Arigatou Gozaimashita...

Aku ingin berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikanku ridha-Nya. Aku tahu bahwa rencanaNya selalu indah, tanpa pernah kita duga sebelumnya. Dan aku telah salah untuk berputus asa, walaupun itu hanya sedikit.

Kemarin, sepeda motor ayahku akan diambil orang koperasi karena ayahku tak bisa membayar angsuran kredit di koperasi itu. Aku yang tengah berpuasa tiada henti berdoa agar ayahku bisa mendapatkan uang untuk membayar angsuran itu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana seandainya kami tak punya motor lagi. Ayahku, sejak pulang mengantarkanku ke sekolah hingga aku pulang sekolah, masih wara-wiri ke teman-temannya. Bukan ingin mencari pinjaman, tapi justru menagih hutang orang-orang itu kepada ayahku! Aku tak tahu sebenarnya ayahku punya banyak uang, hanya saja masih belum dapat ditagih. Orang-orang itu selalu saja berkelit. Yang paling mengesalkan, ada seorang anak dari pengusaha besar nasional yang berhutang pada ayahku 4 tahun yang lalu. Jumlah uangnya sekitar 4,8 juta rupiah. Ayahku, saking putus asanya mungkin, hanya meminta uang 1,5 juta saja hari itu. Sisanya tidak dibayar juga tak apa-apa. Tetapi orang kaya itu hanya berkata bahwa dia tak punya uang! Aku tak mengerti, masalah apakah yang dialami orang kaya itu sehingga ia merasa bahwa kekayaannya seang terancam? Aku benar-benar kesal mendengar cerita ayahku. Tetapi di tengah kekesalanku, aku mencoba untuk merenung. Mungkinkah ini adalah cobaan? Atau bahkan hukuman untukku?

Ayahku akhirnya berhasil mendapat pinjaman dari temannya, seorang yang berpengaruh dalam bidang perdagangan. Kata orang itu, ayahku dapat mengambilnya jam 7-8 malam. Aku pun bersyukur, kupikir Allah mengabulkan doaku. Namun, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Sekitar jam 8 malam ayahku pergi ke rumah orang itu. Ternyata Allah menyimpan rencana lain untuk kami. Teman ayahku itu dipanggil menteri perindustrian untuk menghadiri semacam pertemuan di Jakarta. Dia sangat menyesal dan berulang kali meminta maaf pada ayahku karena tidak bisa memberikan uang itu. Ayahku lemas. Aku pasrah.

Banyak pikiran yang berkecamuk dalam benakku. Aku sempat berpikir negatif tentang teman ayahku itu. Mungkin saja dia hanya berkelit, seperti teman ayahku yang lainnya? Bahkan aku yang putus asa ini mencoba menantang Tuhan. Kukatakan padaNya, bahwa jika ini addalah cobaan, kuatkanlah hati kami untuk menjalaninya. Tetapi jika ini adalah hukuman untukku, aku mohon padaNya, ampuni semua dosa-dosa ku dan jangan bebani orang tuaku lagi.

Seperti yang aku bilang, rencana Tuhan itu memang indah. Hari ini, sekolahku pulang lebih awal karena ada ayah dari guru agamaku yang meninggal. Saat aku akan menghubungi ayahku agar aku dijemput, aku mengurungkannya. Aku ingat ayahku yang begitu lelah, fisik dan batinnya. Aku tak ingin menambah bebannya lagi. Maka kuputuskan untuk berjalan kaki saja. Hal ini tak masalah, karena aku dulu waktu SMP pernah berjalan kaki pulang sekolah dari SMPku ke rumah kontrakan di Japan Raya dulu. Jaraknya cukup jauh, sekitar 4 km. Dan aku merasa kali ini jika aku berjalan kaki tak apa, toh jarak rumah kontrakanku yang sekarang lumayan dekat (bagiku). Di tengah jalan aku bertemu teman-temanku. Mereka bertanya mengapa aku berjalan kaki. Aku hanya menjawab tak apa-apa. Ada teman yang merasa kasihan padaku, lalu aku dipaksanya untuk diantar pulang. Tadinya sungkan, tapi aku terima juga penawaran itu.

Sesampainya di rumah, ayahku kedatangan tamu rupanya. Namanya Pak Agus. Bagiku orang itu agak aneh, penuh kesan... mistik. Yah, bukan yang berbau klenik seperti itu, tapi ia mempercayai adanya kekuatan kosmik. Aku dan ayahku diajari bagaimana caranya mentransfer energi kosmik, bagaimana caranya memakai energi itu untuk menyembuhkan diri, dan sebagainya. Aku sebenarnya kurang percaya karena aku tak merasakan perubahan yang berarti. Tapi sekear basa-basi saja, aku berbohong. Aku bilang bahwa aku merasakan sensasi yang berbeda. Lain halnya dengan ayahku. Ayahku mengaku benar-benar merasakan adanya kekuatan itu. Lucunya, orang itu bilang aku memiliki bakat untuk meramal. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Namun, kehadiran orang ini benar-benar membuatku tersenyum. Mengapa tidak? Pak Agus tiba-tiba saja meminjamkan uang kepada ayahku untuk membayar angsuran koperasi! Aku tak menduga. Lebih-lebih ayahku. Ayahku begitu lemas... terharu. Tak menyangka akan ada pertolong dari Allah, dengan cara yang tak dapat kami nalar. Padahal aku sudah psrah, aku yakin bahwa motorku itu akan diambil oleh orang koperasi. Tapi nyatanya tidak. Aku tak dapat memahami, betapa indahnya karunia Tuhan itu. Aku tersenyum, dan merasa perlu menarik kembali semua kata-kataku yang mengandung keputusasaan...

Terima kasih untuk Allah, untuk semua orang yang telah memberi kami kekuatan. Semoga kami dapat senantiasa tegar dan kuat..

1 komentar:

Haikal mengatakan...

sekarang motornya udah balik?

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates