Cintaku...

Butuh keberanian yang besar untuk menulis di blog ini.

Mengapa?

Karena banyak kenangan manis antara aku dan Hanif.

Dan aku tak mau menangis lagi.

Post ini memang berisi kisah sedih.

Kalau kalian mengikuti blogku dari awal, mungkin kalian akan bertanya: "Kalau memang cerita sedih, kenapa ga ditulis di blog yang satunya lagi? Katanya blog satunya itu tempat buat nulis cerita sedih.."

Itu benar.

Tapi aku tak mau menganggap cerita ini sebagai kisah yang membuatku terluka. 

Aku ingin jika ada yang membaca, atau jika suatu saat nanti aku membaca post ini kembali, post ini menceritakan kesabaranku, kegigihanku, kesetiaanku. Sesuai dengan deskripsi yang aku tulis di header blogku: and at the dawn, armed with the schorching patience, we shall enter the cities of splendour...

Baiklah. Apa cerita sedih itu?

Hanif memutuskanku.

Aku masih ingat tanggalnya: 26 Januari 2009.

Benar-benar pedih.

Sejak saat itu aku jadi kacau, semua jadi berantakan. Aku tak henti-hentinya menangis. Aku tak percaya perjuangan kami selama 1 tahun lebih harus berakhir begitu saja.

Tapi setidaknya aku beruntung. Dia memutuskanku baik-baik dan kami memutuskan untuk tetap bersahabat.

Aku harap dia memegang kata-katanya itu.

Jika aku sedih, aku berdoa pada Allah. Aku berdzikir sampai aku tertidur pulas. Aku juga membicarakannya dengan ayahku. Ayahku berkata kalau aku tak perlu kecil hati. Ayahku meyakinkan aku bahwa ialah orang yang paling memperhatikanku, melebihi siapapun di dunia ini. Akulah mutiara hidupnya, kekasih Allah...

Aku terharu mendengarnya. Aku memutuskan untuk menjadi kuat.

Teman-temanku juga setia menemaniku, menguatkanku, dan memberiku nasihat juga semangat. Aku berhutang banyak pada mereka.

Nenekku juga membuatku besar hati. Kata nenekku, aku dan Hanif mirip adik-kakak. Katanya sih, kalau mirip adik-kakak begitu biasanya jadi suami-istri. Mudah-mudahan.. Aku hanya bisa berharap, tapi tak berani berharap yang muluk-muluk lagi.

Yang membuatku benar-benar lega, ibuku juga tak terlalu mempermasalahkan hal itu. Padahal sebelumnya aku takut jika ibuku kecewa. Sebaliknya, ibuku menasihatiku agar aku fokus pada tujuanku dan tak usah memikirkan laki-laki dulu. Aku lega mendengarnya...

Sekarang, aku tak terlalu sedih lagi. Aku mulai bangkit dan menata diri lagi. Aku harus fokus pad ujian yang sebentar lagi akan menyambut kami di grbang terakhir SMA.

Seperti doa yang selalu kuucapkan, aku berharap agar Allah meridhoi hubungan persahabatan yang baik antara aku dan Hanif.

Amin...

1 komentar:

Gaara mengatakan...

keren

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates