mulai dari lampu kamar, lampu belajar, lampu tidur, dan sebagainya. Jendelanya besar. Benar-benar puas kalau mau liat pemandangan.

Setelah ngasih kunci dan dokumen-dokumen yang harus aku lengkapi, Chiaki langsung pulang. Aku bingung mau makan di mana. Biarpun ada kompor dan aku ada persediaan mie instan, aku ngga bawa alat masak sama sekali. Akhirnya, aku ngikut Dida dan tutornya, Chousei-san, pergi beli makanan di super market bernama Youme Town.

Setelah sampai kamar, aku langsung makan malam. Abis itu, rasanya pingin banget mandi pakai air panas. Tapi sialnya, aku baru inget kalau sabunku ada di koper satunya, yang sedang dipaketin itu. Akhirnya aku mandi tanpa sabun, dan pergi tidur dengan kulit perih.

Yah... itulah sedikit cerita tentang perjalananku menuju Hiroshima. Panjang, melelahkan, tapi melegakan. Aku merasa tenang. Sedikit aneh sebenernya. Entah kenapa, rasanya semua beban yang selama ini aku rasakan menguap begitu aja. Bukan merasa.... lega. Tapi, entah kenapa rasanya semua itu seperti dicabut sampai akar-akarnya, dan aku seperti hilang ingatan. Seolah-olah aku tidak pernah mengalami, merasakan, bahkan mengenal semua itu sebelumnya.

Satu lagi hal yang aneh... Sejak menginjakkan kaki di Jepang, aku ngga ngerasain perbedaan apapun. Tidak ada rasa kalau aku ini sudah sampai Jepang. Rasanya semua lingkungan ini begitu familiar. Meskipun di sana-sini tulisan yang terlihat hanyalah huruf Jepang, dan percakapan yang terdengar semuanya bahasa Jepang, entah kenapa aku tidak merasa asing. Rasanya semua ini pernah melekat dalam diriku. Dan.... somehow aku ngerasa deja vu.

Setiap kali aku melihat pemandangan, baik itu alam, kota, maupun aktivitas manusia di Jepang ini, aku merasa kalau aku sudah pernah berada di sini sebelumnya.

Seandainya aku percaya reinkarnasi, mungkin saat ini aku udah berkesimpulan kalau diriku di masa lalu adalah perempuan Jepang =..=
 
Yah, pada akhirnya aku ngga bisa menyimpulkan apapun. Aku ngga tau perasaan ini dan apa sebabnya.

Tapi yang jelas, aku merasa bersyukur karena Allah sudah memberikan banyak berkah padaku.

Untuk sebulan pertama ini, masih belum ada masalah yang terlalu berat. Alhamdulillah sampai sekarang aku masih bisa mengatasi masalah-masalah yang ada. Semoga di masa depan pun seperti itu. Aamin ya rabbal alamin...

Aku sudah sampai di Hiroshima. Perjalanan baru aja dimulai.

Momiji di kampus udah mulai memerah. Aku bakal menikmati detik-detik perubahan alam di negeri yang indah ini.

Semoga Bukan yang Terakhir

dua hari lagi aku akan meninggalkan Indonesia untuk pertama kalinya.

sebenernya aku udah berusaha menahan diri untuk ngga posting soal ini... karena aku takut makin berat ninggalin tanah airku ini.

tapi, aku ngga punya tempat lain untuk menuangkan perasaan ini. aku punya orang tua, teman, dan masih banyak lagi orang yang peduli padaku. tapi... kalau aku nunjukin rasa beratku untuk ninggalin Indonesia, mungkin mereka akan makin sedih dan kecewa. somehow aku bisa berasumsi seperti itu, karena setiap kali aku ngeliat atau denger orang lain memberatkan kepergianku, aku semakin sedih. jadi aku berpikir mungkin orang lain pun akan semakin berat kalau aku nunjukkin muka sedih.

jadi, aku harus makin tegar menghadapi semua ini.

Rabu malam kemaren, adalah malam terakhirku di Surabaya. waktu naik motor, aku nangis. ngga pernah terbayang aku akan meninggalkan kota ini. aku suka banget sama kota ini. aku masih inget masa-masa susah yang aku lalui, perjuanganku untuk bertahan hidup dan terus kuliah, kenangan bersama teman-teman dan orang-orang yang aku sayangi... rasanya aku ngga sanggup meninggalkan kota ini.

tapi, Anna, salah satu murid lesku bilang, "Anggep aja ini PKL atau KKN. meskipun pergi jauh, pasti bakal kembali lagi."

well, she's right. I'll be back.

mbak Mega juga pernah bilang, "Yang berat itu berangkatnya, Cha. tapi nanti kalau udah di sana pasti kamu seneng. begitu juga nanti waktu pulang. waktu mau berangkat pulang pasti berat. tapi begitu sampai rumah lagi, kamu pasti akan seneng."

kata-kata mereka membuatku lebih tegar. iya, aku pasti kembali kok. yang berat cuma berangkatnya aja. di sana aku pasti baik-baik aja. aku bakal ketemu orang-orang baru, dan berteman dengan mereka. aku ngga akan kesepian.

lagipula, aku bawa Resnu. si kecil Resnu bakal selalu menemani malam-malamku di kamar apartementku, seperti selama ini di kos.

Kamis pagi, aku sampai di rumah. keadaan Papa emang ngga begitu baik, tapi... Papa selalu menunjukkan wajah ceria. aku terenyuh. aku belum pernah menjadi orang tua, dan aku ngga bisa membayangkan seperti apa perasaan orang tua yang akan ditinggal anaknya pergi jauh sendirian.... tapi, kalau melihat wajah ceria Papa yang sebenernya sedang sakit, aku merasa ngga tega. dan aku jadi menyesal, kenapa aku ngga bisa menghabiskan waktu lebih lama di rumah...

selama di rumah, aku berusaha untuk ngga inget-inget hal apa yang bisa memberatkan aku berangkat. aku juga harus lebih kuat lagi.

sekarang adalah malam terakhir aku tidur di rumah. ah, rasanya aku pingin menghabiskan waktu berkualitas yang lebiiiiiiiih banyak lagi di rumah. rasanya aku belum cukup menyenangkan Papa.

tapi, besok aku udah harus ke Jakarta. waktu packing tadi, rasanya berat banget...

si Piko bolak-balik gangguin aku yang lagi packing. berhubung aku lagi capek, aku terus-terusan marahin dia. semakin aku marahin, semakin nakal ulahnya.

tapi, aku pasti bakal kangen sama kenakalannya...

ada banyak, begitu banyak hal yang memberatkanku untuk pergi.

tapi pergi ke Jepang adalah impianku. ada banyak orang yang menginginkan kesempatan ini. untuk menghormati mereka, aku ngga boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

aku akan berusaha untuk tidak menunjukkan muka sedihku pada orang-orang yang aku sayangi.

ketika aku sampai di sana, aku juga akan berusaha yang terbaik.

memang, malam ini adalah malam terakhirku di rumah sebelum berangkat ke Jepang.

tapi aku tau, malam ini bukanlah malam yang terakhir dalam hidupku.

semoga, semoga ya Tuhan, Engkau bersedia memberiku hari-hari lain untuk menyenangkan orang-orang yang kusayangi, seperti hari-hari terakhir ini.

aamin....

Aku Memang Tidak Bisa Menari

ngga terasa waktuku di sini tinggal sebentar lagi. ada begitu banyak hal menakjubkan yang aku lewati di sini.

pertama, pertemuan kami dengan anak-anak SUAC. aku merasa bener-bener beruntung bisa bertemu mereka, beberapa minggu sebelum aku berangkat ke Jepang. aku bisa belajar banyak percakapan bahasa Jepang dengan mereka. setidaknya aku ngga terlalu kagok waktu nanti di Hiroshima.

dan bukan cuma itu aja.

kali ini, banyak hal yang membuka mataku tentang budaya Indonesia.

seperti yang pernah aku posting sebelumnya, aku merasa kagum sama anak-anak Pakar Sajen yang menekuni budaya gamelan yang adiluhung ini. dan ternyata, masih ada lagi orang seperti anak-anak Pakar Sajen.

sedikit OOT, aku diminta sama Bu Retno (istrinya Syahrur-sensei, bendahara PPI yang sekarang) untuk menari di acara HIA (ngga tau apa singkatannya. kayaknya sih Hiroshima Indonesian Association). karena itu, akhirnya aku belajar nari.

salah satu anak Pakar Sajen, Andi, ngenalin aku ke Windy. Windy ini anak UKTK, dan sepertinya lagi merintis BSO Tari di FIB UNAIR. aku belajar nari Kasomber sama Windy. menurut Windy sih, Kasomber itu tarian yang gampang. jadi mulai masuk perkuliahan 9 September kemarin, aku latian menari.

meskipun katanya gampang, ternyata ngga segampang yang dibayangin.

jujur, aku merasa susah banget ngikutin gerakan tarian ini. emang sih aku bisa hafal, tapi gerakanku kaku banget. Windy keliatan stres waktu ngajarin aku. aku jadi semakin ciut. malah sebenernya tadi aku sempet kepikiran untuk berhenti aja.

tapi, aku pikir-pikir lagi. emang, menari itu bukan hal yang mudah. ini bukan cuma sekedar gerak badan aja. tubuh, hati, dan pikiran harus selaras. ketika aku melihat video tariannya, aku pikir "oh gitu ya. aku bisa kok". tapi toh karena tubuh dan pikiranku ngga selaras, akhirnya ngga maju-maju. aku pikir aku udah melakukan seperti contoh. tapi ternyata masih kurang dan keliatan ngga indah.

dari situ aku sadar kemampuanku. emang badanku kaku dan umurku juga udah terlalu tua untuk belajar nari yang luwes. tapi, bukan berarti aku harus berhenti di tengah jalan begitu aja. paling ngga aku harus belajar sampai terakhir, sebisa mungkin.

meskipun susah dan bikin stres, tapi aku bersyukur bisa ikut latian nari ini. aku jadi bener-bener tau, menari itu bukan hal gampangan. menari itu sesuatu yang luhur, dan tidak bisa sembarangan dipraktekkin gitu aja.

somehow, aku jadi merasa punya kepercayaan diri sebagai orang Indonesia. menurutku ini progres yang bagus. jadi aku bisa berangkat ke Jepang tanpa harus malu dengan identitasku sebagai orang Indonesia. budaya Indonesia ngga jelek, dan aku bisa cerita ke temen-temen yang ada di sana nantinya.

after all, aku merasa sangaaaaat bersyukur bisa berangkat ke Jepang.

ini bukan cuma sekedar gengsi. bukan cuma sekedar 'beruntung' bisa pergi ke luar negeri (secara gratis).

menurutku, aku luar biasa beruntung, karena dikasih kesempatan untuk mencicipi sedikit petualangan dalam hidupku.

umurku sekarang 22 tahun. mungkin agak terlambat untuk "mbolang" (I expect, the ideal age for adventuring must be 19-20 years old). tapi aku masih terbilang muda untuk melihat dunia di luar sana, dan belajar hidup mandiri di luar "comfortable zone".

bukan cuma itu. aku juga merasa bersyukur, karena dengan keberangkatan ini, aku jadi punya kesempatan untuk belajar sedikit lebih dalam tentang budaya Indonesia. mungkin selama ini dari SD sampai SMA aku belajar banyak teori tentang budaya ini, budaya itu blablabla, tapi itu semua cuma melalui buku aja. dan dengan cara belajar yang seperti itu, aku ngga ngerti di mana letak nilai budaya itu. tapi sekarang, aku belajar langsung. I learn that I need to improve not only skills, but also senses, to get accustomed with these cultures. that's why culture is high-valued, because it is not easy to learn it.


 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates