Buka Bersama Kelas XII Bahasa 2008

Fine.. rabu tanggal 17 Sepetember kemarin aku dan teman-teman sekelas mengadakan buka bersama. Dan kebetulan tahun ini diadakan di rumah teman sebangkuku: Desy. Aku, Mia, dan Anggun tentu saja ikut beres-beres di rumahnya, dengan senang hati dan tanpa pamrih. Hehehehehe... Aku senang sekali karena adik tiri Desy, Ima, pulang ke rumah Desy. Ima dan orang tua Desy tinggal di Pacet, sedangkan Desy lebih betah tinggal di kota bersama neneknya yang baik hati. Well, salah satu alasan kenapa aku senang Ima ada di sana, karena Ima itu lucu! Gokil!!! Anak itu memang tergolong "BoLang" alias "Bocah Petualang". Dia senang pergi kelayapan ke mana-mana tanpa menghiraukan larangan apalagi kemarahan orang tuanya. Jangan sangka dia takut dimarahi. Aku kagum pada Ima, jauh berbeda dengan diriku yang tergolong "putri pingitan". Daya jangkauku hanya warnet. Hehe...

Setelah beres dan mengangkat barang-barang yang cukup berat, aku dan teman-temanku beristirahat. Masih satu jam lagi sebelum waktu yang ditentukan untuk berkumpul. Teman-teman yang lain memang datang jam lima. Dan kami selesai beres-beres jam empat sore. Masih banyak waktu. Aku dan teman-temanku mengobrol. Anggun sempat protes padaku karena aku ingkar janji. Aku sudah berjanji memakai kerudung untuk acara ini, jadi Anggun pun ikut-ikutan memakai kerudung. Tapi aku belum memakai kerudung waktu dia datang. Jadi dia sewot. Akhirnya aku memakai kerudung hitam (oh, melancholia...) yang aku bawa dari rumah. Ima kaget. Spontan dia bilang, "Bu Kaji-nya bercabang!" (artinya: "Bu Hajinya bertambah") Aku hanya mesam-mesem saja seperti orang tak punya dosa. 

Entah mengapa hari itu aku begitu menginginkan coca-cola. Akhirnya, jam lima aku membeli coca-cola di warung sebelah rumah Desy. Aku taruh botol itu di kulkas Desy. Teman-teman dari "TV LCD" alias Twelve Language Comunity D'Cholic mulai berdatangan. Mereka mebentuk kelompok-kelompok kecil dan mengeluarkan "kitab" mereka. Ya, langsung mereka sibuk ber-sms ria. Mia yang terkenal dengan julukan Bu Kaji menyindir mereka, "Semua pada bawa 'Al-Qur'an', tapi kok ga ada yang tadarus?" Aku lagi-lagi hanya mesam-mesem seperti orang tak punya dosa, walaupun sadar aku termasuk orang yang disindirnya karena bermain hp. Sementara Anggun yang kalem tolah-toleh karena masih lola alias loading lama, tidak mengerti maksud Bu Kaji.

Beberapa menit menjelang buka puasa, guru Mandarin kami, Didik-laoshi (Laoshi kira-kira sama artinya seperti sensei dalam bahasa Jepang) mengirim sms kepada Mia: "Laoshi sudah ada di depan Sanrio, cepetan jemput Laoshi. Laoshi tak tahu rumahnya Desy." Aku dan Devi semangat bangkit demi menunjukkan bakti seorang murid kepada gurunya. Kami mencari Laoshi di depan Sanrio. Tapi masalahnya, aku agak rabun (aku mengalami penuaan dini: mata rabun, ingatan lemah, pendengaran kurang) terutama pada sore hari. Aku meraba-raba Devi dan bertanya, "Mana Laoshi?" Devi hanya menjawab "Embuh". Kami juga bertanya pada David yang bertengger di atas sepeda motornya di depan rumah nenek Desy. Tapi Makhluk Tuhan Yang Paling Tidak Pernah Panik Bahkan Mau Ulangan Sekalipun itu malah memberikan jawaban yang sama dengan Devi, khas orang-orang yang mengaktifkan hp demi MXit pas jam pelajaran.

Tiba-tiba datanglah seseorang dengan sepeda motor Vega, kasual dan santai, menghampiri kami bertiga. Beliaulah Didik-laoshi kami. Aku menunjukkan jalan ke rumah Desy, tempat anak-anak TV LCD berkumpul. Laoshi menuju rumah Desy. Tetapi saat aku melihat kakinya, aku sempat shock. Sandal jepit Sky Way hijau! Betapa kasualnya guru kami itu....

Buka bersama pun berlangsung menyenangkan. Seolah "kelompok-kelompok kecil" itu melebur menjadi satu keluarga, yaitu keluarga TV LCD. Aku sangat senang hari itu. Suasananya mencairkan persepsiku tentang Ramadhan, menutup lembaran memori tentang Ramadhan tahun-tahun lalu. Aku pun bahagia karena kahirnya bisa berbuka dengan coca-cola yang kuidam-idamkan sejak satu jam yang lalu. Langsung kuhabiskan sebotol coca-cola itu, tanpa preambule es teh, air putih atau semacamnya. Tapi inilah yang menyebabkan aku K.O. Aku salah strategi. Seharusnya aku tidak langsung minum coca-cola dulu.

Seusai berbuka dengan takjil secukupnya, kami melaksanakan sholat Maghrib. Laoshi yang terundang sebagai satu-satunya guru lelaki dalam acara kami, menolak menjadi imam. Alasan sederhana: tidak bisa mengimami. Sungguh bersahaja guru kami ini... Akhirnya sebagian besar anak-anak memilih berjamaah ke musholla dekat rumah Desy. Hanya beberapa orang yang sholat di rumah itu, termasuk wali kelas kami Bu Shofiyah dan guru bahasa Jerman kami Frau Soegiany.

Anak-anak TV LCD sudah sepakat dengan slogan "M3" a.k.a "Mari Mangan Mulih" (arti: Habis Makan Pulang). Apalagi Laoshi kami memprakarsai slogan itu. Hanya aku dan teman-teman yang tadi ikut beres-beres yang masih terdampar di rumah itu. Ditambah beberapa teman yang masih kekenyangan sehingga tidak kuat berjalan. Tadinya aku dan teman-temanku mau kerja bakti mebersihkan rumah itu beserta piring-piring kotornya. Tapi entah, aku dan teman-teman dilanda penyakit gila nomor kesekian : malas. Akhirnya kami hanya membereskan piring-piing kotor itu ke dapur. Benar-benar hebat wabah penyakit malas itu.

Itulah sekelumit cerita panjang mengenai buka bersama kelasku. Semoga bermanfaat.

EdSudRahLo?????

1 komentar:

Arthemist mengatakan...

well.. actually my blogspot has been built since 2-3 years ago..

tapi dasar gw nya aja males ngisi..

tapi kyk nya bakal gw jadiin buku harian aja lah..

yang di wordpress buat keperluan hacking n komputer aja..
payah emang blog banyak gini..

males ngisi nya..

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates