Kanji Cup 2011


 5 Maret 2011, Kanji Cup yang ke-9 diselenggarakan bersamaan dengan pameran pendidikan dan seminar di Universitas 17 Agustus Surabaya (Untag). Sastra Jepang UNAIR sendiri mengirimkan cukup banyak pasukan untuk lomba level Shokyuu dan Chukyuu. Untuk level Shokyuu, ada 16 orang yang ikut, dari 1nensei dan 2nensei. 2nensei yang ikut: aku, Nene, Alfi, dan Ghofur. Sementara dari 1nensei ada Ayu, Nandya, Vivi, Imanurriv’al, Yoga, Adi, Alifa, Vina, Rin, Oly (Khalidatul), dan Vita. Dan di level Chukyuu ada mbak Oly (O Lidya), mas Alfian, mbak Tasya, sama seorang senpai berkerudung yang tak seberapa kukenal. Kami inilah yang mewakili Sastra Jepang UNAIR.
Sebelumnya, kami mempunyai sekitar 2 minggu persiapan. Entah bagaimana dengan yang lain, tapi bagiku waktu itu terlalu singkat. Bagiku, persiapan mininal sebulan dua bulan lah. Aku sendiri waktu ditawari sama mbak Fidy untuk ikut lomba ini, sama sekali tidak tahu kapan waktunya dan bagaimana teknis pelaksanaannya. Aku Cuma ingin ikut dan merasakan pengalaman itu. Tetapi begitu kami kumpul dalam satu benkyoukai di bulan Februari, aku kaget waktu Gandhi-sensei bilang Kanji Cup akan diselenggarakan 5 Maret. Lebih kaget lagi karena ternyata kami tidak bekerja secara tim, melainkan individu. Aku speechless. Padahal aku senang karena Alfi dan Nene ikut, karena tadinya kupikir akan bermain secara tim dan kami bisa menjadi tim yang sangat kuat (ya iyalah, ada Alfi si Master Kanji dan Nene si Perfeksionis, gimana ngga kuat?). dan sekarang aku malah harus melawan mereka. Tapi biar bagaimana juga aku tetap (dan harus) maju dan (sempat) bertekad menang.
Balik lagi ke hari H. Jam 7 aku dijemput Angga, sementara aku belum siap. 5-10 menit kemudian aku turun dan kami berangkat mencari sarapan. Di dekat kampus ada yang menjual bubur ayam. Lumayan juga rasanya. Jam setengah 8 kurang, kami berangkat ke Untag. Sampai di sana jam 7.40, padahal registrasi buka jam 8. Haduh... mau ngapain lagi coba? Aku mencoba menghubungi Nene, tapi dia tidak membalas. Akhirnya aku pinjam hp Angga dan menelepon dia. Ternyata dia sudah di dalam! Akhirnya aku masuk ke Graha Widya, tempat Kanji Cup diselenggarakan.
Gedung itu cukup luas, tapi kursinya tidak banyak tersedia. Malah, anak-anak dari Universitas Brawijaya duduk-duduk lesehan di sayap kiri gedung. Merekalah juara tahun lalu. Aku sempat iri pada mereka, karena mereka didukung dengan suporter yang begitu banyak. Begitu pula dengan universitas/SMA yang lainnya. Ada UNESA, menguasai sayap kanan, Unitomo, SMA Lab School, dan sebagainya. UNAIR? Hm... hanya beberapa teman yang datang untuk melihat kami. Sensei-gata juga ada. Ada Santi-sensei dengan anaknya, lalu Adis-sensei, juga Putri-sensei yang membawa anaknya Ayaka-chan <3 pipi Ayaka-chan tembem, aku gemas melihatnya. Tambah gemas lagi waktu Putri-sensei mengelap mulutnya saat makan. Lucunyaa.....
Jam 9.10, acara dimulai dengan pembukaan dari pimpinan Japan Foundation dan pengembalian pialah oleh juara tahun lalu, yaitu Universitas Brawijaya. Suporter UB heboh sekali. Lalu setelah itu, dimulailah Kanji Cup level Shokyuu.
Sebelum pertandingan dimulai, kami semua berkumpul di depan, terbagi secara otomatis di bagian maru dan batsu. Panitia menjelaskan teknis lombanya. Selain ditampilkan di layar, tiap soal juga akan dibacakan dalam bahasa Indonesia oleh panitia. Soal ini bertipe maru-batsu, artinya kurang lebih seperti soal “ya” atau “tidak”, “benar” atau “salah”. Bagi yang merasa soal itu benar, harus berdiri di bagian maru, di sebelah kiri panggung yang ada bulatan merah besar. Sedangkan bagi yang merasa soal tersebut salah, berdiri di bagian batsu yang ada tanda silang biru besar di bagian kanan panggung. Setiap soal ada jeda waktu 20 detik untuk menjawab, jadi ketika akan berpindah posisi tidak perlu berlari.
Setelah briefing, diadakan soal contoh. Pada soal contoh disebutkan bahwa onyomi dari kanji adalah /“hi”. Aku, Nene, Rin, dan Vita merasa bahwa soal itu benar, jadi kami tetap berada di bagian maru. Sementara itu, banyak peserta pindah ke bagian batsu. Aku jadi cemas, jangan-jangan mereka benar dan aku salah? Tapi aku tetap pada posisiku. Dan jawabannya... batsu. Ternyata itu kunyomi, sedangkan onyomi nya adalah ニチ. Aku sempat down. Tapi untung ini Cuma contoh.
Lalu muncul soal pertama. Onyomi dari kanji お父さん adalah おとおさん. Sebenarnya aku tidak seberapa melihat soalnya, tapi entah mengapa feelingku mengatakan untuk pindah ke bagian batsu. Aku lihat semua teman-temanku di bagian batsu dan aku menjadi sedikit lega. Begitu jawabannya akan keluar, aku deg-degan setengah mati menatap layar. Dan ternyata jawabannya... batsu! Ini baru soal pertama, tetapi jantungku serasa mau copot.
Soal kedua cukup sulit, karena aku tak tahu itu kanji apa. Soalnya adalah “kanji ini memiliki 7 coretan”. Aku agak panik, karena aku benar-benar tak tahu itu kanji apa. Lalu aku mencoba menghitung coretannya, meski aku tak tahu bagaimana urutan penulisannya. Aku hitung ada 6, jadi aku tetap di bagian batsu. Aku lihat Alfi pindah ke bagian maru. Haruskah aku mengikutinya? Tapi, aku tak melihat coretan lain. Dan 20 detik sudah berlalu. Aku terlanjur di bagian batsu. Sekali lagi aku menatap layar dengan perasaan berdebar-debar.
Jawabannya... batsu!
Aku menggenggam tangan Vina dan berkata, “Habis ini aku pasti nggeblak. Jantungku mau copot!”
Sayang sekali Alfi, yang menjadi tumpuan harapan kami, harus gugur di soal kedua. Aku dan beberapa anak lainnya sempat paranoid waktu melihat Alfi harus kembali ke tempat duduk. Uso... bagaimana ini? Tapi setidaknya kami masih punya banyak anak yang bertahan. Aku sendiri berkeinginan untuk masuk final. Setidaknya jangan sampai aku gugur dengan mudah.
Soal demi soal bergulir. Aku melaluinya karena memang ada beberapa soal yang kumengerti dengan baik, dan juga karena faktor keberuntungan. Pada soal kesepuluh, ada soal yang cukup sulit. Aku lupa kanjinya seperti apa, tapi di soal itu disebutkan bahwa kanji itu dibaca おんど. Aku tak punya gambaran apapun. Akhirnya, mengikuti feeling (dan jejak teman-teman yang lainnya), aku pindah ke bagian batsu. Sementara itu, ada dua orang mahasiswi, entah mahasiswi mana, yang bertahan di bagian maru. Salah seorang dari mereka sempat mau ke bagian batsu, tapi karena waktunya sudah habis, dia harus tetap tinggal di bagian maru. Lalu akhirnya jawabannya keluar, yaitu maru. Aku hampir tidak percaya. Aku... gugur? Di soal kesepuluh? Huaaaaa! Tetapi saat kami akan berbalik badan, panitia meminta kami untuk tetap berada di tempat, sementara dua orang mahasiswi tadi dibawa keluar arena pertandingan. Mereka berdua lolos ke babak final, sementara kami, orang-orang yang ceroboh memilih batsu, mendapat kesempatan untuk merebut dua tempat finalis, karena yang berhak masuk babak final adalah empat orang. Aku jadi semangat lagi dan yakin bisa masuk final.
Begitulah aku, yang merasa cukup percaya diri. Sampai akhirnya tiba di soal kedua belas (kalau tidak salah). Di soal itu muncul kanji yang berarti “pendek”. Pada soal itu, kanji itu ditulis 短い. aku ingat betul kanji itu, aku yakin tidak seperti itu seharusnya ditulis. Dengan langkah pasti aku pindah ke bagian maru. Tadinya Cuma aku sendiri dan aku sempat merasa cemas sekali. Tetapi kemudian Adi, Yoga, Ghofur, mengikutiku juga. Aku begitu yakin dengan jawabanku. Lalu, jawaban muncul di layar. Yang muncul adalah tanda silang besar, batsu. Aku benar-benar tidak percaya. Tetapi, kok bisa? Bukannya seharusnya batsu, karena kanji itu seharusnya ditulis 短かい? sambil tertunduk tak percaya, aku kembali ke tempat dudukku. Di sana ada Nene, Rin, dan Vita yang telah gugur di soal-soal sebelumnya (mereka gugur di soal kanji 気持ち. Sepertinya mereka tidak melihat kanji dan mengira itu ). Rin menunjukkan padaku kanji mijikai dan berkata, “ada dua cara baca, senpai”. Kulihat di Zkanji itu, memang tertulis 短い dan 短かい. tetapi entah kenapa, 短かいdiberi tanda silang merah. Saat kutanya mengapa begitu, Rin pun tidak tahu mengapa. Aku menemui Putri-sensei dan mencoba komplain. Tetapi Putri-sensei hanya berkata, “Begitu ya... nanti kita coba tanya saja pada Tomokiyo-sensei.” Aku kembali duduk manis, ingin mengutuk kanji sialan itu.
Masih ada beberapa 1nensei yang bertahan. Akhirnya, yang lolos ke babak final adalah Vina dan Alifa. Benar-benar membanggakan! Kami berharap besar pada mereka. Mereka melawan mahasiswi UNESA dan Unitomo. Aku tak tahu sejauh mana kemampuan mereka, tapi aku yakin mereka pasti menang. Apalagi Vina kan pintar. Sementara itu, aku, Nene, Alfi, dan Ghofur, sedang bersepakat untuk ikut lagi tahun depan, di level Chukyuu. Dan saat itu, aku harus menang!
Di babak final ini, keempat finalis diuji kemampuan menulisnya. Empat papan tulis telah disiapkan, lalu soal pun dibacakan. Aku sempat kaget menemukan kanji yang sama dengan yang disimulasi, yaitu kanji 土産. Aku salah membacanya sebagai どさん, padahal itu dibaca みやげ. Untung Vina benar, tetapi Alifa salah. Tak apa, pikirku. Salah satu dari mereka akan membawa nama UNAIR kok...
Tetapi, sekali lagi, harapan tinggal harapan. Vina dan Alifa kalah poin. Lalu, mahasiswi UNESA keluar sebagai pemenang. Sempat merasa iri dan kesal juga, tapi ya sudahlah. Masih ada tahun depan kan?
Itulah cerita mengenai pengalamanku bertanding di Kanji Cup. Agak lebay juga ya ternyata? Hahaha.... mau aku ceritakan tentang Kanji Cup level Chukyuu? Hmm... yah, aku ceritakan sedikit ya... mbak Oly dkk berjuang cukup baik di pertandingan itu. Tetapi, lawan mereka sangatlah tangguh. Akhirnya mereka pun tak bisa lolos ke babak final. Sementara itu, aku mengantuk juga lapar, ingin segera pulang. Sebenarnya masih ada babaik final. Tapi aku memutuskan untuk pulang bersama Ghofur. Aku ingin tidur yang nyenyak, mumpung ada waktu untuk istirahat. Jadi, aku mengumpulkan angket yang telah kuisi dan mengembalikan tanda pengenal peserta kepada panitia, dan mendapat map Doraemon si Duta Budaya Animasi serta beberapa notes dan majalah Jepang. Hueee... ureshikatta ne! Tapi aku tetap saja kecewa, karena tidak mendapat sertifikat. Hahahaha....
Begitu pulang, aku langsung ganti baju, solat, lalu tidur. Aku tak mempedulikan sms masuk, ataupun missed call dari Angga dan Papa. Aku benar-benar mengantuk, dan tertidur lelap sambil memeluk Resnu...
Mungkin, itulah lomba pertama yang membuatku bisa tidur nyenyak setelah melakukannya, tak terlalu memusingkan masalah menang atau kalah.

3 komentar:

Diena S. mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Diena S. mengatakan...

semoga bisa berkompetisi lagi taun depan. よろしく ^^

Djayeng Channissa mengatakan...

doumo arigatou gozaimasu m(_ _)m
jigoshokai o moratte mo ii? ^_^

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates